NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN OM

BERMAIN API DENGAN OM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.

Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.

Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22.

Suasana di dalam ruang IGD yang steril itu terasa begitu dingin dan mencekam. Cahaya lampu neon putih menyorot lurus pada brankar besi tempat Arabella terbaring tak berdaya, kontras dengan bayangan gelap yang menggelayut di hati orang-orang di sekitarnya.

Dokter Kevin menghela napas pelan setelah merapikan selimut tipis yang menutupi tubuh Bella. Ia melangkah mendekati Christian dan Nathan yang berdiri kaku di sisi ranjang, memastikan ekspresinya tetap tenang namun serius.

"Kondisinya sudah mulai stabil untuk saat ini, Dokter Christian," ujar Dokter Kevin dengan nada profesional, menatap sahabat sekaligus rekan sejawatnya itu. "Infus cairan dan obat penurun panas intravena sudah bekerja dengan baik. Suhu tubuhnya berangsur turun di angka 38,2 derajat Celsius, meskipun ia masih membutuhkan waktu istirahat total karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa."

Christian mengangguk tenang, sorot mata cokelat gelapnya masih terpaku pada wajah Bella yang tampak sangat rapuh di balik selang oksigen tipis yang melintang di hidungnya. "Terima kasih, Kevin. Tolong pindahkan dia ke ruang rawat inap VIP lantai atas begitu persiapannya selesai. Saya ingin pengawasan ketat selama dua puluh empat jam ke depan, jangan abaikan detail sekecil apa pun."

"Baik, akan segera kuurus pemindahannya," balas Dokter Kevin, lalu menepuk bahu Christian sekilas sebelum berlalu meninggalkan ruangan bersama dua orang perawat yang sigap mendorong peralatan medis.

*

Seiring kepergian Dokter Kevin, keheningan kembali merayap di antara paman dan keponakan itu. Nathan berdiri kaku di sudut ruangan, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana dengan jari-jari yang masih mengepal erat hingga memutih. Wajahnya dipasang sedingin mungkin, mati-matian menolak memperlihatkan rasa lega luar biasa yang tiba-tiba menyeruak di dadanya begitu mendengar Bella sudah melewati masa kritis.

"Kau bisa pulang, Nathan," ucap Christian tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Bella. Suaranya terdengar datar namun mutlak, menyiratkan otoritas yang sulit dibantah. "Kondisi Karin di rumah pasti masih terguncang hebat. Beritahu ayahmu kalau Bella sudah aman di sini."

Nathan mendengus pelan, sengaja mengangkat dagunya untuk menegaskan bahwa ia baik-baik saja dan tidak terpengaruh oleh situasi. "Aku tidak akan pulang sekarang," jawab Nathan dengan nada ketus yang sengaja dibuat-buat, mencoba menutupi getaran halus yang mulai merayap di pita suaranya. "Kalau aku pulang duluan, nanti Mama malah terus-terusan menangis histeris dan menyuruhku balik lagi ke sini. Lebih baik aku tunggu sampai dia benar-benar sadar dan bisa membuktikan kalau dia memang keras kepala."

Christian menoleh perlahan, menatap tajam ke arah keponakannya dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Menunggu? Atau kamu hanya ingin mencari alasan untuk lari dari rasa bersalahmu di hadapan ibumu sendiri?"

Mendengar sindiran telak itu, rahang Nathan langsung mengeras. Ia memalingkan wajahnya kasar ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu kota dari lantai atas rumah sakit, menghindari tatapan mengintimidasi sang paman.

"Terserah apa kata Om. Yang jelas, aku di sini bukan karena peduli padanya," elak Nathan dengan nada sinis, meski tenggorokannya terasa tercekat hebat dan panas. "Dia sendiri yang cari gara-gara dengan kabur di tengah malam buta seperti itu. Jadi wajar kan kalau aku tidak merasa sepenuhnya bersalah atas apa yang terjadi?"

"Cukup, Nathan!" bentak Christian rendah namun penuh penekanan yang luar biasa, membuat udara di ruangan steril itu mendadak menegang seketika. "Sampai detik ini pun kamu masih mempertahankan ego bodohmu itu? Gadis di ranjang itu terbaring lemah antara hidup dan mati karena ucapan keji dan pengusiran yang kalian lakukan di rumah!"

Nathan tertegun. Bentakan itu bagaikan cambuk tak kasat mata yang berhasil meruntuhkan pertahanan tipis yang ia bangun susah payah sejak tadi. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku hingga kuku-kukunya menancap nyeri di telapak tangan. Meski bibirnya terkatup rapat dan ia menolak mentah-mentah untuk menatap mata pamannya, setitik air mata kemarahan dan penyesalan yang membakar akhirnya lolos, meluncur cepat di pipinya sebelum buru-buru ia hapus dengan punggung tangan secara kasar.

"Aku bilang aku tidak peduli..." gumam Nathan dengan suara serak yang ditekan sedemikian rupa, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa wibawanya di hadapan sang paman. "Tapi... terserah Om kalau mau terus menceramahiku sampai pagi. Aku mau keluar sebentar cari udara segar."

Tanpa menunggu balasan, persetujuan, atau izin dari Christian, Nathan langsung memutar tubuhnya dengan kasar dan melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar. Ia membanting pintu IGD perlahan di belakangnya, seolah menyisakan ruang bagi sesak yang kian menghimpit dadanya.

Di luar lorong rumah sakit yang sepi dan berbau disinfektan, Nathan menyandarkan punggungnya pada dinding putih dingin di samping pintu. Pertahannya runtuh seketika tanpa sisa. Pemuda itu merosot pelan ke lantai, membenamkan wajah di kedua telapak tangannya, membiarkan isak tangis tertahan dan rasa bersalah yang teramat pekat menghantam seluruh sisi kewarasannya malam itu.

*

Di dalam kamar rawat, Christian menghela napas panjang melihat kepergian keponakannya yang keras kepala. Pria berwibawa itu kembali melangkah mendekati ranjang Bella, lalu menarik kursi plastik kecil dan duduk tepat di samping gadis itu.

Christian meraih tangan Bella yang terasa dingin di atas tempat tidur, menggenggam jemari mungil itu dengan erat di dalam kepalan tangannya yang hangat dan kokoh. Ibu jarinya dengan sangat lembut mengusap punggung tangan Bella yang masih tertusuk jarum infus.

"Tidur yang nyenyak, Arabella," bisik Christian pelan, suara baritonnya melembut, menyusup di antara keheningan malam rumah sakit yang panjang. "Mulai sekarang, tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang berani menyakitimu lagi... bahkan keluarga ku sendiri."

*

*

*

1
Mia Camelia
aduh makin rumit nih😔
Mita Paramita
nah gitu dong sih Vero mesti dikasih dipenjara biar sadar🫡 om Christ tegas banget buat lindungi Bella 😍
Mia Camelia
akhirnya bella di Terima keluarga nya😂
Mia Camelia
bella keras kepala banget sih😔😂
Mia Camelia
cristian udh mulai melindungi bella, 🤭
Ita Putri
pergi yg jauh sekalian Bella
kesel banget liat keluarga allegra
Ita Putri
pret lah....
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang
Mia Camelia
plis bella jangan kabur2an mulu, capek nih🤭🤭
+1
kejar om.. borgol kakinya 🌚
+1
mati🌚
MissSHalalalal: eh, jangan donk kak..
total 1 replies
Mita Paramita
😭😭😭
Mia Camelia
omg😨😨😨 ternyata bella anak punggut🤣
Mia Camelia
ya ampun, vero laknat banget ngejual bella😨😨😨😨
MissSHalalalal: apapun demi uang gak sih kak
total 1 replies
Mita Paramita
ternyata Bella selama ini jatuh cinta sama buaya darat 🤣🤣🤣
Mita Paramita
Bella bukan adik kandung Nathan gitu 🫡🫡🫡 makanya dicuekin... kakak jahat
Mita Paramita
mampir Thor dikarya terbarunya 🥳😍 semoga ceritanya sukses dan sampai tamat ya 🔥🔥🔥😍
MissSHalalalal: terima kasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!