NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Tepat sepersekian detik sebelum peluru tajam itu menembus dadanya, suara deru ban mobil berdecit hebat membelah halaman stasiun bus.

​Sebuah jip hitam besar berlapis baja menerobos barisan pagar pembatas stasiun, menabrak dua mobil patroli polisi hingga terpental ke samping.

Tembakan membabi-buta langsung diletupkan dari jendela jip, menghancurkan lampu sorot dan mengacaukan bidikan penembak jitu di atap gedung.

​RAT-TAT-TAT-TAT!

​"Tiarap semuanya!" teriak Rian dari balik kemudi jip, sementara pintu samping terbuka lebar.

​Maya membelalakkan matanya kaget, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Di kursi penumpang depan, Reza duduk dengan mata menyala penuh amarah.

Pria itu menembakkan pistolnya ke udara untuk membubarkan barisan pasukan khusus yang hendak mendekat.

​Sebelum Komisaris Hendra sempat memberikan perintah tembakan balasan, Reza melompat keluar dari jip, berlari cepat menembus kepulan asap, lalu menyambar tangan Maya dan menarik gadis itu masuk ke dalam mobil.

​"Masuk, Maya!" bentak Reza tegas, suaranya sarat akan emosi yang meluap-luap.

​"Reza... kamu... kenapa kamu ke sini?!" isak Maya histeris saat tubuhnya ditarik masuk dan jip langsung tancap gas melesat pergi meninggalkan stasiun yang kini dikuasai kepolisian.

​Tiga puluh menit kemudian, mobil jip itu tiba di sebuah vila tebing tersembunyi yang langsung menghadap ke laut lepas.

Suasana di dalam villa sangat sepi, dingin, dan jauh dari jangkauan siapa pun.

​Begitu pintu mobil terbuka, Reza menarik Maya turun dengan kasar, menyeret gadis itu masuk ke dalam kamar utama vila lalu membanting pintu hingga tertutup rapat.

​Maya terhuyung ke belakang, punggungnya terbentur dinding kamar yang dingin. Ia menatap Reza dengan napas terengah-engah dan air mata yang berlinang.

Wajah Reza sangat pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan sorot matanya menyala antara kemarahan yang mendalam serta rasa takut yang teramat sangat kehilangan.

​"Kamu mau kabur lagi, Maya?!" bentak Reza dengan suara berat yang menggelegar di dalam kamar yang sunyi itu.

​Maya mencengkeram ujung jaketnya erat-erat, menundukkan kepalanya.

"Aku harus pergi, Reza... Kalau aku tetap di dekat kamu, polisi, Sora, dan semua musuh kamu tidak akan pernah berhenti memburu kita! Aku cuma jadi beban!"

​Reza melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dalam satu detik. Pria itu menangkup rahang Maya dengan kedua tangan kasarnya, memaksa gadis itu untuk mendongak dan menatap lurus ke dalam matanya.

​"Beban?" desis Reza penuh emosi, napasnya menderu menerpa wajah Maya.

"Kamu pikir setelah saya melihat kamu hampir mati ditembak polisi tadi, saya peduli pada buronan, polisi, atau seluruh dunia ini, hah?!"

​Maya terpaku, menatap mata hitam Reza yang berkaca-kaca.

"Tapi... foto-foto itu... rekaman suara aku yang mau mengkhianati kamu... Bukankah kamu sudah tahu semuanya dari Tuan Burhan dan Sora?"

​Reza tertawa getir, sebuah tawa pahit penuh kepedihan. "Kamu pikir saya percaya begitu saja pada sampah yang mereka berikan?"

​Maya membelalakkan matanya. "Kamu... kamu tidak percaya?"

​Reza mendekatkan wajahnya, dahi mereka saling bersentuhan. Suara Reza berubah sangat lembut, dalam, dan menggetarkan dada.

​"Mungkin di awal kemarahan saya sempat gelap mata..." bisik Reza jujur, ibu jarinya mengusap air mata di pipi Maya dengan sangat hati-hati.

"Tapi begitu saya sadar kamu menghilang dari rumah aman... dada saya terasa mau pecah, Maya. Otak saya menolak percaya kalau perempuan yang menangis di pelukan saya, perempuan yang mempertaruhkan nyawanya demi saya, tega berkhianat."

​Maya tertegun, pertahanan terakhir di dalam hatinya runtuh seketika. Isak tangisnya pecah.

Ia melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher Reza, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

​"Maafkan aku, Reza... Maaf..." ratap Maya tersedu-sedu.

"Aku cuma takut melihat kamu hancur gara-gara aku..."

​Reza langsung mendekap tubuh Maya dengan sangat erat, seolah ingin menyatukan raga mereka ke dalam satu jiwa.

Rasa rindu, amarah, ketakutan, dan cinta yang membakar bercampur aduk menjadi satu gairah yang teramat kuat di antara mereka berdua.

​Reza mengangkat tubuh Maya ke atas tepi tempat tidur, lalu menatap bibir gadis itu dengan sorot mata yang penuh kehausan dan kerinduan mendalam.

​"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan saya lagi, Maya..." bisik Reza serak tepat di bibir gadis itu. "Kamu adalah milik saya... selamanya."

​Dan malam itu, di dalam kamar vila tebing yang diiringi suara deburan ombak laut yang menghantam karang di luar sana, batas antara rasa takut, kebencian dunia luar, dan cinta terlarang melebur menjadi satu.

Sentuhan tangan Reza yang hangat menelusuri kulit Maya, menyalurkan seluruh rasa protektif dan kepemilikan mutlak.

Ciuman mereka yang penuh gairah dan air mata menjadi bukti bahwa di dunia yang kejam ini, mereka hanya memiliki satu sama lain.

​Maya memejamkan matanya rapat-rapat, menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada pria berkuasa yang rela membakar dunia demi melindunginya.

​Menjelang tengah malam, di saat keheningan menyelimuti vila tersebut, Maya tertidur lelap dalam dekapan hangat di sisi tempat tidur Reza.

​Reza terbangun. Matanya terbuka tajam dalam kegelapan kamar. Ia mengecup kening Maya pelan-pelan tanpa berniat membangunkan gadis itu, lalu bangkit berdiri mengenakan kemejanya secara senyap.

​Reza melangkah keluar kamar menuju balkon luar yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Ia merogoh saku celananya, lalu menyalakan ponsel satelit rahasia yang tidak bisa dilacak oleh siapa pun, lalu menghubungi Rian.

​Tut... tut...

​"Halo, Tuan Besar," suara Rian langsung terdengar di ujung telepon.

​"Rian," ucap Reza dengan suara dingin yang membuat siapa pun merinding.

"Pencarian kita sudah sampai di tahap akhir. Lacak posisi IP dari rekaman suara palsu yang dikirim ke rumah aman kemarin."

​Di ujung telepon, Rian terdiam sejenak. "Tapi Tuan... kita sudah memeriksa semuanya—"

​"Jangan bohongi saya lagi, Rian," potong Reza tajam, menatap tajam ke arah laut gelap di hadapannya.

"Hanya ada satu orang di lingkaran dalam saya yang tahu persis di mana letak rumah aman itu, dan memiliki akses langsung ke rekaman suara Maya saat di panti asuhan."

​Rian di seberang telepon mendadak menahan napasnya.

​"Orang itu adalah kamu, Rian," lanjut Reza dengan suara rendah mematikan. "Kamu mengkhianati saya demi uang keluarga Burhan."

​Suasana di telepon mendadak hening total. Beberapa detik kemudian, suara tawa kecil yang dingin terdengar dari mulut Rian.

​"Hebat... Tuan Besar akhirnya sadar juga," ujar Rian tanpa rasa takut lagi.

"Tapi sayang sekali, Reza... Kamu sudah terlambat."

​Reza menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"

​"Coba kamu cek pintu depan vila tempat kamu berada sekarang," bisik Rian dengan seringai kemenangan di ujung sambungan.

​Klik. Telepon ditutup.

​Reza membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia berbalik badan dengan cepat dari balkon, melangkah keluar kamar menuju ruang tamu vila.

​Baru saja tangan Reza menyentuh gagang pintu depan, lampu di dalam seluruh vila mendadak padam total.

​Dan dari luar pintu, terdengar suara ketukan pelan yang sangat mengerikan, disusul oleh suara sirine puluhan kendaraan lapis baja yang mengepung tebing vila dari segala penjuru.

​Bersambung.....

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!