💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kilau lampu kota metropolitan memantul di balik dinding kaca panorama lantai dua puluh, membentang layaknya lautan bintang di bawah kaki mereka.
Dua bulan berlalu sejak pelarian menegangkan di perbatasan selatan, dan alih-alih hidup luntang-lantung di gang kumuh, kini Alana justru membalikkan keadaan dengan kejeniusannya.
Ketiganya kini menempati sebuah unit penthouse mewah yang kedap suara dan tak tersentuh.
Satu bulan yang lalu, Alana menerima permintaan darurat di dark web dari seorang maestro teknologi yang perusahaannya nyaris bangkrut dibobol sindikat penggelap dana.
Sebagai ganti atas keberhasilannya meretas balik dan mengembalikan dana tersebut dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, Alana menolak uang tunai. Ia menuntut pengusaha itu membelikan unit apartemen ini murni atas nama sang pengusaha sendiri.
Di atas kertas legal negara, tempat ini hanyalah aset kosong milik seorang miliarder yang sedang dinas di luar negeri. Jejak Alana, Kael, dan Kai lenyap sempurna dari radar Elvano maupun musuh lainnya.
Di ruang tengah yang hangat, denting halus jemari yang berpacu di atas keyboard memecah keheningan. Alana duduk santai di atas karpet beludru tebal, matanya fokus menatap deretan kode enkripsi hijau yang mengalir deras di layar laptop militernya.
"Bunda," suara Kael terdengar datar, namun sarat akan fokus yang sangat tajam.
Bocah enam tahun itu duduk bersandar di sofa kulit, memangku sebuah tablet yang perangkat kerasnya telah dimodifikasi habis-habisan oleh Alana. Kacamata bulatnya memantulkan cahaya layar.
"Kael baru saja tembus firewall tingkat dua di server bank Swiss tiruan yang Bunda buat semalam. Butuh tujuh menit."
Alana menghentikan ketikannya. Ia menoleh, menatap keponakannya dengan senyum bangga yang membungkus rasa perih di dadanya. Otak Kael menyerap ilmu peretasan layaknya spons yang haus, sebuah bakat mengerikan yang lahir dari trauma.
"Tujuh menit untuk anak seusiamu adalah rekor dunia, Sayang," puji Alana lembut. Ia beranjak mendekat.
"Tapi ingat, di lapangan yang sebenarnya, musuh hanya butuh tiga menit untuk melacak balik IP address milikmu sebelum mereka mengirim pasukan. Tekan waktumu jadi dua menit."
"Baik, Bunda. Kael ubah algoritma pemecahnya sekarang," sahut Kael patuh, kembali menunduk menatap layarnya dengan serius.
Di sudut lain ruangan, Kai sama sekali tidak tertarik dengan deretan kode. Bocah itu mewarisi insting fisik dan ketangkasan tempur sang ayah. Saat ini, Kai sedang berlatih melempar belati-belati kecil berbahan polimer tajam ke arah papan target gabus yang dipasang di dinding kedap suara.
Tep! Tep! Tep!
Tiga belati menancap presisi di titik tengah. Gerakannya cepat, senyap, dan mematikan.
"Bunda," panggil Kai, memutar satu belati tersisa di sela jari-jari mungilnya.
"Kalau orang-orang berjas hitam itu datang lagi, boleh Kai lempar ini ke lutut mereka? Kata Bunda, bom asap cuma buat kabur. Kai mau mereka jatuh."
Pertanyaan polos itu diiringi seringai tipis di bibir Kai—seringai dominan yang entah mengapa sangat mengingatkan Alana pada bos mafia yang sedang memburu mereka.
"Hanya jika terdesak dan nyawa kalian terancam, Kai. Prioritas kita selalu menghilang, bukan bertarung terbuka," jawab Alana tegas namun lembut.
Ia menghampiri kedua anak kembar itu, merengkuh mereka, dan mengecup puncak kepala mereka bergantian. Darah daging tangan kanan Elvano Adhitama ini perlahan tumbuh menjadi senjata mematikan di bawah asuhannya. Waktu mereka untuk bersembunyi digunakan untuk mengasah taring.
______________
Sementara itu, di lantai tertinggi Menara Adhitama, dua bulan terakhir terasa seperti neraka bagi seorang Elvano Adhitama.
Ruang kerjanya yang selalu rapi tanpa cela kini terlihat seperti ruang komando perang yang berantakan. Cetak biru tata kota, laporan intelijen, dan ratusan lembar foto tangkapan CCTV yang buram berserakan di atas meja marmer dan lantai.
Bos mafia yang ditakuti itu berdiri membelakangi meja, menatap lurus ke arah gemerlap kota melalui kaca jendela dengan rahang terkatup sangat rapat. Kemeja hitamnya kusut, dan ada bayangan lelah di bawah mata elangnya.
Dua bulan tanpa jejak. Sindikat bayangan yang menjadi musuhnya juga tampak kehilangan arah, membuktikan bahwa incaran mereka benar-benar licin.
Pikiran Elvano terbelah menjadi dua kepingan obsesi yang menyiksa. Di satu sisi, janji berdarahnya untuk menemukan anak kembar sang tangan kanan, Raka terus menghantui setiap jam tidurnya.
Di sisi lain, harga dirinya sebagai penguasa dunia bawah terkoyak habis oleh seorang hacker dari permukiman kumuh yang menguap begitu saja setelah mempermainkannya di gudang kargo malam itu.
Suara pintu kayu oak yang terbuka memecah keheningan. Jace melangkah masuk dengan langkah cepat dan kaku, membawa sebuah map hitam di tangannya. Wajah asisten kepercayaannya itu tampak tegang.
"Tuan Muda," lapor Jace, menunduk sedikit.
"Tim siber kita menemukan sebuah anomali. Ada peretasan tingkat tinggi di server arsip kepolisian pusat tiga hari yang lalu. Polanya sangat rapi, nyaris tidak meninggalkan riwayat akses."
Elvano berbalik perlahan. Mata elangnya menyipit tajam, mengusir segala rasa lelah yang menggerogotinya.
"Alana?"
"Sangat mungkin, Tuan," jawab Jace seraya meletakkan map itu ke atas meja yang berantakan.
"Pola enkripsinya memiliki tanda tangan digital—ghost proxy—yang identik dengan yang meretas sistem pelacakan kita dua bulan lalu. Tapi, bukan itu yang paling penting, Tuan."
Jace menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Yang dia retas bukanlah data sembarangan. Dia secara spesifik menarik berkas lama forensik tentang pembantaian keluarga Wiranata belasan tahun yang lalu."
"Wiranata? Apa hubungannya dia dengan keluarga itu?"
"Itu saya juga kurang tahu, Tuan Muda. Tapi di sini ia juga meretas informasi tentang Raka!"
Gerakan tangan Elvano yang hendak meraih map itu terhenti di udara. Udara di dalam ruangan luas itu seolah tersedot habis ke dalam ruang hampa.
Dua bulan ia mencari di dua jalan yang sepenuhnya berbeda. Memburu pelindung si kembar di satu sisi, dan memburu sang hacker angkuh di sisi lain.
Di dalam kepala Elvano, kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berceceran mulai menyatu dengan kecepatan yang mengerikan.
Gadis di pemukiman kumuh yang menolongnya malam itu. Peretas jenius yang meruntuhkan firewall Adhitama. Sepasang anak kecil yang ia sebut sebagai anaknya malam itu. Dan kini... dia mencari tahu khasus kematian sahabatnya.
"Sial," umpat Elvano pelan.
Suara baritonnya bergetar, namun bukan oleh amarah. Melainkan oleh ketertarikan, rasa frustrasi, dan euforia maut yang tak terbantahkan.
Sebuah seringai sinis perlahan terbentuk di bibir pucatnya, mengubah raut lelahnya menjadi wajah seorang predator yang baru saja mencium aroma darah segar.
"Tuan?" panggil Jace ragu, mundur selangkah melihat raut mengerikan bosnya.
"Selama ini kita buta, Jace." Elvano menekan kedua telapak tangannya di atas meja marmer, meremukkan beberapa kertas laporan di bawahnya. Matanya menyala liar.
"Gadis kumuh malam itu... Alana. Dia bukan sekadar peretas yang mencari masalah denganku."
Elvano mendongak, menatap Jace dengan sorot mata yang menjanjikan perburuan paling brutal dalam sejarah klan Adhitama.
"Dua bocah di dalam kamar kontrakan itu adalah Kael dan Kai. Alana adalah pelindung mereka. Dua buruanku selama ini... ada di dalam satu tubuh wanita yang sama."
Bersambung...