Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Direktur Muda dan Buah Naga
Malam Jumat, pukul sembilan lewat.
Dentuman musik memenuhi sebuah lounge eksklusif. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi minuman dan suara gemerincing es batu dari gelas para pengunjung.
Di sudut meja VIP paling pojok, tiga pria muda dengan penampilan high class sedang berkumpul.
Atau lebih tepatnya, dua pria sedang sibuk menertawakan satu pria yang sejak tadi terlihat kehilangan separuh jiwanya.
Ian Xavier Mahardika duduk menyandar di sofa. Kemeja biru gelapnya terbuka dua kancing teratas, memperlihatkan garis leher yang tegas.
Namun, sejak tadi pandangannya kosong.
Ia tidak memperhatikan minuman berwarna keemasan di depannya, apalagi pertandingan sepak bola yang sedang tayang di televisi besar. Tatapannya hanya tertuju pada es batu di dalam gelas yang perlahan mencair.
Pikirannya justru dipenuhi satu sosok perempuan berusia dua puluh tahun dengan kemeja kotak-kotak pudar, rambut dikuncir asal-asalan, dan senyum menantang.
Kring!
"Woi! Yan!"
Sebuah piring kecil berisi kacang pistachio melayang dan mendarat tepat di dada Ian.
Pria itu langsung tersentak. Ia menegakkan badan dan menatap tajam dua sahabatnya yang duduk di seberang meja.
Dimas, dokter spesialis anak yang selalu tampil rapi dengan kacamata andalannya, sedang tertawa sampai bahunya bergetar. Sementara Edy, sekretaris pribadi Ian, malah menyemburkan soda yang baru saja diminumnya.
"Gila, parah banget ini mah!" ujar Edy sambil mengusap dagunya yang basah dengan tisu. "Dim, lu lihat gak muka Si Pak Direktur tadi? Itu bukan tatapan orang yang lagi mikirin proyek lima puluh miliar. Itu tatapan orang kesurupan setan!"
"Setan palamu!" bentak Ian.
Ia mengambil kembali piring kacang yang mengenai dadanya, lalu meletakkannya di meja dengan sedikit kasar.
"Gua lagi mikirin revisi anggaran divisi pemasaran!"
"Bohongnya kagak rapi, Bos," sahut Dimas sambil membetulkan kacamatanya.
"Sejak kapan orang mikirin revisi anggaran sambil senyum-senyum tipis waktu ngeliat es batu mencair? Dari sepuluh menit lalu gelas lu cuma diputar-putar, tapi gak diminum. Gua sampai mikir lu lagi ngajak ngobrol itu es batu."
"Siapa yang senyum-senyum?!" Ian langsung membantah. Rahangnya mengeras, sementara ujung telinganya mulai memerah. "Muka gua emang begini dari lahir!"
"Muka lu emang ditekuk dari lahir, Yan. Tapi yang barusan beda."
Edy menyandarkan punggungnya ke sofa. Senyumnya semakin lebar melihat reaksi Ian.
"Itu namanya muka cowok lagi kepikiran cewek. Gua kan udah bilang, laporan intel soal Keira pasti bikin otak lu berkedip tiga kali."
Mendengar nama itu, Ian langsung mengalihkan pandangan ke jendela yang memperlihatkan gemerlap lampu jalanan.
Ia mengambil gelasnya dan meneguk minuman sampai habis, seolah ingin menghilangkan rasa kering di tenggorokannya.
"Gua cuma... gak enak aja sama dia."
Suaranya mendadak lebih pelan.
"Gua udah nuduh dia macam-macam sejak hari pertama. Ternyata dia ke sini memang karena kepepet utang orang tuanya."
Dimas dan Edy saling pandang.
Kali ini mereka tidak langsung melontarkan candaan. Keduanya tahu persis bagaimana sikap Ian sejak ibunya meninggal. Pria itu menjadi jauh lebih tertutup dan sulit mempercayai orang lain.
Mereka sudah berteman sejak SMA, kemudian melanjutkan kuliah bersama di Sydney. Jadi, mereka cukup mengenal Ian, termasuk sisi dirinya yang jarang diperlihatkan kepada orang lain.
Dimas menggeser gelasnya ke tengah meja.
"Terus, lu udah ngelakuin apa buat menebus rasa gak enak itu?"
Ian berdeham. Ia merapikan lengan kemejanya, mencoba bersikap biasa.
"Gua kasih dia uang muka gaji sepuluh juta tadi pagi."
"Bagus dong," puji Dimas sambil mengangguk.
"Terus..."
Ian menggantung kalimatnya. Ia menggigit bibir bawah sebentar sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara lebih kecil.
"Tadi pagi jam enam... gua motong buah naga buat dia."
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Edy yang baru saja mengangkat gelas langsung tersedak.
"UHUK! UHUK! UHUK!"
Dimas membelalakkan mata sampai kacamatanya hampir melorot.
"Lu... NGAPAIN, YAN?!"
"Gua potong buah naga!" jawab Ian dengan nada mulai kesal karena reaksi berlebihan kedua sahabatnya.
"Buat Mika! Di SOP buatan gua, potongan buah naga harus berukuran satu kali satu sentimeter!"
Edy masih berusaha mengatur napas sambil memegangi perutnya.
"Pakai apa lu motongnya?"
"Pakai pisau dapur, lah!"
Ian menatap Edy seolah pertanyaan itu sangat bodoh.
"Sama... penggaris."
BARRR!
Tawa Edy dan Dimas langsung meledak.
Suara mereka begitu keras sampai beberapa pengunjung di meja sebelah sempat menoleh.
Dimas menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat, sementara Edy sampai bergeser hampir terguling ke samping sofa sambil memukuli sandarannya.
"ASTAGA IAN XAVIER MAHARDIKA!"
Edy berteriak di sela tawanya.
"Lu Direktur Utama Mahardika Group! Bawahan lu ribuan orang, jajaran komisaris aja takut sama lu! Tapi lu malah berlutut di dapur jam enam pagi buat ngukur buah naga pakai penggaris?! Demi apa, Yan?! Demi komedi?!"
"Berisik, anjing!"
Ian mengambil bantal sofa kecil dan melemparkannya ke arah Edy.
Namun, bukannya berhenti, Edy justru semakin terbahak-bahak.
"Gua gak bisa bayangin! Kalau ada karyawan lu yang tahu kejadian ini, mungkin besok satu gedung bakal rapat buat membahas kesehatan mental direktur mereka!"
"Mulut lu bisa gak dijaga?" geram Ian.
Dimas akhirnya berhasil mengangkat wajahnya. Ia mengusap sudut matanya yang sedikit berair akibat terlalu banyak tertawa.
"Yan, gua serius nanya. Lu motong buah naga pakai penggaris karena mau minta maaf sama Keira atau karena takut dia melaporkan lu ke bagian HRD?"
Ian menatap Dimas datar.
"Lu berdua kalau gak bisa bantu, mending diam."
"Justru gua mau bantu," sahut Edy cepat. "Besok gua beliin lu penggaris besi sekalian. Biar potongan buahnya lebih presisi. Kalau perlu, gua pesenin jangka sorong."
"EDY!"
Tawa kembali pecah di meja VIP itu.
Ian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar menyesal sudah menceritakan kejadian pagi tadi kepada dua manusia tidak tahu diri tersebut.
semangat Kak 💪💪