NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Digerebek

"Gue mau ngecas HP, Bego! HP gue mati!" Bellona hampir saja melemparkan sandal rumahnya ke kepala Devan. "Gue kagak bisa ngapa-ngapain di dalam! Kegelapan, pengap, banyak nyamuk lagi!"

Devan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, lalu berbalik sambil merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah power bank berukuran lumayan besar dan tebal, lalu menimbangnya di telapak tangan.

"Nih," Devan menyodorkannya ke arah Bellona dengan raut wajah bangga. "Penyelamat peradaban. Masih ada tiga batang dayanya. Cukup buat ngecas HP lo sampai penuh."

Bellona menyambar benda itu kasar dari tangan Devan. "Terus lampunya gimana?! Lo mau kita tidur gelap-gelapan kaya di dalam kuburan?!"

"Dih, kagak usah bawa-bawa kuburan, ngeri anjir," Devan merinding sendiri. Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang remang-remang—hanya diterangi cahaya bulan dari jendela luar—lalu berjalan menuju Dapur.

Tak lama kemudian, Devan kembali sambil membawa dua buah lilin merah sisa imlek entah tahun berapa dan satu buah pemantik api gas.

Ctek! Ctek!

Nyala api kecil menari-nari di ujung lilin, menerangi wajah Devan yang tersenyum tanpa dosa. Ia meneteskan sedikit lelehan lilin di atas meja kayu ruang tamu, lalu menempelkan lilin itu di sana hingga berdiri tegak. Satu lilin lagi ia serahkan ke Bellona.

"Nih. Suasana aesthetic, kan? Candlelight dinner versi orang melarat," ujar Devan santai, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. "Lagian gelap-gelapan gini bagus buat mata lo, biar kagak kebanyakan main HP terus."

Bellona menerima lilin itu dengan tatapan tidak percaya. "Lo bener-bener gila, ya."

"Panggil aja Devan, kagak usah pake gila," sahut Devan sambil menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan mata menikmati semilir angin malam yang masuk dari celah ventilasi. "Btw, lo udah makan belum?"

Pertanyaan sederhana itu mendadak membuat perut Bellona berbunyi nyaring. Kruuuuk...

Di dalam ruangan yang hening dan remang itu, suara perut Bellona terdengar begitu jelas.

Bellona seketika merapatkan bibirnya, mukanya memerah karena malu, meski tertutup oleh bayang-bayang kegelapan malam. Ia memilih berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya.

"Kagak usah sok perhatian," desis Bellona ketus dari balik bahunya.

"Yee... siapa yang perhatian? Gue cuma nanya," panggil Devan dari ruang tamu. "Di dapur ada mi instan rasa soto. Tapi aer panasnya kagak ada gara-gara dispenser mati kagak ada listrik. Kalau lo mau makan mi mentah diremuk paken bumbu, ambil aja di lemari atas. Gue sering gitu kalau lagi bokek."

Bellona menghentikan langkahnya di depan pintu kamar. Gadis itu mengepalkan tangannya rapat-rapat, meratapi betapa hancurnya nasib hidupnya hari ini. Dari rumah mewah, ditarik paksa, dibuang oleh ibunya sendiri, dan sekarang terdampar di rumah pria miskin yang makan mi mentah demi bertahan hidup.

"Gue gak sudi makan makanan sampah lo!" bentak Bellona, lalu menerobos masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

BLAM!

Suara pintu terbanting lagi-lagi menyisakan Devan sendirian di ruang tamu.

Devan membuka sebelah matanya, menatap pintu kamar Bellona yang tertutup rapat, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengambil sebutir permen karet dari sakunya, melemparnya ke dalam mulut, lalu bergumam pelan pada lilin yang bergoyang diterpa angin.

"Galak banget, anjir. Cewek-cewek zaman sekarang makanannya apa sih? Cabe rawit celup bensin?"

Devan mendesah pelan, menatap langit-langit rumahnya yang gelap.

***

Pagi-pagi sekali, keheningan gang rumah Devan pecah oleh suara ketukan pintu yang tergesa-gesa dan keras.

TAK! TAK! TAK!

"Devan! Buka pintunya, Van! Pak RT ini!"

Devan yang baru saja terbangun dengan rambut berdiri ke segala arah dan mata menyipit akibat kantuk, mengusap wajahnya kasar. Ia melangkah tumpang-tindih menyusuri ruang tamu sambil mengumpat pelan.

"Iya, iya! Sabar napa, subuh-subuh udah kaya mau nagih utang!" gerutu Devan sambil menarik gerendel pintu.

Begitu pintu terbuka, Devan membelalakkan mata. Di teras rumahnya tidak hanya berdiri Pak RT dengan wajah serius dan kumis tebalnya yang melengkung, tetapi juga tiga orang ibu-ibu warga sekitar—Bu Tejo, Bu Ning, dan Mpok Minah—yang selama ini dikenal paling heboh mengagumi Devan kalau pria itu sedang mencuci motor bertelanjang dada di halaman.

Ketiga ibu-ibu itu menatap Devan dengan lipatan tangan di dada dan raut cemburu bercampur curiga yang amat pekat.

"Ada apaan nih, Pak RT? Rombongan sirkus pagi-pagi udah mangkal di teras gue?" tanya Devan polos sambil menggaruk perutnya di balik kaus oblongnya yang agak kusam.

"Kagak usah becanda lo, Devan!" pangkas Mpok Minah duluan dengan nada tinggi, matanya melotot tajam. "Kita dapet laporan dari warga, kemarin pagi lo bawa cewek masuk ke rumah! Mana bahenol, gaya-gaya anak muda kota gitu lagi! Lo nampung cewek kagak jelas, ya?!"

"Iya, Van! Kita ini warga baik-baik, kagak mau lingkungan kita tercemar gara-gara kelakuan lo!" timpal Bu Tejo, matanya berusaha melongok-longok ke dalam rumah Devan yang gelap.

Pak RT berdehem keras, menetralkan suasana. "Ehem! Begini, Van. Bapak dapat aduan dari ibu-ibu. Benar kamu bawa perempuan asing tinggal di sini? Kamu tahu sendiri aturan RT kita, dilarang membawa lawan jenis yang bukan muhrim menginap, apalagi kamu ini bujangan."

Devan meloto panik. Kematian konyol rasanya sudah membayang di depan mata kalau sampai warga tahu Bellona itu anak dari mantan pacarnya belasan tahun lalu yang dibuang begitu saja di terasnya.

"E-eh! Suuzon aja lo pada!" Devan cepat-cepat membusungkan dada, memutar otak secepat kilat. "Siapa yang nampung cewek kagak jelas?! Itu... itu adik gue! Adik kandung gue yang baru pulang dari kampung!"

"Adik?" Bu Ning menaikkan sebelah alisnya curiga. "Setahu saya, kamu itu anak tunggal ya, Van! Kagak pernah cerita punya adik!"

"Loh, kan kagak semua sejarah keluarga gue mesti gue laporin ke grup WA RT!" Devan membela diri menggebu-gebu. "Dia baru pindah ke sini mau sekolah!"

Tepat saat itu, pintu kamar belakang berderit terbuka.

Bellona keluar dari kamar dengan wajah bantal, rambut acak-acakan, dan matanya yang masih lengket oleh kantuk. Ia belum sepenuhnya sadar saat mendengar keributan di depan rumah.

"Devan... berisik banget sih, orang masih mengantuk juga..." panggil Bellona dengan suara serak khas bangun tidur, berjalan santai menuju ruang tamu tanpa sadar situasi di luar.

Begitu melihat sosok gadis muda bergaun simpel keluar dari dalam, mata Pak RT dan ketiga ibu-ibu seketika tertuju lurus padanya.

"Nah! Itu dia ceweknya!" seru Mpok Minah sambil menunjuk-nunjuk Bellona.

Jantung Devan hampir meloncat keluar dari dada. Dengan panik, Devan memberi kode tangan secara sembunyi-sembunyi di samping pinggangnya—mengibas-ngibaskan tangan menyuruh Bellona mendekat dan mengisyaratkan gadis itu untuk diam dan menyetujui omongannya.

Bellona menghentikan langkahnya, mengedipkan mata beberapa kali mencoba mencerna pemandangan di depannya: seorang pria tua berkumis tebal, tiga ibu-ibu berdaster yang menatapnya seperti ingin menerkam, dan Devan yang memasang wajah penuh permohonan yang amat sangat konyol.

Devan langsung merangkul bahu Bellona secara mendadak, menarik tubuh mungil gadis itu merapat ke sampingnya hingga Bellona tersentak kaget.

"Nih! Coba Pak RT sama Ibu-ibu lihat baik-baik!" Devan menunjuk wajahnya sendiri, lalu menunjuk wajah Bellona bergantian dengan senyum lebar yang dipaksakan. "Mirip begini bentukannya masa kagak percaya kalau ini adik gue?! Lihat tuh matanya yang galak, hidungnya, cemberutnya... persis kan kaya gue versi cantikan dikit?!"

Bellona membeku dalam rangkulan Devan. Mendengar kata-kata konyol itu dan menyadari bahu pria di sebelahnya gemetar menahan panik, Bellona perlahan memutar kepalanya ke atas.

Gadis itu melayangkan tatapan sinis yang begitu pekat, tajam, dan menusuk lurus ke arah Devan—seolah-olah sedang menyumpahi pria itu agar tersedak bola tenis saat itu juga.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!