Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Revisi bab 1
“Ayah, lepaskan kak Aleah ayah, hiks, hiks.”Tangisan pilu Rania memenuhi rumah sederhana itu ketika Darto menyeret Aleah menuju pintu.
Aleah meronta, berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman ayahnya. Namun, semakin ia melawan, semakin kuat pria bertubuh gempal itu menariknya.
“Ayah, aku mohon! Lepaskan aku!” raung Aleah.
“Diam!” bentak Darto. “Kau pikir Ayah punya waktu untuk mendengar rengekanmu?”
Sementara itu, Aminah berlari mengejar mereka. Wajah perempuan itu pucat, sementara air matanya terus mengalir.
“Mas, jangan lakukan ini! Dia anak kita!” Rintihnya penuh kesakitan. Berusaha memisahkan Darto dari sang putri namun yang di dapat justru pukulan hingga dirinya terjerembab.
“Justru karena dia anakku, aku berhak melakukan apa saja terhadapnya!” suara Darto kembali menggelegar, matanya nyalang penuh emosi dan juga keserakahan.
Aleah membeku mendengar jawaban itu.
Malam itu, ia ternyata baru mengetahui bahwa ayahnya telah menjual dirinya kepada Juragan Barnas untuk melunasi utang judi.
“Mulai besok, kau tinggal di rumahnya. Jangan mempermalukan Ayah dengan membuat keributan.”
“Aku tidak mau!” Aleah menggeleng keras. “Aku bahkan tidak mengenal orang itu!”
Darto menoleh dengan wajah merah padam.”Dia orang kaya, warisannya banyak. Kau akan hidup berkecukupan di sana. Apa lagi yang kau inginkan?”
“Aku bukan barang yang bisa Ayah jual!”
Plak!
Seketika tamparan keras mendarat di pipi Aleah.
Rania menjerit, sontak membuat Aminah segera berlari untuk memeluk putri bungsunya itu, sementara Aleah terdiam dengan pipi memanas dan mata berkaca-kaca.
Selama ini, sudah terbiasa melihat ayahnya mabuk, berjudi, dan menghabiskan uang belanja keluarga yang bahkan susah payah dikumpulkan oleh ibunya. Ia juga sudah terbiasa mendengar ibunya menangis diam-diam saat malam hari.
Namun, ia tidak pernah menyangka ayahnya akan setega itu untuk menjualnya sendiri.
“Mas, kumohon…” Aminah berlutut di hadapan suaminya, dengan kedua tangan menangkup di depan dada. “Kalau kau membutuhkan uang, ambillah apa pun yang kita punya. Jangan korbankan anak kita!”
“Tidak ada lagi yang bisa dijual di rumah ini!” Desis Darto. “Justru putri mu inilah aset berharga yang bisa kugunakan untuk menebus hutang ku.”
Darto kembali menarik Aleah.
Melihat putrinya yang hampir dibawa pergi, sesuatu dalam diri Aminah akhirnya patah.
Perempuan itu lantas bangkit, meraih balok kayu di dekat pintu, lalu memukulkan benda itu ke kepala suaminya.
Duagh!
Aleah dan Rania sontak membelalakkan mata sementara Darto mengumpat sebelum akhirnya tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai.
Suasana mendadak sunyi.
Aminah menatap suaminya yang tidak sadarkan diri lalu mengeceknya sesaat untuk memastikan dia benar-benar sudah tidak bergerak.Tangannya gemetar hebat, tetapi ia segera berbalik kepada Aleah.
“Cepat, Nak! Kita tidak punya banyak waktu.” Ia menarik Aleah ke kamar, kemudian mengambil sebuah bungkusan dari lemari, lalu menyerahkannya kepada putrinya.
“Apa ini, Bu?” Tanya Aleah bingung.
“Uang dan surat. Di dalamnya ada alamat yang harus kau datangi.”
Aleah menatap ibunya dengan dahi berkerut semakin bingung. “Aku tidak mengerti.”
Aminah menggenggam kedua tangan putrinya.
“Dengarkan Ibu. Kau harus pergi ke kota malam ini. Jangan kembali ke sini, apa pun yang terjadi.”
Aleah sontak menggeleng. “Lalu Ibu dan Rania bagaimana? Aku tidak bisa meninggalkan kalian!”
“Kalau kau tetap di sini, ayahmu akan menyerahkanmu kepada juragan tua itu. Ibu tidak sanggup membiarkan hal tersebut terjadi.”
Air mata Aleah jatuh semakin deras. Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi ia tak sanggup.
Ia ingin membawa ibu dan adiknya pergi bersama. Namun, ia bahkan tidak memiliki cukup uang untuk menyewa kendaraan, apalagi menjamin keselamatan mereka.
Aminah mengusap pipinya. “Selama ini Ibu selalu mengajarimu tata krama, cara membawa diri, dan bagaimana menghadapi orang lain. Kau mungkin tidak mengerti alasannya, tetapi semua itu akan berguna suatu hari nanti.”
Aleah teringat ucapan ibunya bertahun-tahun lalu.
Kelak, kau akan tinggal di tempat yang jauh lebih besar daripada rumah ini, Nak.
Dulu, ia mengira ibunya hanya sedang bermimpi.
Kini, di tengah kekacauan yang menghancurkan keluarganya, ucapan itu kembali terngiang.
“Bu, sebenarnya siapa Ibu?”
Aminah terdiam sesaat.
Ada kesedihan yang begitu dalam di matanya, seolah pertanyaan itu menyentuh luka lama yang belum pernah sembuh.
“Nanti kau akan mengerti. Sekarang, selamatkan dirimu terlebih dahulu.”
Tangisan Rania membuat Aleah menoleh. Adiknya berlari memeluk pinggangnya.
“Kakak jangan pergi!”
Aleah berlutut dan memeluknya erat.
“Kakak akan berusaha kembali untuk kalian, ya? Jadi, Rania harus menjaga Ibu.”
“Tapi Rania takut, Kak.”
“Aku juga takut.” Aleah menelan isakannya, kemudian mengusap rambut adiknya.
“Tapi kita tidak boleh menyerah hanya karena takut.”
Aminah segera menarik Aleah menuju pintu belakang ketika terdengar suara gerakan dari ruang depan.
“Pergilah sekarang!”
Aleah menggenggam bungkusan itu erat-erat. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh untuk terakhir kalinya.
Ibunya berdiri dengan mata sembap, sedangkan Rania terus menangis dalam pelukannya.
Pemandangan itu akan terus membekas di ingatannya.
Malam itu, Aleah meninggalkan rumah tanpa tahu kapan ia bisa kembali. Ia hanya memiliki sedikit uang, sebuah surat, dan alamat yang diberikan ibunya.
Namun, ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan hidupnya berakhir di tangan orang-orang yang menganggapnya tidak berharga.
Ia akan bertahan.
Demi dirinya sendiri, demi ibunya dan demi Rania.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sementara Aleah berlari mengejar keselamatannya, di kota yang sama, seorang pria berdiri di balkon mansion megah keluarga Fernandez.
Sagara Davitra Fernandez sedang menatap langit malam tanpa ekspresi.
Delapan belas tahun berlalu, tetapi ingatan tentang kematian ayahnya masih membayangi setiap langkahnya.
Malam itu, ia kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa aman.
Dan sejak malam itu pula, hidupnya tidak pernah benar-benar sama.
Pintu balkon lantas terbuka.
“Masih memikirkan ayahmu?”
Sagara tidak menoleh, tapi ia langsung mengenali suara tersebut tanpa perlu melihat pemiliknya.
Mayang, bibinya, berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Besok peringatan kematian ayahmu. Kau akan datang, bukan?”
“Tentu.”jawabnya singkat.
Mayang mendekat, lalu berdiri di sampingnya.”Sudah delapan belas tahun, Saga. Bibi berharap kau bisa sedikit lebih tenang.”
Sagara tertawa hambar. “Bagaimana aku bisa tenang selama pembunuhnya masih bebas?”
Wajah Mayang berubah sendu. “Kami masih berusaha menemukan ibumu?”
Sagara akhirnya menoleh. Rahangnya mengeras saat mendengar kata ibu.
“Jangan sebut dia seperti perempuan yang masih pantas disebut ibu.”
Mayang sontak menunduk, diam- diam menyembunyikan senyum tipis yang nyaris muncul di bibirnya.
“Bibi mengerti. Kau sudah terlalu banyak menderita.” wajahnya ia buat lagi sesedih mungkin.
Sagara kembali memandang langit.
Dalam ingatannya, ibunya masih berdiri di dekat jasad ayahnya dengan sebuah pistol di tangan dan pemandangan itu tidak pernah hilang, bahkan ketika ia memejamkan mata.
“Dia harus ditemukan,” ucap Sagara dingin. “Aku ingin mendengar sendiri alasan dia meninggalkan ayahku yang mati di lantai.”
Mayang menatap keponakannya dalam diam.
Delapan belas tahun lalu, Sagara hanyalah seorang anak yang kehilangan ayahnya. Kini, ia tumbuh menjadi pewaris keluarga Fernandez yang disegani sekaligus ditakuti.
Dan selama kebencian itu masih hidup, Mayang tahu ia tidak perlu khawatir Sagara akan kembali mempercayai ibunya.
Setidaknya, untuk saat ini.
Ia akan terus bisa mengendalikan emosi anak ini.
…..
Bersambung