NovelToon NovelToon
Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: Naysol C.

Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.

Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.

Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."

Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

— Emira —

Ketika terbangun, Daniel ada di sampingku, memelukku. Aku terpaku menatap wajah tampannya.

Aku tak pernah sempat mengamatinya selama ia tidur. Setelah beberapa saat, aku menatap bibirnya, mendekat perlahan, dan mengecupnya singkat, lalu bergeser turun untuk keluar dari ranjang.

Saat itu ponselku berdering dengan pesan dari Bu Vira, mengajakku memilih gaun pengantin.

Namun jauh di dalam hati, aku merasa belum siap menyatukan hidupku dengan seseorang. Di sisi lain, kalau dengan Daniel, kurasa aku bisa. Tapi aku tetap takut hubungan kami akan berbelok tak terduga seperti yang terjadi dengan Marko.

Setelah selesai berpakaian, aku pergi menemui Bu Vira di luar rumah, dan tak kusangka ada Regina juga yang ia undang.

Sesampainya di sana, aku mulai mencoba beberapa gaun, lalu kami membujuk Regina untuk mencoba beberapa gaun yang menarik perhatiannya.

"Kalian berdua cantik sekali," ucap Vira. "Ini mengingatkanku pada hari pernikahanku dulu."

"Ibu pasti terlihat cantik memakai gaun pengantin," sahut Regina. "Kalau aku jadi suami Ibu, mungkin aku sudah mimisan di hari pernikahan."

Obrolan kami terus mengalir, membuatku merasa santai dan bebas dari beban. Perasaan seperti ini mulai kurasakan sejak Daniel hadir dalam hidupku.

Bagaimanapun, aku sangat mencintai Daniel. Meski kami memulainya dengan sebuah kontrak, siapa yang menyangka aku akhirnya menikah dengannya dan jatuh cinta pada pemuda dari masa remajaku itu.

Kami begitu asyik membeli beberapa barang, sampai tiba-tiba suara yang begitu kukenal menyebut namaku. Saat menoleh dengan enggan, kulihat Marko dan pacarnya.

Melihat mereka, darahku mendidih — bukan karena cemburu, melainkan karena marah pada betapa hina Marko di mataku sekarang.

Berani-beraninya ia muncul di hadapanku. Apa ia tak punya malu setelah dua kali mencoba merenggutku secara paksa?

Saat itu Selena melepaskan diri dari bahu Marko, hendak menamparku sambil mendekat.

"Dasar jalang," desis Selena. "Berani-beraninya kau mencoba menggoda priaku waktu itu. Kalau bukan karena kau—"

Marko menyusul dan mencengkeram lengan Selena, mencegahnya menyentuhku. "Diam. Kaulah satu-satunya yang membuatnya pergi dari sisiku."

Marko memanggil pihak keamanan untuk mengeluarkan Selena dari toko. Sementara Selena diseret pergi, Regina berkata,

"Kau tak tahu malu. Karena kau, dia sudah sangat menderita. Tapi itu semua sudah berakhir. Karena Emira akan menikah dengan CEO Daniel."

Marko menatap mata Emira, mencari secercah cinta untuknya. Tapi dengan wajah terluka, yang ia dapati hanyalah Emira yang dingin, kuat, penuh harga diri, dengan mata yang dipenuhi rasa muak saat menatapnya.

Marko mendekatiku dan dengan putus asa serta nada berang menyatakan bahwa aku adalah wanitanya. Saat itu Daniel datang dan memukul Marko.

Aku begitu terkejut oleh kemunculan Daniel. Lalu para pengawal ibunya memisahkannya dari Marko. Ketika mereka mencoba melerai, Marko meraih lenganku sambil mengklaim bahwa aku miliknya. Aku begitu marah sampai reaksi pertamaku adalah menampar wajahnya.

Kulihat Daniel kembali mendekat ke arah kami. Aku panik karena wajahnya memancarkan aura membunuh terhadap Marko. Tanpa berpikir, kuhalangi jalannya dan kucium ia dengan gugup. Namun segala kecemasanku sirna ketika ia meraih pinggangku dan menciumku seperti biasa.

Saat melepaskan diri dari bibirnya, aku sudah bertekad menegaskan pada Marko bahwa orang yang kucintai adalah Daniel, dan bahwa jika ia sampai ikut campur lagi, aku akan mengambil tindakan ekstrem dan takkan ada belas kasihan untuknya kali ini.

Setelah kami meninggalkan toko, sepanjang perjalanan pulang, sesekali kulirik Daniel yang terus terdiam tanpa sepatah kata pun. Suasananya terasa canggung dan berat.

Ketika turun dari mobil, aku berjalan tanpa menoleh ke belakang, bahkan tak sempat mendengar apa yang ia katakan padaku. Aku gugup sekaligus malu karena bertindak gegabah. Ia pasti marah dan mengira aku memanfaatkannya untuk membuat Marko cemburu. Padahal yang kuinginkan hanyalah mencegahnya berkelahi dengan Marko.

Aku hampir berlari menuju kamar untuk menutup pintu, tapi Daniel menyusul dari belakang dan tiba tepat waktu, mencegahku mengunci pintu dengan mendorongnya.

Begitu berada di dalam kamar, ia cepat-cepat menarik lenganku, membawaku mendekat padanya.

Aku memalingkan wajah dengan takut, memejamkan mata, mengira ia akan membentakku. Tapi aku membeku ketika ia justru memelukku erat.

Setelah beberapa saat, saat Daniel merasa aku sudah lebih tenang, ia melepaskan pelukannya. Ia berkata sambil menangkupkan wajahku ke arahnya.

"Kenapa kau kabur saat kita tiba tadi?"

"Karena aku tak mau mendengarmu memarahiku gara-gara menciummu."

"Kau pikir aku tak suka itu, dan kau kira aku marah padamu?"

"Kalau tidak begitu, kenapa kau diam saja sepanjang perjalanan?"

Ia meraih pinggangku, merapatkan tubuhnya ke tubuhku. "Karena aku sedang menahan diri agar tidak menyerangmu di tengah jalan raya."

Aku merasakan sesuatu yang keras menyentuhku. Wajahku memerah begitu menyadari apa itu, dan aku memalingkan pandangan. "Kau... sebaiknya kendalikan dirimu."

Ia mengecup leherku. "Aku tak bisa menahan diri lagi." Ia mendorongku mundur sambil bicara. "Sepanjang waktu sejak kita pulang tadi, aku terus menahan diri." Ia membaringkanku di ranjang. "Sejak hari itu kita belum melakukannya. Aku menginginkanmu, Emira."

"Tunggu... aku sedang datang bulan."

"Ah?!" Ia paham bahwa aku merujuk pada siklus haidku, lalu dengan gugup menyingkir dari atasku. "Aku mengerti, maaf..." Ia mengecup dahiku. "Aku akan menyelesaikan urusan ini sendiri. Tapi lain kali, aku takkan menahan diri lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!