Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil
Tengah malam, Rayzan terbangun dari tidurnya. Pria itu merasakan dadanya terasa berat karena Nadira tertidur sambil memeluknya. Perlahan-lahan, ia berusaha menyingkirkan kepala wanita itu dari dadanya. Namun, gerakannya justru membuat Nadira terbangun.
"Rayzan ... Ngapain kamu bangun jam segini?" tanya Nadira setelah melihat jam dinding.
"Kamu juga ngapain bangun? Padahal aku sengaja pelan-pelan mindahin kepala kamu dari dada aku."
"Enak aja ... Kamu nggak usah bohong deh. Mana mungkin aku tidur sambil memeluk kamu."
Rayzan memutar bola matanya dengan malas. Rasanya tidak lucu kalau mereka harus bertengkar tengah malam seperti ini.
"Terserah istriku aja, deh. Aku nggak mau ribut sama kamu, apalagi jam segini."
"Siapa juga yang mau ribut sama kamu? Bisa-bisa Umi dan Ayah dengar."
"Ha?" Rayzan mengernyitkan kening. "Maksud kamu apa? Umi sama Ayah ada di sini?"
"Iya ... Mereka datang menjenguk kamu. Dan kamu tahu apa? Aku malu, tahu! Ini semua salah kamu!"
"Lho ... Aku lagi yang salah?"
"Iyalah ... Kalau saja kamu nggak tidur di pelukan aku, mana mungkin aku membiarkan kamar kita berantakan. Sekarang aku malu. Orang-orang malah tahu kalau kita baru saja berhubungan."
"Ya, kan, nggak ada salahnya, sayang. Biar mereka tahu kalau calon bayi kita sedang dalam proses pembuatan."
"Ah, udahlah ... Aku nggak suka kalau kamu ngomong aneh-aneh seperti ini."
"Ya sudah, deh." Rayzan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kamu mau ke mana?"
"Ha, tuh, kan ... Ya ampun, sayang. Aku cuma mau ke dapur. Nggak jauh-jauh dari kamu, kok. Jangan kangen dulu, ya."
"Rayzan! Kamu mau aku pukul?"
"Dipukul nggak, tapi kalau dicium aku mau."
"Kamu!"
"Eits ... Nggak kena." Rayzan terkekeh saat Nadira gagal memukulnya.
Nadira mengembuskan napas dengan kasar. Ia begitu membenci kelakuan Rayzan yang selalu berhasil membuatnya kesal. Rayzan pun berlalu begitu saja tanpa menoleh ke arah Nadira lagi.
[] [] []
Di tempat lain, dua orang masih belum tertidur karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Resya menemani Daulat yang saat ini sedang menghadap laptop.
"Kenapa Mas nggak dilanjut besok saja sih?"
"Tanggung, sayang ... Besok belum tentu juga aku kerja."
"Lho ... Kok gitu sih, Mas? Memangnya Mas mau ke mana?"
"Aku mau istirahat dulu. Capek banget. Banyak kerjaan di kantor. Belum lagi karyawan yang ngeyel, Rayzan juga sakit."
Resya mengembuskan napas perlahan. "Mas sayang banget, ya, sama Rayzan?"
Daulat menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap wanita itu dengan saksama.
"Kamu tahu ... Bahkan aku nggak bisa hidup tanpa dia. Dari dulu dia selalu menjadi peganganku. Dia yang paling dewasa dibandingkan aku."
"Aku masih ingat bagaimana caranya dia menasihati aku ketika melakukan kesalahan. Tapi sepanjang hidupnya, kesalahan itu juga membuatnya ikut terlibat."
"Mas jangan khawatir, ya. Aku akan selalu mendukung apa pun yang Mas ingin lakukan untuk Rayzan ... Kita doakan semoga dia dan istrinya cepat memiliki keturunan. Siapa tahu dengan begitu Nadira bisa mencintai Rayzan."
"Aku nggak mau memiliki keponakan dari pernikahan mereka. Aku yakin sekali kalau Nadira juga nggak akan mau. Dia sudah terlanjur membenci keluarga kita."
"Mas yang sabar, ya ... Aku tahu semuanya pasti akan berakhir."
[] [] []
Masih di rumah mertuanya, Rayzan dan Nadira kini saling memandang. Di hadapan mereka sudah tersedia makanan yang sebentar lagi akan disantap.
"Kamu ngapain lihat aku?" tanya Rayzan. "Tadi kamu bilang mau ikut aku makan. Sekarang kok malah bengong?"
"Aku lagi mikir ... Aku punya dosa apa, ya, sampai harus menikah dengan lelaki seperti kamu."
"Kenapa sama aku?"
"Kamu jangan pura-pura polos, deh. Sekalinya diberi hak sebagai suami, malah terus-menerus mencari kesempatan."
"Oke ... Aku tahu kenapa kita menikah."
"Hmm, coba jawab," ucap Nadira.
"Kamu wanita murahan, sementara aku suka mesum sama wanita. Cocok, kan?"
"Kamu!"
Nadira menggebrak meja makan hingga berdiri. Ia menatap tajam ke arah suaminya.
"Hm, lihat ... Baru dua kali kita berhubungan, tapi aku sudah berhasil membuat bentuk tubuhmu menjadi lebih indah."
Tiba-tiba Nadira menutup bagian depannya dengan kedua telapak tangan.
"Jangan kurang ajar kamu, ya."
"Aku sudah lihat, Nadira. Percuma kamu tutupin dengan tangan."
"Suami mesum."
"Cieee ... Sudah menerima aku sebagai suami?"
"Nyebelin banget, sih."
Nadira kembali duduk di kursinya dan segera menyantap makanan.
"Kamu cantik."
"Uhuk!" Nadira tersedak. Rayzan segera memberikan minuman kepadanya.
"Ya ampun, sayang."
"Kamu aneh banget, ya. Aku lagi makan malah dibikin emosi."
"Kamu yang aneh. Aku memuji istriku sendiri, tapi malah dibilang aneh."
"Makan cepat, biar kita tidur."
Nadira langsung membulatkan matanya setelah mendengar ucapannya sendiri.
"Ma-maksudku, biar kita bisa tidur cepat."
"Aku mau dimanjain, ya," ujar Rayzan. "Pokoknya aku mau kepala aku dielus-elus seperti tadi."
"Rayzan!!! Jadi kamu sebenarnya nggak tidur?"
"Nggak ... Sengaja, dong. Biar aku bisa merasakan kasih sayang istriku."
Di bawah meja, Nadira mengepalkan tangannya. Wanita itu sangat malu dengan situasi sekarang. Sementara itu, Rayzan memandanginya sambil berusaha menahan senyum.
"Bilang kalau kamu cuma bercanda."
"Nggak ... Aku nggak bercanda. Aku serius, kok," balas Rayzan. "Tadi aku pura-pura tidur supaya dapat perhatian dari kamu. Ternyata kamu khawatir juga, ya, sama aku."
Nadira kehilangan kesabaran. Ia segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan cepat, Rayzan juga berdiri. Tak lama kemudian, terjadilah aksi kejar-kejaran di sekitar meja makan.
"Rayzan!"
"Kejar kalau bisa!"
Hampir lima putaran mereka lalui, tetapi Nadira belum juga berhasil menangkap lelaki itu.
"Rayzan, berhenti! Aku sudah capek, tahu," lirih Nadira.
"Kamu jangan ngomong begitu, sayang. Pikiran aku jadi kotor."
"Heh!"
Nadira kembali mengejar lelaki itu. Rayzan tidak tinggal diam dan kembali berlari menghindari kejaran istrinya.
Namun, beberapa saat kemudian, Rayzan berhenti berlari. Nadira tersenyum puas karena akhirnya berhasil mengejarnya.
"Dapat!"
Nadira segera menggenggam baju pria itu. Namun, senyumnya perlahan menghilang ketika melihat Rayzan mengusap hidungnya yang kembali mengeluarkan darah.
Betapa kagetnya Nadira saat melihat darah yang mengalir dari hidung lelaki itu lebih banyak dari biasanya.
"Darahnya banyak banget."
Nadira segera mengambil selembar tisu dan membersihkan darah tersebut dengan tangannya sendiri.
"Kepala aku sakit."
"Duduk dulu."
Nadira menarik sebuah kursi dan mendudukkan suaminya di sana. Ia kemudian fokus membersihkan darah yang keluar dari hidung Rayzan.
"Kamu, sih. Aku juga pusing, tahu. Makanya jangan lari-lari. Ini darahnya malah keluar banyak," ujar Nadira. "Sudah tahu punya riwayat mimisan, malah bertingkah."
Nadira akhirnya berhasil membersihkan noda merah di wajah Rayzan. Setelah itu, ia menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Sekarang kita makan dulu. Tadi katanya lapar. Ini juga sudah tengah malam banget."
"Iya," balas Rayzan sambil terus membersihkan hidungnya.
"Kamu harus jaga kesehatan, apalagi sering mimisan begini."