Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantahan Palsu Pihak Bagas
Suara raungan mesin truk besar memecah kesunyian malam di depan kontrakan Gang Melati. Cahaya lampu sorot kendaraan yang terang benderang menembus celah jendela, membuat Siska menyipitkan mata dengan penuh amarah. Ia segera bangkit dari lantai yang dingin, melangkah cepat menuju pintu kayu yang sudah reyot.
"Siapa lagi yang datang malam-malam begini?" seru Siska dengan nada kasar yang melengking.
Bagas menyusul di belakangnya, wajahnya terlihat pucat dan dipenuhi garis-garis kekesalan. Mereka bertiga, termasuk Ibu Melati, berdiri di depan pintu saat seorang pria berseragam petugas eksekusi turun dari truk. Di belakangnya, Pak Hendra berdiri dengan tenang, memegang sebuah map biru tebal dengan sikap yang sangat profesional.
"Selamat malam, Saudara Bagas," ucap Pak Hendra dengan nada datar dan dingin.
Pak Hendra sama sekali tidak memedulikan tatapan tajam dari keluarga itu. Ia memberikan isyarat kepada para petugas untuk segera masuk dan memulai tugas mereka tanpa membuang waktu.
"Apa-apaan ini? Kami sedang istirahat!" bentak Ibu Melati sambil berusaha menghalangi jalan petugas di ambang pintu.
Pak Hendra melangkah maju, membiarkan dokumen di tangannya terlihat jelas oleh mata mereka. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski berhadapan dengan kemarahan Ibu Melati yang meluap-luap.
"Surat perintah penyitaan aset tambahan telah keluar sore tadi berdasarkan keputusan pengadilan," jelas Pak Hendra dengan nada yang sangat tenang namun mengancam.
Bagas mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap Pak Hendra dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian, namun ia sadar bahwa ia sudah tidak memiliki daya tawar apa pun lagi saat ini.
"Laras yang menyuruhmu, bukan?" tanya Bagas dengan gigi yang terkatup rapat. "Dia memang wanita kejam yang hanya ingin melihat kami menderita sampai mati!"
Pak Hendra mengabaikan tuduhan itu dan hanya memberikan kode kepada anak buahnya untuk bergerak. Tanpa banyak bicara, para petugas mulai mengangkut sisa-sisa barang berharga yang masih tertinggal di dalam kontrakan itu, termasuk televisi tua yang dulu sempat mereka banggakan.
"Jangan sentuh barang itu! Itu milik kami!" teriak Siska histeris sambil mencoba menarik tangan salah satu petugas.
Petugas itu dengan sigap melepaskan cengkeraman Siska tanpa sedikit pun rasa kasar, namun sangat tegas. Ia menunjukkan label penyitaan yang tertempel di sisi televisi, yang membuat Siska terdiam seketika dengan wajah pucat pasi.
"Semua ini sudah disita atas utang yang menumpuk di bawah nama Bagas Pratama," tegas petugas tersebut sambil terus bekerja.
Bagas merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis, menyesakkan dada hingga ia harus terengah-engah. Ia menatap ke arah Pak Hendra yang masih berdiri di sana dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak, seolah sedang menikmati kehancuran keluarga tersebut.
"Pak Hendra, tolong sampaikan pada Laras bahwa dia akan menyesal!" ancam Bagas dengan suara serak yang bergetar.
Pak Hendra hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung penghinaan halus terhadap posisi Bagas saat ini. Ia melipat mapnya kembali dan menatap Bagas dengan tatapan meremehkan yang amat tajam.
"Ibu Laras tidak memiliki keinginan untuk berurusan lagi dengan Anda, Pak Bagas," jawab Pak Hendra dengan intonasi yang sangat jelas. "Dia hanya ingin memastikan keadilan ditegakkan, tidak lebih dan tidak kurang dari itu."
Setelah mengatakan hal itu, Pak Hendra berbalik badan dan melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir rapi di ujung gang. Bagas dan keluarganya hanya bisa terpaku melihat sisa-sisa properti mereka yang kini diangkut ke dalam truk dengan begitu dingin.
"Ibu, lihat! Dia benar-benar membuang kita seperti sampah!" isak Siska sambil terduduk lemas di lantai semen yang lembap.
Ibu Melati masih ternganga, tangannya gemetar hebat saat mencoba meraih sisa kain tirai yang ikut ditarik oleh petugas. Ia tidak pernah menyangka bahwa kehancuran yang selama ini ia remehkan akan benar-benar terjadi begitu cepat dan telak.
"Tutup pintunya, Siska!" perintah Bagas dengan suara yang terdengar hampa dan tak berdaya.
Siska menutup pintu dengan kasar, namun suara mesin truk yang menjauh masih terdengar jelas di telinga mereka. Malam itu, di dalam ruangan yang kini benar-benar kosong melompong, mereka merasakan kepahitan yang sesungguhnya. Tidak ada lagi perabot yang bisa mereka gunakan untuk sekadar duduk dengan nyaman.
"Kita tidak punya apa-apa lagi sekarang, Bagas," bisik Ibu Melati dengan suara yang parau karena lelah terus menangis.
Bagas tidak menjawab, ia hanya duduk memeluk lututnya sendiri di sudut ruangan yang paling gelap. Ia teringat kembali pada masa-masa saat ia dengan sombongnya membuang semua barang milik Laras ke luar rumah, tanpa memikirkan bahwa roda nasib akan berputar secepat ini.
"Aku akan kembali, Ibu," ucap Bagas lagi, kali ini dengan nada yang lebih lirih namun penuh obsesi. "Aku akan mencari cara lain untuk menghancurkan hidupnya, seperti yang dia lakukan pada kita."
Siska mendengus dengan mata yang masih bengkak oleh air mata. Ia menatap kakaknya dengan tatapan skeptis, tidak lagi percaya pada janji-janji kosong yang sering keluar dari mulut Bagas.
"Dengan apa, Kak? Kita bahkan tidak bisa membayar sewa kontrakan bulan depan," sahut Siska dengan nada dingin yang menusuk.
Bagas diam membisu, kepalanya tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan luka batin dan harga diri yang hancur. Ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil untuk melawan Laras hanya akan memperdalam jurang kehancurannya sendiri, namun dendam di hatinya sudah terlalu besar untuk dipadamkan.
Di apartemen mewahnya, Laras sedang duduk menikmati secangkir teh hangat dengan perasaan yang sangat tenang. Ia tidak tahu bahwa malam itu Pak Hendra baru saja menyelesaikan eksekusi terakhir bagi keluarga mantan suaminya. Baginya, ia sudah menutup buku kehidupan yang menyakitkan itu untuk selamanya.
Ia menatap ke arah jendela, melihat kelap-kelip lampu kota yang jauh di bawah sana dengan senyum yang tipis namun tulus. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi rasa kasihan, hanya ada tekad kuat untuk membangun masa depan yang jauh lebih cerah dan mandiri.
"Mbak Laras, apakah ada hal lain yang ingin Mbak sampaikan kepada Pak Hendra besok?" tanya Rina yang baru saja masuk ke ruangan.
Laras menggelengkan kepalanya perlahan, ia meletakkan cangkirnya dengan sangat pelan di meja marmer. Ia menatap Rina dengan pandangan yang teduh namun penuh ketegasan yang mutlak.
"Tidak, Rina. Cukup sampaikan bahwa aku tidak ingin mendengar kabar apa pun lagi tentang mereka," ujar Laras dengan suara yang sangat tenang.
Rina mengangguk mantap dan beranjak meninggalkan ruangan, membiarkan Laras menikmati keheningan malam sendirian. Ia tahu bahwa sang majikan telah berjuang keras untuk mencapai titik ini, sebuah titik di mana kebahagiaan bukan lagi sebuah keinginan, melainkan sebuah realitas.
Sementara itu, di dalam kontrakan yang semakin sunyi, Bagas masih terjaga. Ia menatap langit-langit ruangan yang berlumut, membayangkan rencana-rencana gila yang mungkin akan membawanya kembali ke atas. Namun, ia tidak menyadari bahwa semakin ia berencana untuk membalas dendam, semakin dalam ia terjerumus ke dalam kehampaan hidup yang tidak akan pernah memberinya jalan keluar.
Malam itu berakhir dengan kontras yang sangat tajam bagi dua kehidupan yang pernah bersatu. Bagi Bagas, malam itu adalah awal dari penderitaan panjang yang tidak memiliki ujung. Sedangkan bagi Laras, malam itu adalah penutup dari sebuah bab yang gelap, menandai awal dari kebebasan yang sesungguhnya.
Laras memejamkan mata, membiarkan dirinya terlelap dalam ketenangan yang sangat dalam. Ia tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi di Gang Melati, karena baginya, masa lalu hanyalah debu yang harus disapu bersih agar tidak lagi menutupi pandangan masa depannya.
Bagas di sisi lain, masih menatap kegelapan dengan mata yang terbuka lebar. Ia masih memikirkan cara untuk membalas dendam, tidak sadar bahwa setiap detiknya telah terbuang sia-sia hanya untuk memelihara kebencian yang tidak berarti. Malam itu menjadi saksi bisu dari dua takdir yang telah benar-benar terpisah selamanya.