Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan badai yang mengguyur Jakarta malam itu seolah menjadi panggung yang sengaja disiapkan semesta untuk menertawakan kebodohan Naya.
Di tangannya, sebuah kotak kue berwarna putih dengan pita keemasan mulai basah terkena tempias air hujan dari celah jendela koridor apartemen. Di dalam kotak itu ada seloyang Tiramisu, kue kesukaan Reno. Hari ini adalah hari jadi mereka yang ketiga. Tiga tahun yang Naya lewati dengan mengorbankan banyak hal: waktu, prioritas, bahkan beberapa mimpi kecilnya, demi mendukung karir pria yang ia pikir akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Naya bahkan rela pulang lebih awal dari perjalanan dinasnya di Surabaya, mengambil penerbangan sore yang melelahkan, murni hanya untuk memberikan kejutan.
Namun, kejutan itu justru berbalik menghantam wajahnya sendiri.
Naya berdiri kaku di depan pintu unit 402. Jemarinya yang dingin baru saja memasukkan enam digit sandi—tanggal jadian mereka. Pintu terbuka tanpa suara. Ruang tamu apartemen Reno gelap, namun cahaya remang-remang dari arah kamar tidur yang pintunya setengah terbuka menyuguhkan sebuah pemandangan yang seketika merenggut seluruh oksigen dari paru-paru Naya.
Naya tidak perlu melihat wajah wanita itu. Pakaian dalam berenda merah yang berserakan di atas karpet ruang tengah, serta sepasang hils hitam bernilai puluhan juta yang tergeletak sembarangan di dekat sofa, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Suara tawa manja yang disusul oleh erangan rendah—suara yang sangat Naya kenal, suara yang biasanya membisikkan kata cinta untuknya—kini menggema dari dalam kamar, menghancurkan setiap sisa kewarasan yang Naya miliki.
Naya tidak menjerit. Ia tidak mendobrak pintu itu seperti tokoh utama wanita di sinetron yang menuntut penjelasan. Tubuhnya membeku, dadanya terasa seperti dihantam balok es raksasa. Napasnya tertahan di tenggorokan, mencekik lehernya hingga rasanya perih. Dunia di sekelilingnya seolah berputar lambat. Dengan tangan gemetar hebat, ia meletakkan kotak Tiramisu itu di atas meja pantry di dekat pintu masuk. Ia melepaskan cincin perak yang melingkar di jari manisnya—hadiah ulang tahun dari Reno tahun lalu—dan meletakkannya tepat di atas kotak kue tersebut.
Sebuah perpisahan tanpa kata. Sangat sunyi, namun mematikan.
Naya membalikkan badan dan melangkah keluar, menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Begitu pintu tertutup, runtuh sudah pertahanannya. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya seiring dengan langkahnya yang gontai menyusuri lorong apartemen.
Sesampainya di lobi, Naya menerobos hujan deras tanpa memedulikan payung atau mantel. Biarkan saja. Biarkan air langit ini menyamarkan tangisannya. Blazer kerja berwarna krem yang ia kenakan basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang menggigil. Rambut panjangnya yang biasa tertata rapi kini lepek dan berantakan. Ia terus berjalan menyusuri trotoar, tidak tahu harus ke mana, tidak peduli pada klakson mobil yang sesekali berbunyi nyaring di jalanan yang macet.
Pikirannya berkecamuk. Tiga tahun. Tiga tahun ia menjaga hati, menahan diri untuk tidak menuntut banyak saat Reno sibuk, mendukung pria itu saat hampir bangkrut. Dan inikah balasannya? Sebuah pengkhianatan yang dilakukan di tempat tidur yang sama di mana mereka sering membicarakan masa depan? Rasa sakitnya begitu nyata, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat.
Langkah Naya akhirnya terhenti di depan sebuah bangunan dengan lampu neon berkedip merah bertuliskan SIPPIN. Itu adalah bar bergaya industrial yang cukup populer di kawasan itu. Tanpa berpikir panjang, Naya mendorong pintu kaca yang berat tersebut.
Suara dentuman musik yang cukup keras langsung menyambutnya, berpadu dengan aroma alkohol, tembakau, dan parfum dari ratusan manusia yang sedang mencari kesenangan duniawi. Suasana bar yang remang-remang dan bising sangat kontras dengan kehampaan yang Naya rasakan di dalam dadanya. Ia menyeret langkahnya menuju meja bar yang melingkar di tengah ruangan, mengabaikan tatapan beberapa orang yang melihat penampilannya yang basah kuyup bak tikus kecebur got.
"Tequila. Double shot. Tinggalkan botolnya di sini," ucap Naya dengan suara serak saat seorang bartender pria mendekatinya.
Bartender itu menautkan alisnya, melihat kondisi Naya yang mengenaskan. Namun, sebagai seorang profesional yang sudah sering melihat orang patah hati, ia tidak banyak bertanya. Ia meletakkan sebuah gelas kecil, seiris lemon, sejumput garam, dan sebotol Tequila utuh di hadapan Naya.
Naya menuangkan cairan bening itu dengan tangan gemetar. Tanpa menjilat garam atau menggigit lemon seperti aturan minum pada umumnya, ia langsung menenggak habis isi gelas tersebut. Cairan itu membakar tenggorokannya, turun ke perutnya dengan sensasi panas yang menyengat. Sensasi yang Naya butuhkan untuk mengalihkan rasa perih di hatinya.
Satu gelas. Dua gelas. Tiga gelas.
Naya mulai kehilangan hitungan. Kepalanya terasa ringan, pandangannya perlahan mengabur. Lampu-lampu gantung di atas meja bar kini terlihat seperti bintang yang meleleh. Di tengah kesadarannya yang mulai terombang-ambing, layar ponselnya menyala di atas meja. Ada lebih dari tiga puluh panggilan tak terjawab dari Reno. Pria itu pasti sudah keluar dari kamar dan melihat kotak kuenya.
Naya tertawa. Tawa yang sumbang dan hambar. Tangannya yang terasa kebas meraih ponsel itu, memblokir nomor Reno, lalu mematikan daya ponselnya sekalian. Ia tidak ingin mendengar apa pun. Tidak ada yang perlu dijelaskan.
"Mbak, Anda sudah minum terlalu banyak. Mau saya pesankan taksi?" Suara bartender itu terdengar mendengung di telinga Naya.
Naya menopang dagunya dengan tangan, menatap bartender itu dengan mata sayu. "Aku... aku kehilangan duniaku malam ini, Mas. Tiga tahun... investasi bodong. Hatiku bangkrut," racau Naya dengan lidah yang mulai kelu, tersenyum miring menertawakan kebodohannya sendiri.
"Saya mengerti. Tapi Anda harus pulang. Ini sudah hampir lewat tengah malam," bujuk bartender itu sabar.
Pulang. Ke mana ia harus pulang? Apartemennya sendiri dipenuhi dengan barang-barang Reno. Sikat gigi pria itu, kaus kebesarannya, cangkir kopi kesukaannya. Naya tidak akan sanggup kembali ke sana malam ini. Ia butuh pelukan. Ia butuh seseorang yang akan mengutuk Reno bersamanya.
"Nessa..." guman Naya perlahan. Ya, Nessa. Sahabat karibnya sejak zaman kuliah. Nessa yang eksentrik, berisik, dan selalu punya cara ajaib untuk membuat Naya melupakan kesedihannya.
Naya meletakkan beberapa lembar uang seratus ribuan di atas meja bar—entah berapa jumlahnya, ia tidak peduli—lalu bangkit berdiri. Dunia seketika miring. Ia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak terjungkal. Dengan langkah gontai, ia berjalan keluar dari bar.
Udara malam yang dingin kembali menerpa wajahnya, namun alkohol di dalam darahnya membuat tubuhnya terasa hangat. Ia berhasil menghentikan sebuah taksi yang lewat.
"Ke Kemang Timur... Perumahan M, Pak," ucap Naya terbata-bata sambil menyandarkan kepalanya yang berdenyut hebat ke kaca jendela yang basah.
Sepanjang perjalanan, Naya memejamkan mata. Kepalanya berputar hebat, perutnya mual, dan hatinya... hatinya masih tertinggal dan hancur di lantai apartemen Reno. Air mata kembali menetes dari sudut matanya, membasahi jok mobil. Ia menangis dalam diam, meratapi betapa menyedihkan nasibnya di hari yang seharusnya menjadi hari perayaannya.
Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan desain modern minimalis. Rumah Nessa. Naya membayar taksi dan melangkah keluar, kakinya terasa seperti terbuat dari jeli. Hujan sudah mereda, menyisakan gerimis tipis dan genangan air di aspal.
Naya berjalan sempoyongan menuju gerbang kecil di samping garasi. Ia menekan deretan angka di panel digital—121299, tanggal lahir Nessa. Bunyi klik pelan terdengar, disusul pintu besi yang bergeser terbuka. Naya masuk ke area teras. Rumah itu tampak gelap gulita. Hanya ada satu lampu kecil yang menyala di area taman depan. Nessa pasti sudah tidur. Sahabatnya itu memang tidak pernah mengunci pintu utama dari dalam karena tahu Naya sering tiba-tiba mampir, dan Naya memegang kode akses rumahnya.
Naya membuka pintu kayu besar itu dan melangkah masuk ke dalam rumah. Hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya. Ia membungkuk, berusaha melepaskan sepatu hak tingginya, namun keseimbangannya goyah. Ia membuang sepatunya sembarangan di dekat rak.
Naya berjalan meraba-raba dinding lorong menuju ruang tamu yang luas. Kepalanya semakin pusing. Efek alkoholnya kini berada di puncaknya. Ia berniat langsung menjatuhkan diri ke sofa panjang berlapis beludru di ruang tengah, tidur di sana sampai besok pagi, lalu menangis sejadi-jadinya di pelukan Nessa saat sahabatnya itu bangun.
Namun, langkah Naya terhenti saat indera penciumannya menangkap sesuatu yang asing.
Bukan wangi vanilla musk khas Nessa yang biasanya mendominasi rumah ini. Ini aroma yang berbeda. Aroma maskulin yang bersih. Perpaduan antara cedarwood, mint, dan sesuatu yang terasa seperti udara setelah hujan. Naya mengernyit. Apakah Nessa mengganti pengharum ruangannya dengan aroma cowok?
Di tengah kebingungannya, mata Naya yang perlahan mulai terbiasa dengan kegelapan menangkap sebuah pergerakan di dekat area dapur bersih, tepat di seberang ruang tamu. Ada sebuah siluet. Bayangan tubuh seseorang yang sangat tinggi dan tegap, sedang berdiri menghadap kulkas yang terbuka. Cahaya dari dalam kulkas itu menyinari separuh tubuhnya.
Seorang pria. Memakai kaus hitam polos dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit berantakan. Ia sedang memegang botol air mineral.
Naya mengerjap beberapa kali. Otaknya yang sedang direndam alkohol berusaha memproses informasi ini. Nessa tinggal sendirian. Nessa tidak punya pacar. Lalu siapa pria jangkung di dapurnya pada jam dua pagi ini?
Tiba-tiba, sebuah memori melintas di kepala Naya yang pening. Kemarin sore, Nessa sempat mengeluh kesepian dan dengan bercanda berkata, "Gue butuh cowok tampan yang bisa gue bayar buat pijetin bahu gue dan dengerin omongan gue yang nggak penting, Nay!"
Mulut Naya membentuk huruf 'O'. Astaga. Nessa benar-benar sudah gila. Sahabatnya yang impulsif itu rupanya tidak sedang bercanda. Dia benar-benar menyewa pria panggilan? Malam ini?!
Pria itu menutup pintu kulkas, dan suasana kembali temaram, hanya diterangi cahaya dari jalanan yang masuk melalui jendela kaca besar. Pria itu menoleh, baru menyadari kehadiran Naya yang berdiri mematung di ambang batas ruang tamu dengan rambut lepek dan wajah pucat.
Pria itu meletakkan botol airnya perlahan di atas island table. Ia tidak tampak terkejut, melainkan menatap Naya dengan intens.
"Nessa... gila," gumam Naya, suaranya serak dan cadel akibat alkohol. Ia memaksakan kakinya melangkah mendekati pria itu.
Semakin dekat, Naya harus mendongak karena postur pria itu jauh lebih tinggi darinya. Aroma maskulin itu semakin kuat, menguar dari tubuhnya yang memancarkan kehangatan. Di bawah cahaya yang sangat minim, Naya tidak bisa melihat fitur wajah pria itu dengan jelas, namun ia bisa melihat rahangnya yang tegas dan bahunya yang lebar.
"Kau..." Naya menunjuk dada bidang pria itu dengan jari telunjuknya yang gemetar. "...berapa Nessa bayar kamu, huh?"
Pria itu terdiam. Tidak ada jawaban. Hening sejenak. Naya bahkan bisa mendengar suara napas pria itu yang tenang.
"Kak?" Akhirnya, sebuah suara berat, dalam, dan serak memecah keheningan. Suara yang getarannya anehnya membuat bulu kuduk Naya meremang.
Namun sebelum Naya sempat merespons panggilan 'Kak' yang terasa janggal itu, dunia di sekelilingnya mendadak berputar dua kali lipat lebih cepat. Perutnya bergejolak hebat, dan kakinya akhirnya menyerah menopang beban tubuhnya. Naya kehilangan keseimbangan, limbung ke depan.
Tepat sebelum wajahnya menghantam meja marmer, sepasang lengan yang kuat dan hangat menangkap pinggangnya dengan sigap. Naya menabrak dada bidang pria itu dengan keras. Di detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar hilang tertelan kegelapan, Naya menghirup dalam-dalam aroma cedarwood dari dada pria itu, bergumam lirih dalam pelukannya.
"Pelayanannya... lumayan juga," racau Naya dengan mata tertutup, lalu semuanya menjadi gelap gulita.