Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Julian
Suara deburan ombak yang membentur karang terdengar membalas embusan angin sore di sebuah desa pesisir kecil. Udara di tempat ini tidak lagi dipenuhi polusi atau aroma parfum mahal yang mencekik, melainkan aroma garam dan tanah basah yang membawa ketenangan asing.
Di teras sebuah rumah panggung kayu yang sederhana, Vivian duduk menyandar di kursi rotan.
Perutnya yang kini membuncit semakin besar di usia kehamilan delapan bulan diusapnya pelan-pelan. Wajahnya masih nampak pucat dan tubuhnya kurus, namun matanya tak lagi memancarkan ketakutan yang mencekam seperti saat dia berada di rumah mewah Radhit.
Ada kedamaian yang samar di sana. Kedamaian yang dibayar mahal dengan air mata dan luka batin yang membeku.
Vivian memejamkan mata, merasakan hembusan angin laut menyapu pipinya.
Setiap kali teringat malam kelam saat dia merayap di atas marmer berdarah, dadanya masih menyisakan rasa ngilu. Namun, di tempat yang jauh ini, di mana tidak ada bentakan Radhit dan tidak ada tatapan menghina dari orang-orang kota, Vivian merasa bernapas menjadi sedikit lebih ringan.
Kring... kring...
Suara dering bel sepeda tua menghentikan lamunan Vivian.
Seorang pria muda berpakaian kemeja katun melipat lengan sampai siku melangkah menuntun sepedanya masuk ke halaman rumah kayu tersebut. Di bahunya menyangkut sebuah tas kulit cokelat khas perlengkapan medis.
Pria itu adalah dr. Julian.dokter muda berusia 28 tahun yang bertugas di klinik desa setempat. Sosok yang menemukan Vivian tergeletak pingsan di tepi jalan desa seminggu yang lalu dengan kondisi fisik yang hampir hancur.
"Sore, Mbak Vivian," sapa Julian dengan suara yang hangat dan tenang. Senyumnya terkembang tulus, tanpa ada jejak keangkuhan atau penghakiman sedikit pun.
Vivian terkejut kecil lalu berusaha mendudukkan dirinya dengan tegak. "Dokter Julian... Sore, Dok."
"Jangan mendadak berdiri begitu, nanti pusingnya kumat lagi," cegah Julian cepat namun lembut. Dia menyandarkan sepedanya di samping tangga kayu, lalu naik ke teras membawa kotak kayu berisi alat pemeriksaan dan sebuah rantang makanan.
"Gimana kondisi perutnya sore ini? Masih sering kram?" tanya Julian seraya menarik kursi kayu kecil dan duduk di hadapan Vivian dengan jarak yang sangat menjaga kesopanan.
Vivian menggeleng pelan. "Sudah jauh mendingan, Dok. Terima kasih banyak..."
"Syukurlah," Julian tersenyum lega. Tangannya yang terampil dan cekatan mulai mengeluarkan stetoskop serta tensimeter dari tasnya.
"Saya periksa tekanan darah dan detak jantung bayinya sebentar, ya?"
Vivian mengangguk pasrah.
Saat jemari Julian yang hangat menyentuh pergelangan tangannya untuk memeriksa nadi, Vivian sempat tersentak kecil sebuah refleks trauma otomatis akibat bertahun-tahun selalu mendapat sentuhan kasar dan bentakan dari Radhit.
Julian menyadari gerakan spontan itu. Dokter muda itu tidak memprotes atau bertanya. Dia hanya memperlambat gerakannya, memberi ruang dan rasa aman pada Vivian sebelum melanjutkan pemeriksaannya dengan amat hati-hati.
"Tekanan darahnya sudah mulai stabil," ucap Julian lembut seraya melepas stetoskop dari telinganya.
Lalu, pandangan Julian beralih menatap perut besar Vivian. Dengan izin senyuman, dia menempelkan corong pemeriksaan untuk mendengarkan detak jantung bayi di dalam kandungan Vivian.
Dug... dug... dug...
Suara detak jantung yang cepat dan berirama terdengar jelas.
Mata Julian berbinar hangat. "Dengarkan itu, Mbak... Bayinya sangat kuat. Dia bertahan bersama Ibunya yang hebat."
DEG.
Kata-kata sederhana itu menghantam dada Vivian begitu dalam.
Bayinya kuat... Ibunya hebat...
Airmata mendadak menggenang di pelupuk mata Vivian. Selama bertahun-tahun, yang didengarnya dari mulut suami kandungnya hanyalah sebutan "pembawa sial", "benalu", dan "anak haram". Tidak pernah ada satu orang pun yang menyebutnya hebat. Tidak pernah ada yang memuji perjuangan janin di dalam kandungannya.
Vivian menunduk dalam-dalam, menahan agar air matanya tidak jatuh di depan pria yang baru dikenalnya itu.
Julian yang melihat perubahan raut wajah Vivian segera meletakkan rantang makanan yang dibawanya ke atas meja.
"Ibu saya di rumah baru saja masak sup ikan segar dan bubur kacang hijau," kata Julian, sengaja mengalihkan suasana agar Vivian tidak tenggelam dalam kesedihan.
"Ibu pesan, Mbak Vivian harus habisin semuanya. Kata Ibu, calon bayi di dalam sana butuh nutrisi banyak biar nanti pas lahir pipinya tembam."
Vivian menatap rantang makanan itu, lalu menatap Julian dengan rasa tidak enak hati yang mendalam.
"Dokter... Dokter sudah terlalu banyak bantu saya. Saya bingung harus ganti semua kebaikan Dokter dan warga di sini pakai apa... Saya tidak punya uang," bisik Vivian lirih, suaranya bergetar menahan malu dan rasa minder.
Julian tertawa pelan. Tawa yang terdengar bagai musik tenang di tengah dinginnya angin sore.
"Mbak Vivian," panggil Julian dengan nada bicara yang begitu dewasa dan menenangkan.
"Di desa ini, kita tidak menghitung kebaikan pakai uang. Melihat Mbak Vivian selamat dan bayinya sehat saja sudah jadi bayaran yang lebih dari cukup buat saya sebagai dokter."
Julian menatap mata Vivian yang redup dengan tatapan yang penuh rasa hormat.
"Masa lalu Mbak Vivian memang berat saya tidak tahu apa yang pernah terjadi sampai Mbak terdampar di sini. Tapi di tempat ini, Mbak tidak perlu takut lagi. Tidak ada yang akan menyakiti Mbak atau bayi ini."
Perkataan Julian meluncur tulus, tanpa ada niat terselubung. Pria itu murni ingin melindungi seorang wanita malang yang dilihatnya berjuang sendirian di antara hidup dan mati.
Vivian tak sanggup lagi menahan air matanya. Satu tetes lelehan bening lolos membasahi pipinya yang tirus.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada dalam kegelapan... Vivian merasakan ada genggaman tangan dan hangatnya rasa kemanusiaan yang tulus melindunginya.
Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari desa pesisir tersebut...
Radhit berdiri kaku di dalam jet pribadinya yang melaju membelah awan.
Tangannya menggenggam erat laporan lokasi yang dikirimkan oleh detektifnya. Matanya merah menyala, diselimuti rasa cemburu yang membakar dan ketakutan luar biasa yang belum pernah dirasakannya sepanjang hidup.
"Pria yang bersamanya adalah dokter lokal yang merawatnya sejak tiba di desa itu, Pak. Warga desa mengenal mereka sangat dekat..."
Suara detektif itu terus terngiang di dalam kepalanya, memicu rasa sakit yang menusuk-nusuk jantungnya.
Radhit meremas kertas laporan itu hingga hancur di dalam kepalan tangannya.
"Tunggu saya, Vivian..." bisik Radhit dengan suara gemetar dan mata yang digenangi air mata penyesalan.
"Jangan biarkan pria lain menyentuhmu... Jangan..."
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian