NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Detik-Detik Melepas Topeng

Langkah kaki Arga mendadak terkunci rapat di atas lantai keramik dingin kedai Kopi Sunyi. Sepatu pantofel dinas keamanannya seolah terpaku mati, berat untuk digerakkan meski hanya satu sentimeter ke depan. Di bawah gulungan masker kain hitam tebal yang masih menutupi hidung hingga dagunya, pasokan udara terasa kian menyempit. Napas Arga tertahan seketika. Tatapan matanya yang penuh kecemasan dan kepanikan berbenturan langsung dengan sepasang mata tajam nan dingin milik Nadia Nugroho, yang sedang menatapnya tanpa kedipan sedikit pun dari sudut meja privat bagian belakang.

Nadia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu berukir minimalis, memandangi sosok tegap berpakaian jaket kasual di depannya dengan ketenangan yang mengintimidasi. Seluruh puzzle dan benang merah yang tadinya berserakan di kepalanya kini telah terhubung dengan sangat sempurna. Laki-laki tinggi tegap yang berdiri kaku di depannya ini adalah "Bimo Palsu" yang bertingkah konyol, bergaya norak, dan memalsukan tanda tangan di Kafe Merah dua malam lalu, sekaligus Satpam bermasker hitam bernama Arga yang tadi pagi melarikan diri ketakutan melewati tangga darurat di Menara Utama Nugroho Group.

Rina, yang berdiri anggun di samping Nadia seraya memegang dokumen resmi, memecah keheningan yang mencekam itu dengan suara yang begitu tenang namun amat menyudutkan.

"Mas Arga Dewa Putra... silakan duduk di samping Mas Bimo," ujar Rina seraya mengisyaratkan tangannya ke arah kursi kayu yang masih kosong di sebelah Bimo. "Bu Nadia sudah menunggu kedatangan Mas dari tadi, jadi tolong jangan membuang-buang waktu kami lebih lama lagi."

Arga menelan ludah dengan susah payah, rasanya begitu pahit dan sekeras batu gilingan. Dengkulnya terasa lemas, namun dengan berusaha keras menyembunyikan getaran di kakinya, Arga melangkah berat mendekati meja tersebut. Ia mendudukkan tubuhnya yang kaku di samping Bimo tanpa berani menatap langsung ke arah mata pimpinan tertinggi perusahaan tempatnya bekerja itu.

Di dalam gejolak dadanya, Arga terus mengutuk dan memaki Bimo habis-habisan dengan amarah yang memuncak. Setan lu, Bimo! Lu bener-bener tega jebak gue! Lu bilang darurat butuh bantuan dan mau mati, ternyata lu malah numbalin gue langsung di depan bos besar ini! Bangsat banget lu, Bim! Lu yang bikin masalah, sekarang gue yang harus berhadapan sama singa betina ini! batin Arga bergejolak hebat, dadanya bergemuruh menahan kekesalan yang hampir meledak.

Bimo yang duduk tepat di sebelah Arga menyenggol lengan Arga dengan sangat pelan, memamerkan raut wajah memelas yang sarat akan rasa bersalah dan keputusasaan.

"Wa... maafin gue, Wa... beneran maafin gue..." bisik Bimo lirih dengan nada bergetar, suaranya hampir tak terdengar di antara alunan musik kedai. "Gue beneran enggak ada pilihan lain. Kartu nama gue jatuh dari kantong, terus Bu Nadia ngancam mau bangkrutkan perusahaan Papa gue kalau gue enggak ngaku... Gue kepepet banget, Wa..."

Arga sama sekali tidak membalas bisikan memelas tersebut. Ia enggan mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan tidak ada selera sedikit pun untuk sekadar menolehkan pandangan ke arah wajah Bimo. Arga hanya duduk membisu, kaku bagaikan patung batu di tengah kepungan intimidasi dua wanita berwibawa di hadapannya.

Nadia mengetukkan ujung jemarinya di atas meja marmer dengan ritme yang sangat teratur. TUK! TUK! TUK! Suara ketukan itu menggema perlahan, seolah menghitung detik-detik eksekusi. Senyum tipis yang terasa sangat dingin dan penuh kemenangan mengulas di bibir bergincu merah tipis milik Nadia.

"Gimana kabarnya, 'Mas Bimo'?" sindir Nadia dengan intonasi halus namun amat tajam menusuk hingga ke ulu hati. "Atau... saya harus panggil kamu Pak Satpam Arga sekarang? Biar lebih sesuai dengan seragam dan nametag yang kamu pakai di lobi kantor saya?"

Sengatan kalimat sindiran itu membuat tubuh tegap Arga kian menciut. Ia semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya lebih dalam di balik lidah topi pet dan masker kain hitamnya.

"Luar biasa ya akting kamu waktu di Kafe Merah dua malam lalu," lanjut Nadia dengan nada penuh cemooh yang begitu kentara. "Pura-pura norak, pakai baju warna-warni enggak jelas, ngomong asal-asalan, bertingkah kaya orang udik, terus dengan beraninya kamu Tanda Tangan Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak satu tahun pakai nama orang lain di depan saya. Kamu pikir kamu itu aktor teater kelas atas, Arga? Kamu pikir saya bisa kamu bodohi begitu saja?"

Arga tetap memilih untuk bungkam. Jemari tangannya yang saling bertautan di atas paha mengepal amat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Keputusasaan, kecemasan akan nasib kerjanya, dan rasa malu bercampur menjadi satu adonan pelik di dalam benaknya.

"Bukan cuma itu," pangkas Nadia lagi, memajukan sedikit tubuh anggunnya ke depan meja marmer. "Tadi pagi di Menara Utama Nugroho Group, kamu pakai masker hitam tebal ini, pura-pura batuk parah di depan saya, sampai nekat lari terbirit-birit lewat tangga darurat cuma buat menghindari tatapan saya. Kamu kira saya bodoh, Arga? Kamu kira gedung lima puluh lima lantai itu tidak punya CCTV dan bisa menyembunyikan kebohongan konyol kamu?"

Rina ikut menimpali seraya menggeleng-gelengkan kepalanya penuh keheranan. "Mas Arga, perbuatan Mas dan Mas Bimo ini sudah masuk ranah pemalsuan dokumen resmi, penipuan identitas, dan pelecehan terhadap pimpinan tertinggi Nugroho Group, tahu tidak? Mas bisa kita jebloskan ke penjara detik ini juga."

Bimo makin gemetaran hebat mendengar ucapan tegas Rina, air matanya hampir menetes lagi. "M-Mbak Rina, tolong... jangan bawa-bawa polisi atau hukum... kasihan Dewa..."

"Diam kamu, Bimo! Enggak ada yang berbicara sama kamu di sini!" tegur Nadia tegas tanpa menoleh sedikit pun ke arah Bimo, membuat Bimo seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat dalam ketakutan.

Nadia kembali memusatkan seluruh perhatian dan pandangan tajamnya kepada Arga yang masih terdiam kaku bagaikan pesakitan yang sedang menunggu vonis hukuman mati di atas kursi eksekusi.

"Arga," panggil Nadia dengan suara dingin, berat, dan tidak menerima bantahan apa pun. "Lepas maskermu sekarang juga. Saya mau bicara sama orang yang Tanda Tangan surat itu dengan wajah terbuka, bukan sama Satpam penakut yang sembunyi di balik selembar kain hitam."

Suasana di meja privat bagian belakang itu mendadak hening total. Alunan musik instrumental tenang milik kedai kopi seolah lenyap begitu saja dari pendengaran Arga. Hanya ada suara detak jantungnya sendiri yang berdegup liar dan tidak beraturan.

"Arga, kamu dengar perintah bos saya tidak?" tegur Rina pelan namun menekan. "Lepas maskernya sekarang."

Arga menarik napas panjang dan dalam melalui hidungnya, berusaha keras menenangkan gejolak detak jantungnya yang bergemuruh liar di dalam dada. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada lagi lorong rahasia atau tangga darurat untuk berlari. Seluruh penyamaran, kebohongan, dan topeng perlindungan yang ia bangun bersama Bimo selama dua hari terakhir telah hancur berkeping-keping di atas meja marmer ini.

Dengan gerakan tangan yang sangat pelan, berat, dan ragu-ragu, Arga mengangkat kedua tangannya menuju ke belakang telinga. Jemarinya menarik pelan kait tali karet masker kain hitam tebal tersebut dari balik daun telinganya.

Perlahan-lahan, kain hitam tebal itu terlepas dari permukaan kulit wajahnya, menyingkapkan garis rahang yang begitu tegas dan kokoh, hidung mancung yang terpahat sempurna dan proporsional, serta bibir tipis yang saat ini terkatup rapat dalam ketegangan yang amat sangat. Arga menundukkan pandangan matanya ke bawah lantai, tidak berani bertatap mata secara langsung dengan sepasang mata intimidatif milik Nadia.

Nadia, yang sejak tadi menatap lurus tanpa berkedip ke arah Arga, seketika terpaku kaku di tempat duduknya. Pupil matanya melebar halus, dan helaan napasnya sempat terhenti selama beberapa detik.

Di hadapannya kini, tanpa ada halangan masker kain hitam tebal atau pencahayaan temaram remang-remang seperti di Kafe Merah dua malam lalu, paras asli Arga terpampang dengan sangat jelas di bawah sorotan lampu hangat kedai kopi. Meskipun ekspresi wajah Arga saat ini terlihat begitu tegang, pucat, dan tertekan, struktur wajahnya yang sangat simetris, garis rahangnya yang tegas berkarakter, serta ketampanan alami yang tersirat kuat dari paras tegapnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

Nadia terdiam membisu sejenak. Tatapan matanya yang tadinya penuh amarah dan cemoohan mendadak terkunci pada setiap detail wajah Arga. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, ada sebuah desiran halus yang mendadak berdesir pelan di dalam relung hatinya yang tergelitik, sebuah sensasi aneh, asing, dan tak terjelaskan yang tidak pernah sekalipun ia rasakan sebelumnya saat menatap pria mana pun di dunia bisnisnya.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!