Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 25
"Baiklah, aku menunggu hasilnya, Rinda."
"Baik Pak Jeremy, saya akan bekerja keras. Terimakasih."
Setelah percakapan santai, lalu percakapan bisnis, akhirnya Jeremy memberikan investasi sebesar 20 Milyar kepada TBBA. Jumlah yang sangat tidak Rinda duga.
Meski sebenarnya dia merasa heran, pasalnya Jeremy tak sulit. Dia lebih banyak mendengarkan dan selalu setuju dengan apa yang Rinda katakan.
"Rinda," panggil Jeremy saat Rinda dan Jexen hendak meninggalkan ruangan.
"Iya Pak, apa ada yang masih ngin dibicarakan?" Rinda membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Jeremy.
"Tidak, sudah cukup. Itu assiten mu, sepertinya dia cukup bagus. Bagaimana kalau kamu berikan dia padaku," ucap Jeremy.
Mata Jexen langsung membulat sempurna. Mulut pria itu sepertinya sudah hendak terbuka dengan sikap sang ayah. Namun Jexen menahan dirinya dengan sangat baik.
Wajah Jexen yang seperti itu, membuat Jeremy tersenyum lebar. Dia sangat senang menggoda putranya.
"Waduh jangan Pak, kalau tidak ada Jexen, saya akan kerepotan," jawab Rinda cepat.
"Ah begitu ya? Apa kerjanya bagus?"
"Tentu, sangat bagus malah Pak. Jexen sangat kompeten."
Telinga Jexen langsung memerah mendapat pujian dari Rinda dan reaksi itu bisa dilihat jelas oleh Jeremy. Baru kali ini Jeremy melihat putranya beraksi seperti itu. Selama ini Jexen selalu kaku dan datar terhadap orang lain. Tapi bersama Rinda, Jexen sudah memperlihat banyak ekspresi.
Jeremy sedari tadi mengamati putra bungsunya. Dia sangat senang dengan setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh putranya itu.
"Baiklah, dia beruntung mendapatkan atasan seperi kamu. Selamat beristirahat Rinda," ucap Jeremy.
"Saya yang beruntung, Pak. Terimakasih, selamat beristirahat juga untuk Bapak."
Rinda dan Jexen meninggalkan ruangan, diantar oleh Marwan sampai mereka masuk ke lift.
Setelah mengantar Mawaran bergegas kembali ke ruangan sang Tuan. Dia lalu berkata, "Itu Denmas Jexen bisa begitu Pak? Wajahnya itu lho, bisa senyum. Matanya bisa melihat orang lain dengan intens. Tadi itu beneran Mas Jexen kan, Pak Jer?"
"Hahaha, kamu pikir anak lanang ku hantu, Wan. Ya jelas itu Jexen. Ajaib ya Wan?"
Marwan menganggukkan kepalanya cepat. Dia tentu sangat mengetahui bagaimana perangai tuan muda keluarga Suryoprojo. Jexen yang memiliki sifat 11-12 dengan Jeremy muda, bahkan melebihi Jeremy, itu nampak berbeda tadi saat bersama dengan wanita yang bernama Rinda. Jexen benar-benat menunjukkan sisi lain yang belum pernah Marwan lihat. Sudah bekerja lebih dari 30 tahun, Marwan sungguh melihat sisi lain dari seorang Jexen Eryen Suryoprojo.
"Hatinya sudah menemukan seseorang yang ingin dilindungi nya," ujar Jeremy.
"Tapi Pak, bukannya Rinda memiliki sedikit masalah terhadap suami dan saudara tirinya ya?" tanya Marwan. Ia pun tahu tentang berita itu.
"Jexen sedang membereskannya. Mahes, tangan kanan Jexen sedang menyelidiki kecelakaan yang dialami Rinda. Jexen, anak itu jika sudah memilih, maka dia akan mengerahkan semua usahanya untuk mempertahankan pilihannya. Dan Mahes, saat ini tengah bekerja keras. Aku senang, Jexen menemukan orang yang loyal terhadapnya."
Marwan mengerti apa maksud tuannya. Mahes sendiri adalah keponakan Marwan. Dan memang sudah sejak kecil Mahes berada di sisi Jexen. Mereka tumbuh bersama dimana Maheswara memang dipersiapkan untuk mendampingin Jexen.
***
Di tempat lain, tepatnya di halaman rumah kediaman Nadisyah, Rinda yang masih ada di dalam mobil berkali-kali merasa tidak percaya bahwa dia akan mendapatkan investasi dari SJ Grup semudah ini. Rinda terus melihat tanda tangan yang dibubuhkan oleh Jeremy Suryoprojo.
"Selamat ya Mbak, kamu melakukannya dengan baik," ucap Jexen.
"Terimakasih Jex, ini semua juga berkat kamu. Proposal mu bagus, sehingga pihak SJ juga langsung setuju. Ah aku sama sekali tidak menyangka, hanya dengan sekali bertemu langsung deal seperti ini," jawan Rinda.
Jexen tak melepaskan pandangannya dari Rinda. Senyum Rinda menjadi candu yang tak bisa Jexen lewatkan. Namun ada masalah, jantung Jexen menjadi semakin cepat berdetak. Sehingga ia memilih untuk memalingkan wajahnya dari senyum cantik sang nona.
"Ekhem, ayo turun Mbak. Dan berhenti buat lihat tanda tangan itu. Sudah sejak tadi Mbak lihatnya. Nanti bisa berlubang lho kertasnya."
"hahaah kamu ini Jex, bisa saja. Mana ada cuma dilihatin saja bisa berlubang. Tapi baiklah, ayo turun."
Rinda membuka pintu mobil dan keluar dari sana dengan hati-hati. Ia melihat ke arah rumah. Semuanya terasa menjadi lebih tenang.
Sebuah pemandangan membuat Rinda mengerutkan alisnya. Beberapa pria dengan pakaian serba hitam ada di sekitar rumah. Mereka terlihat seperti penjaga.
"Jex, apa ini rumahku?" tanay Rinda. Ia melihat ke arah Jexen yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Iya ini rumah Mbak Rinda. Maaf ya Mbak, aku tidak izin dulu sama Mbak Rinda soal orang-orang ini. Mereka adalah orang yang aku sewa jasa nya untuk melindungi Mbak Rinda. Saat ini Mbak butuh istirahat dengan lingkungan yang tenang. Jadi aku menyewa mereka agar Mbak tidak terganggu oleh pengganggu. Ah ada kabar bagus, Gani, Teani dan Nania, mereka sudah meninggalkan rumah. Jadi Mbak benar-benar bisa beristirahat dan memulihkan kesehatan Mbak dengan maksimal."
Meski masih mencerna semuanya, namun Rinda tahu bahwa Jexen melakukan banyak hal untuk dirinya. Dan benar saja, saat masuk ke rumah, dia tak lagi menemukan Gani, Teani ataupun Nania. Hanya semalam pergi, tapi mereka bertiga sudah menghilang.
"Non Rinda," Mbok Rah bersama Narsih dan Marni menghampiri Rinda. Narsih dan Marni membantu membawakan paper bag yang dibawa oleh Jexen ke kamar Rinda. Sedangkan Mbok Rah, wanita paruh baya itu segera melaporkan tentang apa yang terjadi. Termasuk para pria berpakaian hitam itu saat mengusir Gani dan Teani.
Rinda melayangkan tatapan kepada Jexen. Jexen langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf Mbak, aku mungkin agak keras," ucap Jexen.
"Tak apa Jex, mereka sesekali memang harus dibegitukan. Terimakasih. Lagi-lagi kamu membantu ku. Mbok tolong buat makan siang ya, Jex kamu sukanya apa bilang saja sama Mbok Rah. Biar dibuatkan. Ah ya, kalau mau istirahat, pakai kamar tamu saja Jex. Aku ke atas dulu ya."
Jexen menganggukkan kepala. Dia senang karena Rinda tidak marah dengan tindakannya. Namun Jexen merasa kedepannya dia harus hati-hati saat bertindak.
"Mas Jexen mau makan apa, biar Mbok buatkan," tanya Mbok Rah.
"Apa saja, samakan saja sama Mbak Rinda. Oh iya, mereka tidak mencoba kembali kan Mbok?"
Mbok Rah menggelengkan kepala. Namun Jexen belum bisa tenang. Gani, dia masih menghubungi Rinda. Dan itu tidak menutup kemungkinan bahwa pria itu akan kembali ke sini.
"Sepertinya aku harus tinggal di sini. Pria itu, aku tidak akan membiarkannya mendekati Rinda."
TBC