NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Udara di gerbang perkemahan pangkalan seketika membeku dalam ketegangan yang menekan dada.

Para ksatria pengawal keluarga Ravensburg yang berdiri tegap di belakang Julius meletakkan tangan kanan mereka di gagang pedang sihir dengan gerakan serempak. Tekanan mana berhawa dingin terpancar pekat dari tubuh sang komandan bangsawan, membuat butiran debu pasir kristal di sekitar sol sepatu bot mereka bergetar halus di atas lantai marmer retak. Suasana di sekitar pos jaga luar berubah sunyi senyap. Tawa dan obrolan para serdadu bayaran yang sedang memoles zirah di pos piket mendadak terhenti total begitu tatapan Julius terkunci ke arah empat sosok berlapis jelaga yang berdiri di hadapannya.

Vargas menggeser posisinya setengah tapak ke depan, menempatkan tubuh tegapnya sedikit menyerong untuk menutupi ruang gerak Shizuka dan Riku. Jemari kapalan sang veteran mencengkeram erat tepi perisai besinya yang penyok. Pria tua itu telah menghabiskan belasan tahun hidupnya di ketentaraan kekaisaran dan sangat paham bagaimana roda kekuasaan kaum darah biru berputar di dalam menara. Seorang perwira berpangkat marquis memiliki wewenang hukum darurat militer untuk mengeksekusi prajurit jelata di tempat tanpa perlu melalui sidang mahkamah perang, cukup dengan dalih pembangkangan komando di medan tempur.

Ren tetap berdiri tegak di posisinya, menolak untuk menundukkan pandangan. Tatapan matanya lurus menatap sepasang bola mata biru Julius tanpa sebersit pun getaran ragu.

"Kami melapor sesuai prosedur ekspedisi garis depan, Tuan Muda Julius," ucap Ren dengan nada datar dan terukur, memecah kesunyian yang mencekam. "Sebagai unit pelopor terdaftar Batalion Ketujuh, kami menuntut hak jatah perbekalan standar, penggantian perban medis, dan perbaikan perlengkapan tempur untuk melanjutkan tugas pengintaian."

Sudut mata kanan Julius berkedut samar. Senyum tipis yang dingin terbit di sudut bibirnya yang terawat rapi.

Bagi seorang pewaris tahta kadipaten Ravensburg, membagikan beberapa karung gandum kering, gulungan kain kasa, atau seember paku besi kepada empat prajurit jelata tentu bukan kerugian logistik yang patut diperhitungkan. Masalah sesungguhnya berakar pada ancaman politik atas kepulangan mereka hidup-hidup dari dasar jurang Lantai 10.

Dua hari lalu, Julius telah mengirimkan burung merpati sihir tercepat menuju markas komando garnisun di lantai dasar, membawa gulungan perkamen bertanda segel lilin perak keluarga Ravensburg. Laporan resmi ekspedisi militer itu mencatat bahwa seluruh divisi infanteri umpan dari kalangan rakyat jelata telah gugur secara terhormat saat menahan amukan gerombolan monster pembuka gerbang. Di dalam laporan tersebut, keberhasilan menembus pertahanan mutlak monster zirah besi Lantai 10 diklaim penuh sebagai hasil kecemerlangan taktik ksatria elit Ravensburg.

Kini, empat serdadu umpan yang seharusnya telah menjadi bangkai di dasar jurang justru berdiri tegak di hadapannya. Lebih berbahaya lagi, gadis bangsawan dari faksi saingan, Elise von Althea, menjadi saksi mata langsung atas kemampuan tempur Ren dan kebohongan laporan militer tersebut. Jika kabar bahwa seorang prajurit kontrak jelata yang memecahkan celah zirah monster Lantai 10 sampai ke telinga komisi pengawas kuil atau senat kekaisaran di ibu kota, reputasi kepahlawanan yang dibangun Julius akan hancur seketika oleh skandal pemalsuan jasa perang.

"Menuntut hak logistik militer, ya...?" Julius melangkah maju perlahan, langkah kakinya berdentang teratur di atas lantai marmer kuil. Ia berhenti tepat satu jangkah di hadapan Ren, menatap pemuda itu dari atas ke bawah dengan pandangan sarat penghinaan. "Sangat menarik melihat serdadu sewaan kelas bawah fasih mengutip peraturan tata tertib ekspedisi kekaisaran. Namun kau melupakan satu kenyataan mendasar di menara ini, Prajurit Ren."

Julius mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya hingga terdengar bagai desau angin beku yang menusuk gendang telinga.

"Hak kompensasi, perawatan medis, dan pembaruan kontrak hanya berlaku sah setelah operasi penaklukan sektor dinyatakan tuntas secara resmi oleh komando tertinggi. Selama panji kebesaran Batalion Ketujuh belum tertancap kokoh di ambang Gerbang Inti Lantai 15, kalian berempat tetap berstatus sebagai infanteri garis depan yang terikat mutlak pada mandat komandoku. Perintah komandan di medan perang adalah hukum mutlak."

"Tuan Muda Julius," potong Lady Elise seraya melangkah maju dengan dagu terangkat dan sorot mata tajam. "Mereka baru saja melintasi jurang bawah tanah Lantai 10.5 dan bengkel terbengkalai Lantai 12 tanpa pasokan perbekalan resmi. Mengabaikan hak logistik dasar dan memaksa prajurit tempur kembali ke garis depan tanpa perawatan medis di tenda utama adalah pelanggaran kode etik militer kekaisaran."

Julius menoleh perlahan ke arah Elise, mempertahankan senyum dinginnya tanpa rasa gentar.

"Kode etik militer mengikat sesama perwira darah murni yang mengucap sumpah setia di altar suci kaisar, Nona Elise," jawab Julius dengan intonasi halus nan tajam. "Bagi serdadu kontrak jelata, nyawa dan tenaga mereka telah ditebus lunas di muka dengan keping tembaga saat mereka menandatangani surat penerimaan di gerbang lantai dasar. Setiap jam yang mereka habiskan untuk bermalas-malasan di dalam tenda utama tanpa mengayunkan senjata adalah pemborosan anggaran ekspedisi militer kekaisaran."

Julius memalingkan wajahnya kembali ke arah perwira logistik yang berdiri kaku di sisi meja pos jaga, lalu melambaikan tangannya dengan gerakan acuh tak acuh.

"Beri mereka jatah tenda di sektor terluar barat. Bagikan dua karung ransum biskuit keras dan pasang pelat besi penambal pada perisai rongsokan mereka. Dan pastikan mereka tidak tidur terlalu lelap malam ini..." seringai tipis terukir di wajah pucat sang komandan bangsawan, "...karena tepat saat fajar merekah besok, unit pelopor kebanggaan kita ini akan memimpin barisan pengintai melintasi Koridor Cermin Berbilah menuju Gerbang Inti Lantai 15."

Tanpa memberi ruang untuk bantahan lebih lanjut, Julius membalikkan badannya. Jubah sutra birunya berkibar pelan saat ia melangkah pergi diiringi derap langkah berirama dari barisan ksatria pengawalnya.

Elise menatap punggung Julius dengan rahang mengeras, lalu menoleh ke arah Ren. "Dia sengaja mengirim kalian ke sektor barat agar kalian mati kedinginan sebelum fajar tiba. Koridor jebakan besok adalah jalan buntu yang dipenuhi mekanisme pembantaian otomatis."

"Kami sudah menduganya sejak awal, Nona Elise," jawab Ren dengan nada tenang. "Terima kasih atas bantuan Anda di gerbang pos."

Elise menghela napas panjang, merapikan sarung pedang rapier di pinggangnya, lalu berbisik pelan sebelum berbalik menuju tenda perwira komando. "Jaga diri kalian baik-baik. Aku akan memastikan unit Althea bersiap di barisan kedua besok pagi untuk memberi perlindungan jika situasi memburuk."

Vargas meludahkan dahak tembakau ke atas tanah berbatu saat mereka berempat melangkah menyusuri jalan setapak marmer menuju sektor terluar barat pangkalan.

"Bocah bangsawan licik itu..." gerutu Vargas dengan suara rendah dan berat. "Dia tahu dia tidak bisa membantai kita di depan mata para pengawal Althea tanpa memicu perang faksi antar-keluarga, jadi dia berencana menghabisi kita di koridor jebakan besok pagi. Tipikal taktik kotor perwira elit yang takut reputasinya ternoda."

"Sektor barat benar-benar berada di tepi jurang badai pasir silika," ucap Shizuka seraya menatap deretan tenda kanvas kusam yang berdiri renggang di atas tanah berbatu tanpa dinding pelindung sihir. Udara di area ini terasa jauh lebih dingin menusuk kulit.

"Bagi kita, tempat ini justru posisi paling menguntungkan," sahut Ren seraya menurunkan ransel kulitnya di depan tenda kanvas usang yang ditunjuk perwira piket.

Ren menyibak tirai pintu tenda dan melangkah masuk untuk memeriksa ruangan. Tenda itu hanya beralaskan empat lembar matras jerami tipis di atas tanah berdebu, sebuah meja kayu berkaki patah yang diganjal batu, dan sebuah tungku minyak kecil yang sudah lama padam. Kondisinya sangat mengenaskan jika dibandingkan dengan tenda kain beludru mewah para ksatria di pusat perkemahan.

"Di sektor terluar ini, mata-mata Ravensburg tidak bisa mengawasi gerak-gerik kita setiap menit," lanjut Ren seraya duduk di atas matras jerami yang kering. "Kita punya keleluasaan penuh untuk memeriksa peralatan tempur, merawat cedera fisik, dan menyusun peta jebakan tanpa dicurigai para perwira pengawas."

Shizuka segera bergerak membuka tas medis daruratnya. Gadis itu menuangkan air bersih dari kantung kulit ke dalam mangkuk tanah liat kecil, membasahi kain kasa bersih, lalu mulai membersihkan jelaga tebal dan luka lecet di pelipis Riku. Remaja pemanah itu meringis pelan saat kain basah menyentuh lukanya, namun ia tetap duduk diam dan patuh.

"Oleskan salep getah damar ini tebal-tebal pada luka sayat di lenganmu, Riku," ujar Shizuka dengan nada lembut namun tegas. "Debu pasir kuil mengandung serpihan silika tajam yang bisa memicu pembengkakan bernanah jika luka terbuka dibiarkan kotor semalaman."

"Terima kasih, Kak Shizuka," bisik Riku seraya mengusap lengannya yang kini terasa dingin dan nyaman setelah dibalut perban baru.

Di sudut tenda, Vargas meletakkan perisai besinya di atas tanah. Sang veteran tua mengeluarkan seikat kawat tembaga liat, pasak besi cadangan, dan tang penjepit dari kantung pinggangnya. Dengan gerakan tangan yang terbiasa dan teliti, Vargas mulai memperkuat engsel pegangan perisai yang longgar akibat hantaman palu godam golem di Lantai 12. Dentang pelan logam beradu terdengar berulang-ulang di dalam keheningan tenda.

"Dengar baik-baik, anak muda," ucap Vargas seraya melirik ke arah Ren di bawah temaram cahaya lentera minyak. "Catatan resimen infanteri tua menyebut jalur menuju Lantai 15 sebagai Koridor Cermin Berbilah. Lorong marmer sepanjang tiga ratus meter itu dipenuhi kawat pemicu mikro yang setipis helai rambut, pelat penekan lantai yang memuntahkan ribuan jarum beracun dari dinding, dan bilah kinetik raksasa yang berayun membelah tubuh dalam sekejap mata jika ada beban melangkah di titik yang salah."

Ren mengangguk pelan seraya mengeluarkan belati taring monster dan bola inti tembaga dari sakunya. Ia mengambil batu asah basah dari ranselnya, lalu mulai menggosok mata belati dengan gerakan ritmis dan teratur.

"Aku sudah mendengar desas-desus itu dari percakapan para pengawal di pos depan, Paman," sahut Ren tenang. Suara gesekan batu asah dan baja terdengar tajam di udara malam. "Itu sebabnya besok fajar kita tidak akan melangkah terburu-buru. Kita akan memanfaatkan tempo pergerakan mereka dan membaca pola getaran lantai sebelum mengambil langkah maju."

Riku mematahkan sepotong biskuit gandum ransum yang baru mereka terima dari gudang logistik, membagikan remahannya kepada Shizuka dan Vargas. Biskuit itu bertekstur sangat keras dan kering hingga terasa hambar di lidah, namun asupan karbohidrat padatnya mengisi kembali tenaga tubuh mereka yang terkuras habis setelah berhari-hari bertarung di kegelapan.

"Besok pagi, aku akan berkonsentrasi penuh mengamati getaran kawat dan bayangan jebakan di dinding lorong," ucap Riku dengan mata berbinar penuh tekad. "Busurku sudah kupasangi tali cadangan yang baru, dan penglihatanku di ruang temaram jauh lebih tajam dari para ksatria zirah berat itu."

"Bagus. Fokus dan ketenanganmu akan menjadi kunci bagi kita semua," balas Ren tersenyum tipis seraya menepuk pundak remaja itu.

Malam semakin larut menyelimuti reruntuhan kuil pangkalan. Angin gurun bertiup semakin kencang dari arah barat, menerbangkan butiran pasir kristal putih yang bergemersik menyapu kain tenda kanvas. Ren bangkit berdiri, menyibak tirai tenda, lalu melangkah keluar untuk menghirup udara malam yang bebas dari pengapnya asap minyak.

Ren menatap lurus ke arah gerbang raksasa itu. Denyut saraf di pelipisnya berdetak lambat dan tenang. Ia tahu bahwa babak paling mematikan dari ekspedisi ini baru saja dimulai. Besok pagi, mereka harus menghadapi jebakan mekanik menara serta kelicikan sang bangsawan yang siap mengorbankan nyawa prajurit demi menutupi kepalsuan laporan perang.

Di dalam dada Ren, keraguan telah sepenuhnya terkikis oleh puluhan kematian yang telah ia lalui. Ia menggenggam erat gagang belatinya di balik saku mantel, bertekad membawa seluruh anggota kelompoknya menembus pintu gerbang Lantai 15 dalam keadaan hidup.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!