Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : GUDANG KAYU
Bintang bukan wanita manja, bahkan dicap keras kepala oleh mertuanya. Dia tidak mudah ditindas seperti pada cerita fiksi pada umumnya. Saat suami terlihat akan berbagi perhatian, dia tidak lantas merengek untuk diratukan. Ia sungguh akan menjadikan dirinya sebagai ibu suri yang mandiri dan bijak.
Pergi berdinas sendiri bagi Bintang bukan hal besar.
Gudang stok barang, Sidoarjo.
Di sinilah Bintang berada sekarang. Menggunakan setelan kulot berwarna abu-abu kalem, lengkap helm proyek kuning, masker, dan sarung tangan. Bintang sudah terlihat sibuk memegang Ipad. Sesekali mengambil foto, menyentuh juga menghitung bilahan kayu jati berbagai ukuran di sana.
"Kayu-kayu ini sungguh sudah kering dan siap diolah. Tetapi mengapa tidak dikerjakan?" Bintang penasaran dengan laporan pemasok furnitur ke Kantor Pusat yang kabarnya macet.
"Selera orang kesininya sudah berotasi, Bu. Dulu perabot, peralatan dan dekorasi rumah banyak permintaan dibuat bahan kayu. Sekarang produk kayu kalah dari bahan sintetik. Kabarnya pelapis ruangan berbahan PVC sedang digandrungi di era ini," jawab kepala Mandor Gudang kayu itu. Anggara namanya.
"Selera orang itu memang hak pribadi. Tetapi kita sebagai pengrajin juga harus tetap beroperasi. Memutar otak memikirkan produk apa yang tetap bisa dibuat sekreatif dan inovatif. Kalau produk tidak dibuat, apa bahan untuk promo?" Bintang itu jeli. Tidak heran ia mampu membersamai Angkasa saat terpuruk dulu, karena ia memang memiliki prinsip dan otak yang cerdas.
"Maaf Bu. Ini bukan tentang ide produk. Tetapi tidak ada pembeli, apa yang mau kita buat," jawab Anggara, terdengar pesimis.
Bintang bukan tipe orang yang suka berdebat. Tapi jarinya tidak berhenti membuat ringkasan penilaian terhadap Mandor ini di Ipad-nya. Mandor Anggara: pesimis, tidak inovatif, perlu evaluasi.
"Tugas saya ke sini hanya mencatat kendala, berharap menemukan alasan kemunduran pemasukan dari cabang di sini. Permisi," pamit Bintang yang sudah tahu akar permasalahan kerugian pada Cabang Sidoarjo.
Bukan kayu yang salah, tapi manusianya.
"Permisi, Ibu dari kantor pusat Surabaya?" Bintang menoleh. Seorang lelaki cukup gagah berdiri di ambang pintu gudang. Kulitnya tidak gelap, brewok tipis menutupi area bawah hidung juga sekitaran dagu. Itu membuat ketampanannya tidak begitu nampak, tapi sorot matanya teduh. Memakai kaos oblong lusuh dan celana kargo penuh serbuk kayu.
"Iya. Saya dengan siapa?" Bintang merespon dengan sopan. Sebab lelaki itu mendekatinya pun dengan badan sedikit membungkuk, sopan.
"Devan," ujarnya mengulurkan tangan akan bersalaman.
"Bintang Kejora," jawab Bintang tercekat saat bersalaman. Orang ini kerja apa sih, mengapa tangannya keras bagai kayu. Kapalan juga. Mungkin dia seorang pekerja keras.
"Baik Bu Bintang. Saya pemilik lahan di sebelah. Berniat ingin menjualnya, mungkin Ibu ingin melakukan perluasan gudang ini," kata Devan.
Kenapa tiba-tiba sekali tawaran ini datang di saat tidak tepat.
"Kita bisa bicara di sana," tawar Bintang menunjuk kursi yang biasa digunakan untuk bernegosiasi di depan gudang.
"Oh. Iya baik," jawabnya sopan lalu mengikuti Bintang dari belakang.
"Jadi gimana?" tanya Bintang mengulangi topik pembicaraan mereka.
"Saya ini pengrajin meubel Bu. Tadinya memiliki tempat besar dan pesanan yang lumayan banyak. Tetapi belakangan ada masalah keluarga yang membuat saya tidak bisa fokus melanjutkan pekerjaan. Saya tidak punya modal," akunya jujur.
"Sebentar. Bapak ini pengrajin kayu?" tanya Bintang, matanya berbinar. Ini jawaban yang ia cari!
"Betul Bu. Saya tukang kayu. Dulu saya punya meubel yang melayani pemesanan pembuatan set kursi, meja, lemari tempat tidur bahkan kitchen set. Tapi..." Sepertinya ia ragu untuk bicara banyak tentang masalah pribadinya.
"Jika saya akan membeli lahan Bapak? Di harga berapa?"
"Saya tidak tahu pasaran tanah di sini. Yang pasti saya butuh dana kurang lebih 500jt," jawabnya pelan. Sepertinya nominal itu tidak sungguh datang dari hatinya. Mungkin masih bisa ditawar. Matanya menatap kosong ke arah workshop kecilnya yang sudah berdebu.
Bintang menggeleng.
"Maaf Pak Devan, kami belum ada rencana dalam hal perluasan gudang ini. Jadi, kemungkinan tidak untuk sekarang."Jawaban Bintang tentu membuat Devan kecewa. Bahunya turun. Tetapi dalam hatinya justru merasa kagum atas keputusan Bintang yang menolaknya tetapi tidak terasa menyakiti. Tidak meremehkan.
Devan menatap tumpukan kayu jati milik PT Bintang yang terbengkalai.
"Sayang Bu, kayu sebagus ini kalau tidak diolah." Kalimat itu menampar Bintang.
Bintang menatap Devan.
Menatap tangannya yang kapalan. Seorang pengrajin yang butuh modal 500jt, dan gudang yang butuh pengrajin agar tidak rugi.
"Mengapa tatapan Pak Devan melihat tumpukan kayu itu bagai melihat emas?" Selidik Bintang.
"Permisi bu. Ini coba ibu lihat dulu hasil pekerjaan saya. Jika ibu hanya melihat itu adalah tumpukan kayu biasa, tapi tidak bagi saya. Itu tumpukan uang bu." Ujarnya memberikan ponselnya. Menunjukkan hasil karya tangan ajaibnya.
Bintang men scroll gambar pada ponsel Devan. Hati Bintang meronta, sungguh semua olahan Devan ini indah. Tapi, Bintang berusaha melihat itu dengan wajah datar, seolah yang ia lihat itu biasa saja.
"Mungkin tawaran saya terlalu tinggi Bu? Kita masih bisa bicarakan sampai jadi," kata Devan lagi, terdengar sangat ingin melepas lahannya.
Bintang tersenyum.
Senyum ibu suri yang sudah menemukan bidak caturnya.
"Pak Devan, saya tidak butuh lahannya. Tapi saya butuh skill Bapak." Devan mengerutkan kening.
"Maksud Ibu?"
"Saya punya 40 set kayu jati siap olah di gudang ini. Mandor saya tidak bisa olah jadi kitchen set karena katanya tidak laku. Bapak butuh 500jt modal. Bagaimana kalau kita MoU? Bapak kerjakan 40 set kitchen set itu di workshop Bapak, saya bayar 350jt di depan sebagai DP modal. Sisanya setelah barang jadi dan laku. Jadi Bapak tidak perlu jual tanah."
Devan terdiam. Matanya membulat. Tidak pernah ada orang kota yang menawarkan kerjasama seadil itu padanya.
"Bu Bintang... Ibu serius?"
"Saya Bintang Kejora. Saya tidak pernah main-main soal bisnis, Pak," jawab Bintang sambil mengulurkan tangan lagi.
Kali ini lebih mantap.
Devan menjabat tangan Bintang erat. Tangan kapalan bertemu tangan halus yang terbiasa tanda tangan kontrak miliaran. Dan dari kejauhan, Mandor Anggara memfoto momen itu diam-diam dan mengirimkannya ke grup kantor pusat dengan caption: Bu Bintang deal dengan pengrajin lokal.
Di Surabaya, Angkasa yang sedang berada di RSUD bersama Bu Ratna dan Bumi, membuka HP-nya. Foto Bintang tersenyum cerah sambil jabat tangan dengan pria brewok wangi kayu jati itu terpampang.
Jantungnya... sesak lagi. Tapi kali ini bukan karena Bintang pergi. Tapi karena Bintang terlihat bahagia tanpa dia.
Bersambung...