NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Tidak Pernah Disebut di Rumah

Alya mengambil cuti dua hari, alasan yang dia berikan ke Suster Ratna hanya "urusan keluarga", meski di dalam tasnya, selain baju ganti, dia menyelipkan salinan surat beasiswa yang dia minta fotokopi dari Pak Yusuf, terlipat rapi di antara halaman buku yang tidak pernah benar-benar dia baca sepanjang perjalanan bus empat jam menuju kampung halamannya.

Sepanjang perjalanan, dia menatap keluar jendela. Memperhatikan sawah dan perbukitan yang berganti pemandangan kota, mencoba menyusun kalimat yang akan dia ucapkan begitu sampai. Tapi setiap kali dia menyusunnya dalam kepala, kalimat itu terdengar terlalu absurd untuk diucapkan keras-keras. Bagaimana caranya bertanya pada ibu sendiri, apakah ada rahasia besar yang disembunyikan seumur hidupnya, tanpa terdengar seperti sedang menuduh. Beberapa kali dia hampir mengetik pesan ke Raze, hanya untuk menghapusnya lagi. Tidak yakin apa yang ingin dia katakan selain kemarahan yang belum sepenuhnya jelas arahnya.

Rumah masa kecilnya tidak banyak berubah. Dinding kayu yang catnya mulai memudar, halaman kecil dengan pohon mangga yang dulu selalu dia panjat diam-diam, dan pintu depan yang masih berbunyi sama setiap kali dibuka, derit yang sudah dia hafal sejak kecil tanpa pernah benar-benar memperhatikannya sampai sekarang. Ketika setiap detail kecil tiba-tiba terasa seperti petunjuk yang mungkin selama ini dia lewatkan.

Ibunya menyambutnya dengan pelukan hangat di depan pintu, wajahnya penuh kejutan bahagia yang tidak dibuat-buat. "Kamu nggak bilang mau pulang, Nak! Untung Mama masak banyak hari ini."

"Mendadak, Ma. Aku kangen aja," Alya sedikit berbohong. Meski kerinduan itu sendiri juga nyata, bercampur dengan tujuan lain yang lebih berat untuk dia ucapkan langsung di depan pintu.

Makan malam itu ramai seperti biasa. Kakak sulungnya, Mbak Wati, datang bersama suaminya dan dua anak kecil yang berlarian di sekitar meja. Untuk sesaat, Alya membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang sudah lama tidak dia rasakan sepenuhnya sejak pindah ke kota.

"Kamu kurusan, Dek," Mbak Wati berkomentar, menyodorkan piring lagi ke arahnya. "Kerja keras banget ya di sana? Atau lagi galau mikirin pernikahan sama Bayu?"

"Kerja aja, Mbak," Alya menjawab, tersenyum, menghindari topik Bayu yang masih terlalu rumit untuk dia jelaskan malam itu.

"Kapan nih rencana nikahnya jadi difiksin?" Mbak Wati bertanya lagi, tidak menangkap kegelisahan di balik senyum adiknya. "Mama udah mulai nanya-nanya terus soal itu, lho."

"Masih dipikirin, Mbak," Alya menjawab pendek, menunduk ke piringnya, dan untungnya salah satu keponakannya berteriak minta diambilkan lauk, mengalihkan perhatian semua orang dari topik yang terlalu menyakitkan untuk dia bahas malam itu.

Setelah makan malam, ketika anak-anak sudah tidur dan suasana rumah mulai tenang, Alya duduk di teras bersama ibunya. Menyesap teh hangat, mengumpulkan keberanian untuk pertanyaan yang sudah dia bawa sepanjang perjalanan empat jam itu. Suara jangkrik dan kodok dari sawah belakang rumah mengisi keheningan. Suara yang sama yang selalu menemaninya tidur setiap malam sebelum dia pindah ke kota. Sempat terbesit dalam pikirannya ingin sekali menunda pertanyaan itu, membiarkan malam ini tetap sesederhana kehangatan keluarga tanpa beban apa pun.

"Ma," katanya, akhirnya, pelan, "Alya mau tanya soal kecelakaan di jalan tol, waktu Alya masih kecil."

Cangkir teh di tangan ibunya berhenti di udara. Tidak sampai ke bibirnya, dan wajahnya berubah pucat di bawah cahaya lampu teras yang temaram.

"Dari mana kamu denger soal itu?" Ibunya bertanya, suaranya bergetar, jauh berbeda dari kehangatan yang mengiringi seluruh malam itu.

"Ada yang cerita, Ma. Katanya Alya kecil, dan ada dokter residen yang nanganin waktu itu," Alya menjawab hati-hati, memperhatikan setiap perubahan kecil di wajah ibunya. "Ma, itu beneran kejadian, kan? Kenapa nggak pernah cerita ke Alya?"

Ibunya meletakkan cangkirnya, tangannya gemetar. Untuk waktu yang lama, dia hanya menatap kegelapan di halaman depan, seolah mencari keberanian di sana. "Kita nggak pernah cerita," katanya akhirnya, suaranya pecah, "karena Mama sama Bapak sepakat, itu terlalu berat buat kamu tanggung. Apalagi kamu masih terlalu kecil buat ngerti kenapa."

"Ngerti apa, Ma?"

Ibunya menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca, tangannya meraih tangan Alya, menggenggamnya erat seolah mengumpulkan kekuatan dari sana. "Kamu punya kembaran, Nak. Namanya Alia. Kalian identik, susah dibedain waktu bayi sampai umur tiga tahun. Bahkan Bapak sendiri kadang salah manggil."

Dunia Alya seolah berhenti berputar sejenak, kata-kata itu terlalu besar untuk langsung dia terima sepenuhnya. "Punya? Maksudnya... aku punya kembaran?"

"Iya, Nak. Kalian berdua lucu banget waktu kecil, selalu digendong bareng, tidur bareng," Ibunya berkata, suaranya bergetar antara kenangan indah dan luka yang belum sembuh. "Malam kecelakaan itu, kalian berdua di mobil sama Mama dan Bapak," Ibunya melanjutkan, air matanya mulai mengalir. "Kamu selamat. Alia..." Suaranya tercekat, tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu.

"Alia meninggal, Ma?" Alya bertanya, suaranya nyaris tidak terdengar. Air matanya sendiri mulai jatuh tanpa dia sadari.

"Itu yang selalu Mama percaya," Ibunya berkata, dan sesuatu di nada suaranya membuat Alya merasakan dingin yang menjalar di sepanjang tulang punggungnya. "Tapi jasadnya nggak pernah ditemukan sepenuhnya, Nak. Waktu itu kondisinya kacau banget, banyak korban, rumah sakit penuh. Kami dikasih tahu Alia nggak selamat, tapi... tapi kami nggak pernah benar-benar diizinkan lihat jasadnya secara utuh. Bapak yang identifikasi sendirian, karena Mama waktu itu masih dirawat juga."

"Kenapa Bapak nggak pernah cerita detailnya, Ma?"

"Karena itu menghancurkan Bapak, Nak," Ibunya berbisik. "Sampai akhir hayatnya, Bapak nggak pernah bisa cerita soal malam itu tanpa nangis. Kami memutuskan, lebih baik kamu tumbuh tanpa mengetahui kejadian ini, daripada tumbuh dengan luka yang sama beratnya dengan yang kami rasakan."

"Ada surat kematian resminya, Ma? Atau apa pun yang bisa jadi bukti?" Alya bertanya, mencengkeram ujung kursi teras. Mencoba menahan gemetar di tubuhnya sendiri.

"Ada, tapi entah di mana sekarang. Bapak nyimpennya di suatu tempat. Mama nggak pernah berani nyari, karena setiap kali liat kotak simpanan Bapak, Mama selalu inget malam itu," Ibunya menjawab, menyeka air matanya dengan ujung kerudung. "Kenapa kamu tiba-tiba nanya ini semua sekarang, Nak? Ada apa sebenarnya?"

"Alya baru tau ada yang aneh, Ma. Banyak hal yang nggak masuk akal kalau Alia beneran udah nggak ada," Alya berkata, hati-hati. Tidak ingin memberi harapan palsu tapi juga tidak sanggup menyembunyikan kecurigaannya sendiri.

Ibunya menatapnya lama, matanya penuh campuran harap dan takut yang tidak berani dia ucapkan. "Kalau ada kemungkinan sekecil apa pun, Nak," bisiknya, "tolong cari tau. Mama udah cukup lama hidup dengan pertanyaan yang nggak pernah terjawab."

Alya duduk diam, mencoba mencerna semuanya. Seorang kembaran yang tidak pernah dia ketahui keberadaannya, kematian yang bahkan tidak sepenuhnya dikonfirmasi, dan seorang dokter residen muda yang, entah bagaimana, terlibat dalam malam yang mengubah segalanya. Yang kini menjadi orang yang paling mengisi hidupnya sebagai orang dewasa.

"Ma," Alya berbisik, tangannya gemetar mengeluarkan salinan surat beasiswa dari tasnya. "Dokter yang nanganin Alya malam itu... dia yang biayai kuliah Alya. Dia sekarang bosnya Alya di rumah sakit."

Ibunya menatap surat itu lama. Wajahnya campuran antara bingung dan sesuatu yang menyerupai ketakutan. "Nama dokternya siapa, Nak?"

"Raze. dr. Raze Aldevar."

Wajah ibunya berubah pucat pasi. Alya melihat sesuatu yang menyerupai pengenalan di matanya, sebelum akhirnya dia menggeleng pelan, seolah menolak untuk mempercayai kebetulan yang terlalu besar untuk disebut kebetulan. "Nama itu," Ibunya berbisik, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Alya, "kayaknya Mama pernah denger dulu, dari salah satu perawat yang nangis di lorong rumah sakit malam itu. Tapi Mama nggak yakin, Nak. Malam itu terlalu kacau buat Mama inget detail sekecil itu."

Ibunya bangkit, masuk ke kamar sebentar, dan kembali dengan sebuah album foto usang yang sampulnya sudah robek di beberapa sudut. Dia membukanya perlahan. Jarinya menelusuri halaman-halaman lama sampai berhenti di satu foto. Dua bayi identik, mengenakan baju yang sama, digendong bersamaan oleh seorang wanita muda yang Alya kenali sebagai ibunya sendiri, jauh lebih muda dari yang pernah dia lihat sebelumnya.

Alya menatap foto itu lama. Jarinya menyentuh permukaannya yang sudah menguning, mencoba mencari sesuatu yang familiar di wajah bayi yang bukan dirinya. Tapi yang dia temukan hanyalah wajah yang begitu identik dengan dirinya sendiri hingga terasa seperti menatap cermin yang menunjukkan versi lain dari hidupnya yang tidak pernah sempat dia jalani.

"Kalian berdua selalu ketawa bareng, nangis bareng," Ibunya berbisik, air matanya jatuh di atas halaman album itu. "Kadang Mama masih suka mimpi denger tawa kalian berdua, sebelum akhirnya sadar itu cuma mimpi."

Alya memeluk ibunya erat, keduanya menangis dalam diam di teras yang dingin itu, dan untuk beberapa menit, tidak ada kata-kata yang diperlukan lagi, hanya pelukan yang mencoba menampung dua puluh tahun kesedihan yang tidak pernah punya ruang untuk diucapkan.

Mbak Wati keluar sebentar untuk memeriksa suara tangis itu, dan begitu melihat album foto terbuka di pangkuan ibunya, wajahnya langsung berubah paham. "Mama akhirnya cerita?" tanyanya, pelan, duduk di sisi lain ibunya.

"Kamu tau soal ini, Mbak?" Alya bertanya, terkejut.

"Aku tau, tapi cuma samar-samar, Dek. Aku masih SD waktu itu," Mbak Wati menjawab, menggenggam tangan ibunya. "Mama sama Bapak nggak pernah cerita detail ke kita semua. Cuma kadang, kalau Mama lagi kangen banget, dia suka nyebut nama Alia sendirian, mikir kita nggak denger."

Kalimat itu menambah satu lagi lapisan kesedihan di dada Alya. Membayangkan ibunya menyimpan kesedihan itu sendirian selama bertahun-tahun. Terlalu takut membebani anak-anaknya yang lain dengan luka yang begitu besar.

Malam itu, di kamar masa kecilnya yang masih menyimpan poster-poster lama dan boneka yang sudah usang, ponsel Alya bergetar pesan dari Bayu, lebih tenang dari biasanya.

"Alya, aku udah mikir panjang. Aku putusin, aku nggak akan lapor ke media atau pengacara. Bukan karena aku takut, tapi karena aku sadar, keluargaku lebih penting dari kemenangan atas orang seperti dia. Tapi aku juga butuh jawaban darimu, secepatnya. Kita masih punya masa depan, atau enggak? Aku butuh jawaban kamu, biar aku bisa mulai jalanin hidup aku yang sebenarnya, apa pun jawabannya."

Alya menatap pesan itu lama. Dadanya sesak oleh terlalu banyak beban yang datang bersamaan malam itu. Kembaran yang hilang, dokter yang menyimpan rahasia sebesar itu, dan pria baik yang sudah menunggu terlalu lama untuk jawaban yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya yakin.

Dia mengetik balasan, jarinya berhenti beberapa kali sebelum akhirnya menekan kirim. "Aku janji akan jawab minggu ini, Kak. Aku lagi di kampung, ada hal besar yang baru aku tahu soal keluargaku sendiri. Maaf harus nunggu lebih lama lagi."

Balasan Bayu datang setelah beberapa menit. "Nggak apa-apa. Kabarin kalau kamu butuh apa-apa. Aku tetep di sini, nunggu, meski kadang aku sendiri nggak tau nunggu buat apa lagi."

Kalimat terakhir itu menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya. Alya meletakkan ponselnya, menatap langit-langit kamar yang sama seperti dua puluh tahun lalu. Mencoba membayangkan wajah kembaran yang tidak pernah dia ingat. Wajah yang mungkin identik dengan wajahnya sendiri di cermin setiap pagi, dan bertanya-tanya, apakah semua yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini Raze, beasiswa itu, bahkan mungkin Bayu entah bagaimana berakar dari satu malam yang bahkan tidak bisa dia ingat sama sekali.

Di lantai dua puluh dua malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang gemetar.Berbeda dari tulisan rapi yang biasa mengisi halaman-halamannya.

Damar baru saja mengabari, Alya pulang ke kampung halamannya. Aku tahu apa artinya ini.

Bertahun-tahun aku menunda momen ini, menyusun setiap langkah dengan hati-hati agar kebenaran keluar dengan caraku, pada waktuku. Malam ini, untuk pertama kalinya, aku menyadari waktu itu mungkin sudah habis tanpa persetujuanku.

Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Dua gadis kecil identik, satu selamat, satu yang, meski catatan resmi mengatakan lain, aku tidak pernah sepenuhnya yakin nasibnya berakhir seperti yang dituliskan di berkas rumah sakit malam itu. Ada alasan kenapa aku menyimpan dua nama dengan kode yang sama. Ada alasan kenapa aku tidak pernah berhenti mencari, meski pencarian itu membawaku ke tempat-tempat yang bahkan aku enggan tuliskan di sini.

Aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupku, di sela membangun sepuluh perusahaan dan menjadi dokter paling dicari di negeri ini, untuk diam-diam mencari jejak seorang anak yang mungkin masih hidup, dengan wajah yang identik dengan wanita yang sekarang kucintai. Aku belum menemukan jawaban pasti. Tapi aku juga belum pernah berhenti mencari, bahkan di malam-malam tersibukku sekalipun.

Alya akan segera bertanya hal yang aku takuti sekaligus aku tunggu selama ini. Aku hanya berharap, ketika hari itu tiba, aku sudah menemukan jawabannya lebih dulu daripada dia. Karena jawaban setengah-setengah hanya akan menghancurkan kami berdua, bukan menyatukan.

❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜

Ada kehilangan yang dikubur bukan untuk dilupakan, melainkan karena terlalu berat untuk terus dipikul setiap hari.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!