NovelToon NovelToon
Danu, Kejarlah Aku

Danu, Kejarlah Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Dokter / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.

Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.

Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.

Bagaimana cerita selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Pengakuan POV Dinda

Danu sudah duduk di kursi akad. Di depannya, tampak ayah Belinda bersama petugas dari kantor agama, diapit para saksi serta Papa Saliyo di sisi kanan dan kirinya. Petugas masih sibuk memeriksa berkas-berkas ketika pintu lift tiba-tiba terbuka.

Sosok pengantin perempuan muncul bersama beberapa pengiring. Semua mata langsung tertuju pada Belinda. Gaun pengantin putih bercorak angsa melekat indah di tubuh rampingnya. Ditambah riasan wajah yang tebal, penampilannya sebagai seorang model memang terlihat sempurna.

"Cantik, cuma ya... biasa aja sih. Nggak ada yang istimewa selain gaunnya. Apa mungkin gara-gara kita sering lihat dia dandan kayak gini?"

"Iya, aku juga mikirnya gitu."

"Tapi tetap aja dia model. Menurutku sih tetap bagus."

Sayup-sayup bisikan para tamu terdengar di telingaku. Kalau aku berada di posisi Belinda, mungkin rasanya ingin sekali menyumpal mulut orang-orang itu. Namun, perempuan itu tampak lihai mengendalikan emosinya. Dia tetap berjalan menghampiri Danu dengan tenang, lalu duduk di tempat yang sudah disediakan seraya mengulas senyum ke arah calon suami dan para tamu.

Aku yang sejak tadi berdiri agak jauh di barisan belakang hanya bisa menundukkan kepala dan menarik napas panjang. Mataku tertuju pada Danu yang sebentar lagi akan mengucapkan ijab kabul.

Jujur, awalnya aku tidak peduli dengan semua ini. Namun, Ghina membuatku menyadari sesuatu. Aku tidak seharusnya menerima perlakuan seperti ini. Aku tidak seharusnya hanya berdiri dan membiarkan suamiku menikahi perempuan lain tanpa melakukan apa-apa.

Aku mengulas senyum tipis sambil menunggu momen yang tepat, lalu kembali mengamati situasi di aula.

"Apa semua sudah siap?" tanya petugas kantor agama.

Danu mengangguk. Tangannya kemudian dijabat oleh ayah Belinda.

"Danu Saliyo bin Saliyo, saya nikahkan ananda dengan putri saya, Belinda Purwaningrum binti Prasetyo, dengan maskawin uang seribu dollar dan emas tujuh puluh gram dibayar tunai."

Baru saja Danu hendak membuka mulut untuk menyahut, sebuah suara wanita melengking dari sampingku.

"Tunggu!"

Suara Ghina menggelegar, membuat seluruh ruangan seketika riuh. Semua kepala menoleh ke arah kami. Adik Danu itulah yang nekat menghentikan prosesi akad kakaknya.

Saat itu, aku merasa situasi ini begitu ironis. Pesta pernikahan yang diberikan Danu untuk Belinda sungguh besar dan mewah, belum lagi nilai maharnya. Sangat bertolak belakang denganku. Pernikahan kami yang baru diresmikan secara agama semalam hanya bermaharkan uang lima puluh ribu rupiah dan cincin emas tua milik ibunya.

Bukan, aku bukan iri pada nominal itu. Aku hanya meratapi nasib dan takdir yang terasa begitu pilih kasih. Kesucian dan harga diriku seolah dipertaruhkan demi sebuah status yang tersembunyi. Namun, sekarang bukan waktunya untuk meratapi nasib.

"Tunggu, Kak Danu! Seharusnya pernikahan ini tidak menjadi dosa untuk Kakak!" teriak Ghina lagi.

Ucapan Ghina langsung menimbulkan tanda tanya besar. Ruangan semakin riuh. Belinda yang tadi sudah duduk manis seketika beranjak dari kursinya dengan wajah panik sekaligus terkejut.

"Apa maksudmu, Ghina?!" potong Belinda.

"Aku hanya menyuarakan kebenaran," balas Ghina dingin.

"Ghina, aku tahu kita nggak dekat. Tapi apa ini caramu buat misahin aku dan Danu?!" Belinda menatap Ghina tajam. Nada suaranya terdengar semakin meninggi.

"Ini bukan..."

Sebelum Ghina melanjutkan kalimatnya, aku menyentuh dan menarik pelan tangannya, memberi isyarat agar dia menyudahi ucapannya. Aku tidak ingin menyeret Ghina lebih jauh ke dalam masalah ini.

Sekarang giliranku. Kuangkat kepalaku sepenuhnya. Pasang mata yang sejak tadi mengarah pada kami tidak lagi kubiarkan mengintimidasi. Aku melangkah keluar dari bayang-bayang Ghina.

Hari ini, aku memakai gaun pengantin putih bercorak kupu-kupu, gaun yang dulu pernah kupilih bersama Danu. Gaun itu melekat pas di tubuhku, sementara riasan tipis membuat wajahku terlihat segar.

Aku tidak datang untuk bersembunyi di belakang Ghina tapi aku datang sebagai istri sah Danu.

"Jika kamu sadar calon adik iparmu tidak setuju, bukankah kamu harus berbicara baik-baik padanya, Bel?" ucapku lugas.

"Dinda?!" pekik Belinda terperanjat.

Aku menatapnya lurus dan melangkah makin mendekat ke area akad. Seketika perhatian seluruh ruangan terpusat padaku. Tatapan heran para tamu mengikuti setiap langkahku hingga aku berhenti tepat di sisi kanan Belinda.

"Jangan teriak-teriak seperti itu, Bel. Aura pengantinmu nanti hilang," ucapku santai.

Belinda meremas gaunnya, lalu menatap Danu. Pria itu masih terpaku di kursinya dengan kedua tangan mengepal erat. Sementara sang ayah dan Papa Saliyo tampak diam seribu bahasa.

"Cukup, Dinda! Aku tahu kamu sangat menyukai Danu, tapi kamu bukan orang yang ada di hatinya! Jangan buat keributan di sini! Kamu itu bukan siapa-siapa di keluarga Saliyo!" tegas Belinda.

Senyum tipis mengembang di bibirku. "Itu untuk beberapa tahun lalu, Bel. Mulai semalam, aku sudah resmi jadi menantu di keluarga ini. Aku istri sah Danu!"

"Dinda!"

Bentakan Danu menggelegar, membuat beberapa tamu kembali berbisik. Wajahnya merah padam menahan benci.

Papa Saliyo tampak terguncang melihat keberanianku. Beliau sempat beranjak hendak menghentikan keributan, tetapi Mama Saras yang berdiri tak jauh dari tempatku langsung memegang lengan suaminya untuk menahan.

Aku sempat menoleh pada Mama Saras. Beliau justru menatapku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Tidak ada kemarahan di sana. Beberapa saat kemudian, beliau bahkan sempat mengacungkan jempol secara tersembunyi. Seketika dadaku terasa lega. Setidaknya, Mama Saras tidak menyalahkanku.

"Apa aku salah, Suamiku?" tanyaku pada Danu dengan raut polos yang sengaja kubuat-buat agar didengar semua orang.

"Kamu jangan kekanak-kanakan! Lebih baik kamu pergi sekarang!" usir Danu penuh penekanan.

"Itu tidak mungkin. Sebagai istri pertama, aku justru sangat bermurah hati datang ke sini agar pernikahanmu yang kedua ini tidak menjadi dosa," balasku telak.

Wajah Belinda seketika memerah. Dia melangkah maju dengan tangan berpulas hena putih yang terangkat tinggi ke udara, bersiap melayangkan tamparan.

Aku tidak memberinya kesempatan. Sebelum jemarinya menyentuh pipiku, aku menangkisnya dan mencengkeram erat pergelangan tangannya di udara.

"Lepaskan tanganku, jalang!" perintah Belinda menahan sakit.

"Dinda, lepaskan Belinda! Jangan pernah menyakitinya!" bentak Danu panik.

Kulemparkan tatapan dingin pada pria yang kini berstatus sebagai suamiku.

"Matamu sebelah mana yang buta? Aku tidak pernah menyakiti siapa pun kecuali dia yang memulainya duluan."

Aku menghempaskan tangan Belinda hingga dia terdorong sedikit ke belakang.

Danu menatapku lamat-lamat. Untuk beberapa saat, dia hanya diam. Tatapannya membuatku merasa pria itu baru kali ini melihatku berani melawannya secara langsung. Namun, aku tidak peduli lagi. Aku sudah terlalu lama menjadi wanita yang hanya diam ketika diinjak.

"Cukup! Danu, aku ingin kamu jelaskan semuanya. Apa benar wanita ini istri pertamamu?!" tanya Pak Prasetyo, ayah Belinda, yang akhirnya angkat bicara dengan nada menuntut.

Belinda menatap Danu lekat-lekat. Tatapannya seolah menunggu pria itu membantah ucapanku. Namun, Danu akhirnya hanya bisa menunduk dan mengangguk pelan.

Wajah Belinda seketika berubah. Matanya membesar, lalu bibirnya terkatup rapat sebelum akhirnya dia kembali menatap Danu.

"Kalau benar, aku ingin kamu ceraikan dia sekarang juga, Danu! Baru kita lanjutkan acara ini!" serunya setengah berbisik, tetapi penuh penekanan.

Aku maju selangkah, mensejajarkan posisiku dengannya. "Kalau kamu menuntut hal seperti itu di depan umum, kamu cuma bakal dicap sebagai wanita perebut suami orang, Belinda."

Belinda menatapku tajam. Aku tidak memberinya kesempatan untuk menyela.

"Akan lebih baik kalau kamu minta restu baik-baik dariku, jadi kamu nggak dapat julukan buruk. Atau, ya... kalian batalkan saja pernikahan ini. Kamu tahu sendiri media zaman sekarang seperti apa, kan? Kejadian hari ini bisa langsung viral."

"Pak Saliyo, apa-apaan ini?!" bentak Pak Prasetyo. Wajahnya merah padam.

Papa Saliyo tampak gugup. "Kami minta maaf, Pak. Kami akan jelaskan—"

"Apa yang dikatakan Dinda benar adanya. Dinda sudah resmi menjadi istri Danu sejak semalam," potong Mama Saras tegas, menyela suaminya sendiri.

"Apa?!"

Dada Pak Prasetyo naik turun menahan amarah. Tanpa pikir panjang, dia langsung menarik tangan putrinya.

"Lebih baik kita batalkan acara gila ini!"

Belinda tersentak. Dia menatap Danu, lalu beralih menatap ayahnya. Sorot matanya yang semula dipenuhi keterkejutan perlahan berubah tajam. Tatapan itu kemudian beralih kepadaku.

"Aku nggak mau membatalkan pernikahan ini!" tegas Belinda sambil melepaskan genggaman ayahnya.

Aku menatapnya lurus. Dari caranya tetap bertahan meski sang ayah sudah berusaha menariknya pergi, aku tahu perempuan ini tidak akan menyerah begitu saja.

Kamu maduku. Kalau memang akhirnya kita harus hidup di rumah yang sama, aku akan menghadapimu sebagai istri pertama Danu.

Namun, satu hal yang harus kamu tahu, Belinda. Aku tidak akan pernah menyerahkan kedudukanku kepadamu, meskipun suamiku sendiri lebih mencintaimu.

1
sutiasih kasih
harusnya km brsyukur blm mnyentuh belinda ..... bisa jdi belinda sdh trjangkit pnyakit krna seringnya di celup bnyk laki".....
Mariatul
baper aku Thor. mau nangis iya, mau meledak pun iya. 😁😁
sutiasih kasih
jalang sesungguhnya siapa danu???
sutiasih kasih
double up dunk thor😘😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, udah proses
total 1 replies
sutiasih kasih
10 th.... gmn klo dinda hamil ankmu danu.....
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
sutiasih kasih
pede amat kau danu....
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sutiasih kasih
nungguin upnya thor😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ini lagi ngetik kak, sabar ya. 🤭🙏
total 1 replies
Annisa Lupiyanah
bagus ceritanya
sutiasih kasih
mksutnya.... Dinda sdh pergi dri hidupmu.... yg artinya Dinda jga sdh mnjadi mantan istrimu Danu....
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
sutiasih kasih
lnjut thor...
up bnyak bnyak😘😘
sutiasih kasih
lanjut up thor.... jgn lama"...
sutiasih kasih
kok lm g update...🤔🤔
sutiasih kasih
jgn dunk ghina.... jgn lgi km meminta dinda untuk mnerima danu lgi....
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
sutiasih kasih
lanjut up bnyak" thor...😘😘
sutiasih kasih
danu.... ap yg sdh km ktakn ke dinda....
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
Inarrr Ulfah
si ghina tau klo si belinda punya selingkuh an,, jgn2 selingkuhan si belinda. teman nya gihna🤣danu aja yg bodoh,, nanti klo dinda. pergi ke perbatasan baru nyaho
sutiasih kasih
smoga ada inisiatif dinda untuk merekam duo psangan selingkuh...
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
sutiasih kasih
lnjut... double up thor😘😘
sutiasih kasih
nyatanya cm tmbuh dinda yg bisa mmbuatmu bergairah danu....
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...
sutiasih kasih
nungguin upnya...
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: iya kak, maaf hari ini libur dulu besok seperti biasa jam 6 baru up ya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!