NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Di Antara Rahasia dan Air Mata

Ekaterina

Olga menarik tanganku menyusuri koridor apartemen.

"Aku lapar sekali," keluhnya dengan nada berlebihan. "Bayi ini bakal membuatku gemuk luar biasa. Aku lapar sepanjang hari."

Dia tersenyum saat mengatakannya, jauh berbeda dari perempuan ketakutan beberapa hari lalu.

"Kamu juga suka merasa lapar?" tanyanya.

Aku tertawa kecil.

"Iya."

Kami tiba di dapur, dan mataku sedikit membelalak melihat meja yang sudah tertata.

Itu benar-benar sarapan impian.

Buah segar, roti, panekuk, kue, jus, kopi, selai... makanan yang cukup untuk memberi makan satu batalion.

Lis sudah duduk di salah satu kursi.

Alina menyendokkan sepotong besar kue cokelat untuknya, dan wajah Lis nyaris berbinar saking bahagianya.

"Pelan-pelan, tuan putri." Alina tertawa.

Lis menggigit kue itu begitu besar sampai seluruh mulutnya belepotan cokelat.

Sesaat... adegan ini terasa normal.

Tenang.

Aman.

Nyaris seperti keluarga sungguhan.

Aku duduk perlahan.

"Aku harus kembali ke rumahku untuk mengambil barang-barang kami."

Alina langsung menoleh ke arahku.

"Aku ikut denganmu. Sebentar lagi."

Aku mengangguk penuh terima kasih.

Lis mengangkat wajah ke arahku dengan mulut masih belepotan.

"Kita nggak akan balik ke sana lagi, kan, Kathy?"

Hatiku terasa perih.

Dia berusaha terdengar tenang... tapi aku bisa menangkap rasa takut yang tersembunyi dalam suaranya.

Aku menggenggam tangan mungilnya di atas meja.

"Tidak. Kita tidak akan kembali ke sana."

Lis mengembuskan napas lega dan kembali melahap kuenya dengan riang.

Tapi kenyataan tak butuh waktu lama untuk kembali.

"Tapi kamu masih ada jadwal kontrol..." kataku sambil menggosok dahi dengan cemas.

"Dan aku harus mengurus soal sekolahmu."

Semua beban itu seakan kembali menimpaku sekaligus.

Dokumen.

Dokter.

Sekolah.

Rumah.

Alina menggenggam tanganku di atas meja dengan lembut.

"Kita selesaikan semuanya bersama-sama, sayang."

Aku menatapnya beberapa detik, terkejut.

Karena sudah lama sekali...

Sudah lama sekali aku tidak merasa ada seseorang yang benar-benar berpihak padaku.

Aku mulai makan secara otomatis, bahkan tanpa benar-benar merasakan rasa makanannya.

Pikiranku jauh dari sana.

Kupikirkan rumah itu. Baju-baju. Dokumen. Sekolah Lis. Jadwal kontrol. Masa depan.

Betapa hidupku berbalik jungkir balik dalam waktu sesingkat ini.

Lis selesai makan lebih dulu.

Dia mengelap mulut kecilnya dengan serbet lalu menatap Olga penuh semangat.

"Boleh aku lanjut lihat barang-barang yang tadi kamu bawa?"

Mulut Olga penuh kue dan dia hanya mengangguk cepat sebagai jawaban.

Alina tergelak.

"Ya Tuhan, Olga, kamu seperti orang kelaparan."

Olga mengacungkan garpunya ke arah Alina dengan dramatis.

"Aku sekarang makan untuk dua orang."

Kami tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari... suasana terasa ringan.

Olga mengambil sepotong besar kue sebelum bangkit dari kursi.

"Ayo, si kecil. Kita lanjutkan pameran busana kita."

Lis tersenyum antusias dan nyaris melompat dari kursi.

Keduanya menuju ruang tamu bersama.

Dari tempatku, aku masih bisa mendengar keceriaan Lis.

Dia membuka kantong-kantong belanjaan dengan kebahagiaan yang membuat dadaku sesak.

"Lihat ini!"

"Olga, boneka ini seperti putri!"

"Blus ini ada kilau-kilaunya!"

Suaranya terdengar begitu hidup.

Begitu bahagia.

Aku menunduk menatap cangkir kopiku, merasakan tenggorokanku tercekat.

Karena sudah lama sekali aku tidak melihat Lis seceria ini.

Alina menyadari diamku.

"Dia memang membutuhkan ini," katanya lembut.

Aku mengangguk pelan.

Dia memang membutuhkannya.

Dia perlu merasa aman.

Dia perlu kembali menjadi anak-anak.

Alina menangkap kegelisahanku dan sekali lagi menggenggam tanganku.

"Kita bisa pergi mengurus semuanya kapan pun kamu mau."

Aku mengangguk pelan dan bangkit dari meja.

Alina ikut menyusuriku di koridor sambil menyeret sebuah koper besar.

"Apa itu?" tanyaku bingung.

Alina tersenyum miring.

"Ini untukmu."

Hatiku langsung berdebar.

Dia berjalan di depanku sampai berhenti di depan sebuah pintu.

Lalu membukanya.

Aku langsung mengenali kamar itu.

Kamar tempat Viktor dulu tidur.

Hanya saja sekarang semuanya terasa berbeda.

Lebih luas.

Lebih hangat.

Lebih intim.

"Ini kamar terbesar di apartemen," katanya wajar. "Ini kamarmu."

Aku terpaku beberapa detik tanpa reaksi.

Alina meletakkan koper itu di atas ranjang dan membuka ritsletingnya.

Mataku membelalak.

Koper itu penuh.

Baju.

Sepatu.

Pakaian dalam yang lembut.

Perlengkapan mandi.

Parfum.

Alat rias.

Semuanya baru.

Semuanya dipilih dengan penuh perhatian.

Aku menyapukan jari pelan-pelan di atas kain-kain itu, benar-benar kehilangan kata.

"Alina..."

Dia hanya tersenyum.

"Kamu perlu merasa nyaman di sini."

Kurasakan mataku memanas diam-diam.

Karena sudah lama sekali tidak ada yang mengurusku seperti ini.

Tanpa tuntutan.

Tanpa pamrih.

Hanya... kepedulian.

Alina menyentuh lenganku dengan sayang.

"Bersiaplah sesuka waktumu. Aku tunggu di luar."

Lalu dia mengecup dahiku lembut sebelum keluar dari kamar.

Dan aku sendirian.

Dalam sunyi.

Menatap kamar besar itu.

Ranjang itu.

Benda-benda baru itu.

Berusaha memahami di titik mana hidupku keluar dari kekacauan... lalu berakhir di dalam rumah para pria paling berbahaya yang pernah kukenal.

Aku mandi cepat sambil berusaha menata pikiran dan isi kepalaku.

Air hangat mengendurkan tubuhku, tapi tak mampu sepenuhnya meringankan beban di dalam dada.

Setelah berpakaian, aku menarik napas dalam sebelum keluar dari kamar.

Begitu kubuka pintu, kudapati Lisbela duduk di sofa ruang tamu, benar-benar terpesona pada dirinya sendiri.

Dia mengenakan gaun berkembang merah muda lembut, penuh kilau, seakan keluar dari dongeng.

Olga baru saja selesai menyanggul rambutnya dengan rapi sementara Lis mengagumi dirinya dengan riang.

Saat melihatku, Lis melompat dari sofa dan berlari menghampiriku.

"Sekarang aku jadi putri sungguhan!"

Aku otomatis tertawa melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kecilnya.

Dia memutar-mutar gaunnya di tengah ruangan.

"Sekarang aku mau menunggu pangeranku."

Olga langsung ikut bermain.

"Dan siapa yang akan jadi pangeranmu, Nona Lisbela?"

Lis berpikir dua detik dengan dramatis sebelum menjawab:

"Om Viti."

Alina tertawa terbahak-bahak.

Aku menutup mulut menahan tawa.

Olga nyaris tersedak.

"Viktor?" tanyanya tak percaya. "Sayang... dia lebih mirip kodok daripada pangeran."

Lis menyilangkan tangan sambil cemberut.

"Dia sudah menjaga kami."

Olga menunjuk dengan jari seolah itu menjelaskan segalanya.

"Ah, tapi itu memang sudah kewajibannya..."

Lalu Olga meletakkan tangan di dada dengan gaya teatrikal.

"Itu karena kamu belum melihat suamiku. Nah, dia baru pangeran sungguhan."

Alina langsung mengangkat alis.

"Maxim? Pangeran?"

"Orang Rusia, kaya, tampan, dan terobsesi padaku," jawab Olga penuh keyakinan. "Itu praktis setara bangsawan."

Aku menggeleng sambil tertawa pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...

tawa itu keluar tanpa dipaksa.

Alina menatapku lembut.

"Berangkat?"

Aku mengangguk.

Lisbela bahkan tak begitu sadar saat aku bangkit untuk pergi. Dia terlalu sibuk berputar-putar di ruangan dengan gaun putrinya sementara Olga merekam semuanya sambil tertawa.

Dadaku menghangat melihat pemandangan itu.

Aku menghampirinya dan mengecup rambutnya.

"Aku pergi sebentar, sayang."

"Oke!" jawabnya asal, sibuk mengagumi rok berkilaunya sendiri.

Aku tersenyum tipis sebelum mengikuti Alina keluar dari apartemen.

Kami turun ke tempat parkir dalam diam.

Kami masuk ke mobil.

Dan seiring jalanan berlalu di balik jendela... hatiku terasa kian tersayat.

Karena kami sedang menuju rumahku.

Rumah tempat aku tumbuh besar.

Rumah yang masih menyimpan serpihan ibuku di setiap sudut.

Aromanya.

Tanaman-tanaman yang dia rawat.

Gorden yang dia pilih.

Foto-foto.

Kenangan.

Semuanya.

Ketika mobil akhirnya berhenti di depan gerbang, kurasakan mataku langsung memanas.

Napasku tersendat sesaat.

Rumah itu tampak lebih kecil sekarang.

Lebih murung.

Lebih kosong.

Aku turun dari mobil perlahan.

Dan begitu masuk... rasa sakit itu menembus seluruh tubuhku.

Kesunyian tempat itu nyaris melukai secara fisik.

Alina masuk tepat di belakangku, tapi memberiku ruang.

Beberapa air mata lolos bahkan sebelum aku menyadarinya.

Mataku menyapu ruang tamu, berusaha menemukan ibuku di suatu tempat.

Seolah dia bisa muncul kapan saja.

Seolah tak ada yang berubah.

Alina menyentuh lenganku dengan lembut.

"Ambil yang penting-penting saja, sayang. Dokumen... barang-barang yang penting."

Aku mengangguk tanpa suara.

Aku menuju kamar dengan langkah lambat.

Kubuka laci-laci.

Kuambil dokumen-dokumenku.

Dokumen Lis.

Hasil pemeriksaan medis.

Beberapa potong baju.

Lalu mataku menemukan foto lama ibuku.

Aku mengambilnya hati-hati.

Jari-jariku sedikit gemetar di atas foto itu.

Kutahan tangis.

Dan kupeluk foto itu ke dada beberapa detik.

Lalu aku menarik napas dalam.

"Kita sudah bisa pergi."

Suaraku keluar pelan.

Karena jauh di lubuk hati... aku tahu.

Saat itu aku sedang meninggalkan jauh lebih banyak daripada sekadar sebuah rumah.

Kami kembali ke mobil dalam diam.

Kudekap foto ibuku di pangkuan sepanjang perjalanan.

Alina menyetir dengan tenang, menghormati diamku, tapi setelah beberapa menit dia bertanya hati-hati:

"Aku belum pernah tanya... tapi pengobatan apa yang dijalani Lisbela?"

Jari-jariku sedikit mengencang di atas foto.

"Sekarang hanya kontrol lanjutan operasi jantungnya."

Dia meliriku sekilas, terkejut.

Aku menarik napas dalam sebelum melanjutkan.

"Lisbela lahir dengan gangguan jantung."

Kata-kata itu keluar pelan.

Berat.

Bahkan setelah bertahun-tahun.

"Dia harus dioperasi sejak masih sangat kecil."

Kesunyian menguasai mobil.

Kota terus berlalu di balik jendela, tapi pikiranku langsung kembali ke rumah sakit itu.

Baunya.

Suara-suaranya.

Rasa takutnya.

Tenggorokanku tercekat.

"Ibuku meninggal saat melahirkannya."

Alina terdiam sesaat.

Aku terus menatap ke luar jendela, karena aku tahu, kalau aku menatap siapa pun sekarang, aku pasti akan menangis.

"Di hari yang sama saat adikku lahir... aku kehilangan ibuku."

Suaraku pecah di akhir kalimat.

Kenangan itu kembali menghancurkanku.

Alina melepas satu tangannya dari kemudi hanya untuk sejenak menggenggam tanganku.

"Jadi kamu membesarkan Lis sendirian selama ini?"

Aku tersenyum tipis, tanpa sedikit pun humor.

"Sejak awal. Kami selalu berdua saja."

Tapi jantung Lisbela mulai melemah, dia butuh operasi lagi dengan segera. Suaraku bergetar.

"Karena itu aku menerima ajakan ke bar itu... begitu aku mendapat uang operasi dengan menipu Viktor..."

Sebuah isakan lolos.

"Dan aku belum pernah dekat dengan pria mana pun sebelumnya."

Alina membelalak, jelas terkejut. Aku memalingkan pandangan, terlalu malu untuk menatapnya.

Alina menepikan mobil dengan mendadak. Sebelum aku sempat mengerti, dia menarikku ke dalam pelukan erat. Kuat. Hangat. Aman.

"Kamu tak perlu malu di depanku," katanya sambil mengecup puncak kepalaku.

Aku runtuh dalam pelukannya. Tangis yang terkurung begitu lama akhirnya lepas. Jari-jariku mencengkeram blusnya sementara aku berusaha bernapas.

"Aku cuma ingin menyelamatkannya..." suaraku keluar terputus-putus.

Alina mengeratkan pelukannya.

"Dan kamu berhasil. Kamu dengar? Kamu sudah melakukan yang kamu bisa untuk adikmu."

Aku menggeleng.

"Tapi aku berbohong... aku menipu Viktor..."

"Karena kamu putus asa," potongnya tegas. "Bukan karena kamu orang jahat."

Aku memejamkan mata, merasakan belaiannya di kepalaku.

"Kamu memikul semua ini sendirian terlalu lama, Ekaterina."

Sebuah isakan lolos dari tenggorokanku.

"Aku takut... takut semua orang memandangku berbeda."

Alina menjauh sedikit, hanya cukup untuk menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

"Kalau begitu, tatap aku. Aku tidak menghakimimu. Aku bangga padamu karena kamu masih bisa berdiri setelah semua ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!