Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jauh Dari Kata Layak
Elvano menatap kepergian Ashela yang terburu-buru dengan perasaan yang campur aduk. Ia berdiri di tengah ruangannya yang luas, merasakan sisa-sisa kehadiran wanita itu yang masih tertinggal di udara. Bekas sentuhan di pinggang Ashela tadi seolah masih terasa panas di telapak tangannya.
"Ada apa denganku?" gumam Elvano pada dirinya sendiri. Ia memijat pangkal hidungnya.
Sepanjang kariernya sebagai dokter, ia telah bertemu dengan ribuan wanita, mulai dari model papan atas hingga putri konglomerat, namun tidak ada satu pun yang mampu mengusik logikanya seperti wanita dari Sukabumi ini. Kelembutannya, ketegarannya, dan misteri yang menyelimuti dirinya membuat Elvano merasa haus akan jawaban.
Tak lama setelah Ashela pergi, pintu ruangannya diketuk. Yudha masuk dengan membawa laporan harian.
"Dokter, Nyonya Zoya menelpon lagi. Beliau bertanya tentang pasien bernama Leo," lapor Yudha.
Elvano menghela napas panjang. "Katakan pada Mama jangan mencampuri urusan pasienku. Dan Yudha... cari tahu di mana Ibu Ashela dan Leo tinggal sekarang. Aku tahu mereka tidak langsung pulang ke Sukabumi." perintah Elvano.
Yudha tampak terkejut. "Tapi Dokter, bukankah itu melanggar privasi pasien?"
"Lakukan saja," perintah Elvano tanpa bantahan. "Aku hanya ingin memastikan kondisi pasien pasca-operasi tetap terpantau. Jakarta bukan tempat yang mudah untuk ibu tunggal dan anak yang sedang sakit." ucapnya dengan alasan.
Sementara itu, di dalam taksi menuju kontrakan, Ashela memeluk Leo dengan sangat erat. Pipi kirinya masih terasa berdenyut, namun debaran di dadanya jauh lebih menyakitkan. Ia bisa merasakan tatapan Elvano yang seolah-olah sedang menguliti rahasianya.
Interaksi tadi dimana cara Elvano memegang pinggangnya, cara pria itu menahan tengkuknya, dan tatapan intim di ruang kerja tadi membuat Ashela sadar bahwa ia sedang bermain api. Elvano mulai memberikan perhatian yang melampaui batas hubungan dokter dan keluarga pasien.
"Mama... Dokter baik itu suka sama Mama ya?" tanya Leo polos.
Ashela tersentak, wajahnya memerah di balik masker. "Leo bicara apa sih? Dokter itu orang hebat, dia cuma kasihan sama kita karena kita orang susah."
"Tapi Dokter tadi pegang Mama terus. Terus matanya Dokter liat Mama kayak Leo liat ayam goreng," celetuk Leo lagi.
Ashela hanya bisa terdiam, mencoba menenangkan hatinya. Ia tahu ia harus segera meninggalkan ibu kota. Semakin lama ia berada di dekat Elvano, semakin besar kemungkinan benang merah itu akan terjalin kembali menjadi simpul yang tak bisa ia lepaskan.
"Kita akan pulang secepat mungkin, Leo. Secepat mungkin," bisik Ashela pada dirinya sendiri, menatap jalanan Jakarta yang macet dan bising.
Ia tidak tahu bahwa di belakangnya, Elvano sedang mulai menggerakkan kekuasaannya untuk melacak jejaknya. Dan ia juga tidak tahu bahwa Mama Zoya, yang tadi ia bantu di jalan, kini sedang membolak-balik arsip pasien rumah sakit hanya untuk mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang memiliki anak dengan lesung pipit yang sama dengan putranya.
Rahasia yang ia bangun selama empat tahun kini bukan lagi sebuah benteng yang kokoh tapi ia hanyalah sebuah rumah pasir yang sedang dihantam oleh ombak rasa penasaran keluarga Narendra.
Dan di pusat badai itu, Ashela hanya bisa berharap bahwa cinta seorang ibu cukup kuat untuk melidungi anaknya dari kenyataan yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.
Malam merayap perlahan di gang sempit daerah Jakarta Timur. Elvano Gavian Narendra berdiri mematung di ujung jalan yang becek, menatap sebuah deretan bangunan semi-permanen yang dindingnya hanya dilapisi semen kasar.
Di tangannya, ia memegang sebuah alamat yang diberikan Yudha yaitu hasil pelacakan yang sangat mudah bagi seseorang dengan kekuasaan seperti dirinya.
Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Seharusnya, ia berada di sebuah gala dinner medis di hotel bintang lima malam ini. Namun, bayangan Ashela yang ditampar di rumah sakit dan wajah pucat wanita itu terus menghantuinya. Kakinya seolah memiliki kemauan sendiri untuk melangkah ke sini.
Elvano menyusuri gang sempit itu, jas mahalnya tampak sangat kontras dengan jemuran warga yang melintang di atas kepala. Ia berhenti di depan pintu kayu bernomor 07. Pintu itu terlihat reyot, dengan lubang kunci yang sudah longgar.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada jawaban. Elvano mengetuk sekali lagi, kali ini lebih keras. Dari dalam, terdengar suara langkah kaki ringan yang terburu-buru.
"Nek Sumi? Ini saya, sebentar ya..." ada sahutan suara dari dalam.
Pintu terbuka. Sosok wanita keluar dengan rambut yang diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya. Ia mengenakan daster katun sederhana yang sudah agak pudar warnanya.
Elvano seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas selama beberapa detik. wajah wanita di depannya ini tampak begitu... murni.
Kulitnya yang yang putih meski sedikit pucat karena kelelahan, bibirnya yang tipis namun berbentuk sempurna, dan matanya yang besar dengan bulu mata lentik. Ada kecantikan yang sangat alami, sebuah kecantikan yang tidak membutuhkan riasan mahal untuk terpancar.
"Dokter Elvano?" Ashela membelalak.
"Ibu Ashela," suara Elvano terdengar serak. Ia tidak bisa memalingkan wajahnya.
Ruangan itu hanya seluas 3x4 meter. Elvano menatap sekeliling dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sebuah kasur busa di lantai, sebuah kipas angin kecil yang berputar dengan suara berisik, dan tumpukan obat-obatan Leo di atas lemari plastik. Di sudut kasur, Leo sedang duduk sambil menyusun balok kayu bekas.
"Dokter!" seru Leo riang. Ia segera berdiri dan berlari memeluk kaki Elvano.
"Dokter main ke rumah Leo?!" tanya Leo dengan gembira.
Elvano berjongkok, mengusap kepala Leo. "Iya, Jagoan. Dokter mau lihat apa Leo sudah minum obat atau belum."
"Sudah! Mama yang kasih." jawab Leo bangga.
Ashela berdiri mematung di sudut ruangan, tangannya meremas ujung dasternya. Ia merasa sangat telanjang di bawah tatapan Elvano. Ia merasa malu akan kemiskinannya, namun lebih dari itu, ia takut jika Elvano menyadari kemiripan wajahnya dengan wanita dari malam itu.
Namun, Elvano tampaknya terlalu terpesona dengan realitas di depannya sehingga logikanya belum menghubungkan titik-titik masa lalu.
"Kenapa Dokter ke sini? Ini bukan tempat yang pantas untuk orang seperti Dokter." bisik Ashela, suaranya bergetar.
Elvano berdiri, menatap Ashela lekat-lekat. Jarak mereka sangat dekat di ruangan sempit itu.
"Saya ingin memastikan pasien saya tidur di tempat yang layak. Tapi sepertinya, saya salah. Tempat ini jauh dari kata layak untuk anak pasca-operasi jantung." ujar Elvano dengan dingin.
"Kami hanya sementara di sini, Dok. Hanya sampai jadwal kontrol berikutnya selesai." bela Ashela.
"Besok adalah hari Minggu," ucap Elvano tiba-tiba. "Aku akan menjemput kalian pukul sembilan pagi. Leo butuh udara segar yang tidak tercampur asap knalpot gang ini." seru Elvano.
"Tapi Dok..." ucapnya terpotong.
"Tidak ada bantahan, Asha." potong Elvano. Ia menyebut nama kecilnya dengan nada yang begitu intim, membuat jantung Ashela berdesir hebat.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
😊😊😊
semangat thor💪😍