NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:307
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Utang Budi Seorang Bad Senior

Clara gak bisa tidur semaleman.

Kartu pelajar Seokjin ada di bawah bantal. Deket sama diary biru. Rasanya aneh banget. Kayak tidur sama bom waktu.

Chat yang tadi malem masih ada di HP.

"Amplop lo ketinggalan di gue. Besok gue balikin. -J"

Amplop lab. Yang isinya ginjal. Yang isinya rahasia paling gede yang dia punya.

Sekarang ada di orang yang paling ditakutin satu sekolah.

Anjir. Hidup Clara tuh kayak sinetron yang penulisnya lagi capek.

Jam 5 pagi dia udah bangun. Mandi. Seragam rapi. Tas di cek 3 kali. Diary aman? Aman. Kartu Seokjin? Masih ada. Dia bawa, mau dibalikin hari ini juga. Abis itu udah. Gak mau urusan lagi.

Di meja makan, Papa sama Mama udah sibuk bahas Thea yang katanya mau rawat inap observasi.

"Clara, nanti kamu pulang jangan keluyuran ya. Langsung pulang jagain rumah. Nenek mau ikut Mama ke rumah sakit," kata Mama.

Clara angguk. Seperti biasa.

"Iya Ma."

Dalam hati, baguslah, jadi gak ada yang nanya kenapa gue pulang telat kemarin.

Berangkat sekolah, dia jalan bareng Mutiara yang sengaja dateng pagi-pagi ke rumahnya.

"Ra, tangan lo masih gemeteran. Cerita jujur, kemarin abis nolongin orang itu lo kenapa?" Mutiara bisik pas di jalan.

Clara ceritain singkat. Seokjin kecelakaan, berdarah, dia panggilin ambulan. Gak cerita soal amplop lab yang ketinggalan. Belum siap.

Mutiara dengerin sambil ngeremas tangan Clara.

"Lo gila ya berani nolongin dia sendirian di gang sepi! Kalau dia orang jahat gimana?"

"Dia pingsan, Mut. Masa gue tinggalin."

"Ya tetep aja!"

Sampai gerbang sekolah, Clara langsung tegang.

Motor gede itu udah ada lagi. Parkir paling depan. Tapi cuma satu. Yang lain gak ada.

Berarti Seokjin udah dateng.

"Ra, lo masuk duluan aja ya. Gue beli minum dulu," kata Clara. Alasan biar bisa ngumpet.

Mutiara ngerti. "Gue temenin."

Mereka masuk kelas lewat pintu belakang biar gak lewat parkiran.

Tapi usaha Clara sia-sia.

Jam 7.10, bel masuk baru aja bunyi. Bu Lilis belum dateng. Anak-anak masih berisik.

Tiba-tiba kelas hening.

Pintu depan kebuka.

Seokjin berdiri di sana.

Kaos seragam putih, lengan digulung. Di pelipisnya ada perban putih. Di bibirnya ada luka kering. Tapi tetep aja serem.

Satu kelas langsung diem. Gak ada yang berani napas kenceng.

Seokjin gak peduli sama satu kelas. Matanya langsung nyari satu orang.

Clara.

Clara yang duduk di baris kedua langsung nunduk. Jantungnya mau loncat keluar.

Mutiara langsung siaga. Diana sama Safira yang baru dateng langsung bengong di pintu.

"Clara Nagendra," kata Seokjin. Suaranya gak kenceng, tapi jelas banget satu kelas denger.

Anak-anak langsung noleh ke Clara. Bisik-bisik langsung kayak tawon.

Clara berdiri pelan. Kakinya lemes.

"I-iya?"

Seokjin jalan masuk. Ke meja Clara. Ngeluarin sesuatu dari tasnya.

Amplop coklat. Punya Clara.

Sama kartu pelajarnya sendiri yang kemarin dipinjem Clara.

"Nih. Ketinggalan," katanya. Naruh amplop di meja Clara. Pelan.

Satu kelas makin heboh.

Clara ngambil amplopnya cepet. Masukkin ke tas. Mukanya merah.

"Makasih..."

Seokjin diem sebentar. Kayak mau ngomong lagi. Tapi bingung gimana ngomongnya di depan orang banyak.

"Kemarin... makasih," akhirnya dia bilang. Pelan banget. Cuma Clara yang denger.

Clara angguk kecil. "Sama-sama."

Seokjin masih berdiri di situ. Gak langsung pergi.

Mutiara yang udah gak tahan, berdiri.

"Kak, udah ya? Clara mau belajar. Makasih udah balikin barangnya."

Nada Mutiara sopan, tapi jelas banget nyuruh pergi.

Seokjin ngelirik Mutiara sekilas. Terus balik lagi ke Clara.

"Gue utang budi. Kalau butuh apa-apa bilang aja."

Abis ngomong gitu, dia balik badan. Keluar kelas.

Kelas langsung meledak.

"WOY CLARA! LO KENAL SEOKJIN?"

"Anjir lo ditolongin geng motor? Cerita dong!"

"Gila, Seokjin ngomong makasih? Sejak kapan dia bisa ngomong makasih?"

Clara langsung duduk. Nutup muka pake buku.

Diana sama Safira langsung nyerbu.

"Ra! Jelasin! Jelasin sekarang juga! Lo ngapain sama Seokjin?"

"Ssttt pelan-pelan!" Mutiara coba nenangin.

Clara bisik, "Nanti gue cerita. Jangan di sini."

Padahal di luar kelas, Seokjin belum jauh.

Di koridor, Suga udah nungguin sambil nyender di tembok. Ngeliat Seokjin keluar dari kelas 11 dengan muka aneh.

Suga ngangkat alis.

"Udah? Balikin amplop doang butuh 5 menit?"

Seokjin gak jawab. Jalan terus.

Suga ngikutin. Senyum jailnya keluar.

"Woy, Jin. Tumben banget. Biasanya lo kalau abis berantem masuk sekolah tidur di UKS. Ini malah nyari anak kelas 11. Siapa dia?"

"Gak usah kepo."

"Gak usah kepo katanya. Padahal jelas-jelas lo penasaran. Gue kenal lo dari SMP, Jin. Lo gak pernah nyari cewek. Lo nyarinya musuh. Ini pertama kali gue liat lo nyari cewek gara-gara utang budi."

Seokjin berhenti. Noleh ke Suga.

"Dia nolongin gue semalam. Kalau gak ada dia, gue masih di got."

Suga kaget. "Hah? Yang nolongin lo kemarin si cewek itu? Yang tadi?"

Seokjin angguk.

Suga langsung ketawa. "Anjir. Good girl nolongin bad boy. Klasik banget. Terus lo mau ngapain? Mau jadi pahlawan kesiangan?"

"Gue mau bayar utang."

"Caranya?"

Seokjin diem. Dia juga bingung.

Di kelas, Clara berusaha fokus. Tapi gak bisa.

Setiap 10 menit ada aja anak yang nanya. Sampai Bu Lilis dateng dan marah-marah karena kelas berisik.

Jam istirahat, Clara, Mutiara, Diana, Safira ngumpet di perpus. Tempat paling aman.

"Oke, sekarang cerita. Jujur. Gak boleh ada yang ditutupin," kata Safira sambil nyilangin tangan kayak polisi.

Clara cerita versi aman. Ketemu Seokjin kecelakaan di gang, berdarah, dia panggilin ambulan. Udah.

Gak cerita soal amplop lab yang isinya ginjal. Itu cuma Mutiara yang tau.

Diana melongo. "Gila, Ra! Lo berani banget! Kalau itu jebakan gimana? Kalau temen-temennya dateng gimana?"

"Gue juga takut, Di. Tapi masa gue tinggalin orang berdarah sendirian."

Safira geleng-geleng. "Lo tuh ya, kebaikan lo tuh kadang bikin gue pengen jitak. Tapi ya itu yang bikin lo Clara sih."

Mutiara cuma diem. Dia ngelirik tas Clara yang ada amplopnya.

"Terus dia udah balikin kan? Udah selesai kan urusannya?" tanya Mutiara.

Clara angguk. "Harusnya udah."

Harusnya.

Tapi jam istirahat kedua, pas Clara mau ke kantin sendirian karena Mutiara ke toilet, ada yang nunggu di depan kelasnya.

Seokjin lagi.

Kali ini gak sendirian. Ada Jungkook di belakangnya. Jungkook yang bayi monster itu. Tatapannya serem.

Anak-anak yang lewat langsung minggir jauh.

Clara mau balik badan, tapi Seokjin udah manggil.

"Clara."

Ya ampun, bisa gak sih sehari aja gak dipanggil.

Clara berhenti. "Apa lagi?"

Seokjin jalan deket. Ngeluarin botol susu kotak sama roti dari tasnya.

"Nih. Buat lo. Tadi lo keliatan pucet."

Clara bengong.

Satu sekolah yang liat juga bengong.

Seokjin? Bawain roti? Buat cewek? Ini berita besar.

"Gak usah," kata Clara cepet. "Gue gak apa-apa."

"Ambil aja. Anggep aja gue bayar utang kemarin. Gue gak enak kalau utang."

Nadanya masih datar, tapi maksa.

Jungkook yang di belakang malah nyeletuk, "Ambil aja, Kak. Kalau gak diambil dia ngambek seharian. Repot."

Clara akhirnya ngambil dengan tangan gemeter. "Oke... makasih..."

"Besok jangan lewat gang Mawar lagi kalau malem. Bahaya. Lewat jalan raya aja, lebih rame," kata Seokjin lagi.

Clara angguk-angguk aja. Pengen cepet selesai.

Seokjin masih berdiri di situ. Kayak masih ada yang mau diomongin. Tapi bingung gimana.

Akhirnya Jungkook yang nyelamatin.

"Yaudah Kak, kita ke atas dulu ya. Kasian kakaknya ditungguin."

Seokjin di tarik Jungkook pergi.

Clara langsung masuk kelas. Nafasnya ngos-ngosan. Roti sama susu di tangannya rasanya berat banget.

Mutiara dateng, ngeliat roti itu langsung melotot.

"Dari dia lagi?"

Clara angguk.

Diana yang dateng belakangan langsung heboh, "ANJIR! Seokjin bawain lo bekal? Gila! Ini udah kayak drakor!"

"Shhh! Jangan kenceng-kenceng!" Clara panik.

Safira ngambil rotinya, dibolak-balik. "Eh tapi ini roti mahal loh. Yang di minimarket 15 ribu itu. Gak kaleng-kaleng."

Clara ngerebut lagi. "Apaan sih!"

Padahal dalam hati dia bingung. Kenapa sih orang ini gak ngerti kode "gue pengen dilupain aja"? Kenapa malah makin nempel?

Di lantai 3, di atap sekolah, Suga, Namjoon, Jhope lagi ngeliatin Seokjin yang balik dengan muka datar.

Suga langsung ngakak.

"Gue liat semuanya, Jin. Lo bawain roti? HAHAHA! Seokjin bawain roti! Ini harus gue sebarin ke grup!"

Namjoon ketawa juga. "Tumben lo peduli sama orang, Jin. Biasanya lo bodoh amat."

Jhope】 nimbrung, "Eh tapi ceweknya yang kemarin nolongin lo ya? Yang pinter itu? Clara?"

Seokjin duduk. Ngebuka perban di pelipisnya dikit.

"Dia beda," katanya pelan.

"Beda gimana?" Suga mancing.

Seokjin diem lama. Terus bilang,

"Dia liat gue berdarah, dia gak kabur. Padahal semua orang kabur."

Suga, Namjoon, Jhope saling lirik. Ini pertama kalinya Seokjin ngomong kayak gitu tentang cewek.

Suga senyum jail lagi.

"Wah, gawat. Jangan-jangan ketua geng motor kita jatuh cinta sama anak olimpiade?"

Seokjin langsung lempar tutup botol ke Suga.

"Berisik lo!"

Tapi kupingnya merah. Dikit.

Di bawah, di kelas 11, Clara masih megangin roti itu. Gak dimakan. Cuma dipegang.

Di luar jendela, langit udah agak mendung.

Dia pengen ngelupain kejadian semalam. Pengen balik jadi Clara yang invisible yang gak ada urusan sama Seokjin.

Tapi kayaknya, Seokjin punya rencana lain.

Dan dari jendela kelas, dia bisa liat Seokjin sama gengnya masih di atap. Ngeliatin ke bawah. Ke arah kelasnya.

Clara langsung nutup gorden.

Jantungnya deg-degan lagi. Kali ini bukan karena takut.

Karena bingung.

Utang budi ini, bakal dibayarnya sampe kapan?

1
yonggi🐱
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!