NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: BERKAS NOMOR DELAPAN

Bunyi nyaring bel penanda pukul tujuh tiga puluh pagi bergema di seluruh sudut ruangan kantor bank tempatku bekerja.

Langkah kakiku yang beralas sepatu pantofel kulit hitam berbunyi teratur di atas lantai granit. Ruangan operasional masih terasa tenang dan sepi sebelum pintu utama dibuka untuk pelayanan nasabah.

Aroma dingin pendingin udara bercampur bau khas kertas formulir dan tinta cetak menyapa penciumanku saat aku melangkah menuju area kerja teller. Koridor dalam gedung masih lengang dengan beberapa lampu hemat energi yang baru dinyalakan.

"Selamat pagi, Bu Sari. Tumben sudah sampai serapi ini?"

Teguran ramah dari Lastri, rekan kerja di loket sebelah, memecah heningnya area operasional. Perempuan muda berusia dua puluh delapan tahun itu sedang sibuk merapikan tumpukan stempel dan kertas formulir di atas mejanya.

"Selamat pagi, Las. Jalanan di sekitar alun-alun lancar sekali tadi," sahutku pelan sembari menyunggingkan senyum tipis.

Aku menarik kursi berbusa hitam di balik meja loket dua, meletakkan tas kerja kulit cokelat tua milikku di ceruk bawah meja. Tanganku secara refleks meraba permukaan kain kemeja seragam biru tua berlogo bank yang kukenakan.

Di dalam saku dada sebelah kiri, lipatan nota kelontong kusam berujung agak basah yang kutemukan di celah batako bawah gembok pagar Maya tadi pagi masih tersimpan rapi. Kertas kusam berangka 8 tebal itu terasa kaku menempel di kain kemejaku.

Sebagai perempuan berusia lima puluh satu tahun yang membesarkan tiga putri seorang diri, belasan tahun bekerja sebagai teller membuatku terbiasa mencari bukti sebelum mempercayai sebuah dugaan. Di balik meja loket ini, pikiranku dilatih untuk selalu mengaitkan peristiwa dengan kejelasan yang terukur.

Tiii-ttt!

Suara desis mesin cetak di samping komputer meja loketku menyala nyaring, menandakan jaringan perbankan resmi aktif. Aku menyalakan layar monitor di hadapanku, memasukkan kata sandi pegawai, lalu merapikan berkas kerja.

Sembari menatap layar monitor yang berkedip, ingatan pada peristiwa sore kemarin dan lipatan nota di saku bajuku kembali berputar di dalam benak. Pikiranku yang terbiasa mencari penjelasan rasional berusaha merangkai keterkaitan di balik kecemasan Maya yang begitu hebat.

Aku teringat pada sebuah percakapan dengan Maya beberapa bulan lalu di teras rumah saat kami sedang mengobrol santai sore hari. Saat itu, Maya sempat menceritakan bahwa ia memiliki kewajiban pembayaran angsuran pinjaman bulanan yang selalu jatuh tempo tepat pada tanggal 8.

Ia menceritakan bahwa pekerjaan Rian sebagai pekerja lepas proyek bangunan membuat penghasilan keluarga mereka sering kali tidak menentu dari bulan ke bulan. Maya mengeluh dengan nada lesu betapa pusingnya ia jika tanggal jatuh tempo itu mendekat sementara simpanan uang di tangannya belum mencukupi.

Maya menceritakan betapa takutnya ia jika Rian mengetahui bahwa pembayaran angsuran itu menunggak dan memicu pertengkaran baru di dalam rumah. Ia juga menceritakan betapa ketatnya aturan denda dan teguran jika pembayaran itu sampai terlewat walau hanya sehari.

Ingatan akan cerita Maya itu membuat rasa cemas yang ditunjukkannya saat meminjam uang kemarin sore terasa sangat masuk akal bagi seorang petugas bank sepertiku. Bagi seseorang yang terdesak beban keuangan bulanan, tenggat waktu pada tanggal 8 adalah sebuah tekanan nyata yang bisa membuat siapa saja panik dan gemetar.

Penjelasan rasional ini memberi sudut pandang logis mengapa tanggal itu terasa amat mendesak dalam pikiran Maya. Setiap kali tanggal jatuh tempo itu mendekat, beban mental yang ditanggungnya pasti terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Namun, penjelasan mengenai tanggal jatuh tempo itu ternyata belum menjawab seluruh keraguan yang mengganjal di dalam dadaku. Jika uang yang dipinjamnya kemarin sore memang dimaksudkan untuk menutup kekurangan angsuran atau membeli bahan dapur, mengapa ia mengucapkannya dengan tatapan mata yang begitu ketakutan?

Mengapa ada nota kelontong bekas bercoret angka 8 tebal yang terhimpit di celah batako bawah gembok pagarnya yang terkunci rapat dari luar? Dan ke mana sebenarnya Maya pergi secara tergesa-gesa tepat setelah menerima uang kertas dariku di ambang pintu samping?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap di dalam benakku tanpa jawaban yang pasti. Logika perbankan yang biasa kubakai tidak sanggup memberikan jawaban atas tindakan ganjil tetanggaku itu.

Pintu kaca utama kantor bank akhirnya dibuka oleh petugas keamanan tepat pukul delapan pagi. Satu per satu nasabah mulai mengalir masuk mengisi antrean loket, membawa serta deru kesibukan harian yang menyita perhatianku.

Aku melayani Pak Hariyanto, seorang pemilik toko kelontong langganan bank kami, yang datang menyetorkan bundelan lembaran uang hasil penjualan toko. Tanganku bergerak cekatan menghitung lembaran uang rupiah pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu yang diangsurkan nasabah.

Pak Bambang, supervisor kami, sempat berjalan melintas di belakang meja loketku sembari memeriksa berkas rekapitulasi kas. "Semua lancar pagi ini, Bu Sari?" tanya Pak Bambang singkat.

"Lancar, Pak Bambang. Sistem dan pencatatan kas di loket dua aman," sahutku tenang.

Pak Bambang mengangguk puas lalu melangkah kembali menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Kesibukan di balik loket teller membuat waktu pagi berjalan begitu cepat.

Prokk! Prokk!

Suara ketukan stempel basah beradu teratur dengan deru mesin penghitung uang di sekelilingku. Namun, di sela-sela transaksi nasabah, ingatan pada catatan jatuh tempo tanggal 8 di pikiran Maya terus mengusik benakku.

Kringgg! Kringgg!

Sekitar pukul sepuluh lewat lima belas menit pagi, ketika antrean nasabah di depan meja loketku sedang renggang, telepon kantor di meja loketku mendadak berdering nyaring. Suara dering telepon kantor itu terdengar tajam memecah suara desis pendingin udara di ruang kerja kami.

Aku mengulurkan tangan kanan, meraih gagang telepon hitam yang dingin lalu menempelkannya ke telinga keduaku.

"Selamat pagi, Bank Swasta Alun-alun Malang, dengan Sari di loket dua. Ada yang bisa dibantu?"

Kalimat sapaan resmi itu kuucapkan dengan nada suara yang tenang sesuai prosedur pelayanan. Tanganku memegang gagang telepon dengan mantap sembari menunggu sahutan nasabah.

Namun, tidak ada suara manusia yang menyahut dari seberang saluran telepon. Hanya ada suara desis halus dan kering yang terdengar samar dari dalam gagang telepon, mirip gesekan angin lambat di lorong sepi.

Aku memegang gagang telepon lebih erat, memasang telinga dengan cermat untuk memastikan apakah ada seseorang yang sedang mencoba berbicara dari saluran lain. Pada saat yang bersamaan, hidungku menangkap semerbak aroma aneh di sekitar area meja kerjaku.

Aroma tanah merah basah bercampur bau kain lembap tua berhembus samar di udara. Bau itu mirip seperti aroma asing yang kualami saat menutup pintu samping rumahku kemarin sore.

Aku mengernyitkan dahi sembari memandangi area sekitar meja loket dengan bingung, mencari tahu dari mana asal muasal bau tanah basah tersebut. Aku membatin sendiri, apakah bau itu terbawa dari pakaian nasabah yang baru saja melintas di depan meja, atau berasal dari celah pendingin udara di atas langit-langit?

Sebelum aku sempat memastikan asal aroma itu, suara desis di seberang saluran telepon mendadak terputus. Gagang telepon itu kembali hening tanpa ada suara jaringan lagi.

Tut... tut... tut...

Nada sibuk terputus-putus bergema pelan di gagang telepon sebelum akhirnya kuletakkan kembali ke dudukannya. Lastri yang sedang merapikan kertas slip di loket sebelah melirik ke arahku.

"Kenapa, Bu Sari? Ada telepon gangguan ya?"

"Iya, Las. Kelihatannya telepon salah sambung atau salurannya agak terganggu tadi," sahutku berusaha bersikap biasa. Tanganku mengusap permukaan meja loket untuk menenangkan diri.

Lastri mengangguk-angguk pelan sembari tersenum ramah. "Memang kabel telepon gedung kita kadang suka berderik kalau pendingin udara sedang bekerja keras, Bu," ujar Lastri santai.

Aku mengambil selembar tisu bersih, menyapu titik-titik keringat tipis yang sempat mengembun di dahiku. Aroma aneh tanah basah yang sempat tercium tadi perlahan-lahan menghilang, terhalau oleh hembusan angin pendingin udara ruangan yang dingin.

Aku kembali berfokus menghadapi antrean nasabah berikutnya yang melangkah mendekati kaca loketku. Jam pelayanan operasional kasir resmi ditutup tepat pukul tiga sore.

Proses penghitungan fisik uang kas dan pencocokan neraca harian berlangsung lancar tanpa ada selisih nominal sepeser pun. Setelah seluruh laporan harian ditandatangani oleh supervisor, aku memutar kunci laci kas dan menyimpan stempel loket ke dalam tempatnya.

Aku duduk kembali di kursi kerja untuk merapikan barang-barang pribadi sebelum pulang. Aku menarik tas kerja kulit cokelat di pangkuanku, melongok ke dalam kantong kain tempatku menyimpan barang-barang pribadi.

Tanganku mengambil sebuah buku catatan alamat kecil bersampul hitam tebal yang selalu kubawa di dalam tas. Buku catatan tua itu berisi daftar nomor telepon penting keluarga, teman, dan tetangga terdekat di gang rumah kami.

Di salah satu lembaran tengah buku catatan itu, tertera sebuah nomor telepon rumah lama atas nama Mbak Yuni, kakak perempuan Maya yang tinggal di sebuah desa kawasan lereng gunung Malang selatan. Nomor lama itu pernah diberikan Maya kepadaku satu tahun lalu untuk keadaan darurat.

Aku teringat momen ketika Maya berkunjung ke rumahku dan menyerahkan catatan nomor telepon kakaknya itu. Saat itu, Maya berpesan agar aku menyimpan nomor darurat tersebut jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu padanya atau jika ia sulit dihubungi.

Meskipun aku tidak tahu apakah nomor lama itu masih aktif atau benar-benar masih digunakan Mbak Yuni, ingatan akan pesan Maya kini menjadi pendorong tindakan yang sangat konkret bagi diriku. Kenyataan bahwa Maya meminjam uang dengan raut wajah panik tetapi kemudian rumahnya terkunci gembok dari luar membuatku merasa perlu mencari kepastian.

Sebagai tetangga yang memegang amanat pinjaman dan catatan nomor darurat tersebut, aku tidak bisa tinggal diam begitu saja. Aku merasa perlu menanyakan langsung kepada Mbak Yuni apakah Maya memang pergi mengungsi ke rumah keluarga di Malang selatan setelah kejadian kemarin sore.

Pertanyaan spesifik itu harus kutanyakan agar aku tahu pasti keadaan tetanggaku dan tidak terus-menerus diselimuti dugaan yang tak pasti. Jika Maya memang berada di sana bersama keluarganya, rasa khawatirku akan terangkat dan masalah ini bisa terselesaikan dengan tenang.

Aku berjalan melangkah menuju area lorong belakang kantor bank yang sepi untuk melakukan panggilan telepon. Heningnya lorong belakang memberi ketenangan tersendiri bagiku untuk menyimak suara di seberang panggilan telepon nanti.

Aku mengeluarkan ponsel genggam dari dalam tas kerja, menyalakan layarnya yang terang. Mataku mencermati deretan angka nomor telepon lama Mbak Yuni yang tertulis di lembaran buku catatan hitamku.

Jemari tangan kananku menekan tombol-tombol angka di layar ponsel, memasukkan nomor telepon rumah di Malang selatan itu dengan teliti. Aku menahan napas sejenak, menantikan nada dering pertama tersambung di seberang sana.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!