Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 - Mencari Gudang di Perumahan Baru
Ketika kerumunan mulai menyingkir, nenek tua yang tadi memuji Intan masih berdiri di depan pintu.
Ia menatap Bu Irma yang tengah menggerutu di seberang, lalu berkata pelan namun tegas: "Bu Irma, kusarankan mulai sekarang jangan banyak bicara soal keluarga seberang."
"Gadis yang jadi juara se-kota itu memang punya kemampuan. Ujiannya disusun oleh pemerintah kota, dan ada pengawasnya pula."
"Kalau omongan-omongan itu sampai terdengar, keluarga mereka tidak akan tinggal diam begitu saja."
"Bagaimana kalau mereka melapor ke polisi? Ucapanmu tidak ada bukti dan tidak ada dasarnya; obrolan tak berdasar seperti ini bisa memicu keributan sendiri."
Wajah Bu Irma berubah sewarna-warna karena teguran itu.
Nenek tua itu cukup disegani kaum muda di sekitarnya, sehingga Bu Irma tidak berani membantah keras; ia mendengus marah lalu berbalik dan pergi dengan cepat.
Dari belakang, langkahnya tampak tergesa-gesa, dan ia mengibaskan lengan bajunya berulang kali seperti ingin melampiaskan hawa kesalnya, tetapi tidak seorang pun warga berusaha menahannya.
Nenek tua menggelengkan kepala melihat kelakuan itu.
Dalam pandangannya, keluarga Intan kini semakin hari semakin membaik, sementara keluarga Bu Irma yang iri hati justru semakin jauh dari ketenteraman.
Ia menutup pintu sedikit, menghela napas, lalu kembali ke pekerjaannya yang tadi ia hentikan.
Sementara itu, Intan telah tiba di pasar grosir sembako bersama Dimas.
Pasar itu terletak cukup jauh dari rumah, kira-kira setengah jam jika naik sepeda.
Kawasan yang ditata pemerintah kota ini hampir sebesar empat atau lima pasar besar.
Pemandangannya ramai dan berderau: deretan toko berselang-seling membentuk jalan-jalan yang saling menyilang, truk keluar masuk mengangkut barang, dan hampir setiap toko memiliki penjual grosirnya sendiri.
Keramaian seperti ini memang bisa membuat orang bingung, tetapi Intan datang dengan daftar belanjaan yang sudah lama tergambar dalam kepala, sehingga ia tidak pernah salah langkah.
Ini pengalaman pertama Dimas datang ke sini; ia terpana melihat keramaian itu.
"Intan, kita ke mana selanjutnya?"
Ia benar-benar tidak tahu arah yang tepat; di sekelilingnya hanya ada toko demi toko yang isinya tidak dapat dikenali dari depan.
Intan menunjuk ke suatu arah lalu menjawab dengan yakin: "Lurus sampai perempatan kelima, belok masuk."
"Di sana semua menjual bumbu. Aku mau beli banyak varian dan meracik sendiri."
"Aku meracik beberapa resep lebih dulu di rumah; kalau sudah ketemu rasanya, baru kita beli dalam jumlah besar."
Dimas setuju, lalu mengantar Intan langsung ke deretan toko bumbu.
Daun timi, daun kemangi, oregano, lada hitam, bubuk pala, bubuk cabai, ketumbar, jintan, cengkeh, dan dua puluh sampai tiga puluh jenis rempah lainnya dibeli sekaligus.
Masing-masing jumlahnya diambil sedikit demi sedikit, hanya untuk uji coba di rumah, tetapi penjaga toko sampai bingung sendiri menebak-nebak bahan makanan apa yang sedang dirancang gadis kecil di depannya.
Sambil menimbang barang, penjaga toko itu sempat bergumam pelan, tetapi tidak berani bertanya banyak, karena tahu urusan bumbu-bumbuan memang urusan yang aneh-aneh.
Dimas yang ikut membantu menyebutkan nama-nama itu satu per satu, lalu ikut terkejut: "Ini barusan kau bilang jintan, lalu cengkih. Kau mau bikin bakso atau bikin obat?"
Intan hanya tersenyum: "Rahasianya justru di situ, Kak. Dagingnya tetap daging, tapi bumbu yang kita racik sendiri itulah yang membuat orang ingat gerobak kita."
Setelah bumbu selesai, Intan menyusuri jalan lain untuk membeli berbagai macam mi dan bihun, lalu Dimas mengantarnya ke pasar sayur dan membeli beberapa ekor ayam kampung sebagai bahan pokok.
Ia juga membeli paha serta sayap ayam dalam kemasan besar; paha dan sayap itu akan direbus menjadi kaldu, sementara dagingnya dicincang halus untuk adonan bakso.
Dimas yang sudah menggendong barang setinggi meja, sudah berpeluh: "Intan, semua barang yang kau beli ini muat di kulkas kita tidak?"
Mendengar kata "kulkas", Intan terhentak.
Ia berdiri termangu sesaat, lalu menatap Dimas dan bergumam: "Kak, menurutku kita perlu menyewa tempat sebagai gudang."
"Lihat, rumah kita hanya kecil; nanti Bapak dan Ibu membuka gerobak, barang di rumah akan semakin menumpuk."
"Sekarang saja sudah sesak sampai tidak ada tempat, apalagi ke depannya."
Alis Dimas hampir menyatu menjadi satu: "Lalu bagaimana?"
Ia memang jarang berada di rumah; setiap pulang selalu buru-buru, sehingga tidak begitu hafal bagaimana rumah mereka kini sudah sepadat itu.
Intan berpikir sejenak lalu memutuskan: "Cari tempat yang bisa dijadikan gudang, disewa dulu."
Dimas tidak keberatan; keluarga sudah punya sedikit uang, persewaan beberapa ratus ribu bukan lagi beban berat.
Ia mengusulkan: "Bagaimana kalau kita lihat kompleks tua di sekitar rumah kita? Sewanya murah dan dekat."
Namun Intan menggeleng: "Kak, di kompleks kita semua orang saling kenal."
"Kalau kita sewa tempat di lantai dasar kompleks, apa kakak percaya begitu orang tua kita membuka gerobak, orang-orang di sekitar langsung ikut mengintip? Usaha kita kecil dan tidak ada rahasia teknisnya. Kalau orang bisa belajar hanya dengan melihat, lalu apa yang akan kita jual?"
Bibir Dimas terkatup; ia kagum pada adiknya.
Sejak itu ia memutuskan tidak lagi mengajukan usul yang serampangan dan cukup menjadi kuli angkut bagi adiknya.
Ia menepuk bahu Intan pelan: "Baik, jadi Intan pemimpin, kakak yang pegang tas."
"Jangan terburu-buru, pulang dulu," kata Intan.
"Aku ingat beberapa perumahan baru sedang dibangun di kota."
"Lantai dasarnya memakai garasi berjajar, dan garasi itu bisa dijadikan ruang usaha."
"Tetapi biasanya tidak ada yang menyewakannya di dalam perumahan, sehingga sewanya pasti tidak mahal."
"Di sana penghuninya orang-orang baru yang tidak kenal dengan kita; pekerjaan apa pun tidak perlu ditanya-tanya, dan bahan-bahan yang masuk keluar dari gudang bisa tetap tertutup."
"Kita coba datang dan menawarnya."
Kedua kakak beradik itu pun mengayuh sepeda menuju beberapa perumahan yang dibangun dan diluncurkan tahun lalu.
Letaknya tidak jauh dari Plaza Cendrawasih, tingkat huniannya sudah hampir delapan puluh persen, tetapi garasi-garasi di lantai dasar masih sepi dan jarang benar-benar dipakai memarkir kendaraan; kebanyakan hanya dijadikan gudang penyimpanan.
Pagar perumahan menjulang rapi, dan ruas jalan di dalamnya cukup lebar untuk dilewati mobil; tempat itu terasa asing bagi dua anak yang selama ini tinggal di gang sempit.
Kendaraan pribadi sesekali lewat, dan para penjaga pos masih setengah tidur di dalam bilik.
Baru dua blok, mereka melihat selebaran bertuliskan "disewakan" yang ditempel di pintu sebuah garasi.
Di antara beberapa pintu garasi berinformasi serupa, Intan memilih garasi dengan muka yang paling lebar.
Intan tidak membawa ponsel, tetapi Dimas punya. Ia segera meminta Dimas menelepon nomor yang tertera pada selebaran itu; sambungan telefonnya berlangsung singkat, hanya untuk menanyakan isi gudang dan tarifnya.
Suara seorang lelaki paruh baya menjawab di ujung telepon. Begitu mendengar ada yang ingin menyewa garasi, ia langsung menyusul ke lokasi; Intan baru sadar bahwa pemiliknya memang tinggal di perumahan itu.
Lelaki itu memakai kaus lengan pendek dan celana pendek, serta kacamata tebal yang bertumpu di pangkal hidungnya.
Melihat dua orang anak muda di depannya, ia sempat terkejut, tetapi tidak lalu mengabaikan mereka semata karena usia; ia melangkah mendekat, menyeringai ramah, dan bertanya sopan: "Adik-adik mau menyewa gudang?"
Intan mengangguk patuh dan tersenyum: "Selamat siang, Om. Keluarga kami mau menyewa. Orang tua saya sibuk, jadi kami yang datang melihat-lihat tempatnya."
Lelaki itu tersenyum lega: "Halo, saya Pak Hartono."
"Ini tadinya garasi kami; di rumah sebenarnya ada dua garasi, dan satu saja sudah cukup untuk mobil, jadi saya bermaksud menyewakan yang satu ini."
"Dengar dari cara bicara kalian, seperti mau dipakai untuk membuka toko."
Intan menjawab: "Kami pakai sebagai gudang saja, Om."
"Orang tua saya berdagang; tempat di rumah terlalu kecil dan tidak muat banyak barang, jadi kami butuh gudang untuk menyimpan sekaligus mengolah bahan di sana. Boleh?"
"Tidak ada masalah! Ini kusewakan sebagai gudang, asal kalian tidak merombaknya besar-besaran."
Kata Pak Hartono ramah; pembawaannya mudah diajak ngobrol.
Intan dan Dimas langsung senang.
Sinar matahari sore menerpa pintu garasi yang terbuka, dan dari dalam terlihat langit-langit yang tinggi, lantai semen yang masih bersih, serta satu lubang ventilasi di sisi tembok.
Intan memperkirakan luas gudang itu sekitar dua puluh sampai tiga puluh meter persegi; meskipun masih ada beberapa puing berserakan di sudut, ruangnya cukup lega, dan keduanya berkesimpulan tempat ini pas.
Intan lantas bertanya terus terang: "Om, kira-kira Om menyewakannya berapa?"
Pak Hartono tidak bertele-tele: "Garasi saya ini tidak kecil."
"Garasi tetangga jauh lebih kecil saja sudah nyewa empat ratus ribu sebulan; saya inginnya lima ratus ribu, karena memang ukurannya lebih besar."
"Perjanjiannya minimal setengah tahun; kalau lebih lama, tiga sampai lima tahun juga boleh."
Mendengar harganya, Intan sadar lelaki itu tidak mencoba menekan mereka; angka itu masih masuk akal.
Ia ragu sesaat lalu mengiyakan: "Baiklah, Om. Om buatkan kontraknya, kami datang menandatangani sekalian membayar sewanya, boleh?"
Pak Hartono mengangguk mantap, dan di hadapan dua kakak beradik itu terbentang langkah berikutnya: sebuah gudang sendiri untuk gerobak bakso yang sedang mereka siapkan.
Sepulang rumah, Dimas dan Intan mengabarkan kepada orang tua dengan saling bergantian bercerita; angka lima ratus ribu sebulan yang akan dibayarkan untuk enam bulan pertama masih terulang-ulang dalam ucapan mereka.
Bapak yang baru saja selesai membongkar gerobak di depan rumah sempat terkejut sebentar, lalu mengangguk: "Kalau itu memang keputusan kalian, besok kita tandatangani bersama-sama."