Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 — Balasan dari Sylvaria
Pesan dikirim keesokan paginya melalui burung sihir tercepat yang dimiliki sekte, membawa penjelasan singkat tentang situasi mendesak yang mereka hadapi kepada Putri Lyra Sylvariel.
Sambil menunggu balasan yang diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari mengingat jarak antara Grandis dan Sylvaria, Kael tidak membuang waktu, melanjutkan latihannya dengan intensitas yang bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.
Setiap pagi, dia berlatih Teknik Langkah Bayangan Angin hingga mencapai batas cadangan Qi-nya, mendorong dirinya sendiri melewati batas kenyamanan untuk mempercepat kemajuannya.
[Teknik Langkah Bayangan Angin — Mahir 58%.]
Selain latihan pergerakan, dia juga mulai mempelajari teknik-teknik baru dari perpustakaan sekte yang lebih fokus pada efisiensi Qi dan kombinasi serangan cepat, menyadari bahwa menghadapi lawan seperti Vesna atau Dravos membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan mentah dan kecepatan—dia butuh strategi yang bisa mengoptimalkan setiap aspek kemampuannya secara bersamaan.
Ren dari Shadow Sect muncul kembali suatu malam, kali ini mengetuk pintu depan pavilion Kael seperti yang pernah dia janjikan, membawa informasi tambahan tentang pergerakan pengikut Dravos.
"Kami mendeteksi peningkatan aktivitas mata-mata di sekitar Grandis sejak pencurian artefak itu," Ren melaporkan, duduk di ruang tamu pavilion dengan sikap yang lebih santai dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
"Sepertinya benar bahwa Dravos mempercepat rencananya."
"Apakah Shadow Sect punya informasi tentang di mana cermin pelacak itu sekarang berada?" Seraphina bertanya, kekhawatirannya tentang artefak itu belum juga mereda.
"Kami masih mencoba melacaknya," Ren menjawab.
"Tapi kami mencurigai mereka membawanya kembali ke wilayah kekuasaan Dravos yang lebih luas, mungkin ke Netherys sendiri, di mana pengaruhnya di antara Demon semakin kuat belakangan ini."
Berita itu menambah lapisan kekhawatiran baru.
Jika Dravos benar-benar mulai membangun pengaruh di antara ras Demon di Netherys, ambisinya mungkin jauh lebih besar dari sekadar mendapatkan kekuatan Primordial untuk dirinya sendiri—dia mungkin berusaha membangun basis kekuatan politik yang jauh lebih luas.
"Kenapa Shadow Sect begitu peduli dengan semua ini?" Kael akhirnya bertanya, pertanyaan yang sudah lama ingin dia ajukan namun belum pernah menemukan momen yang tepat.
"Kalian membantu kami berkali-kali tanpa imbalan jelas."
Ren terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati. "Shadow Sect punya sejarah panjang menjaga keseimbangan kekuatan di Elyndra, bekerja dari bayangan untuk mencegah satu entitas mana pun mengumpulkan kekuatan yang terlalu besar hingga mengancam stabilitas dunia. Dravos, dengan ambisinya untuk membangkitkan kekuatan Primordial, merepresentasikan ancaman eksistensial jenis yang jarang kami temui."
"Jadi kalian melihatku sebagai... apa? Alat untuk menghentikannya?" Kael bertanya dengan nada yang sedikit defensif.
"Aku melihatmu sebagai seseorang dengan potensi untuk menjadi penyeimbang, bukan alat," Ren mengoreksi dengan sungguh-sungguh.
"Ada perbedaan besar antara keduanya. Kami tidak berencana memanipulasimu untuk kepentingan kami sendiri—kami hanya ingin memastikan kau punya kesempatan terbaik untuk berhasil, karena keberhasilanmu juga berarti keberhasilan dalam menjaga keseimbangan yang kami pedulikan."
Kael mempertimbangkan kata-kata itu, merasakan sedikit lebih percaya terhadap niat Shadow Sect meski tetap mempertahankan kewaspadaan yang sehat. "Aku menghargai kejujuranmu."
"Sesuatu yang jarang kami berikan kepada orang luar," Ren berkata dengan senyum tipis yang jarang terlihat.
"Anggap itu sebagai tanda penghormatan atas apa yang telah kau tunjukkan sejauh ini."
Setelah Ren pergi, meninggalkan mereka dengan lebih banyak informasi namun juga lebih banyak pertanyaan, balasan dari Sylvaria akhirnya tiba tiga hari kemudian, dibawa oleh burung sihir elegan berbulu putih yang jelas berbeda dari burung pembawa pesan standar kerajaan manusia.
Kael membuka gulungan itu dengan penuh harap, membaca tulisan indah dengan aksen kaligrafi khas Elf yang menghiasi setiap huruf.
*Kepada Kael, Juara Kerajaan dan Holy Son Heavenly Sword Sect,*
*Aku menerima pesanmu dengan keprihatinan yang mendalam mengenai situasi yang kau hadapi. Sylvariel Kingdom dengan senang hati menyambutmu untuk mengakses Grove Kultivasi Purba dekat World Tree kami. Tempat itu memang dikenal memiliki konsentrasi energi alam yang luar biasa, dan aku yakin akan sangat membantu mempercepat perkembanganmu.*
*Lebih dari itu, aku ingin menawarkan lebih dari sekadar akses ke Grove. Berdasarkan apa yang kau ceritakan tentang ancaman Dravos, aku percaya ini adalah masalah yang seharusnya menjadi perhatian bersama seluruh ras di Elyndra, bukan hanya kerajaan manusia. Aku telah membicarakan hal ini dengan ayahku, Raja Sylvariel, dan dia setuju untuk membahas kemungkinan aliansi formal untuk menghadapi ancaman ini.*
*Silakan datang ke Sylvaria secepat yang kau bisa. Aku akan menyambutmu secara pribadi, dan kita bisa membahas langkah selanjutnya bersama.*
*Dengan hormat dan harapan akan kerja sama yang erat,*
*Lyra Sylvariel*
Kael membaca surat itu dua kali, merasakan campuran kelegaan dan tanggung jawab baru yang semakin bertambah.
"Dia menawarkan lebih dari yang kuharapkan," katanya kepada Seraphina yang membaca surat itu bersamanya.
"Aliansi formal antara kerajaan manusia dan Elf untuk menghadapi Dravos," Seraphina bergumam, mempertimbangkan implikasi besar dari tawaran itu.
"Ini bisa menjadi langkah besar, tapi juga berarti situasi ini sudah dianggap cukup serius untuk melibatkan diplomasi tingkat kerajaan."
"Apakah itu hal baik atau buruk?" Kael bertanya.
"Keduanya," Seraphina menjawab jujur.
"Baik karena berarti kita mendapatkan lebih banyak sekutu dan sumber daya. Buruk karena berarti ancaman Dravos sudah dianggap cukup nyata untuk mengkhawatirkan seluruh benua, bukan hanya sekte atau kerajaan tunggal."
Mereka membawa surat itu kepada Sect Master Aldric, yang membacanya dengan seksama sebelum mengangguk setuju dengan rencana perjalanan ke Sylvaria.
"Ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan," Aldric berkata.
"Persiapkan dirimu, Kael. Kau akan berangkat ke Sylvaria dalam tiga hari, membawa perwakilan resmi dari sekte kita untuk turut serta dalam pembicaraan aliansi ini."
Malam itu, ketika Kael mempersiapkan diri untuk perjalanan berikutnya dalam petualangannya yang terus berkembang, dia merasakan campuran antisipasi dan kekhawatiran yang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidupnya sejak pertama kali membuka mata di Death Forest—namun kali ini, dengan Teknik Langkah Bayangan Angin yang telah dia kuasai dan sekutu-sekutu baru yang terus bertambah, dia merasa lebih siap dari sebelumnya untuk menghadapi apa pun yang menanti di depan.
---
# BAB 48 — Menuju Tanah Para Elf
*Reincarnation of the Limitless*
Rombongan yang berangkat menuju Sylvaria tiga hari kemudian jauh lebih besar dari yang awalnya Kael bayangkan.
Selain dirinya dan Seraphina, Sect Master Aldric memutuskan untuk turut serta secara pribadi mengingat pentingnya pembicaraan aliansi yang akan datang, didampingi oleh Tetua Marcus dan dua murid Elite Disciple lain sebagai pengawal tambahan. Aria juga bergabung, terlalu antusias untuk melewatkan kesempatan mengunjungi kerajaan Elf yang legendaris.
"Aku belum pernah melihat World Tree secara langsung," Aria berkata dengan mata berbinar saat mereka mulai perjalanan, kegembiraannya menular meski situasi yang mendasari perjalanan ini cukup serius. "Kudengar keindahannya melampaui apa pun yang bisa dibayangkan."
"Aku juga penasaran," Kael mengakui, meski pikirannya masih terbagi antara antisipasi melihat keajaiban baru dan kekhawatiran tentang ancaman yang terus berkembang dari Dravos.
Perjalanan menuju Sylvaria membawa mereka melewati wilayah yang belum pernah dijelajahi Kael sebelumnya—hutan-hutan yang lebih terang dan ramah dibanding Death Forest, dengan pepohonan yang tampak lebih terawat dan jalan setapak yang jelas telah digunakan secara teratur oleh para pedagang dan pengembara.
Pada hari kelima perjalanan, mereka mencapai perbatasan resmi Sylvariel Kingdom, ditandai dengan gapura kayu elegan yang diukir dengan detail rumit menggambarkan pohon-pohon dan makhluk hutan. Dua penjaga Elf berdiri di sana, mengenakan zirah ringan yang tampak lebih seperti karya seni daripada peralatan militer, namun aura kekuatan mereka menunjukkan bahwa penampilan elegan itu tidak mengurangi kemampuan tempur mereka sedikit pun.
"Selamat datang di Sylvaria," salah satu penjaga menyapa dengan aksen halus khas Elf, setelah memeriksa surat pengantar yang dibawa rombongan mereka. "Putri Lyra sudah menunggu kedatangan kalian. Aku akan mengawal kalian menuju istana."
Semakin dalam mereka memasuki wilayah Sylvaria, semakin jelas perbedaan drastis dengan kerajaan manusia yang telah mereka kenal. Bangunan-bangunan di sini tidak dibangun menggantikan alam, melainkan menyatu dengannya—rumah-rumah yang tumbuh langsung dari batang pohon raksasa, jembatan-jembatan yang terbuat dari akar yang dibentuk dengan sihir, dan cahaya lembut yang berasal dari kristal-kristal alami yang tertanam di sepanjang jalan tanpa perlu sumber api atau listrik.
"Ini luar biasa," Kael bergumam, menatap sekelilingnya dengan kekaguman yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Ras kami percaya bahwa peradaban sejati adalah yang hidup berdampingan dengan alam, bukan menaklukkannya," penjaga yang mengawal mereka menjelaskan dengan nada bangga yang halus.
Ketika mereka akhirnya mencapai istana utama—sebuah struktur menakjubkan yang tampak seperti tumbuh langsung dari akar World Tree yang menjulang tinggi di kejauhan, cabang-cabangnya menyentuh awan dan daunnya berkilau dengan cahaya keemasan alami—Lyra sendiri sudah menunggu di gerbang untuk menyambut mereka secara pribadi.
"Kael," katanya dengan senyum hangat, melangkah maju untuk menyambut mereka. "Aku senang kau berhasil tiba dengan selamat. Sect Master Aldric, suatu kehormatan menyambut Anda secara langsung."
"Terima kasih atas keramahan Putri Lyra," Aldric menjawab dengan hormat yang formal namun tulus.
Lyra memandu mereka melalui istana yang megah, menjelaskan berbagai aspek budaya dan sejarah Sylvariel Kingdom sepanjang perjalanan menuju ruang pertemuan utama tempat mereka akan bertemu dengan Raja Sylvariel sendiri.
"Ayahku sudah menunggu untuk mendengar detail lengkap tentang situasi yang kalian hadapi," Lyra menjelaskan. "Dia sangat prihatin dengan potensi ancaman yang ditimbulkan Dravos, terutama mengingat sejarah panjang konflik antara ras kami dengan berbagai entitas kegelapan di masa lalu."
Ruang pertemuan itu sendiri merupakan mahakarya arsitektur alami, dengan langit-langit yang sebenarnya adalah kanopi hidup dari cabang-cabang World Tree, membiarkan cahaya matahari alami menyinari ruangan dengan cara yang menciptakan pola bayangan indah di lantai kayu yang dipoles halus.
Raja Sylvariel, seorang pria dengan penampilan ageless khas ras Elf namun aura kebijaksanaan yang menunjukkan usia yang jauh melampaui penampilan fisiknya, duduk di singgasana sederhana namun elegan di ujung ruangan.
"Selamat datang, para tamu dari Valtherion," Raja Sylvariel menyapa dengan suara yang tenang namun penuh wibawa. "Putriku telah menceritakan banyak hal tentang situasi yang kalian hadapi. Mari kita bahas bagaimana kerajaan kita bisa saling membantu menghadapi ancaman ini bersama."
Pembicaraan berlangsung selama berjam-jam, membahas detail tentang Dravos, ambisinya untuk kekuatan Primordial, dan berbagai skenario yang mungkin terjadi jika dia berhasil mencapai tujuannya. Raja Sylvariel mendengarkan dengan seksama, sesekali mengajukan pertanyaan tajam yang menunjukkan pemahaman mendalam tentang sejarah dan bahaya kekuatan kuno semacam itu.
"Sylvariel Kingdom akan memberikan dukungan penuh," Raja Sylvariel akhirnya memutuskan setelah pertimbangan matang. "Kau akan diberikan akses penuh ke Grove Kultivasi Purba, dan kami juga akan mengirimkan beberapa kultivator terbaik kami untuk membantu jika konfrontasi langsung dengan Dravos menjadi tidak terhindarkan."
"Kami sangat berterima kasih atas kemurahan hati ini," Aldric menjawab dengan hormat yang mendalam.
Setelah pertemuan resmi berakhir, Lyra secara pribadi mengantar Kael dan Seraphina menuju Grove Kultivasi Purba yang terletak tidak jauh dari akar utama World Tree, tempat energi alam terasa begitu padat hingga membuat kulit Kael merinding hanya dengan mendekatinya.
"Ini tempatnya," Lyra berkata, menunjuk ke arah area hutan kecil yang dikelilingi kabut keemasan lembut, berbeda jelas dari hutan di sekitarnya. "Konsentrasi energi di sini seharusnya bisa mempercepat kultivasimu secara signifikan, mungkin bahkan membantu terobosan ke realm berikutnya lebih cepat dari yang biasa terjadi."
Kael menatap ke dalam kabut keemasan itu dengan campuran antisipasi dan tekad baru, menyadari bahwa tempat ini mungkin menjadi kunci penting dalam persiapannya menghadapi konfrontasi besar yang masih menanti di masa depan.
"Terima kasih, Lyra," katanya tulus. "Untuk semua ini."
"Kita semua punya kepentingan yang sama dalam menghentikan Dravos," Lyra menjawab dengan senyum tulus. "Sekarang, mari kita mulai persiapan sesungguhnya untuk apa yang akan datang."