Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Perisai Nama dan Akar yang Menghujam
Kehidupan setelah kehadiran Abimanyu Pramoedya tidak hanya membawa tawa, tetapi juga sebuah tanggung jawab baru untuk menjaga kemurnian di tengah dunia yang penuh dengan kepentingan. Bagi Adrian, Abi adalah penerus mahkota; namun bagi Arumi, Abi adalah selembar kertas putih yang tidak boleh ternoda oleh ambisi korporasi yang dingin.
Konflik ini memuncak saat keluarga besar Pramoedya—faksi yang selama ini merasa tersisih sejak pernikahan "darurat" Adrian—mulai bergerak. Dipimpin oleh Paman Bram, mereka melihat kelahiran Abi sebagai momen emas untuk memperbaiki citra publik perusahaan yang sempat goyah akibat rumor kegagalan investasi Valois Energy milik keluarga Clara di luar negeri.
Sore itu, di ruang tengah rumah Arumi, Paman Bram duduk dengan cerutu yang tidak menyala, menatap foto Abi yang baru berusia tiga bulan.
"Adrian, kita tidak bisa hanya diam di rumah ini seperti keluarga kelas menengah," ujar Paman Bram dengan suara beratnya. "Dunia bisnis perlu melihat pewaris Pramoedya. Kita butuh pesta penyambutan—sebuah gala dinner di hotel bintang lima. Kita undang semua mitra strategis, duta besar, dan pers. Kita tunjukkan bahwa dinasti kita telah aman."
Adrian, yang sedang menggendong Abi dengan bantuan kain jarik (sebuah teknik yang diajarkan mertuanya dan kini sangat ia sukai), mengerutkan kening. "Paman, Abi bahkan belum bisa duduk. Dia sensitif terhadap suara keras dan lampu kilat kamera. Aku tidak akan membiarkan anakku dijadikan pajangan di atas panggung hanya untuk menaikkan harga saham."
"Ini bukan soal pajangan, ini soal legitimasi!" balas Paman Bram ketus. "Kamu pikir kenapa kamu bisa memenangkan tender proyek Kalimantan? Karena mereka percaya pada stabilitas keluargamu. Kelahiran bayi laki-laki ini adalah modal politikmu, Adrian."
Arumi masuk ke ruangan membawa nampan berisi teh. Ia mendengar setiap kalimat yang diucapkan Paman Bram. Wajahnya tetap tenang, namun ada kilatan tegas di matanya.
"Paman," sela Arumi dengan suara lembut namun berwibawa. "Sebagai ibunya, saya tidak mengizinkan Abi menjadi 'modal politik' siapa pun. Dia adalah seorang anak, bukan aset lancar perusahaan."
Paman Bram menoleh ke arah Arumi, sedikit meremehkan. "Arumi, kamu mungkin penulis yang hebat, tapi kamu tidak mengerti cara kerja dunia kami. Tanpa dukungan keluarga besar dan investor, rumah indah ini pun bisa runtuh."
"Jika fondasi rumah ini hanya dibangun di atas jepretan kamera dan pesta mewah, maka biarkan saja runtuh," balas Arumi telak. "Kami akan membangunnya kembali dengan tangan kami sendiri, tanpa harus menjual privasi anak kami."
Setelah Paman Bram pergi dengan wajah merah padam, Adrian menghela napas panjang. Ia menatap Arumi dengan rasa bersalah. "Maafkan mereka, Arumi. Mereka sudah terbiasa melihat segalanya sebagai angka."
"Kita harus memberikan jawaban, Mas," ujar Arumi sambil duduk di samping suaminya. "Jika kita menolak mentah-mentah tanpa memberikan alternatif, mereka akan terus menekankan narasinya di belakang kita. Mereka mungkin akan menyebarkan rumor bahwa Abi sakit atau ada yang tidak beres dengan hubungan kita."
"Lalu apa rencanamu?"
Arumi tersenyum tipis. "Kita akan membuat pesta. Tapi bukan di ballroom hotel. Kita buat di panti asuhan dan di galeri seni milik Kak Siska di Jogja secara simultan. Kita namakan 'Syukuran Abimanyu: Sejuta Buku untuk Masa Depan'. Kita tidak butuh investor yang ingin melihat bayi, kita butuh doa dari ribuan anak yang akan mendapatkan akses pendidikan karena kelahiran Abi."
Adrian tertegun. Strategi Arumi bukan hanya melindungi Abi, tetapi juga membangun reputasi keluarga pada tingkat yang jauh lebih mulia: filantropi.
Tentu saja, ide ini ditentang keras oleh dewan komisaris. Mereka menganggap acara di panti asuhan adalah hal yang "kurang bergengsi".
Namun, Adrian kali ini berdiri tegak di depan meja rapat, menggunakan nada bicara yang dulu ia pakai saat mengusir Clara.
"Jika kalian mencari prestise, carilah di kolom berita sosial. Tapi jika kalian mencari keberlanjutan bisnis, carilah di hati masyarakat. Pramoedya Group akan membiayai renovasi sepuluh perpustakaan daerah atas nama anak saya. Tidak ada kamera pers yang diperbolehkan memotret wajah Abi. Hanya kegiatan sosialnya yang dipublikasikan. Siapa pun yang keberatan, silakan jual saham kalian."
Keheningan melanda ruang rapat. Kekuatan Adrian kini berlipat ganda karena ia tidak lagi berjuang untuk dirinya sendiri, melainkan untuk warisan moral anaknya.
Malam itu, syukuran dilakukan secara sederhana di taman belakang rumah mereka, bersamaan dengan acara di panti asuhan yang disiarkan secara tertutup. Hanya keluarga inti dan sahabat terdekat yang hadir. Baskoro dan Ratna datang dari Jogja, membawa tumpeng nasi kuning dan doa-doa yang tulus.
Di sudut taman, Siska dan Bayu tampak asyik mengobrol. Siska kini sudah mulai menunjukkan perutnya yang membuncit—ia sedang hamil empat bulan. Tidak ada lagi persaingan, yang ada hanyalah dua bersaudari yang saling berbagi pengalaman tentang kehamilan.
"Rum," bisik Siska saat mereka duduk berdua di bangku taman, menjauh sejenak dari keramaian.
"Terima kasih sudah berani melawan Paman Bram. Aku dulu tidak seberani itu. Aku selalu mengikuti kemauan mereka sampai aku merasa kehilangan diriku sendiri."
"Aku melakukannya untuk Abi, Kak. Aku ingin dia tahu bahwa namanya berarti 'Pejuang', bukan karena dia harus bertarung di bursa saham, tapi karena dia harus berani mempertahankan prinsipnya," jawab Arumi.
Siska menggenggam tangan adiknya. "Kamu benar-benar sudah menjadi ibu yang hebat. Jauh melampaui apa yang dulu aku bayangkan tentang adik kecilku yang suka sembunyi di balik buku."
Di sela-sela kesibukannya mengurus syukuran dan Abi, Arumi mulai merasakan panggilan lamanya kembali. Pena yang sempat ia letakkan sejenak mulai terasa hangat di jemarinya. Di tengah malam, saat rumah sudah sunyi dan hanya terdengar suara napas teratur Adrian dan Abi, Arumi mulai menulis sebuah memoar.
Ia tidak menulis tentang "Istri Pengganti" yang penuh duka. Ia menulis tentang "Pilihan yang Sadar".
“Banyak orang mengira takdir adalah sesuatu yang menimpa kita. Namun, aku belajar bahwa takdir adalah bagaimana kita menanggapi apa yang menimpa kita. Aku mungkin masuk ke rumah ini sebagai pengganti, namun aku memilih untuk tinggal sebagai diri sendiri. Pernikahan ini bukan lagi kontrak yang berakhir dengan tinta, melainkan janji yang diperbarui dengan setiap tangisan bayi di fajar hari.”
Tulisan itu mengalir deras. Arumi menyadari bahwa perannya sebagai ibu justru memperkaya imajinasinya. Ia kini mengerti arti pengorbanan, cinta tanpa syarat, dan keberanian yang sesungguhnya.
Malam itu berakhir dengan pemandangan yang tak akan pernah dilupakan Arumi. Adrian duduk di karpet perpustakaan, tertidur sambil memegang mainan bayi, sementara Abi terlelap di dadanya. Pria yang dulu hanya bicara soal profit, kini tampak sangat rapuh sekaligus sangat kuat dalam posisinya sebagai ayah.
Paman Bram dan tuntutan keluarga besar mungkin belum sepenuhnya menyerah, namun Arumi tahu bahwa benteng di dalam rumahnya sudah tidak bisa ditembus. Mereka bukan lagi sekadar nama di atas akta nikah; mereka adalah sebuah ekosistem cinta yang mandiri.
Arumi menyelimuti suami dan anaknya, lalu berjalan menuju jendela. Di kejauhan, lampu-lampu Jakarta masih berkedip, melambangkan ambisi yang tak pernah padam.
Namun di dalam sini, di bawah atap Pramoedya yang baru, yang ada hanyalah kedamaian.