Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Jenderal Zhu
Begitu kaki mereka melewati batas pepohonan purba Federasi LIN, udara lembap berganti menjadi angin kering yang membawa debu jalanan.
Yan Bingchen mendadak berhenti. Langkahnya yang tenang berubah menjadi sikap siaga yang mematikan.
Di belakangnya, Mo Ran masih sibuk mengomel sambil mencoba menjewer telinga Si Hitam yang terus-menerus mencoba menyandung kakinya.
"Bersembunyi di belakangku. Dia bukan lawan kalian," ujar Yan Bingchen dengan nada rendah yang bergetar karena otoritas.
Seketika, Mo Ran terdiam. Si Hitam berhenti menggeram, bulu-bulu di punggungnya berdiri tegak. Mereka merasakan tekanan Qi yang sangat berat muncul dari balik sebuah bongkahan batu cadas besar di pinggir jalan.
Yan Bingchen menarik Pedang Langit Penembus Awan. Mata dualitasnya berkilat; melalui penglihatan Mata Samsara, ia bisa melihat aliran energi berwarna kuning tanah yang sangat pekat, mengalir deras masuk ke dalam struktur tulang seseorang yang bersembunyi di sana.
"Haha, seperti yang kuduga. Bakatmu benar-benar menakutkan, Yan Bingchen. Kau sudah bisa mendeteksi keberadaanku bahkan sebelum aku melepaskan niat membunuh," tawa bariton meledak dari balik batu.
Seorang pria dengan zirah perak yang kini dilapisi jubah kulit binatang melangkah keluar. Itu adalah Jenderal Zhu, tangan kanan Kaisar Shan.
Aura di sekelilingnya terasa jauh lebih padat daripada saat di istana; ia telah sepenuhnya mengaktifkan kekuatan Tahap Transformasi Sumsum (Ranah ke-5).
"Ya. Kenapa kau hanya sendirian, Jenderal? Jika kau ingin menangkap atau membunuhku, seharusnya kau membawa pasukan," sahut Yan Bingchen dingin.
"Pasukan hanya akan memperlambatku, dan jujur saja, aku ingin menikmati proses 'memanen' Inti Sejatimu sendirian," ujar Jenderal Zhu sambil menghantamkan sebuah gada raksasa ke tanah.
BOOM!
Tanah bergetar. Gada itu bukan senjata biasa. Itu adalah Gada Penghancur Kerak Bumi, sebuah Artefak Kelas Bumi yang sanggup memanipulasi gravitasi dan elemen tanah di sekitarnya.
Tanpa peringatan, Yan Bingchen melesat.
"Langkah Bayangan Naga!"
Tubuhnya seolah terbelah menjadi tiga bayangan hitam yang bergerak zigzag dengan kecepatan luar biasa.
Ini adalah teknik yang baru saja ia dapatkan dari Federasi LIN, dan di tangan seorang ahli Tahap Inti Sejati, teknik ini membuat pergerakannya hampir mustahil diikuti mata biasa.
TRANG!
Pedang emas Yan Bingchen beradu dengan gada Jenderal Zhu. Percikan api dan energi ungu-kuning meledak, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan dahan-dahan pohon di dekat mereka.
Yan Bingchen sedikit terkejut. Kekuatan fisik Jenderal Zhu sangat masif.
Sebagai pendekar ranah ke-5, setiap inci tulang dan sumsum Jenderal Zhu telah diperkuat oleh Qi, membuatnya memiliki daya tahan dan kekuatan otot yang melampaui batas manusia.
"Kau pikir Inti Sejati sudah cukup untuk melawanku?!" teriak Jenderal Zhu. Ia menghentakkan gadanya ke tanah lagi. "Taring Bumi!"
Seketika, belasan pilar batu tajam mencuat dari bawah kaki Yan Bingchen.
Yan Bingchen melompat ke udara, memutar tubuhnya dengan anggun. Mata kirinya yang biru berkilat tajam. "Hawa Beku Tak Bertepi!"
Udara di sekitar pilar-pilar batu itu membeku seketika, membuatnya rapuh dan hancur sebelum sempat menyentuh kaki Yan Bingchen.
Di saat yang sama, ia mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, mengirimkan sabit api merah pekat dari mata kanannya.
Jenderal Zhu menyeringai. Ia mengangkat gadanya ke depan dada. "Dinding Pelindung Pegunungan!"
Tanpa mantra, hanya dengan kehendak artefak Kelas Bumi miliknya, partikel tanah di udara memadat membentuk perisai raksasa yang menahan serangan api Yan Bingchen. Ledakan itu menciptakan awan debu yang pekat.
Di balik debu, Jenderal Zhu merasakan pergerakan Qi yang aneh.
"Terlalu lambat, Jenderal," bisik sebuah suara tepat di samping telinganya.
Yan Bingchen telah menggunakan sisa momentum api untuk mendorong dirinya lebih cepat dengan teknik langkah naga.
Pedangnya kini sudah berada satu inci dari leher sang Jenderal, dialiri oleh perpaduan api dan es yang menciptakan warna ungu yang mematikan.
KLANG!
Jenderal Zhu berhasil menangkis dengan gagang gadanya di detik terakhir, namun tekanan energi dari Inti Sejati Yan Bingchen membuatnya terseret mundur hingga sepuluh meter, kakinya menciptakan parit dalam di tanah.
"Luar biasa ..." Jenderal Zhu menyeka darah tipis yang mengalir dari lengannya yang tergores. "Ranah ke-4 milikmu ... energinya setara dengan ranah ke-5 tingkat menengah. Klan Api dan Es benar-benar melahirkan monster."
Yan Bingchen berdiri tegak, pedangnya mengeluarkan dengung rendah. Matanya yang merah dan biru kini berpendar lebih terang dari sebelumnya, menunjukkan bahwa ia siap untuk melepaskan kekuatan penuhnya.
"Ini baru awal, Jenderal," ujar Yan Bingchen datar. "Jangan mati terlalu cepat."
Di kejauhan, Mo Ran dan Si Hitam menonton dengan napas tertahan.
"Kak Bingchen benar-benar gila ... dia beradu kekuatan fisik dengan Jenderal Ranah ke-5!" bisik Mo Ran sambil memegang erat leher Si Hitam.
Si Hitam hanya mengerang rendah, matanya yang merah waspada menatap ke segala arah, memastikan tidak ada penyergap lain yang mengincar mereka saat kedua pendekar itu bertarung.
Pertarungan tingkat tinggi ini baru saja memanas. Debu mulai naik, dan tekanan Qi di area perbatasan itu membuat hewan-hewan liar lari ketakutan.