Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Hati
Aku Rara...
Aku yang baru saja lulus sekolah harus berhadapan dengan masalah yang tidak pernah kusangka sebelumnya.
Ada seorang juragan tua kaya ingin mempersunting ku. Tentu saja Bapak dan Ibuku menolak. Tapi tolakan itu justru berubah menjadi bencana. Juragan itu akan menikahi ku secara paksa dalam waktu satu minggu kedepan.
Bapak dan Ibu segera menempatkan ku ke rumah Paman yang ada di desa sebelah agar aku tidak mengetahui hal yang pasti akan membuat aku semakin ketakutan.
Sebenarnya, tinggal di kediaman Paman sangatlah nyaman, rumahnya hangat dan keluarganya yang ramah padaku. Tapi pikiranku tetap saja terpaku kepada Bapak dan Ibu. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka setelah kejadian pagi itu, saat Juragan Bejo datang ke rumah dengan wajah yang mengerikan.
Wajah lelaki tua itu selalu saja menghantui, membuat hatiku tidak pernah tenang. Jujur saja, membayangkan wajahnya membuatku bergidik ngeri. Apalagi, aku mendengar kalau ia suka dengan gadis muda dan ia pun sudah mempunyai banyak istri.
Lalu, dua hari setelah aku tinggal di rumah Paman, Bapak datang menjemputku pulang. Wajahnya terlihat sangat serius. Aku belum pernah melihat raut wajah seperti ini sebelumnya. Aku merasa ada sesuatu yang lebih besar telah terjadi, tapi lebih tidak menyangka akan berita yang keluar dari mulut Bapak, "Besok kamu akan menikah, Ra."
Bagaikan disambar petir di siang bolong!
Menikah?
Dengan siapa?
Juragan itu atau siapa?
Kenapa pernikahan bisa terdengar seperti hal yang sepele, seperti lelucon yang tidak lucu di desa ini? Kenapa mereka bisa dengan mudahnya memutuskan tentang ikatan suci yang akan mengubah hidupku selamanya?
Kepalaku dipenuhi ribuan tanda tanya. Apakah kali ini aku akan diperkenalkan dengan lelaki lain yang juga akan membuatku ketakutan?
Hah! Aku tidak menyangka kehidupan setelah lulus sekolah akan begitu berat. Padahal, impianku sangat besar. Aku ingin pergi ke kota, bekerja keras, dan memperbaiki nasib keluarga dengan usahaku sendiri. Tapi kenapa semua jadi rumit seperti ini?
Diam menatap langit sore yang mulai berwarna jingga memberiku sedikit ketenangan. Di jalan raya depan rumah, banyak gadis seusiaku yang berlalu lalang. Beberapa berjalan kaki sambil tertawa bersama teman, yang lain menaiki sepeda motor dengan wajah penuh senyum. Mereka terlihat begitu bahagia dan bebas tanpa beban, sedangkan aku di sini... harus menelan pahitnya kenyataan hidup yang tak kusangka-sangka.
—————
Setelah keputusan malam itu sudah dibuat secara matang oleh Bapak, rasanya aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk menolak. Semua pun terasa percuma. Tapi satu hal yang aku tau... Bapak dan Ibu sayang padaku dan tidak mungkin akan menjerumuskan ku kedalam hal yang membuatku menderita. Itulah satu-satunya pikiran yang bisa membuatku sedikit tenang di tengah kekacauan pikiran.
Mataku seperti enggan untuk terlelap. Aku berdiam diri menatap langit-langit kamar yang sederhana, di mana cahaya bintang-bintang menerobos melalui cela tirai yang robek. Setiap titik cahaya seolah menjadi pertanyaan yang tak terjawab tentang masa depanku.
Menikah... ada ketakutan tersendiri kala mendengar kalimat itu. Apalagi sosok yang akan menikahiku itu sama sekali tidak aku ketahui. Aku tidak tahu wajahnya seperti apa, bagaimana sikapnya, bahkan tidak tahu apa-apa tentang dirinya selain kabar bahwa dia orang kaya.
Dalam hati, pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Siapa dia sebenarnya?
Mengapa dia mau menikahi aku yang tidak dikenal sama sekali?
Sampai detik akad nikah akan segera dilaksanakan, sosok misterius itu tidak juga muncul. Tidak ada kunjungan pranikah, tidak ada pertemuan untuk saling mengenal, semua berjalan seperti sebuah ritual yang sudah ditentukan tanpa ada kesempatan untuk berbicara.
Semua orang yang hadir terlihat bahagia. Mereka berbisik-bisik dengan senyum. Tapi kebahagiaan itu seolah tidak bisa menyentuh diriku. Hidupku seperti kehilangan semua harapan. Masa depan dan impianku yang ingin aku raih dengan usahaku sendiri kini harus ku kubur dalam-dalam.
Walaupun aku dengar calon suamiku ini berasal dari keluarga kaya, tapi apalah artinya kekayaan jika semua ini berawal dari pemaksaan dan keterpaksaan? Hati ini tidak akan pernah merasa nyaman jika harus hidup dalam ikatan yang tidak datang dari hati.