Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Kecemasan Kelulusan
Murni meraih ponsel bututnya. Layar retak itu memantulkan cahaya redup dari ponsel. "Nih, Man! Dua minggu lagi dari sekarang. Tapi kok mereka tempel sekarang ya? Bukannya besok? Haduh, kita terlambat dong? Nggak asyik ah!" Dia membalik ponselnya ke arah Siman, menunjukkan tanggal pengumuman yang tertera di pesan singkat dari panitia.
Keringat dingin membasahi pelipis Siman. Ini lebih cepat dari perkiraan. Detak jantungnya berpacu, seolah balapan dengan kerumunan yang semakin memadati area papan pengumuman. Sebagian besar orang masih mengintip lembar kertas, berbisik, lalu terpecah antara tawa dan isak tangis yang tertahan. Suara tawa kegirangan bercampur dengan tangisan keputusasaan. Momen yang kejam, di mata Siman. Sejak Dina dulu memperlakukannya sama seperti itu. Ada ketakutan lama kembali menusuk Siman, di momen yang kejam seperti ini. Rasa minder dan rendah diri menyeruak. Bagaimana jika ia gagal?
"Ayo, Man! Buruan sana lihat!" desak Murni, mencoba menariknya lebih dekat. "Nanti keburu makin ramai. Kita kan mau bareng-bareng! Ibu sama Bapak biar di sini aja."
"Nggak usah terburu-buru, Mur." Siman menelan ludah, berusaha keras menjaga napasnya tetap stabil. Akiknya terasa lebih hangat di sakunya, mencoba menenangkannya. Ia merasakan sebuah denyutan, denyutan yang Siman kenal sekali saat ia mengambil kesempatan dalam bekerja dulu. Ini seperti sebuah isyarat, bahwa semua ini akan baik-baik saja. Namun, Siman juga tidak mau terlihat jumawa, sombong dengan kemampuan yang entah darimana.
Dia berusaha menyibak kerumunan yang menghalangi pandangannya. Orang-orang tinggi di depannya menutup seluruh papan pengumuman. Siman memaksakan tubuhnya masuk di antara desakan massa. Tiba-tiba sebuah ide muncul, ide yang muncul begitu saja dari kepalanya. Sebuah dorongan dari cincin yang sedang Siman genggam. "Bentar, Mur, kita dari sana aja!" Siman menunjuk papan pengumuman lain, yang agak terpisah dari kerumunan utama, yang terletak agak jauh, di belakang pintu kamar mandi kantor kelurahan.
Murni mengerutkan kening. "Lho, kok di situ? Itu kan cuma daftar mata pelajaran sama nilai rata-rata, Man! Yang ini nih, yang utama!" Murni menunjuk kembali papan pengumuman yang ramai.
"Nggak apa-apa! Di sana lebih jelas. Nanti kalau gagal atau lulus, kan kita bisa lihat nilai pastinya." Siman menjawab dengan intonasi meninggi, meskipun ia merasa berbohong lagi pada Murni, entah apa alasannya, ia tidak mau kerumunan itu mencemooh Siman seperti dulu di kampus, dia tidak akan mampu. Ia benci kerumunan, ia benci pandangan orang yang meremehkan. Mungkin akik ini mengajarkannya sebuah kecurangan baru: melihat yang tak penting itu menjadi penting. Tidak perlu masuk dalam pusat keramaian untuk dilihat orang.
Mereka berdua pun melangkah, menjauhi pusat keramaian menuju papan kedua. Papan pengumuman itu lebih sepi, hanya ada beberapa pasang mata yang fokus mencatat sesuatu di buku kecil. Daftar nama terpampang, disusun berdasarkan nomor urut peserta, beserta nilai setiap mata pelajaran dan status kelulusan: LULUS atau TIDAK LULUS.
"Ini... Siman." Murni berbisik pelan, tangannya gemetar, jari telunjuknya perlahan menelusuri deretan nama. Jantung Siman berdegup semakin kencang, kali ini lebih keras, nyaris terasa hingga tenggorokan. Ini bukan lagi soal uang, bukan soal keberuntungan sesaat. Ini adalah validasi atas usahanya selama ini, pengorbanan tidurnya, dan harapannya. Ketakutan akan kata "TIDAK LULUS" menghantuinya.
"Itu... di nomor 43." Murni menunjuk. Wajahnya, yang tadinya tegang, kini merekah menjadi senyum paling lebar yang pernah Siman lihat. Ada setitik air mata menggenang di sudut matanya, air mata bahagia.
SIMAN HENDRA. Nomor Peserta: 43. Status: LULUS.
Mata Siman terpaku pada tulisan tebal itu. Lulus. Sebuah kata yang dulunya terasa begitu mewah, begitu tidak terjangkau. Tidak hanya lulus, Siman bahkan bisa membaca nilai-nilainya. Fisika, Kimia, Matematika… nilainya di atas rata-rata! Bahkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah yang Siman tak pernah menyukainya, nilainya justru sangat baik! Otaknya hanya mampu mencerna seberapa aneh semua ini.
"LULUS! Ya ampun, Man! Kamu lulus!" Murni menjerit tertahan, kemudian langsung memeluk Siman erat, melampiaskan seluruh emosi yang terkumpul. Air mata kebahagiaan akhirnya tumpah, membasahi bahu Siman. Aroma parfum murahan Murni yang selalu setia itu tercium, membuahkan kenyamanan dan kesejukan. Siman terdiam, tubuhnya membeku. Tangannya perlahan membalas pelukan Murni, merasakan kehangatan yang menjalar dari hati ke hati.
"Mur... aku... aku lulus, Mur!" Siman bergumam, suaranya tercekat. Rasa lega yang luar biasa menguasai dirinya, membakar habis semua ketakutan dan keraguan. Ini adalah kemenangannya, yang terasa begitu manis.
Melepaskan pelukan, Murni memandang Siman dengan bangga. "Aku tahu! Aku kan sudah bilang! Kamu hebat! Nilaimu juga bagus banget, Man! Kamu harus kasih tahu Ibu sama Bapak! Mereka pasti senang sekali!" Murni menggenggam erat tangan Siman, cincin akik biru laut di jarinya terasa lebih sejuk, seolah memancarkan aura ketenangan setelah ‘misinya’ selesai.
Mereka bergegas kembali ke tempat orang tua Siman. Bapak dan Ibu Siman masih duduk gelisah, mengamati kerumunan. Ibu Siman mencoba tersenyum, menyiratkan doa dan harapan. Siman memegang tangannya. Ada rasa segan. Itu adalah tangannya yang dulunya selalu menghinaku. Tapi di hari ini, tangan yang rapuh itu membuatku sangat berharga.
"Bu, Pak..." Siman memulai, suaranya sedikit bergetar. Murni menatapnya dengan senyum mendukung. Ia yakin ini adalah waktunya bagi Siman untuk berbicara jujur dengan kedua orang tuanya.
Ibu Siman menatap Siman dengan wajah cemas. "Ada apa, Nak? Kamu nggak lulus, ya? Nggak apa-apa kok, jangan sedih. Besok kita coba lagi, Ibu sama Bapak ngerti kok." Air mata mulai menggenang di mata Ibu Siman. Ayahnya hanya membuang pandangan, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia memang pernah meremehkan pendidikan Siman, kata-kata yang kini Siman yakini menusuk ke tulang sumsum itu adalah sebuah doa untuk Siman, Siman tahu ia hanya tidak mau membuat anaknya sedih.
"Aku... aku lulus, Bu!" Siman akhirnya bisa berkata, senyum lebarnya terpancar tulus, menepis segala keraguan di hati ibunya.
Detik berikutnya, keheningan pecah oleh pekikan tertahan Ibu Siman. "Ya Allah! Serius, Nak?! Kamu nggak bohong 'kan?" Wanita itu bangkit, tubuhnya gemetar, lalu langsung memeluk Siman dengan erat, seolah tak mau melepaskannya. Air mata Ibu Siman mengalir deras, namun kali ini adalah air mata haru yang menetes penuh kebanggaan. Siman membalas pelukan ibunya, membiarkan aroma keringat dan peluhnya yang bercampur parfum murah menyelimuti dirinya. Ini adalah pelukan paling hangat dan jujur yang pernah ia rasakan, melebihi keberadaan akik dan segala keberuntungannya. Itu dari kasih sayang yang tak berbalas, Siman kini bisa membalas semuanya.
Bapak Siman yang kaku itu, kini matanya tampak berkaca-kaca, menepuk bahu anaknya dengan bangga. Ada senyum tipis di wajahnya yang keriput, senyum yang menunjukkan betapa dalam rasa bahagia yang ia pendam. Siman tahu, di balik setiap hinaan bapaknya dulu, ada harapan yang tersimpan. Harapan untuk melihat anaknya bangkit. Dan hari ini, harapan itu terbayar.
"Alhamdulillah," gumam Bapak Siman. "Bapak bangga padamu, Nak."
Murni ikut tersenyum. Bahagia menyertai keluarga ini, seolah tak ada lagi mendung yang menyelimuti mereka. Di tengah kebahagiaan yang meluap-luap, Siman merasakan akiknya kembali berdenyut, lembut namun mantap. Seolah benda itu ikut merayakan kemenangannya, tetapi juga mengingatkannya akan jalan yang terbentang di depannya.
***