"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
❖
Tringg!
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi keras, menggema di seantero SMA Glory High School.
Segera setelah itu, pintu-pintu kelas terbuka lebar dan para siswa berbondong-bondong keluar dari kelas mereka.
Sebagian dari mereka ada yang langsung pulang meninggalkan sekolah, sebagian juga ada yang masih berada di sekolah, untuk mengikuti ekstrakurikuler atau rapat organisasi.
"Langsung rapat sekarang, Pak Ketua? Ga cari makan dulu gitu?" tanya Dafa, membawa tas sekolahnya yang tadi dia letakkan di atas kursi.
"Hm. Sebelum kesorean," jawab Galvin, sambil keluar dari pintu kelas.
Selesai pelajaran terakhir, Galvin, Khaira, dan anggota inti OSIS lainnya berkumpul di ruang OSIS untuk mengadakan rapat.
Rapat kali ini memang dikhususkan untuk anggota inti saja. Sehingga yang hadir hanyalah Galvin, Dafa, Khaira, dan juga Jenna.
"Khai, Jenn, ayo!" ajak Dafa, melihat Khaira dan Jenna yang masih berada di dalam kelas.
"Minta mereka duluan aja," ucap Khaira.
Jenna langsung menaikkan salah satu alisnya. "Kenapa? Biasanya juga kita barengan, kan?"
Khaira hanya diam. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kepada Jenna bahwa saat ini dia sedang menghindari Galvin.
"Ayo bareng mereka aja, dari pada bengong di sini." Jenna menarik tangan Khaira, keluar kelas bersamanya.
"Lo ngapain lama banget di dalam kelas? Orang-orang udah pulang, lo masih betah di dalam sana-sana," cibir Dafa, sangat tidak sabaran.
Dia memang cukup sabar, tetapi tidak kepada Jenna. Kesabaran tidak ada untuk Jenna, begitu juga sebaliknya.
"Bukan gue, tapi ini, nih, yang susah banget diajak keluar," ucap Jenna, sambil menunjuk Khaira, menggunakan gerakan mata.
Khaira yang merasa bahwa itu memang salahnya, langsung saja meminta maaf.
"Maaf, aku buat kalian tunggu," ucapnya, dengan rasa bersalah.
"Ga masalah. Ga lama juga," sahut Dafa, dengan ringan.
Jenna langsung memincingkan kedua bola matanya begitu melihat respon Dafa seperti itu kepada Khaira.
"Dih, giliran sama Khaira, omongan lo santuy banget. Giliran sama gue, lo nyolot banget!" protesnya, sambil memutar kedua bola matanya dengan jengah.
"Gimana gue mau santuy ngomong sama lo, lo aja selalu lebih nyolot dari gue," balas Dafa.
"Lo duluan yang nyolot!" cercah Jenna, tidak mau kalah.
"Ayo, ajak Galvin kepada Khaira.
"K-kemana?" Khaira sedikit tersontak kaget.
Bisa-bisanya Galvin tiba-tiba mengajaknya seperti itu, tanpa memberikan aba-aba terlebih dulu.
Jika tidak ada hal sebelumnya yang terjadi antara mereka, mungkin Khaira akan merespon biasa saja saat Galvin bersikap seperti itu. Namun kali ini berbeda.
"Lo dan gue duluan aja ke sekre," ucap Galvin.
"Mereka gimana?" tanya Khaira, sambil melirik ke arah Jenna dan Dafa yang masih saling beradu bicara.
"Tinggalin aja. Nanti juga nyusul sendiri," jawab Galvin dengan santai.
Mereka tidak melakukan apa-apa saat Jenna dan Dafa berdebat seperti itu, bukan berarti mereka tidak peduli, melainkan mereka sudah lelah melihat pemandangan itu terjadi hampir setiap hari.
Galvin memberikan kode kepada Khaira, supaya Khaira mengikutinya.
Dengan perasaan gugup dan ragu, Khaira mengikuti di belakang Galvin, hingga mereka berdua tiba di sekre OSIS.
"Mana?" tanya Galvin, begitu langkah mereka terhenti di depan pintu sekre.
"Apa?" tanya Khaira, menatap Galvin dengan tatapan bingung.
"Kuncinya."
"Oh, iya. Sebentar."
Khaira segera mengambil kunci itu dari dalam tasnya, kemudian menyerahkan kunci itu kepada Galvin.
Kunci sekre OSIS memanglah Khaira yang pegang karena mereka percaya bahwa Khaira bisa mengemban amanah itu dengan baik.
Ceklek!
Pintu sekre itu terbuka dengan mudahnya.
Begitu pintu itu terbuka, Galvin langsung masuk ke dalam sana.
"Masuk," pintanya kepada Khaira, karena Khaira masih berdiri di ambang pintu.
"Kamu duluan aja. Biar aku tunggu Jenna dan Dafa di sini," ucap Khaira.
Dia merasa tidak enak jika hanya ada mereka berdua di dalam sana. Lebih baik dia menunggu teman-temannya yang lain.
"Tunggu di dalam," ucap Galvin dengan tenang, tetapi terdengar tegas di telinga Khaira.
Khaira menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Di sini aja."
Mendengar jawaban itu dari Khaira, membuat Galvin langsung melipat kedua tangannya di depan dada, dengan punggungnya yang dia sandarkan pada tembok sekre itu.
"Kenapa ga mau di dalam?"
"Ga enak aja, Gal. Kalau cuma kita berdua yang ada di dalam," jawab Khaira, menjelaskan alasannya.
"Ga enak sama siapa?"
"Sama orang-orang."
Galvin mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Di sini ga ada orang lain selain kita, Khaira," ucapnya, setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar sekre OSIS saat ini.
"Gimana kalau tiba-tiba ada orang lain?" tanya Khaira, mengkhawatirkan hal yang sama seperti sebelumnya.
Dia akan tetap menunggu Jenna dan Dafa di sana. Lagi pula jika dia dan Galvin masuk lebih dulu, apa yang akan mereka bicarakan?
Pembicaraan tentang acara besok akan tetep mulai di bahas setelah Jenna dan Dafa berada di sana bersama mereka, supaya mereka tidak membahas pembahasan yang sama secara berulang.
"Jadi lo tetap mau di sini?" tanya Galvin, sambil menaikkan salah satu alisnya.
Khaira langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Iya, Gal."
Srett!
"Astaghfirullah, Galvin! Apa yang kamu lakukan?" Khaira tersentak kaget.
Bagaimana dia tidak terkejut, jika Galvin tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, kemudian membawanya masuk ke dalam sekre.
"Menurut lo?" tanya Galvin kembali, atas pertanyaan Khaira sebelumnya.
"Kenapa pintunya tiba-tiba
ditutup?" tanya Khaira, kedua sorot matanya menunjukkan perasaan takut dan khawatir.
'Ck! Sama suami sendiri takut,' batin Galvin.
"Buka pintunya, Gal," pinta Khaira.
Pintu itu sebenarnya tidak dikunci, hanya saja Galvin menahannya, bersamaan dengan dia mengukung Khaira di balik pintu itu.
Hingga Khaira tidak bisa bergerak maju apalagi bergerak mundur, karena punggungnya sudah menyentuh rapat pada daun pintu.
"Lo takut ada orang lain yang liat, kan?" tanya Galvin, dengan salah satu alisnya yang terangkat.
"Iya, tapi bukan kaya gini maksud aku, Gal." Khaira mencoba menjelaskan.
Dia memang takut ada yang melihat mereka hanya berdua seperti itu. Dan hal yang sekarang Galvin lakukan, semakin membuatnya takut.
"Mundur, Gal. Buka pintunya."
Khaira hanya berani berbicara, dia tidak berani mendorong secara langsung tubuh Galvin untuk menjauh darinya.
"Gimana? Kaya gini, hm?" tanya Galvin, sengaja melangkah maju semakin kedepan.
Khaira memintanya untuk mundur, tetapi dia dengan sengaja melangkah maju, dan membuat jantung Khaira kembali berdebar, sama seperti debaran di dalam mobil tadi pagi.
"Gal. Jangan terlalu dekat kaya gini. Kalau ada orang lain yang lihat, ini bisa jadi fitnah."
Khaira benar-benar merasa takut dan Khawatir.
"Fitnah apa?" tanya Galvin dengan santainya.
"Fitnah kalau kamu dan aku melakukan hal yang tidak-tidak," jawab Khaira, tanpa berpikir, karena hal itu terus menguasai pikirannya saat ini.
"Artinya kita harus lakuin hal yang tidak-tidak itu, biar ga jadi fitnah," timpal Galvin, menyambung ucapan Khaira sebelumnya.
Khaira langsung membulatkan kedua manik-manik indahnya.
"Galvin! Kamu kenapa jadi kaya gini?" tanya Khaira, begitu penasaran.
Berbeda dari sebelumnya, di mana dia takut dengan sikap Galvin
yang berbeda seperti itu, kali ini dia lebih mengkhawatirkan keadaan Galvin.
Dia takut terjadi sesuatu kepada Galvin, sehingga sikap Galvin sangat berubah menurutnya.
"Lo mulai penasaran sama gue?" tanya Galvin, dengan salah satu alisnya terangkat.
Seolah dia sengaja menggoda Khaira lewat pertanyaannya.
Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan gitu," ucap Khaira, tampak mulai lelah menghadapi Galvin yang terus mensalah artikan maksudnya.
"Terus gimana, hm?" tanya Galvin, begitu pelan dan dalam.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar cukup keras dari arah luar.
"Kalian ada di dalam?"
Suara itu bersahutan dengan suara ketukan pintu.
"Gal...," panggil Dafa, karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam sana.
Dia dan Jenna segera menyusul Galvin dan juga Khaira, begitu mereka menyadari, jika Galvin dan Khaira sudah tidak ada lagi bersama mereka.
"Gal, Khai! Kalian ada di dalam, kan?"
"Udah jelas ada. Liat aja lampunya nyala," ucap Jenna, menunjuk ke jendela atas di mana cahaya ruangan terlihat dari sana.
"Terus kenapa ga dibuka?"
"Mana gue tau."
"Mungkin mereka muak sama lo karena berisik."
"Enak aja! Mereka muak sama lo," balas Jenna.
Di dalam sana, Galvin hanya bersikap biasa saja, sementara Khaira mendadak panik.
"Hm?" gumam Galvin, begitu Khaira menahan tangannya yang hendak membuka pintu itu.
Sejak tadi, Khaira memintanya untuk membuka pintu, tetapi kali ini Khaira melarangnya untuk melakukan itu, karena menang waktunya tidak tepat.
"Gimana ini?" tanya Khaira, dengan nada penuh khawatir.
"Aku takut mereka berpikir yang tidak-tidak tentang kita," ucapnya lagi.
"Ga akan," jawab Galvin, tetap terlihat santai, acuh tak acuh.
Dia hendak membuka pintu itu, tetapi Khaira kembali menahannya.
Khaira menggelengkan kepalanya dengan pelan, sambil menatap Galvin dalam. "Jangan dulu dibuka. Aku takut," lirihnya, begitu pelan.
Melihat kedua manik-manik Khaira yang menunjukkan adanya ketakutan dan kekhawatiran di sana, membuat Galvin merasa bersalah karena telah becanda kepada Khaira, hingga Khaira merasa khawatir seperti itu.
"Ga usah takut," ucapnya, menangkan. "Gue yang tanggung jawab kalau mereka mikir yang engga-engga," sambungnya kembali.
"Boleh gue buka sekarang?" tanyanya dan langsung mendapat anggukan setuju mana ragu dari Khaira.
Detik berikutnya, pintu sekre itu terbuka. Menunjukkan Galvin dan Khaira yang muncul dari dalam sana.
"Hayo, loh! Kalian ngapain berduaan di dalam?" heboh Dafa, begitu melihat mereka berdua.
"Menurut lo?" tanya Galvin dengan santainya.
"Sengaja ngunci kita biar kita ga ikutan rapat, kan? Gue udah tau!" tuduh Dafa.
Sekilas Khaira melirik ke arah Galvin, seolah sedang menanyakan respon Jenna dan Dafa yang tidak sesuai dari apa yang dia bayangkan.
Sementara Galvin, dia sudah tahu jika respon mereka akan seperti itu.
Mereka tahu Khaira seperti apa, sehingga mereka tidak akan berpikiran buruk tentangnya dan juga Khaira.
"Sory, rapatnya telat gara-gara orang ini," tunjuk Jenna kepada Dafa.
"Gara-gara lo, lah!"
Bukan mereka namanya jika tidak saling tunjuk dan saling menyalahkan seperti itu.
"Masih mau terus berantem?" tanya Khaira, sekilas melirik ke arah mereka berdua.
Jenna dan Dafa serentak menggelengkan kepala mereka. "Ngga, Khai!" jawab mereka bersamaan.
"Kita mulai rapatnya sekarang, bisa, kan?" tanya Khaira, meyakinkan kondisi kedua temannya itu.
"Bisa!" jawab Jenna dan Dafa.
Lagi-lagi mereka kompak dalam menjawab pertanyaan kali ini.
Galvin, sebagai ketua OSIS membuka rapat di depan teman-temannya dengan percaya diri.
Sedangkan Khaira, sebagai sekretaris OSIS yang cerdas dan tangkas, duduk melingkar di antara Galvin dan Jenna, dan di sebrangnya ada Dafa.
Galvin mulai membuka rapat dengan menyampaikan agenda yang akan dibahas. Suara Galvin yang lantang dan jelas menunjukkan kualitas kepemimpinannya.
Khaira mencatat dengan teliti setiap poin yang disampaikan oleh Galvin, tak ingin ada yang terlewat.
Selama rapat berlangsung, anggota inti OSIS saling berbicara dan menyampaikan pendapat mereka tentang berbagai topik, mulai dari kegiatan sekolah yang akan datang hingga masalah yang dihadapi oleh anggota OSIS.
Wajah Khaira tampak serius saat mencatat, namun dia tetap bisa tersenyum ketika melihat teman-temannya berdiskusi dengan antusias.
Sesekali, dia mengangkat kepalanya dari catatannya untuk mengajukan pendapat atau menanggapi pertanyaan dari teman-temannyang lain.
Setelah rapat berlangsung selama beberapa jam, Galvin mengakhiri rapat dengan mengucapkan terima kasih kepada anggota inti yang hadir.
Dia berharap kegiatan yang akan datang dapat berjalan dengan lancar berkat kerja keras mereka bersama.
Khaira pun menutup catatannya, merasa puas dengan hasil rapat kali ini.
Mereka semua kemudian beranjak meninggalkan ruang
OSIS. Kebersamaan dan kerja sama yang solid menjadi kunci keberhasilan mereka.
Mereka selalu serius selama rapat berlangsung. Bahkan Jenna dan Dafa melupakan pertengkaran mereka sebelumnya, begitu forum rapat sudah dibuka, hingga forum rapat itu ditutup kembali, barulah Jenna dan Dafa melanjutkan kembali pertengkaran mereka.
Tring!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Jenna. Jenna langsung membuka pesan itu, karena kebetulan mereka ber-empat sedang berjalan menuju parkiran sekolah untuk pulang.
"Wah, gila! Gede banget," ucap Jenna tiba-tiba, dengan sangat antusias.
Hingga Khaira, Galvin, dan juga Dafa melihat ke arahnya.
"Kenapa, Jenn?" tanya Khaira, sambil melirik ke arah Jenna.
"Lo harus liat ini, Khai!"
Jenna menunjukkan pesan di ponselnya kepada Khaira, dengan penuh semangat.
Tidak hanya kepada Khaira saja, dia juga menunjukkan itu kepada Galvin dan juga Dafa.
"Lo mau ikut?" tanya Dafa kepada Jenna, sambil mengembalikan ponsel itu kepada Jenna.
"Gue mau, tapi ini dadakan banget. Gue belum ada persiapan apa-apa." Jenna menghembus napasnya dengan pelan.
"Memangnya kapan acaranya?" tanya Khaira.
"Malam ini," jawab Jenna.
"Kamu mau ikutan? Balapan kaya gitu bahaya banget, Jenn." Khaira mengutarakan kekhawatirannya.
Jenna mengangguk sambil tersenyum simpul kepada Khaira. "Ini hobi gue, Khai. Gue udah biasa balapan. Jadi lo ga perlu khawatir," ucapnya.
Dia tahu jika Khaira mengkhawatirkannya dan Khaira selalu seperti itu setiap kali dia mengendarai motornya.
"Itu balapan campuran?" tanya Galvin, ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka.
"Hm. Lo tau?" Jenna kembali bertanya.
Galvin mengangguk samar. "Gue sempat denger informasi itu."
"Gue juga sempat denger. Yang gue tahu, balapan campuran kaya gitu bahaya. Karena nanti lo bakal lawan cowo di sana," sambung Dafa.
"Sebelumnya gue juga pernah lawan cowo," ucap Jenna. Hal ini bukanlah pertama kali untuknya.
"Tapi balapan itu kaya ga punya aturan. Bahkan bisa jadi banyak banget kecurangan," timpal Dafa.
Jenna menatap Dafa dengan wajah kecewa, "Tapi, hadiahnya gede banget, Daf. Gue bisa modifikasi motor gue dengan hadiah itu."
Khaira, yang mendengar percakapan mereka, segera menyela, "Jenna, kamu tahu itu bahaya, kan. Jangan pertaruhkan keselamatan kamu cuma demi balapan itu."
Jenna langsung terdiam. Dia tidak menduga jika kata-kata itu keluar dari mulut Khaira.
"Bisa-bisanya lo ngomong kaya gitu, Khai. Bukannya dukung gue, malah runtuhin semangat gue," ucap Jenna, dengan pelan dan penuh penekanan.
"Aku khawatir sama kamu. Bukan mau runtuhin semangat kamu," ucap Khaira, membenarkan.
"Khawatir bukan berarti ga ngedukung. Dan lo itu ga ngedukung gue, Khai." Jenna memasang wajah kecewa pada Khaira.
"Apa yang Khaira bilang itu bener. Kita cuma ga mau lo kenapa-napa," timpal Dafa.
Jenna tertawa sinis. "Sejak kapan lo khawatir sama gue?" tanyanya pada Dafa.
"Udahlah. Percuma gue di sini. Ga ada satu pun dari kalian yang dukung gue," ucap Jenna, sambil melangkah menjauhi mereka, dan menuju motor besarnya.
"Jenna, tunggu." Khaira menahan Jenna, dengan menggenggam pergelangan tangannya.
"Kamu salah paham sama kita. Kita bukan ga ngedukung kamu," ucapnya, mencoba meluruskan kesalah pahaman itu.
"Lepasin!" Jenna sedikit membentak dan menepis genggaman tangan Khaira dengan kasar.
Dia menatap satu per satu wajah mereka, kemudian pergi dari sana, meninggalkan parkiran lebih dulu, menggunakan motor besarnya.