NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26- Pikiran Yang Ramai

Malam hari selalu menjadi musuh terbesar bagi orang-orang yang menyimpan luka. Bagi Alea, kegelapan malam bukan lagi waktu untuk beristirahat, melainkan panggung bagi semua ketakutannya untuk menari-nari dengan bebas.

Ia baru saja meletakkan tasnya di atas meja makan saat ponselnya bergetar di saku celana. Nama Dinda muncul di layar. Alea menghela napas panjang, menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.

“Halo, Din?” suara Alea terdengar serak, hampir habis.

“Al, kamu sudah sampai rumah? Suaramu kok begitu? Jangan bilang kamu menangis lagi sepanjang jalan pulang” tanya Dinda di seberang sana, suaranya penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.

Alea mencoba berdeham, berusaha menormalkan suaranya yang parau. “Tidak, Din. Aku cuma capek saja. Seharian di gudang tadi kan debunya banyak, tenggorokanku jadi gatal.”

“Jangan bohong padaku, Alea. Aku ini sudah mengenalmu bertahun-tahun,” cecar Dinda tegas. ”Dengar ya, aku baru saja mencoba mengirim pesan ke grup komunitas pembaca, barangkali ada yang kenal orang kantor Aksa atau tahu dia di mana, tapi nihil. Cowok itu benar-benar seperti hantu kalau sudah menghilang.”

Alea menarik kursi kayu di dapur, duduk dengan lemas seolah tulang-tulangnya sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. “Sudahlah, Din. Tidak perlu dicari. Tidak perlu repot-repot.”

“Kenapa tidak perlu? Dia sudah membuatmu seperti ini!”

“Karena... aku ini siapa sampai harus mencari tahu dia di mana?" bisik Alea, matanya menatap kosong ke arah dinding putih.

“Aku sama dia kan tidak ada hubungan apa-apa. Kami tidak pacaran, kami tidak punya komitmen. Dia cuma pelanggan yang kebetulan sering mampir.”

“Ya Tuhan, Alea! Berhenti menggunakan kalimat tidak ada hubungan itu sebagai tameng!” Dinda terdengar sangat gemas.

”Memang kalian tidak ada status, tapi bukan berarti dia boleh menghilang begitu saja setelah membuatmu merasa nyaman, kan? Itu namanya tidak punya etika! Dia yang menawarkan bantuan, dia yang buat janji, lalu dia yang kabur? Itu pengecut!”

“Mungkin dia tidak bermaksud begitu, Din,” sahut Alea pelan, meski hatinya perih mengatakan itu.

“Mungkin dia baru sadar kalau aku ini terlalu merepotkan. Kamu lihat sendiri kan betapa berantakannya aku? Mungkin setelah beberapa hari dekat, dia sadar kalau mengurusi perempuan trauma sepertiku itu melelahkan. Dia mungkin hanya ingin hidup yang tenang, tanpa drama masa lalu orang lain.”

“Jangan mulai menyalahkan dirimu sendiri, Al! Berhenti memposisikan dirimu sebagai pihak yang salah!” potong Dinda.

“Dengar, kalau dia laki-laki yang punya integritas, dia tidak akan meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun. Sesibuk apa pun dia, satu pesan singkat itu tidak akan memakan waktu satu menit. Dia tidak kirim pesan karena dia memilih untuk tidak peduli. Titik.”

Kalimat Dinda barusan seperti pisau yang mengiris sisa-sisa harapan Alea. “Iya, kamu benar. Dia memang tidak peduli. Rasanya persis seperti waktu Hanif mulai menjauh dulu, Din. Aku ingat sekali rasanya. Awalnya perhatian, lalu mulai jarang memberi kabar, lalu tiba-tiba menghilang.”

“Al, jangan ke sana lagi. Jangan biarkan memori si brengsek Hanif itu merusak malammu.”

“Tapi bagaimana bisa aku tidak ingat, Din? Ini dejavu!” Alea mulai terisak. “Polanya identik! Janji manis soal hal-hal kecil, perhatian yang membuatku merasa terlindungi, lalu... boom. Hilang tanpa jejak. Aku seperti dipaksa menonton film horor yang sama untuk kedua kalinya. Dan bagian paling bodohnya? Aku tetap duduk di kursi penonton, berharap akhir ceritanya bakal beda, padahal aku tahu pemeran utamanya bakal pergi juga.”

Dinda terdiam cukup lama di seberang telepon. “Al, kamu mau aku ke sana? Kita beli martabak atau apa saja supaya pikiranmu tidak penuh? Kita tonton film komedi sampai pagi kalau perlu.”

Alea tersenyum pahit, menghapus air mata dengan punggung tangannya. “Tidak usah, Din. Terima kasih. Aku mau coba tidur saja. Mungkin besok pagi semuanya terasa lebih masuk akal.”

“Janji ya? Jangan overthinking terus. Aksa tidak layak mendapatkan air matamu kalau dia saja tidak menganggapmu cukup penting untuk diberi kabar.”

“Iya, Din. Terima kasih ya sudah menelepon.”

Setelah menutup telepon, suasana apartemen mungil itu terasa semakin sunyi. Alea berjalan menuju kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap, wajahnya pucat. Ia menatap dirinya sendiri dengan tatapan benci.

“Kenapa kamu bodoh sekali, Alea?” tanyanya pada pantulan di cermin. “Kenapa kamu membiarkan dirimu jatuh lagi? Kamu pikir dia beda hanya karena dia memberimu perhatian kecil? Dia cuma orang asing!”

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap rasa dingin itu bisa membekukan hatinya yang terasa terbakar. Ia berjalan menuju dapur, berniat menyeduh teh untuk menenangkan sarafnya. Namun, saat tangannya hendak mengambil kaleng teh, ia justru melihat kaleng kopi di rak bawah.

“Jangan terlalu banyak minum kopi kalau sedang stres, nanti lambungmu sakit lagi. Kamu itu sudah pucat, jangan ditambah sakit.”

Suara Aksa tiba-tiba berputar di kepalanya. Begitu nyata, begitu tenang, hingga Alea refleks menoleh ke pintu dapur, berharap pria itu berdiri di sana dengan wajah datarnya. Tapi nihil. Hanya ada bayangan kulkas yang mendengung dan kesunyian yang mencekam.

“Kenapa kamu harus masuk ke kepalaku sedalam ini, Aksa?” gumam Alea pada udara kosong.

“Kenapa kamu harus buat aku percaya kalau kamu tempat bersandar yang aman, padahal akhirnya kamu sama saja seperti yang lain? Kamu membuatku merasa spesial hanya untuk menjatuhkanku lebih keras.”

Ia kemudian tertawa getir, tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada isak tangis. “Dan kamu, Alea... kamu benar-benar tidak belajar. Kamu trauma karena Hanif, tapi kamu membuka pintu untuk orang baru dengan kunci yang sama. Sekarang rasakan sakitnya. Sakitnya jadi dobel, kan?”

Pikiran Alea mulai ramai bersahut-sahutan seperti pasar di pagi hari. Satu sisi logikanya mencoba membela Aksa, mungkin dia kecelakaan, mungkin ponselnya hilang, mungkin ada masalah keluarga yang gawat. Namun sisi traumanya berteriak lebih keras, dia bosan padamu, kamu tidak cukup penting, dia sudah menemukan orang lain yang tidak punya beban masa lalu.

Rasa sakit hati yang double ini membuatnya sesak napas. Ia merasa dikhianati oleh Aksa, sekaligus merasa dikhianati oleh dirinya sendiri yang ternyata masih begitu rapuh dan mudah percaya.

Malam itu, Alea tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata sambil terus berdebat dengan pikirannya sendiri di bawah selimut. Setiap kali matanya terpejam, bayangan tumpukan kardus di gudang muncul, mengingatkannya pada janji yang diingkari dan harapan yang kini sudah ia padamkan dengan paksa.

Ia bangun pagi itu dengan tubuh yang terasa seperti remuk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini, tapi ia sudah membulatkan tekad: Jika Aksa muncul hari ini atau kapan pun, ia tidak akan pernah membiarkan pria itu masuk lagi. Cukup sudah.

1
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ada baiknya kadang lepasin aja Al. Siapa tahu dia memang gak ada otak
Gaza Nesia
playing victimmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!