Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 – Garis Suhu 37,2
---
Pagi itu Arka bangun dengan kepala penuh kapas. Kotak P3K di kamar mandi berisik waktu dia cari termometer; termometer digital butuh tiga detik lebih lama dari biasanya untuk berbunyi, seolah ikut ragu. Angka 37,2 muncul—bukan demam, tapi bukan sehat juga. Dia menenggak air keran, menelan parasetamol separuh dosis, lalu memakai kemeja paling netral (biru-abu yang tidak menyerap keringat secara visual). Investor minta check-in pukul 09.00 lewat Zoom, wajahnya selalu muncul dari sudut atas layar seperti kepala sekolah yang menjenguk. Arka tidak ingin bolos minggu kelima. Di Melbourne, rekam jejak terbentuk dari hal-hal kecil: balasan email jam 23.12, kehadiran di slot pagi meski suara serak, toleransi pada rasa tidak enak badan yang disembunyikan rapi di balik vokal stabil.
Alya memicingkan mata saat Arka menyentuh keningnya sendiri, kebiasaan mencari suhu tanpa alat. “Kamu yakin?”
Kalimat itu melompat dari bibirnya sebelum sempat dipoles jadi lebih lembut. Arka mengangguk, mengancingkan manset, dan tersenyum tipis. “Kalau aku bolos, mereka rekam.”
Jawaban itu membuat Alya menahan argumen. Ada versi dirinya yang dulu—waktu hubungan mereka gagal sebab waktu berlawanan—yang akan menyiapkan sup jahe, menutup tirai, melingkari sofa dengan selimut, dan menganggap merawat berarti menahan orang yang dicintai supaya tidak jatuh di depan publik. Versi sekarang hanya berjalan ke meja, merobek sticky note kuning, menulis *obat flu + madu* dengan huruf kapital supaya jelas dari jauh, lalu menempelkannya di laci tempat Arka menyimpan charger. Di pinggir note, ia menggambar wajah tawa sederhana: dua titik, satu lengkung. Arka memotret note itu dalam lift lobi, mengirim ke chat mereka dengan caption _Dokter pribadi saya._ Alya membalas emoji jempol. Lima menit kemudian ia masuk lift kantor, sadar ia sedikit mengecewakan diri sendiri karena tidak memaksa Arka istirahat. Tapi dia juga sadar: menahan orang yang dicintai agar terlihat kuat bukan janji yang mereka buat.
Sampai siang, “dokter pribadi” hanya sempat balas emoji sekali—Alya terjebak rapat daring di ruang kolaborasi lantai 7. Vendor logistik lagi-lagi ngaret; angka emisi kuartal bergeser 0,4% karena kontainer dialihkan lewat pelabuhan alternatif yang lebih jauh. Regional head minta walk-through di depan tim Selandia Baru. Alya bicara dengan tempo hati-hati, mengakui deviasi tanpa merengek, lalu mengusulkan penyesuaian rute minggu depan ketika slot kapal kembali normal. Salah satu manajer senior di Auckland mengangguk. “Chief, kalau kamu butuh tangan ekstra, bilang.” Panggilan “chief” masih terdengar guyonan, tapi Alya menerimanya sebagai tes yang lulus—ia tidak mengelak, tidak menyajikan alibi. Kemenangan kecil: ia merasa profesional, bukan menawan.
Jam 14.36 notifikasi Arka muncul: _mau pulang, kepala muter._ Tidak ada emotikon, yang baginya setara bendera putih. Alya meminta izin lima menit ke rekan, turun ke lobby, memesan Uber—baru seminggu di sini dan dia masih salah sebut GoCar—lalu mengetik pesan pada co-lead: *keluar 20 menit, back-to-back on email*. Di apartemen, ia menemukan Arka duduk di lantai dengan punggung menempel dinding, laptop tertutup, sepatu belum dilepas. “Aku nggak muntah, aku nggak dramatis, aku cuma capek,” ujarnya, suara serak. Alya meletakkan tas, duduk di sampingnya, tidak bertanya _kenapa berangkat tadi_. Sebaliknya, seperti ia pernah berlatih: “Mau dibikinin telur atau mau kita telepon klinik?” Arka memilih telur. Pilihan konkret: bisa diukur, diselesaikan.
Selagi wajan panas, Alya menyeka keringat tipis di pelipis Arka dengan tisu. Gerakan itu biasa—dulu justru Arka yang selalu melakukannya pada Alya waktu presentasi besar—tapi dulu Alya sering menghalang: _aku bisa sendiri_. Hari ini Arka diam, menerima. Di meja, Arka berkata pelan, “Aku takut jadi beban.” Alya mematikan api sebentar supaya kuning telur tidak kelewat kering, menatap mata Arka. “Kamu bukan beban. Tapi kalau besok masih berat, aku yang telepon investor dan bilang co-founder kami ambil sick leave. Mereka bisa rekam itu juga.” Arka tertawa tipis, lebih napas daripada suara. “Galak.”
Alya memiringkan piring ke meja, menyodorkan sendok. “Konsisten.”
Sore melunak. Arka tertidur di sofa dengan kepala di paha Alya; Alya mengetik laporan sambil sesekali melirik dada Arka naik-turun. Di kepala Alya berputar daftar: email Acceptance yang ia kirim tujuh hari setelah lamaran, desakan untuk terbukti, janji pada Arka agar tidak sendiri, ingatan ibunya di video call berminggu lalu: _Jangan bawa rasa bersalah_. Alya sadar, pernikahan bukan cincin saja, tapi izin untuk lemah di ruang yang sama. Pukul 19.00 Arka terbangun, meminta maaf karena “acara kencan masak kita gagal”. Alya menggeleng. “Justru berhasil. Kita uji janji.” Mereka memilih film tanpa subtitle yang membuat keduanya menebak plot, ketawa di bagian salah, saling menunjuk layar. Alya menyusun bantal di belakang punggung Arka supaya tegak tidak melelahkan leher. Saat kredit berjalan, Arka menatap cincin di jari Alya yang terangkat waktu ia meraih selimut. “Takut?” ia bertanya. “Selalu,” sahut Alya, jujur. “Kita?” “Kita.”
Di sela kredit film, telepon Arka bergetar. Foto ibunya muncul; Arka mengangkat, memasang speaker rendah. Ibunya bercerita tentang tukang pos yang mengantar paket ke alamat lama, tentang kebun kecil yang lagi diserang semut, tanpa menyebut jatuh di dapur yang jadi alasan video call minggu lalu. Alya berdiri, membuat teh, dua mug. Waktu Arka selesai, Alya menyodorkan mug, lalu berkata pada ibu Arka di speaker: “Bu, kalau Arka nggak balas chat besok pagi, itu karena dia tidur, bukan mogok.” Ibunya tertawa. “Jangan manjain.” Alya menatap Arka. “Konsisten,” katanya lagi, dan ibunya di seberang benua mengucap “hati-hati” yang terdengar seperti restu kedua.
Lagu—maksudnya film—sudah lama habis. Alya menemukan amplop obat flu di laci, ternyata voucher diskon dari apotek yang tidak pernah ia pakai; ia menempelkannya di samping sticky note dokter pribadi. Peringatan kecil bahwa merawat kadang soal detail sepele, bukan pidato.
Jam 23.10, Arka kembali mengukur suhu: 36,9. Ia melapor ke Alya seperti pembacaan instrumen. Alya mematikan lampu utama, menyisakan lentera kecil. Di kegelapan setengah, Arka bertanya, “Besok aku harus masuk? Investor…” Alya menyentuh punggung tangannya. “Besok kita lihat suhu jam tujuh. Sekarang tidur.” Tidak ada janji heroik, hanya rencana.
Di luar, gerimis tipis mengetuk jendela. Di dalam apartemen kecil, Alya belajar bahwa mencintai orang yang dipilih berarti menyiapkan telur, menyimpan saran sampai diminta, dan tetap duduk di lantai—bukan untuk memperbaiki segalanya malam itu, tapi agar Arka tahu ia tidak kemana-mana. Komitmen mereka belum diuji dunia; baru diuji flu ringan dan investor cerewet. Tapi untuk malam ini, itu cukup.
_.
Bantu improve ya kalau ada kesalahan
Izinn
ahh pria solo itu lagii🤣🤣