Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 Serikat Dagang Gu
Lu Shu sejujurnya sudah tau, tentang sesuatu yang aneh pada Ibu tirinya. Semenjak dirinya memergoki Ibu Wei yang terus menggumamkan berbagai hal aneh, juga tentang bagaimana tiba-tiba makanan muncul di depan ibu Wei.
Sejujurnya Lu Shu tak peduli dengan semua itu, entah itu keanehan atau keajaiban, hanya satu hal yang Lu Shu syukuri, yaitu tentang perubahan sikap Ibu Wei yang mulai memperhatikan mereka.
"Kita tidak tau alasan kenapa Ibu Wei menjadi sangat baik dan perhatian pada kita. Kita hanya akan mengikuti kemana arus takdir membawa kita.." ujar Lu Shu sambil membelai kepala Lu Bao.
Lu Xue mengangguk, "Betul. Aku sangat bersyukur ibu Wei akhirnya berubah.. tak sia-sia doaku selama ini yang berharap hidup kita berubah menjadi lebih layak." timpal Lu Xue.
"Jadi mulai sekarang, kita akan tutup mata dan pura-pura tak tau apa yang dilakukan ibu Wei, selagi itu untuk kebaikan kita.."
Di sisi lain, Wei Ying kini sudah menyelesaikan mengemas rempah-rempah itu agar terlihat lebih familiar dengan dunia ini.
Malam sudah mulai datang dan saat anak-anak kembali dari mencuci ikannya, api unggun sudah menyala dan mereka makan bersama di sertai canda tawa yang hangat.
.
.
Suara ramai dan riuh membuat Lu Xue terkesima. Hangzhou jauh lebih ramai dari pada kota dan desa yang selama ini ia singgahi selama 2 bulan perjalanan ini.
Selain Chang'an, kota Hangzhou menjadi kota kedua yang ramai dan menjadi pusat dari perdagangan. Jika Chang'an menjadi pusat dari kekuasaan kekaisaran, maka Hangzhou adalah pusat dari kekuasaan kedua, yakni aliansi murim.
"Ibu! Setelah ini kita kemana?" tanya Lu Shu.
"Kita akan melapor dulu ke tempat administrasi wilayah ini." ujar Wei Ying.
Lalu selama Wei Ying mengurus ini dan itu, ia meminta Lu Shu untuk mengawasi kedua adiknya saat dirinya tidak ada.
"Kalian jangan pergi terlalu jauh ya.." pesan Wei Ying pada ketiga anaknya.
"Siap, Bu!" sahut ketiganya kompak.
Butuh beberapa waktu untuk mengisi data identitas, Wei Ying juga sempat menanyakan harus kemana jika hendak menanyakan perihal tanah dan bangunan. Petugas administrasi wilayah HangZhou juga menunjukan ke mana Wei Ying harus pergi, sangat ramah.
Setelah semua selesai, Wei Ying mencari anak-anak yang sedang berdiri di depan sebuah stand jajanan.
"Kami beli 3." ujar Wei Ying tiba-tiba membuat ketiga anak itu reflek menoleh dengan tatapan terkejut.
Wei Ying tersenyum, lalu menyerahkan ketiga permen buah yang di baluri gula.
"Ibu.. ini sangat enak!" seru Lu Bao.
"Ini namanya Tanghulu..." sahut Wei Ying.
Mereka berjalan melewati berbagai stan makanan dan juga berbagai pernak-pernik atau aksesoris.
Hingga akhirnya Wei Ying tiba di sebuah bangunan dengan tulisan Serikat dagang Gu.
"Anak-anak, kita mampir dulu sebentar ke sini.." ujar Wei Ying.Tapi saat hendak masuk, ia di hentikan oleh dua penjaga.
"Ada keperluan apa anda kemari?"
"Saya di beritahu jika Serikat dagang ini menjual rempah-rempah dan biji-bijian juga."
"Betul. Lalu apa tujuan anda?"
Wei Ying lalu mengeluarkan dua tabung bambu yang berisi gula putih dan garam. "Apakah Serikat dagang ini tertarik untuk membeli ini?" tanya Wei Ying.
Penjaga itu membuka tabung bambu itu dan mengernyitkan alisnya.
"Apa ini?" tanyanya.
"Yang ini garam dan yang ini gula.."
Penjaga itu menatap ke arah Wei Ying dengan tatapan menyipit, tiba-tiba ia berseru dengan nada nyaring. "Kau pikir aku bodoh! Garam dan gula kau bilang? Dasar penipu!"
Wei Ying terkejut yang mana membuat bola matanya melotot dengan mulut menganga. Anak-anak yang mendengar suara bentakan dari penjaga itu mulai mundur dan sembunyi di belakang tubuh Wei Ying.
"Kalau begitu kau memang bodoh! Itu kan memang gula dan garam..." sahut Wei Ying.
Dua pria penjaga itu menggertakan giginya, "Kau kita sudah berapa banyak aku melihat orang seperti mu! Datang dan mengatakan membawa barang bagus, tapi nyatanya hanya sampah dan penipu!" seru mereka.
Wei Ying mulai terpancing emosi, "Aku tarik ucapan ku jika kalian itu bodoh! Kalian bukan bodoh! Tapi tolol!" seru Wei Ying sambil menunjuk muka penjaga itu.
Pria itu merasa terhina dan harga dirinya terluka, ia hendak mengangkat tangannya saat sebuah suara mengintrupsi mereka.
"Ada apa ribut-ribut di sini?!"
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭