Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
...****************...
Markas besar Red Devils malam itu dipenuhi ketegangan.
Di ruang kerja luas dengan dinding kayu hitam, Alessandro Glusen berdiri di depan meja kerjanya dengan wajah memerah karena amarah.
"Brak!"
Ia menyapu semua dokumen dari meja hingga berhamburan ke lantai.
"Brengsek!!"
Salah satu anak buahnya menundukkan kepala dengan tubuh gemetar.
"Bos.., kami benar-benar tidak menyangka gudang itu sudah dipasangi bom sejak awal."
Alessandro menendang kursi hingga terlempar.
"Bagaimana bisa kalian tidak tahu?!" bentaknya keras.
"Penjagaan di sana puluhan orang!"
"Apakah kalian semua buta?!"
Makian terus terucap di mulut Alessandro.
Ruangan itu sunyi. Tak ada yang berani menjawab.
Alessandro mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Micel bagaimana?" dengan sekuat tenaga menenangkan emosinya, Alessandro akhirnya bertanya mengenai keadaan putranya.
Anak buahnya menelan ludah.
"Dia.. masih hidup bos."
Alessandro menoleh cepat.
"Masih hidup, setidaknya aku tidak terlampau malu jika musuhku berhasil membunuh Micel" ucapan Alessandro seakan lebih khawatir dengan reputasi dan harga dirinya ketimbang nyawa anaknya sendiri.
"Tapi kondisinya kritis. Dokter mengatakan luka bakarnya parah." sahut sang asisten.
Beberapa detik ruangan itu hening.
Kemudian Alessandro tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar mengerikan.
"Mr A.., ternyata kau cukup berani rupanya."
Ia menyandarkan tubuhnya di meja dengan mata penuh kebencian.
"Awalnya kupikir kau hanya hacker bayaran."
"Orang yang hanya menyerang dari balik komputer."
Alessandro menatap layar monitor yang menampilkan berita kebakaran gudang senjata.
"Tapi ternyata aku salah."
Matanya menyipit.
"Kau bertindak seperti seorang mafia."
"Dan itu membuatmu jauh lebih berbahaya."
Ia memandang anak buahnya dengan wajah dingin.
"Naikkan harga buronan Mr A."
Anak buahnya terkejut.
"Bos..?"
"Naikkan menjadi dua puluh juta dolar."
Ruangan langsung dipenuhi bisikan kaget.
Alessandro berkata dengan suara rendah.
"Aku ingin seluruh dunia bawah memburunya."
"Lihat.. berapa lama dia bisa bersembunyi."
Sementara itu di tempat yang sangat berbeda.
Di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit yang menjadi markas Revano Ace Draco.
Suasana di ruang kerja besar itu jauh lebih santai.
Seorang wanita duduk di sofa kulit mahal.
Ia sedang memegang hamburger besar.
"Kriuk.."
Alicia menggigit hamburger itu dengan santai.
Saus tomat sedikit menempel di ujung bibirnya.
Sementara di hadapannya duduk seorang pria dengan setelan jas hitam rapi.
Revano Ace Draco.
Aura pria itu dingin dan berwibawa.
Di belakangnya berdiri Brian Bennber dengan sikap formal.
Brian diam-diam memperhatikan Alicia dengan ekspresi aneh.
Wanita itu memakai crop top hitam dan celana jeans sederhana.
Sangat kontras dengan ruangan mewah bernilai jutaan dolar itu.
Apalagi tingkah nya yang bar-bar seperti tidak terdidik menurutnya.
Dia membawa makanan dari pinggir jalan yang entah apakah itu higenis.
Alicia menatap Revano sambil mengunyah.
"Kau tidak keberatan kan aku makan?"
Revano menjawab santai.
"Silakan."
Alicia mengangguk.
"Bagus.., kau minta bertemu pagi-pagi sekali aku jadi tidak sarapan."
Ia menggigit lagi hamburgernya dengan lahapnya.
Brian tidak tahan akhirnya berbicara.
"Nona Alicia..,"
Alicia menoleh.
"Ya?"
Brian berdehem.
"Ini ruang kerja Tuan Revano."
Alicia menatap sekeliling ruangan.
"Lalu?"
Brian terdiam beberapa detik.
"Maksud saya.."
"Biasanya orang yang datang ke sini, sedikit lebih formal."
Alicia menelan makanannya lalu mengangkat bahu.
"Aku datang untuk bekerja sama, lagi pula salah siapa yang menyuruh ku datang ke tempat ini..."
" Lagi pula aku datang bukan untuk fashion show."
Brian langsung kehabisan kata-kata.
Revano tiba-tiba tersenyum tipis.
Alicia melanjutkan makan dengan santai.
Beberapa detik kemudian ia berkata.
"Gudang senjata Alessandro sudah hancur."
Brian langsung menoleh.
Revano hanya bersandar di kursinya.
"Aku sudah mendengar semua laporan dari Brian."
Alicia mengangguk.
"Bagus, bagaimana cara ku bekerja.., cukup rapi kan."
Ia membuka bungkus hamburger kedua.
Brian hampir tidak percaya.
" Badannya saja yang kecil tapi nafsu makan nya seperti Sapi"
Wanita ini membicarakan kehancuran gudang senjata mafia seperti sedang membicarakan cuaca.
Revano memperhatikan Alicia dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Dalam hidupnya,ia sudah melihat banyak wanita.
Model,Sosialita arauPutri konglomerat.
Semuanya datang dengan tujuan yang sama.
Uang,Kekuasaan atau Nama besar Draco.
Tapi wanita di depannya berbeda.
Alicia bahkan tidak terlihat peduli siapa dirinya.
Revano akhirnya berkata.
"Kau benar-benar berani, dan ku akui cara kerja mu cukup rapi seperti seorang veteran."
Alicia mengangkat alis.
"Hanya itu?"
Revano tersenyum kecil.
"Kau menghancurkan gudang utama Red Devils."
"Dan membuat putra Alessandro hampir mati."
Alicia mengangkat bahu.
"Dia masih hidup." tanyanya santai.
"Sayang sekali, padahal aku sudah memesankan sepetak tanah kuburan untuk Dia dan sudah aku kirimkan surat administrasinya pada ayahnya Alessandro."
Brian hampir tersedak mendengar kalimat itu.
" Sangat kurang ajar.."
Revano tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama.
Ia merasa terhibur.
"Dan apa langkahmu berikutnya?"
Alicia menyeka tangannya dengan tisu.
Matanya yang tajam menatap Revano.
"Aku akan menghancurkan Red Devils."
"Keping demi keping."
Brian mengerutkan kening.
"Sendirian?"
Alicia tersenyum tipis.
"Makanya aku di sini, bagaimana dengan tawaran mu mengenai rahasia organisasi itu, aku perlu tau semuanya.."
Revano mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
Tatapannya penuh ketertarikan.
"Kerja sama kita sepertinya akan sangat menarik, baiklah Brian akan mengirim semuanya pada mu, tapi....,"
Alicia berdiri dari sofa sambil mengambil minuman.
Ia meminum seteguk lalu berkata santai.
"Jangan salah paham, aku bekerja untuk keuntungan ku yang utama."
Revano mengangkat alis.
"Aku tidak bekerja untukmu,"
Alicia menunjuk dirinya sendiri.
"Aku bekerja untuk dendamku dan keinginan ku."
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.
Brian akhirnya mengerti.
Wanita ini bukan hanya hacker tapi juga penjahat seperti mereka.
Dia adalah badai yang sedang berjalan.
Revano tersenyum pelan sambil menatap Alicia.
" Ada hal lain yang harus kamu ketahui, dan ini menyangkut kematian kedua orang tua mu."
Dan untuk pertama kalinya Alicia terdiam dan menatap tajam kearah Revano .
" Apa maksud mu..?" ucapnya dengan dingin.
" Sesuatu yang mungkin akan membuat mu mengerti mengapa Red Devils membunuh kedua orangtua mu, bukan semata-mata hanya karena dibayar oleh Miranda Stone, tapi..,"
" Tapi apa..!!, jangan bertele-tele Revano ..!!, atau..!" tanpa aba-aba Alicia mengeluarkan pistol kecil yang selalu dibawa olehnya.
Brian terkejut karena untuk pertama kalinya ada orang yang berhasil menyusupkan senjata api setelah digeledah di resepsionis.
Brian mencoba menyergap Alicia yang mengarahkan moncong pistolnya ke arah Revano .
Namun Revano langsung menghentikan tindakan Brian Dengan mengangkat tangan nya.
Alicia masih menodongkan senjata ke arah Revano .
" Apa maksud mu dengan kebenaran dua puluh tahun yang lalu.., apa ada kelompok mafia lain yang terlibat Tuan Revano Ace Draco." ucapnya dengan penuh penekanan.
Tapi Revano hanya tersenyum miring melihat reaksi Alicia .
Tanpa berbicara Revano mengeluarkan flashdisk dari kantong jas nya.
" Lihatlah sendiri.., ini adalah bukti rahasia yang diketahui sendiri dari mata-mata ku yang menyusup ke dalam organisasi itu sepuluh tahun yang lalu.."
" Dan pikiran sendiri, kau pasti mengerti seberapa bahayanya ayahmu itu."
Ucapan Revano membuat Alicia geram, karena baginya ayahnya adalah pria yang sangat baik dan lembut.
...****************...