Steven Grayson Addison seorang pengusaha muda yang sedang naik daun saat ini , hingga namanya di kenal di berbagai macam negara , tapi di balik kesuksesan nya itu Steven tidak mempunyai niat sedikit pun untuk menikah karena ia masih mencintai sosok wanita yang berasal dari masa lalunya .
hingga ia bertemu dengan seorang wanita cantik di sebuah club malam , wanita itu sangat membutuhkan bantuan karena di jebak oleh seseorang " aku akan membantumu tapi kau harus menikah dengan ku " ucap Steven kepada seorang wanita cantik yang terlihat sangat gelisah itu
" hhhmmm .... baik lah tuan ... aku menerima tawaran mu tapi tolong aku .... saat ini aku di jebak " ucap wanita itu penuh dengan permohonan tanpa berpikir sedikit pun, Steven tersenyum tipis seraya ia menatap wajah cantik wanita itu .
kira-kira seperti apa kelanjutan kisahnya ..!? yang penasaran mampir ya guysss 🤗🥰 .
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Makondo
.
.
" Oma tenang lah dulu , jangan seperti ini " Pricilla meraih tongkat Omanya itu , sedangkan Nyonya Eudora sudah sangat panik ia sangat takut Nyonya Isabella tiba-tiba memukul Steven dengan tongkatnya .
" ma ... jangan marah-marah seperti ini sebaiknya mama duduk dulu " nyonya Eudora menghampiri mertuanya itu seraya mengelus punggung nya dengan lembut .
Nyonya Isabella menghela napasnya dengan cukup kasar setelah nya ia duduk di sofa dengan gaya anggun nya .
nyonya Eudora dan juga Pricilla bernapas dengan lengah , setelah nya ketiganya kembali duduk di sofa .
" kau berasal dari keluarga mana. ? Apa pekerjaan mu. ? " tanya nyonya Isabella kepada Steven .
Steven menatap wanita tua itu dengan wajah datarnya " saya tidak lah sekaya keluarga anda Nyonya dan saya hanya memiliki perusahaan kecil di negara ini " jelas Steven masih dengan wajah datar nya
Pricilla yang mendengar penjelasan dari pria itu melotot kan matanya , kenapa Steven harus berbohong tentang kekayaan yang di miliki nya , kenapa ia tidak langsung jujur saja .
Tak
Nyonya Isabella menghantam ujung tongkat nya di atas lantai marmer dengan sangat kuat , ia menatap tajam Steven " tinggal kan cucu saya " ucap nya
" Oma .... " Pricilla berdiri seraya menatap Oma nya itu
Nyonya Isabella hanya diam saja lalu wanita tua itu kembali berbicara " kau tau kan seperti apa keluarga Geoffrey ini , harta kami tidak akan habis sampai dua puluh turunan sekalipun , sedangkan kau , kau hanya pria makondo yang sangat berani menikahi cucu perempuan ku " ucap Nyonya Isabella
Hingga tuan Attar dan juga Roger datang , kedua pria itu segera menghampiri mereka yang sedang berada di ruang tengah .
Steven tidak lah berekspresi sedikit pun , pria itu hanya duduk dengan diam seraya menatap wanita tua yang merendahkan nya itu .
" Ma ... Cukup " ucap Tuan Attar
" apa nya yang cukup .... apa kau setuju putri satu-satu mu menikah dengan seorang pria makondo seperti nya .... ingat Attar kita ini keluarga kaya dan terhormat apa kata orang nanti nya jika mereka tahu Pricilla menikah dengan seorang pria biasa saja , keluarga Vincent yang sudah kita kecewakan itu akan menertawakan kita " ucap nyonya Isabella
Roger ia menghela napasnya dengan cukup kasar , setelah nya ia menatap Steven yang duduk dengan diam " ikut dengan ku " ucap Roger
Steven hanya menganggukkan kepalanya setelah nya ia berdiri dan mengikuti Roger yang kini melangkah ke sebuah ruangan .
" ma sudah lah .... Mereka sudah terlanjur menikah , apa mama ingin cucu mama ini menjadi seorang janda " ucap tuan Attar membujuk ibu nya itu
Pricilla menganggukkan kepalanya dengan wajah nya yang terlihat sedih " apa kata orang nanti nya jika aku menjadi seorang janda , apa mereka akan mengatakan putri dari keluarga Geoffrey menjadi seorang janda di usia mudah hiks ... Hiks ... Aku tidak akan kuat mendengar tanggapan dari mereka nanti nya " ucap Pricilla tentu saja wanita itu berpura-pura menangis dan Nyonya Eudora menghampiri putrinya dan memeluk nya
" aku sebagai seorang ibu akan merasa sangat sedih " ucap nya Eudora
Nyonya Isabella menatap keduanya " ma .... sudah ya jangan menentang hubungan mereka , mereka berdua saling mencintai " ucap tuan Attar
Tak
nyonya Isabella berdiri seraya kembali menghantam ujung tongkat nya di atas lantai marmer " katakan kepada pria itu untuk segera melakukan resepsi pernikahan nya , aku tidak mau di luar sana orang-orang mengatakan jika putri satu-satunya keluarga Geoffrey menikah hanya di kantor sipil , aku tidak ingin mendengar ucapan jika keluarga Geoffrey ini kekurangan uang " ucap nyonya Isabella setelah nya wanita tua itu melangkah pergi
Ketiga menghela napas dengan lega " aku akan menyusul Roger dan juga Steven kalian siapkan makan malam " ucap tuan Attar
" baik pa " ucap Nyonya Eudora setelah nya pria paruh baya itu juga melangkah pergi
" ayo sayang jangan di dengarkan ucapan Oma mu , kau tau sendirikan seperti apa Oma mu itu " ucap Nyonya Eudora kepada putrinya
Pricilla menganggukkan kepalanya , setelah nya keduanya melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan malam , meskipun ada maid di mansion ini , tapi jika Nyonya Eudora berada di mansion ini ia lebih suka turun tangan langsung memasak untuk keluarga nya .
Di dapur sudah ada Aleta yang sedang membuat tiga cangkir kopi " sayang ...." ucap Nyonya Eudora dengan lembut nya kepada menantu nya itu
wanita cantik dengan rambut panjang yang bergelombang tersenyum manis kepada mertuanya " ya ma .... Mama mau masak ya , aku akan membantu mama tapi aku harus mengantar kopi ini terlebih dahulu " ucap Aleta tanpa ia sadari jika ada seorang wanita cantik berdiri di ambang pintu menatap nya dengan mata yang berkaca-kaca
Nyonya Eudora tersenyum ia mengelus pundak menantunya dengan lembut " tidak usah sayang .... disini banyak maid yang membantu mama lebih baik kau temani Alana makan cake nya pasti anak itu sudah memakan cake itu dengan gaya nya sendiri " ucap nyonya Eudora
Aleta menepuk jidatnya sendiri ia hampir melupakan putri nya itu yang sedang berada di pinggir kolam ikan seraya memakan cake coklat .
" aku akan melihat nya nanti ma " Aleta merai nampang yang berisikan tiga cangkir kopi hangat itu
" kakak . " tapi suara seorang wanita mengetikan kegiatan nya
Aleta melihat ke ambang pintu dan disana Pricilla menatap nya dengan mata yang berkaca-kaca " Pricil .... " Aleta tersenyum
tanpa menunggu waktu lama Pricilla melangkah dengan cepat kearah Kakak iparnya itu dan seketika ia langsung memeluk kakak iparnya dengan erat .
" kakak aku merindukan kakak .... " ucap Pricilla di sela pelukan mereka
Aleta mengelus punggung adik iparnya itu " kakak juga merindukan mu .... Apa kabar sayang .... ? " ucap Aleta
pelukan keduanya terlepas " aku baik kakak .... bagaimana dengan kakak " ucap Pricilla
" kakak juga baik ...." ucap Aleta dengan tersenyum lembut selama tiga tahun kepergian Pricilla ke Inggris ia tidak pernah lagi bertemu dengan adik iparnya itu , mereka hanya bertemu di video call saja .
" nanti saja kalian saling melepaskan rindu , kopinya keburu dingin , dan Pricilla kau temui Alana di kolam ikan , tumben banget anak itu tidak bersuara " ucap Nyonya Eudora
Aleta tersenyum ia menganggukkan kepalanya kepada Pricilla setelah nya ia pergi dengan nampang di tangan nya .
Aleta melangkah keluar dari dapur dengan sangat anggun senyuman manis tidak pernah lepas dari bibir cantik nya .
" aku sangat penasaran seperti apa sosok pria yang berhasil membuat hati seorang Pricilla sih gadis tomboi yang menjelma menjadi wanita anggun luluh dan melupakan pria masa lalu nya " gumam Aleta ia sangat penasaran siapa sosok pria itu , mengingat selama tiga tahun ini Pricilla masih belum bisa melupakan cinta pertamanya yang kini sudah menikah .
Aleta masuk begitu saja ke dalam ruangan kerja suaminya , karena pintu ruangan itu terbuka , wanita cantik itu tersenyum dan langsung menatap punggung Steven dari belakang karena pria itu duduk membelakangi pintu .
" eeehhh sayang .... Kemari " ucap Roger dengan lembut nya
Aleta melangkah ke arah mereka dan langsung meletakkan tiga cangkir kopi di atas meja setelah selesai wanita cantik itu segera berdiri dan melirik Steven .
Degh
Aleta terdiam dengan tatapan yang tidak bisa di artikan .
.
.
.