Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Bahagia yang tak tersembunyi
Pagi itu udara di lantai latihan LYNX terasa berbeda—lebih ringan, lebih hangat, seolah seluruh ruangan ikut tersenyum bersama seseorang yang tengah berbahagia.
Junho berjalan melewati lorong panjang dengan langkah yang entah mengapa terasa jauh lebih ringan daripada biasanya. Senyum kecil yang sejak tadi tak juga sirna dari wajahnya membuat beberapa staf yang berpapasan ikut menatap heran.
Tangannya sesekali menyentuh kalung tipis berbandul kecil di lehernya—kalung yang baru saja dikenakan Nala untuk nya sebelumnya.
Gerakan kecil itu tampak sederhana, namun bagi Junho, setiap sentuhannya seperti mengingatkan pada momen paling berharga dalam hidupnya. Tatapan gugup Nala, tangan yang sedikit bergetar, dan udara hening di antara mereka—semuanya masih begitu jelas di ingatannya.
Begitu memasuki ruang latihan, ia mendapati seluruh member SOLIX telah berkumpul di sana. Jinwoo tengah memegang botol air, Hoseung sedang melakukan peregangan ringan, sementara Kiyoon, seperti biasanya, sibuk dengan ponselnya. Namun begitu melihat Junho datang, semua kegiatan itu berhenti seketika.
Tatapan mereka kompak beralih ke satu arah—ke Junho, yang langsung merasa seperti menjadi pusat perhatian.
“Jadi bagaimana, Hyung. Apa berhasil?” tanya Kiyoon tanpa basa-basi, dengan nada yang begitu antusias seolah menunggu hasil pengumuman penting.
Suasana hening sesaat, sebelum disusul oleh tawa-tawa kecil dari Yoohan dan Jihwan yang duduk di sisi kanan ruangan.
Junho menatap mereka dengan ekspresi datar, walau sulit menyembunyikan rona bahagia yang jelas terpancar dari wajahnya.
“Bagaimana apa?” jawabnya pura-pura polos, berusaha menghindari inti pembicaraan.
“Oh, jangan pura-pura bodoh! Cepat katakan, kau jangan membuat kami penasaran setelah membuat kami begadang untuk menyusun rencana se-epick itu tadi malam!” seru Hoseung cepat, menunjuk Junho dengan handuk di tangannya.
Tadi malam Jihwan memang diam-diam merekam momen Junho yang sedang latihan menyatakan perasaannya untuk Nala, dan mengupload nya di group chat mereka, hal itu membuat semua member jadi ikut campur dalam hal ini.
“Dan dari ekspresi wajahmu pagi ini… Sepertinya hasilnya tidak buruk, bukan?”Jinwoo bersandar pada dinding dengan senyum menggoda.
Junho menghela napas panjang, menunduk sejenak seolah mencari kata yang tepat. Namun bibirnya justru kembali melengkung membentuk senyum—senyum kecil yang tak bisa disembunyikan.
“Dia… menerima perasaanku,” ucapnya akhirnya, pelan namun jelas.
Seketika ruangan pecah oleh teriakan dan tepuk tangan. Hoseung hampir melompat kegirangan, sementara Taeyang berteriak
“AKHIRNYA!” seru nya seperti seorang penggemar yang baru saja melihat ending drama favoritnya.
“Leader kita resmi berpacaran! Aku tidak menyangka hari ini akan datang!” seru Jihwan, menepuk bahu Junho dengan gaya berlebihan.
“Tidak perlu heboh seperti itu,” ujar Junho menahan tawa, meski pipinya sedikit memanas.
“Tidak, ini momen sejarah, Junho. Kapan lagi kita melihat Kim Namjunho jatuh cinta seperti manusia normal?” kata Yoohan datar, tapi sudut bibirnya menahan senyum.
Tawa kembali meledak. Bahkan Junho tak kuasa menahan senyum lebar yang akhirnya pecah juga.
“Kalian semua benar-benar menyebalkan,” ujarnya, menutupi wajah dengan tangan.
“Jadi, bagaimana reaksinya? Apa dia menangis? Apa dia berteriak bahagia? Atau kau yang malah gagap di tengah jalan?” tanya Kiyoon cepat, begitu bersemangat sampai Hoseung menahan pundaknya agar tidak maju terlalu dekat.
Junho menggeleng pelan, tatapannya melunak.
“Tidak ada yang berlebihan… dia hanya tersenyum. Tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku.”
Ucapan itu membuat ruangan mendadak hening. Semua member memandangnya dengan ekspresi yang berbeda—antara kagum, geli, dan sedikit tersentuh. Jinwoo bahkan terkekeh pelan.
“Astaga, dia benar-benar jatuh cinta,” katanya lirih, separuh bercanda tapi separuh serius.
Junho hanya tertawa kecil, kemudian berkata.
“Sudahlah, berhenti menatapku seperti itu. Kita harus latihan, bukan?” ujar nya sembari melihat pada para staf yang seperti nya mendengarkan percakapan mereka.
“Baiklah, tapi kali ini aku tidak boleh marah kalau koreografi mu kacau, aku tidak mau merusak mood mu,” ujar Hoseung, masih tersenyum lebar.
Tawa kembali memenuhi ruangan sebelum akhirnya musik mulai diputar.
Namun, bahkan di tengah dentuman irama yang keras dan langkah-langkah teratur mereka, ada sesuatu yang berbeda pagi itu—setiap gerakan Junho terasa lebih hidup, lebih bersemangat.
Dan setiap kali lagu berhenti, pandangannya selalu tanpa sadar beralih ke kalung kecil di lehernya. Kalung yang bukan sekadar perhiasan, melainkan tanda dari sebuah awal baru— awal dari kisah cinta yang bahkan musik sekalipun tak mampu menggambarkan seluruh keindahannya.
════ ⋆★⋆ ════
Sementara itu, di sisi lain gedung yang sama, Nala tengah duduk di depan mejanya di divisi Creative Writing & Concept – Sub A. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan dengung lembut pendingin udara yang mengalun di antara rak-rak penuh dokumen dan naskah proyek.
Namun, bagi Nala, kesunyian itu sama sekali tak mampu menenangkan debaran yang terus berdentum di dadanya sejak beberapa jam lalu.
Ia menatap layar laptop di hadapannya—file concept outline yang seharusnya diselesaikan sebelum sore. Tapi setiap kali matanya membaca satu kalimat, pikirannya justru berkelana kembali ke satu adegan yang terus berputar seperti film yang tak mau berhenti diputar ulang.
Bagaimana Junho menatapnya tadi, bagaimana suara pria itu sedikit bergetar, namun tetap berwibawa. Dan bagaimana tangan dingin itu menyentuh jemarinya ketika menyodorkan kalung perak dengan liontin kecil berbentuk lingkaran.
“Sekarang… bisakah kau memakaikannya untukku?”
Begitu yang ia ucapkan, masih dengan nada nyaris berbisik.
Nala menutup wajahnya sejenak, menahan tawa gugup yang nyaris lolos. Pipinya terasa panas—mungkin sudah memerah seluruhnya. Ia teringat lagi saat Junho memintanya memakaikan kalung itu ke lehernya.
Betapa tangannya bergetar, betapa ia hampir salah arah ketika mencoba mengaitkan penguncinya, dan betapa dekatnya wajah mereka saat itu... terlalu dekat, hingga ia bisa merasakan hembusan napas Junho menyentuh kulitnya.
“Yaallah… Aku bisa gila,” bisiknya lirih sambil menutup laptopnya cepat-cepat, seolah benda itu yang membuatnya salah tingkah.
Namun, semakin ia berusaha mengalihkan perhatian, semakin otaknya menampilkan potongan adegan baru: tatapan Junho yang lembut, suaranya yang rendah ketika berucap.
"Kalau aku yang memilih mu, maka dunia tidak boleh ikut campur."
Nala menunduk, menatap kalung identik yang kini melingkar di lehernya. Jemarinya menyentuh liontin perak itu dengan ragu, lalu tersenyum kecil—senyum yang tak bisa ia tahan meski sudah berusaha keras bersikap profesional.
“Ya Allah... Fokus lah Nala kau harus bekerja, ” gumamnya pelan, menepuk pipinya sendiri ringan.
Tapi senyum itu tetap ada di sana, menolak pergi. Jeongin, rekan satu divisi yang duduk di meja sebelah nya, sempat melirik heran.
“Eh, kenapa senyum-senyum sendiri, Nala?” tanyanya sambil mengangkat alis.
“Ah, tidak apa-apa, hanya… terpikirkan konsep proyek sebelum nya,” jawabnya cepat, lalu berpura-pura sibuk mengetik.
Padahal, di layar laptopnya hanya ada satu kalimat besar di tengah halaman kosong:
“Bagaimana jika cinta datang dengan cara yang terlalu manis untuk ditolak?” Ia mendesah pelan, menatap kalimat itu cukup lama.
Lalu, perlahan, senyum itu kembali muncul—kali ini lebih lembut, lebih dalam.
Dan di detik yang sama, di ruangan berbeda di gedung yang sama, seorang pria bernama Kim Namjunho masih menyentuh kalung yang sama sambil berlatih dengan senyum yang tak juga pudar.
Dua hati yang kini terikat oleh seutas rantai perak sederhana, namun cukup kuat untuk membuat dunia di sekitar mereka terasa sedikit lebih berwarna.
— ❖❦ ❦ ❦❖ —
"Yeobo... aku masuk," ujar seorang wanita pelan sambil menghampiri suaminya yang masih fokus pada layar laptop. Ia meletakkan secangkir teh hangat di meja kerja pria itu tanpa mengganggu kesibukannya.
Uap tipis dari teh tersebut perlahan naik ke udara, mengisi ruangan kerja yang sunyi dengan aroma lembut daun teh.
"Keluarga Kang ingin pertunangan Junho dan Sooyeon dipercepat, mungkin minggu ini," ujar Kim Daejung tanpa basa-basi, matanya masih terpaku pada layar laptop seolah pembicaraan itu hanyalah bagian kecil dari banyak urusan penting lainnya.
Minseo yang mendengar itu hanya mengangguk pelan. Ia berdiri di samping meja, kedua tangannya saling bertaut di depan tubuhnya.
"Aku juga ingin itu segera terlaksana, tapi kau tahu sendiri. Putramu itu sangat keras kepala. Bahkan setelah kejadian itu, dia tidak pernah mau jika disuruh datang ke sini dengan alasan sedang banyak pekerjaan dan sebagainya," ujar Minseo dengan helaan napas panjang.
Nada suaranya terdengar lelah—lelahan seorang ibu yang sudah berkali-kali mencoba membujuk putra bungsunya pulang, namun selalu gagal karena Junho selalu memiliki alasan baru: jadwal latihan, rekaman, rapat, atau kegiatan lain yang tak pernah habis.
Suasana hening sejenak. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara mereka.
Daejung berhenti mengetik. Jemarinya terdiam di atas keyboard, sementara dahinya sedikit berkerut. Ia tampak berpikir keras sebelum akhirnya kembali berbicara. Ketika ia mengangkat wajahnya, ekspresinya tenang—tenang seperti seorang raja yang telah membuat keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.
"Katakan pada keluarga Kang jika pertunangannya akan dilangsungkan minggu ini," ujarnya tegas.
Ucapan itu membuat Minseo tertegun. Matanya sedikit membulat.
"Lalu bagaimana dengan Junho? Dia belum setuju, Yeobo?" tanyanya bingung, suaranya terdengar ragu.
"Setuju atau tidak, dia akan bertunangan dengan Sooyeon. Kita tidak bisa mempertaruhkan relasi hanya untuk mendengarkan ego Junho," ujar Daejung dingin.
Nada bicaranya datar, tetapi tegas—seperti keputusan bisnis yang sudah dipertimbangkan matang-matang.
Minseo terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk setuju. Baginya, jika Junho dan Sooyeon menikah, itu bukan sekadar pernikahan biasa. Itu adalah penyatuan dua keluarga besar—dua dinasti bisnis yang telah lama saling bergantung satu sama lain.
"Baiklah. Kita atur itu mulai dari sekarang. Aku akan menyiapkan semuanya," ujarnya akhirnya.
Daejung hanya mengangguk pelan. Tatapan matanya tajam menyorot kosong ke arah pintu besar di ruangan mewah itu—seakan memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertunangan.
Di balik keputusan yang baru saja ia ucapkan, nasib putranya telah ditentukan… bahkan tanpa kehadiran Junho di ruangan tersebut.
— ❖❦ ❦ ❦❖ —
“Oke, ambil waktu istirahat dua puluh menit sebelum masuk ke lagu selanjutnya,” ucap pria berkemeja hitam.
Koreografer utama mereka, dengan nada setengah berteriak agar terdengar di atas dentuman bass yang baru saja berhenti.
Begitu musik dimatikan, tubuh-tubuh yang semula bergerak serempak kini jatuh berserakan di lantai kayu studio. Nafas terengah, keringat menetes dari pelipis, dan aroma khas ruang latihan—campuran parfum, keringat, dan udara pendingin—melingkupi seluruh ruangan.
“Ya Tuhan... kenapa hari ini lebih melelahkan dari biasanya?” keluh Jinwoo sambil menjatuhkan diri ke lantai, melemparkan handuk ke wajahnya.
“Karena kau terlalu sibuk memandangi diri sendiri di cermin, bukan koreografinya,” sahut Hoseung cepat, disambut tawa kecil dari Taeyang yang tengah meneguk air mineral.
“Cermin tidak pernah berbohong, Hoseung-ah,” balas Jinwoo dengan nada dramatis, mengibaskan rambutnya yang sudah basah oleh keringat.
“Kalau begitu, mungkin cerminmu rusak,” sergah Yoohan dingin tanpa menatap, sibuk memeriksa beat lagu di ponselnya.
Kalimat itu sukses membuat seluruh ruangan meledak dalam tawa. Kiyoon yang duduk bersandar di dinding ikut menimpali.
“Kurasa Yoohan-hyung sedang tidak mood bercanda hari ini,” ujarnya yang membuat semua orang mengangguk seolah sudah terbiasa dengan sikap dingin Yoohan.
Junho, yang sejak tadi duduk di sudut ruangan, hanya menghela napas pendek sembari menatap ke arah mereka. Di lehernya, kalung perak kecil itu masih menggantung, berkilau lembut di bawah cahaya lampu studio.
Ia tidak banyak bicara hari ini—namun setiap kali tawa para member pecah, senyum samar selalu muncul di bibirnya.
“Leader, kau baik-baik saja?” tanya Jihwan akhirnya, menyodorkan botol air dingin. Junho mengangguk pelan, menerima minuman itu.
“Hanya sedikit lelah,” jawabnya singkat.
Namun tatapan matanya sedikit kosong—bukan lelah karena fisik, melainkan karena pikiran yang terus berputar sejak semalam. Hoseung yang sedari tadi memperhatikan, mencondongkan tubuhnya.
“Kau terlihat aneh hari ini, Junho. Biasanya setelah pengakuan cinta diterima, seseorang akan berlari seperti pahlawan yang baru memenangkan perang. Tapi kau malah diam seperti kehilangan arah,” ujar nya yang membuat Junho menghela nafas panjang.
"Menurut kalian dia menerima ku karena suka padaku, atau hanya kasihan?" Tanya Junho pelan.
Semua orang saling pandang seolah tak percaya seorang Junho bisa berpikir seperti itu.
"Kenapa Hyung tidak tanyakan langsung pada dia?" Tanya Kiyoon polos yang membuat Hoseung tertawa terpingkal-pingkal.
"Kau lebih baik diam sebelum memperburuk suasana," ujar Jihwan menatap Kiyoon yang terlihat bingung.
"Bukankah tadi kamu bilang dia juga menyukai mu? Lalu apa lagi yang kau ragukan?" Tanya Jinwoo yang membuat Junho menggeleng cepat.
"Dia tidak bilang kalau dia juga menyukai ku, dia hanya bilang 'Kalau begitu… Aku hanya bisa berterima kasih karena kau memilih jujur. Dan, entah kenapa, aku… tidak ingin kau berhenti menyukaiku.'" Ujar Junho menirukan jawaban Nala sebelum nya.
Semua orang terdiam hingga akhirnya Yoohan melempar botol air mineral nya pada Junho.
"Itu artinya dia juga menyukai mu bodoh! Kau kan ahli filosofis masa tidak mengerti dengan gaya bicara penulis," ledek nya kesal.
Dia tidak menyangka kenapa Junho tiba-tiba jadi seperti itu. Padahal semua orang tahu jika Junho paling peka terhadap kata yang memiliki makna dalam.
“Betul itu… betul… lagi pula kata Kiyoon, I love you itu tidak harus dibalas I love you too, tapi…” ucap Jihwan sambil berhenti, menatap Kiyoon dengan ekspresi penuh arti.
Si maknae mengerling sebentar, seperti menangkap maksud Jihwan, lalu mulai menyanyikan potongan lagu mereka. Suaranya terdengar perlahan tapi jelas, memenuhi ruang latihan yang tadinya hanya diisi obrolan dan tawa.
“Ouh… kau lah takdir ku…
Sulit bagiku menjelaskan dengan kata apapun…
Penyelamat di saat aku merasa lelah dengan semua ini…
Apakah ini lebih mudah dipahami?
Hanya satu kata namun mampu menyelamatkan ku…
Tak peduli berapa malam berlalu, aku tetap di samping mu…
Meski kakiku berlumuran darah, aku akan tetap di samping mu…
Tolong tetaplah hidup,”
Nada Kiyoon naik turun, jernih, merdu, dan penuh perasaan, seperti menyampaikan pesan yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata biasa.
Semua anggota terdiam sesaat, mata mereka terpaku pada Kiyoon. Suasana yang tadinya santai kini terasa hampir magis, seolah setiap kata menempel di udara, dan bahkan Jihwan pun menunduk sedikit, tersentuh tapi mencoba menyembunyikannya di balik senyum tipis.
Junho diam di pojok, tapi matanya menatap jauh ke arah Kiyoon. Setiap nada lagu itu seakan menembus pikirannya sendiri, membuatnya tersadar akan sesuatu yang selama ini ia tahan. Sudut bibirnya terangkat perlahan—senyum tipis tapi penuh makna—menandakan hatinya mulai terbuka pada apa yang Kiyoon nyanyikan: bukan sekadar lirik, tapi emosi yang mengalir.