NovelToon NovelToon
Mahar Rasa Bersalah

Mahar Rasa Bersalah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.

​Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .

​Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.

Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air mata Sekar

​Dinding rumah Mas Danu dicat dengan warna krem yang bersih, sangat berbeda dengan dinding kontrakan Sekar yang penuh noda jamur dan kupasan cat. Namun, bagi Sekar, tembok-tembok bersih ini terasa seperti jeruji penjara yang siap menghimpitnya kapan saja. Dua bulan sudah ia menyandang status sebagai istri Danu, namun setiap pagi ia terbangun dengan perasaan yang sama, ia adalah seorang penyusup yang tidak diinginkan.

​Baginya, Danu tetaplah Mas Bos, pria yang membayar gajinya dulu, bukan suami yang ia cintai. Tidak ada ruang untuk cinta di hati Sekar saat ini, yang ada hanyalah ketakutan bahwa suatu saat Danu akan terbangun dan sadar betapa ruginya ia menikahi wanita seperti dirinya. Terutama pagi ini, saat langkah kaki yang berat dan berwibawa itu terdengar kembali mendekat ke arah dapur.

​Bu Subroto, ibu mertuanya, muncul dengan sanggul rapi tidak seperti tadi. Ia mengenakan daster sutra bermotif bunga yang tampak mahal. Matanya yang tajam langsung menyapu meja makan, lalu beralih ke arah Sekar yang sedang gemetar mencuci piring di wastafel.

​"Sudah kubilang berapa kali, Sekar. Kalau mencuci piring itu jangan sampai beradu bunyinya. Keramik ini mahal, bukan piring plastik yang biasa kamu pakai di kontrakan dulu!" Suara Bu Subroto datar, namun ketajamannya seperti silet yang mengiris sisa-sisa harga diri Sekar.

​Prang.....

​Saking terkejutnya, piring yang sedang dibilas Sekar terlepas dari tangannya dan pecah berkeping-keping di lantai porselen. Sekar mematung. Wajahnya seketika pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual. Bukan karena ia takut kehilangan piring itu, tapi ia takut pada tatapan menghina yang akan ia terima.

​"Ma-maaf, Bu. Saya, saya tidak sengaja. Saya akan bersihkan segera!" Bisik Sekar dengan suara yang bergetar hebat. Ia langsung berjongkok, mencoba memunguti pecahan keramik itu dengan tangan telanjang. Ia tidak peduli jika tangannya terluka, ia hanya ingin kepingan-kepingan itu hilang dari hadapan mertuanya.

​"Jangan pakai tangan! Bodoh sekali, nanti tanganmu luka dan Danu akan menyalahkanku lagi karena tidak menjagamu!" Bentak Bu Subroto, meski nadanya tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana, menjulang di atas Sekar yang merangkak di lantai.

"Duduk! Biar Mbok Sum yang bereskan nanti. Kamu ini kenapa sih? Penakut sekali. Sedikit-sedikit gemetar, sedikit-sedikit mau menangis. Bagaimana kamu mau jadi istri pemilik toko kalau mentalmu mental kacung?"

​Air mata yang sejak tadi ditahan Sekar akhirnya jatuh juga. Ia menangis bukan karena cinta yang tersakiti, tapi karena ia merasa begitu kecil dan tidak berdaya. Ia merasa dirinya adalah kesalahan terbesar dalam hidup keluarga ini.

​"Maaf, Bu. Maaf" Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya yang kelu.

​"Berhenti minta maaf. Telingaku panas mendengarnya" Bu Subroto menarik kursi dan duduk dengan anggun.

"Dengar, Sekar. Danu menikahimu karena dia pria yang bertanggung jawab. Tapi jangan pernah berpikir karena kamu mengandung anaknya, kamu bisa duduk manis saja di rumah ini. Kamu harus tahu diri. Kalau bukan karena perutmu itu, Danu sekarang sudah bertunangan dengan Lidya di Jakarta"

​Setiap kata Lidya disebutkan, Sekar merasa dadanya dihantam benda tumpul. Ia tahu ia telah mencuri posisi wanita itu. Ia merasa seperti parasit. Ia tidak membenci Lidya sebaliknya, ia merasa kasihan pada Lidya karena harus kehilangan pria sebaik Danu gara-gara kecerobohannya.

​"Lidya itu, ah sudahlah. Tidak ada gunanya dibanding-bandingkan" Lanjut Bu Subroto tanpa ampun.

"Sekarang, hapus air matamu. Jangan sampai Danu lihat kamu cengeng begini, dia sudah cukup stres mengurus toko!"

​Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia ingin menghilang saja. Tiba-tiba, suara motor Honda tua terdengar berhenti di halaman. Danu pulang lebih awal.

​Pria itu melangkah masuk ke dapur, masih mengenakan kemeja kerjanya yang berbau debu dan kayu. Langkahnya terhenti saat melihat Sekar yang terduduk di lantai dan ibunya yang bersedekap dengan wajah ketus.

​"Ada apa ini?" Suara Danu rendah, matanya menatap pecahan piring di lantai.

​"Istrimu ini, Nu. Pecah piring terus nangis. Manja sekali" Sahut Bu Subroto enteng.

​Danu tidak menyahut ibunya. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan ke arah Sekar.

"Bangun, Sekar. Ke kamar saja!"

​Sekar ragu-ragu menyambut tangan suaminya. Saat kulit mereka bersentuhan, Sekar merasa asing. Tidak ada getaran cinta, yang ada hanyalah rasa sungkan yang luar biasa. Ia merasa seperti beban yang harus terus-menerus dibela.

​"Maaf, Mas. Saya sudah merusak piringnya" Ucap Sekar tanpa berani menatap mata Danu.

​"Itu hanya piring. Sudah, masuk ke kamar!" Perintah Danu pelan.

​Begitu sampai di kamar, Sekar langsung duduk di pinggiran ranjang. Danu tidak mengikutinya masuk, pria itu masih di dapur, terdengar sedang berbicara dengan nada rendah kepada ibunya. Sekar tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Ia hanya ingin tidur dan berharap nanti ia bangun di kontrakannya yang dulu, meski miskin tapi ia tidak perlu merasa menjadi pencuri hidup orang lain.

​Ia mengusap perutnya yang mulai menonjol sedikit. Ia tidak merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Yang ia rasakan hanyalah tanggung jawab yang sangat berat.

​Dia tidak mencintai Danu, pikirnya dalam hati. Dia hanya takut padanya. Dia takut pada kebaikannya yang terasa seperti tuntutan agar dia tahu diri selamanya.

​Tak lama kemudian, Danu masuk ke kamar membawa segelas air putih, makanan dan vitamin. Ia meletakkannya di atas nakas, lalu duduk di kursi kayu di pojok kamar, cukup jauh dari Sekar. Itulah yang Sekar sukai dari Danu sebulan ini, pria itu memberikan jarak. Danu tidak pernah menuntut haknya sebagai suami, ia seolah paham bahwa Sekar butuh waktu untuk bernapas.

​"Ibu memang bicaranya keras, Sekar. Jangan dimasukkan ke hati" Ucap Danu menatap Sekar yang terpaut jarak.

​"Ibu benar, Mas. Saya memang tidak pantas di sini" Sahut Sekar lirih.

"Kamu sudah di sini. Pantas atau tidak, kamu istriku sekarang. Ayo lekas makan lalu minum vitaminnya. Kamu pasti nggak nyaman ketemu Ibu sekarang, jadi saya bawakan makan siang ke sini"

​Sekar sampai lupa kalau sekarang adalah jam makan siang. Harusnya dia melayani Danu yang memang pulang untuk makan siang seperti biasa.

"Astaga. Maafkan saya Mas, saya lupa kalau sekarang jam makan siang" Sekar terlihat panik.

"Tidak papa, barusan saya sudah makan duluan di bawah. Sekarang makanlah, nanti piringnya biar saya bawa turun ke bawah sekalian saya berangkat lagi ke depan"

"Tapi Mas..."

"Apa mau saya suapi?" Potong Danu membuat bibir Sekar langsung tertutup rapat.

1
UfyArie
novel ini memenuhi hayalan ibu2 yg pengen di cintai suaminya secara ugal ugalan kayak gini😄
matcha
bab ke brp ni mbk sekar udh gak cengeng nangis2 terus.. setiap bab selalu menangis
matcha
ini si sekar gak abis2 air matanya🤭
Neng Tuti
baik banget sekar ya allah
Neng Tuti
coba sekar pergi dulu dari rumah mas danu deh dari pada tinggal di situ tapi ragu pada perasaan mas danu
Neng Tuti
kayanya bener kata riana deh mas danu emang udah naksir ke sekar sejak lama kali yah aaah mas danu manis banget kaya gulali🤭😍😍
Neng Tuti
ini ya kalo aku jd sekar udah ku cakar tuh mulut ibu ibu 🙄
Neng Tuti
aku bacanya kok nangis yaa😪
Neng Tuti
ya allah sedih banget ceritanya😪
Wirly Pena
semangat thor, karya yg bagus 👍

halo temen2, jangan lupa mampir di " Aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
Ecci Syafirairwan
🥰
pipi gemoy
Danu🌹
Lilik Juhariah
dhanu kayaknya gak terlalu cinta sama Lidya , bukti nya dia biasa aja ninggalin dan nikah ma sekar
Lilik Juhariah
ini orang harusnya selalu bersyukur dapat suami Danu , bacanya gedhek banget nih perempuan , harusnya belajar memantaskan diri
Lilik Juhariah
ibu ini emang tak penyek
Lilik Juhariah
beruntung walau gak ada cinta mas Danu tau artinsebuah kewajiban dan tanggung jawab
Lilik Juhariah
sekar Sekar nanti jadi TBC katakan apa yg mau kau katakan jangan diem ,
Lilik Juhariah
emang ya cara ngelawan suami itu gak usah dilawan turutin aja tunduk ya ya trs diem , ntar kan paham juga tuh suami , aku juga gitu , gak terlalu suka banyak omong , dan kl aku mode gitu pasti suami dah sadar diri🤣
Lilik Juhariah
sek Talah kok aib sampe sekampung pada tau semua , apa diumumkan pake Toa ini aib
Lilik Juhariah
gak bayangin tiap hari bertemu Bu Subro wkkw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!