NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Pagi itu, Violet bangun lebih cepat dari biasanya, matanya terbuka pelan. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit- langit kamarnya yang masih setengah gelap, seolah kesadarannya belum benar-benar kembali.

Lantas sedetik kemudian, otaknya langsung menyala dan bayangan soal kejadian semalam segera menyerbu tanpa permisi.

Ia refleks menutup matanya lagi.

Lalu membukanya lagi.

Tapi percuma. Tidak ada gunanya berpura-pura tidur kalau apa yang dipikirkan di kepala justru malah semakin jelas.

Maka yang ia lakukan adalah duduk di tepi ranjang, menghela napas pelan lalu berdiri. Gadis itu lalu membuka lemari dan mengambil baju yang paling tertutup yang ada, kemeja lengan panjang dan celana panjang.

Mengingat soal apa yang dikatakan laki-laki itu tentang gaunnya, Violet melakukan ini semata- mata untuk antisipasi agar kejadian semalam tidak terulang. Meski sebenarnya secara hubungan, Adriel sangat berhak atas tubuh nya.

Tapi ia benar-benar belum siap. Sungguh tak siap.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Violet lantas duduk di depan cermin, menyisir rambutnya kegiatan yang berulang dilakukannya dua hari semenjak tinggal di rumah ini karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan nya.

Tak lama pintunya di ketuk dari luar.

"Masuk." serunya.

Lalu kemudian, Matilda datang membuka pintu sambil bawa nampan di tangannya dan Violet yang melihat itu langsung berhenti menyisir.

Di atas nampan itu ada nasi goreng dengan telur mata sapi, semangkuk sup bening yang masih mengepul, segelas jus jeruk, dan sepiring kecil buah yang dipotong rapi. Semuanya masih hangat, kelihatan dari uap tipis dari mangkuk nya yang naik pelan-pelan.

"Nyonya, sarapan. " Matilda tersenyum cerah, secerah mentari pagi ini.

Namun berbeda dengan ekspresi violet yang sontak mengernyit. Matilda tidak pernah datang sepagi ini dan membawakan sarapannya, bukankah biasanya di meja makan? "

"Bibi tidak perlu repot- repot membawakan--"

Ekspresi Matilda yang aneh, membuat Violet sontak menggantungkan ucapan nya, lalu wanita setengah baya itu menaruh nampannya di meja kecil dekat jendela dan kemudian berbalik badan. Violet langsung menyadari ada yang berbeda dari perempuan itu, senyumnya lebih lebar dari biasanya, seperti orang yang menahan sesuatu yang menurut nya lucu.

"Kenapa bibi? "

Matilda menatap Violet ramah. "Sarapan ini khusus disiapkan untuk, nyonya. "

Violet langsung saja bertanya. "Dari siapa? "

"Dari Tuan, Nyonya."

Violet mengerjap. "Adriel yang memasak ini?"

"Tuan bahkan sudah ada di dapur sejak subuh,nyonya." Seru Matilda seraya mengangguk. "Saya sendiri kaget waktu turun dan menemukan beliau sudah di sana duluan. Biasanya saya yang menyiapkan semuanyq, tapi pagi ini beliau bilang tidak perlu."

Violet tidak langsung merespons. Matanya balik menatap nampan itu lagi.

"Selama saya kerja di sini," kata Matilda pelan, membuyarkan lamunan sesaat Violet "belum pernah satu kali pun saya lihat Tuan memasak buat orang lain. Buat dirinya sendiri saja beliau tidak pernah mau repot,jadi ini benar- benar khusus untuk nyonya."

Violet terdiam.

Lalu, "Terima kasih, Matilda."

Hanya itu yang bisa ia ucapkan.

Matilda lantas mengangguk dan mulai berbalik pergi.

Meninggalkan Violet berdiri sendirian di kamarnya dengan nampan sarapan di meja dan perasaan yang tidak tahu hendak ia letakkan di mana.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu diluar, Adriel ternyata masih berdiri di ruang tamu, lebih tepatnya tak jauh beberapa langkah dari pintu kamar Violet berada. Melihat Matilda yang berjalan sendirian, mata laki-laki itu waspada.

Matilda terkejut karena tuannya ternyata masih ada di sana, ia mengira sudah pergi sejak tadi karena jadwal dinasnya yang pagi ini mendesak.

"Bagaimana kau sudah memberikannya? "

Matilda mendekat, mengangguk hormat. "Sudah, tuan. "

"Lalu... bagaimana responnya? "

"nyonya hanya mengatakan terimakasih. "

Hening.

Sebagai seseorang yang membersamai Adriel sejak dia masih bayi merah, Matilda bisa merasakan jika ada sesuatu yang berbeda dari cara laki-laki gagah itu bersikap saat ini.

Adriel terlihat salah tingkah, dan tampaknya ragu- ragu untuk bertanya.

Menyadari itu, Matilda tersenyum dalam hati.

"Ekhem... apa-- apa dia melihat surat yang ada di nampannya itu? " Adriel bertanya seraya menggaruk tengkuk di belakang.

Padahal jelas tak ada yang gatal.

"Belum tuan... "

Adriel tampak murung dan tak puas dengan jawaban wanita tua itu, sampai kemudian Matilda berbicara lagi.

"Tapi, saya bisa melihat nyonya sangat terharu sekaligus kaget dengan apa tuan siapkan untuk nya, saya bisa jamin beliau juga pasti akan membuka surat itu. "

Mendengar ucapan Matilda yang meyakinkan, wajah Adriel yang semula tegang terlihat lebih rileks.

"Baiklah kalau begitu, kau boleh pergi. "

Matilda mengangguk. "Baik tuan. "

Setelah kepergian Matilda, Adriel berbalik dan tiba-tiba saja sudut bibirnya tertarik dengan sengaja, tidak lebar memang tapi cukup membuat orang- orang yang mengenal siapa sosok Adriel di luar akan terheran- heran kalau melihat nya.

Lantas Adriel bersiap untuk perjalanan dinasnya, namun ponselnya mendadak berbunyi, sebuah notifikasi yang membuat raut di wajahnya berubah seketika.

(Dasar anak kurang ajar! berani- berani nya kau melanjutkan pernikahan dengan anak pungut keluarga Hartawan itu. Datang ke sini dan hadapi ayahmu, bawa juga istri mu yang kau nikahi tanpa seijin ku itu, atau tidak, kau tahu apa akibatnya!)

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Disisi lain, Violet masih berada di kamarnya dengan posisi yang tidak berubah. Ia belum menggubris sarapan yang di atas meja itu, justru tangannya refleks mengambil ponsel yang ada di dekatnya.

Sejak semalam ia sebenarnya ingin membuka pesan Teresa. Tapi selalu ditahan, tapi sekarang tidak.

Ia kemudian buka chat itu, lalu mulai mengetik.

Ia menulis panjang namun pesannya sederhana hanya menjelaskan kalau dirinya baik-baik saja disini.bahwa kediaman voss ini tidak seseram yang Teresa bayangkan, bahwa ia khawatir dan ingin tahu adiknya ada di mana dan kondisinya bagimana.

Send.

Violet menunggu balasan dengan duduk di tepi ranjang sambil menatap layar.

Tiga menit. Lima menit.

Status berubah. Pesan dibaca.

Dua puluh detik kemudian balasan masuk, Violet sedikit membelalak sedikit terkejut karena akhirnya setelah berhari-hari adiknya itu membalas pesannya.

Lantas dengan jari yang sedikit gemetar, Violet membukanya.

Namun sorot matanya berubah seiring membaca kata demi kata yang ditulis di pesan, yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspetasi nya.

(Teresa

Kak Vi syukurlah kamu baik-baik aja. Aku juga baik, tapi lagi butuh uang sekarang. Pengeluaran banyak banget disini. Bisa transfer ke rekening ini? Butuhnya segini ya kak.)

Isinya pendek, bahkan hanya beberapa baris saja. Di bawah kalimat itu ada nomor rekening dan angka yang cukup besar.

Tidak ada basa- basi, tidak ada tanya kabar lebih lanjut. Teresa seolah tidak membaca keseluruhan pesan yang dikirimkannya dengan baik.

Violet menutup mata nya sebentar.

Apakah ini layak? apakah keadaan nya tidak lebih dari sekedar angka nominal yang dikirimkan adiknya?

Teresa merasa ini tidak adil, namun tetap saja bayangan 22 tahun hidup gratis dikeluarga Hartawan membuatnya tidak bisa mengabaikan permintaan Teresa itu.

Ia lantas mulai mengetik.

(Akan kuusahakan.)

Meski pun tidak tahu harus kemana ia mencari uang dengan nominal sebesar itu karena tabungan nya sudah lebih dulu dibawa lari oleh Teresa.

*****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!