NovelToon NovelToon
Darah Ratu 1000 Tahun

Darah Ratu 1000 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naomihanaaya

Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Undangan Perang

Udara di dalam gua terasa berat.

Bukan hanya karena dinginnya batu dan lembapnya tanah yang menempel di dinding-dinding kasar, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih menekan kehadiran sosok yang berdiri di sana.

Edward.

Aura dingin yang memancar dari dirinya tidak terlihat, namun dapat dirasakan oleh siapa pun yang berada di dalam gua itu. Seolah udara di sekitarnya membeku perlahan, menahan napas setiap makhluk yang ada di sana.

Bahkan suara tetesan air dari langit-langit gua terdengar lebih pelan.

Lebih hati-hati seakan takut mengganggu.

Alana masih terbaring tak sadar di atas permukaan batu yang rata.

Tubuhnya tampak rapuh napasnya naik turun dengan ritme pelan namun stabil.

Meski begitu, wajahnya yang pucat dan kening yang sedikit berkerut menunjukkan bahwa di dalam dirinya… sesuatu masih terus bergerak.

Sesuatu yang belum sepenuhnya tenang.

Arlan duduk di sampingnya tidak bergeser sedikit pun sejak tadi tangannya sesekali mengepal, lalu mengendur.

Matanya tidak pernah lepas dari wajah Alana seolah jika ia berpaling walau hanya sedetik ia akan kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia kembalikan di dalam hatinya, perasaan bercampur menjadi satu.

Takut marah bingung dan… khawatir yang tidak bisa ia jelaskan.

Kakek berdiri tidak jauh dari mereka wajahnya tenang seperti biasa namun mata tuanya menyimpan banyak hal Ia mengamati.

Menghitung memahami lebih banyak dari yang orang lain sadari tatapannya bergantian antara Alana… dan Edward seolah sedang menyusun potongan-potongan kebenaran yang perlahan mulai terbuka.

Paman dan bibi berdiri berdekatan di sisi lain mereka tidak berkata apa-apa Namun dari ekspresi mereka, jelas terlihat ketegangan tidak pernah benar-benar hilang bahkan sekarang, setelah Edward datang, perasaan itu justru semakin dalam.

Henry berdiri di sisi Edward tenang seperti bayangan yang setia Matanya tajam, terus bergerak, mengawasi setiap sudut gua.

Tidak ada satu gerakan pun yang luput dari perhatiannya sementara itu, dua pengawal vampir berjaga di pintu gua tubuh mereka tegak wajah mereka tanpa ekspresi.

Namun kesiapan mereka… tidak perlu diragukan.

Keheningan menguasai bukan keheningan biasa melainkan keheningan yang menunggu sesuatu sesuatu yang pasti akan datang.

Hingga akhirnya Arlan memecahnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”

Suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya tidak lagi sekadar bertanya melainkan menuntut jawaban Ia tidak menoleh ke siapa pun.

Namun semua orang tahu pertanyaan itu ditujukan pada Edward

Edward tidak langsung menjawab Ia masih menatap Alana dalam seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Beberapa detik berlalu baru kemudian ia berbicara.

“Dia belum siap.”

Jawaban itu sederhana Namun justru membuat suasana semakin menegang.

Arlan mengangkat kepalanya alisnya berkerut.

“Itu bukan jawaban.”

Nada suaranya naik sedikit.

Emosi yang selama ini ia tahan mulai terlihat.

Edward perlahan menoleh tatapannya bertemu dengan Arlan dingin tenang Namun dalam seolah mampu membaca isi pikiran seseorang hanya dengan satu pandangan.

“Dan kau belum siap untuk mendengarnya.”

Kalimat itu seperti memicu sesuatu Arlan langsung berdiri cepat.

“Aku sudah cukup melihat!”

Ia menunjuk ke arah Alana tangannya sedikit bergetar.

“Dia hampir mati! Dan kalian semua—”

Ia berhenti sejenak.

Matanya menyapu ruangan.

“—seolah sudah tahu semuanya!”

Henry bergerak sedikit insting.Namun Edward mengangkat tangannya memberi isyarat untuk tetap diam.

“Dia tidak akan mati.” kata Edward tenang.

Tidak ada penekanan namun tidak ada ruang untuk membantah.

Arlan mengepalkan tangannya lebih kuat.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan salah satu pengawal di pintu tiba-tiba menegang tubuhnya berubah posisi.

Lebih siaga.

“Ada yang mendekat.”

Semua langsung waspada.Kakek mengangkat kepalanya matanya menyipit tajam.

“Berapa banyak?”

Pengawal itu tidak langsung menjawab Namun dari wajahnya jawabannya sudah terlihat.

“Banyak.”

Dalam hitungan detik suasana berubah total dari tegang menjadi siap tempur Edward berdiri tegak auranya berubah drastis lebih dingin lebih tajam lebih mematikan seolah sesuatu yang selama ini ia tahan akhirnya dilepaskan sedikit.

Dari luar gua terdengar suara geraman pelan di awal Namun semakin lama semakin banyak semakin dekat menggema di antara pepohonan Mengelilingi Mengurung.

Arlan menoleh ke arah pintu gua jantungnya berdetak lebih cepat naluri manusianya berteriak bahaya.

“Mereka…” Henry menjawab singkat,

“Serigala.”

Tidak lama siluet mulai terlihat satu per satu dari balik bayangan pepohonan.

Mata kuning menyala di kegelapan puluhan mungkin lebih mereka tidak langsung menyerang hanya berdiri mengamati menunggu.

Dan kemudian tiba-tiba suasana berubah.Geraman itu berhenti semua diam Namun, bukan karena mereka mundur melainkan karena.sesuatu yang lebih besar datang.

Langkah berat terdengar pelan namun setiap langkahnya membawa tekanan tanah di luar gua bergetar halus udara terasa semakin berat.

Dari antara barisan serigala sebuah sosok muncul lebih tinggi lebih besar.

Aura yang dipancarkannya jauh lebih liar lebih buas matanya tajam dipenuhi kesombongan dan kekuasaan

Raja Serigala.

Ia melangkah maju dengan santai seolah tidak ada yang bisa mengancamnya tatapannya langsung tertuju ke dalam gua ke arah Edward.

Perlahan senyum muncul di wajahnya.

“Sudah lama tidak bertemu…”

Suaranya dalam menggema penuh ejekan yang jelas.

Edward melangkah maju berhenti tepat di pintu gua tatapannya tidak berubah dingin tanpa emosi.

Kini dua pemimpin berdiri saling berhadapan meski masih berjarak beberapa meter,namun tekanan di antara mereka terasa seperti benturan dua kekuatan besar.

“Tidak kusangka…” lanjut Raja Serigala,

“kau sendiri yang datang ke tempat seperti ini.” Ia tertawa pelan.

Namun nada suaranya jelas meremehkan.

“Ini membuat segalanya… jauh lebih mudah.”

Henry menyipitkan matanya Pengawal vampir langsung bersiap Namun tidak ada yang bergerak karena semua tahu.ini bukan pertarungan mereka.

Edward tetap tenang.

“Jika kau datang hanya untuk berbicara…” katanya datar,

“kau sudah selesai.”

Raja Serigala tersenyum lebar memperlihatkan taring tajamnya.

“Aku tidak pernah datang hanya untuk bicara.”

Ia melangkah lebih dekat Serigala-serigala di belakangnya ikut bergerak mengepung lebih rapat tidak memberi celah.

Tiba-tiba ia berhenti tatapannya mengarah ke dalam gua ke arah Alana matanya menyipit menilai.

“Serahkan dia.”

Kalimat itu keluar begitu saja langsung tanpa basa-basi.

Suasana membeku.

Arlan menegang Refleks, ia berdiri lebih dekat di depan Alana Paman dan bibi saling berpandangan Kakek tidak bergerak Namun, tatapannya semakin tajam.

Edward tidak bergeming.

“Tidak.”

Jawabannya singkat Namun mutlak.

Raja Serigala tertawa keras suara tawanya menggema di seluruh hutan.

“Masih sama seperti dulu.”

Ia menggeleng pelan.

“Dan aku kira kau sudah berubah.”

Tatapannya kembali ke Alana Lebih dalam Lebih tajam.

“Jadi itu dia…”gumamnya pelan.

Arlan langsung berdiri di depan tubuh Alana melindungi tanpa berpikir.

Raja Serigala memperhatikannya lalu tertawa kecil.

“Manusia itu melindunginya?”

Nada suaranya penuh ejekan.

“Menarik…”

Ia kembali menatap Edward.

“Sepertinya kau benar-benar menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga.”

Edward tetap diam namun aura di sekitarnya semakin dingin semakin menekan.

“Kesempatan terakhir,” kata Raja Serigala.

Suaranya kini lebih rendah lebih serius.

“Serahkan dia.”

Hening

Kemudian Edward melangkah keluar dari gua.

Satu langkah Namun dampaknya terasa jelas tanah di bawah kakinya retak halus udara bergetar tekanan meningkat drastis

“Jika kau ingin dia…” katanya pelan

Matanya menyala merah samar.

“Lewati aku.”

Keheningan berubah menjadi tekanan murni

Raja Serigala tersenyum lebar puas.

“Inilah yang kutunggu.”

Ia mengangkat tangannya sedikit memberi isyarat dalam sekejap puluhan serigala di belakangnya menegang siap menyerang kapan saja

Namun tidak ada yang bergerak karena semua tahu pertarungan ini bukan milik mereka Ini adalah pertarungan dua raja

Henry melangkah keluar berdiri di belakang Edward.

“Perintah?”

Edward tidak menoleh.

“Jaga mereka.”

Henry mengangguk.

“Dipahami.”

Di dalam gua Arlan menatap keluar jantungnya berdegup kencang Ia tahu ini bukan pertarungan biasa

Kakek melangkah mendekat ke pintu tatapannya serius.

“Ini akan menjadi buruk…” gumamnya pelan.

Di luar dua sosok berdiri saling berhadapan diam Namun tekanan di antara mereka cukup untuk membuat udara terasa berat dan sulit bernapas.

“Sudah lama sejak kita bertarung secara langsung…” kata Raja Serigala.

Edward menjawab datar,

“Dan seharusnya tetap seperti itu.”

Raja Serigala tertawa.

“Sayang sekali… aku tidak sabar"

Dan dalam satu detik ia menghilang

BOOM!!

Tanah meledak saat ia muncul tepat di depan Edward serangannya langsung diluncurkan cepat brutal mematikan

Namun Edward tidak bergerak Serangan itu berhenti tepat sebelum menyentuhnya

Udara di antara mereka retak seolah tertahan oleh dinding tak terlihat mata Raja Serigala membesar sedikit Namun kemudian senyumnya kembali lebih lebar.

“Bagus…”

Edward akhirnya bergerak hanya satu gerakan tangan.

DHUAAARR!!

Gelombang kekuatan menghantam Raja Serigala mendorongnya mundur beberapa meter.

Tanah retak debu beterbangan Serigala-serigala lain mundur refleks Namun Raja Serigala tetap berdiri.

Tanpa luka berarti hanya napasnya sedikit berat dan senyumnya semakin lebar.

“Ini baru menarik…”

Di dalam gua Alana tiba-tiba bergerak sedikit sangat halus Namun cukup untuk membuat Arlan tersentak.

“Alana…?”

Matanya masih tertutup Namun alisnya berkerut seolah sedang melawan sesuatu dalam dirinya di luar pertarungan dua raja baru saja dimulai

Dan di dalam dirinya sesuatu yang tersegel kembali berdenyut perlahan Namun pasti.

Dan kali ini tidak ada yang tahu.apa yang akan terjadi saat ia benar-benar bangun.

1
Naomi🌸
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!