"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Keana Mulai Runtuh
...GAMON...
...Bab 7: Keana Mulai Runtuh...
...POV Keana...
---
Dua Bulan Sejak Putus dari Bima
Satu Bulan Bersama Andra
Keana nggak nyangka kalau "yang lebih" bisa terasa begini hampa.
Di permukaan, hidupnya sempurna. Apartemen mewah. Mobil antar jemput. Restoran mahal setiap akhir pekan. Pria tampan di sampingnya yang selalu dandan rapi dan bau parfum mahal.
Tapi di dalam? Ada lubang. Lubang yang makin lama makin lebar.
Dan dia nggak tahu cara menambalnya.
---
Jumat Malam – Di Sebuah Restoran Mewah
Lilin di atas meja. Musik piano dari pengeras suara. Andra di hadapannya, memotong steak dengan gerakan anggun.
"Ini enak banget, Sayang," kata Keana, mencoba memulai obrolan.
Andra hanya mengangguk. Matanya ke ponsel.
Keana menunggu. Mungkin dia lagi bales email penting. Mungkin urusan kantor. Nanti juga selesai.
Tapi lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Ponsel itu nggak pernah lepas dari tangannya.
"And," Keana memanggil pelan.
"Hmm?"
"Kita lagi makan."
"Iya, aku tahu." Andra teguk wine, mata masih ke layar.
"Lo bisa nggak sih... taruh dulu ponselnya?"
Andra mendongak. Matanya—buat pertama kalinya malam itu—menatapnya.
"Lo ngomelin aku?"
"Nggak. Gue cuma minta—"
"Soalnya belum pernah ada yang ngomelin aku gitu." Andra tersenyum. Senyum yang aneh. Bukan senyum hangat. Tapi senyum yang bilang: "lo mulai berani, ya?"
Keana diam. Nggak tahu harus jawab apa.
Andra taruh ponsel. Tapi wajahnya berubah. Dari hangat jadi datar.
"Oke. Aku dengerin. Mau ngomong apa?"
Sekarang Keana yang bingung. Mood-nya udah keburu rusak. Tapi dia paksain.
"Gue cuma... pengen quality time. Ngobrol. Kayak dulu awal-awal kita."
"Dulu awal-awal?" Andra ulang. Matanya menyipit.
"Iya. Waktu lo masih—"
"Kean, dulu awal-awal itu aku lagi ngedeketin lo. Wajar kalau aku kasih perhatian lebih. Tapi sekarang? Kita udah jalan satu bulan. Aku sibuk. Lo harusnya ngerti."
Kata-kata itu. Dingin. Nggak ada nada marah. Tapi dingin.
Keana diem. Dadanya sesak.
Andra ambil ponsel lagi. Lanjut main.
Dan di restoran mewah itu, di tengah cahaya lilin dan musik piano, Keana merasa sendirian.
---
Malam Itu – Di Apartemen Andra
Mereka pulang. Andra langsung tidur. Atau pura-pura tidur. Keana nggak tahu.
Dia duduk di ruang tamu. Sendirian. Lampu kota Jakarta di bawah sana—gemerlap. Indah. Tapi dia nggak merasa jadi bagian dari itu.
Ponsel. Refleks.
Dia buka chat lama. Chat dengan Bima.
Dulu, dia pernah mengeluh chat Bima terlalu banyak. Terlalu sering. Terlalu... predictable.
Tapi sekarang, dia buka chat itu. Baca satu per satu. Ribuan pesan.
"Sayang, udah makan?"
"Jangan lupa minum obatnya."
"Hujan nih, bawa payung ya."
"Love you."
Love you.
Dua kata yang dulu dia bales dengan "iya" dingin.
Dua kata yang sekarang nggak pernah diucapin Andra.
---
Dia scroll ke atas. Cari pesan terakhir dari Bima sebelum semua hancur.
Bima (23.47): "Sayang, sop iganya udah dingin. Aku simpen di kulkas. Besok angetin ya. Maaf kalo aku ganggu terus tadi. Aku cuma khawatir. Istirahat yang cukup. Love you."
Keana baca itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Dan tiba-tiba—tanpa dia sadar—air matanya jatuh.
Dia nggak tahu kenapa dia nangis. Mungkin karena sop iga itu. Mungkin karena kata "love you". Mungkin karena dia baru sadar: nggak ada yang masakin sop iga buat dia sekarang.
Nggak ada yang khawatir kalau dia belum pulang. Nggak ada yang nanya "udah makan?" dengan tulus.
Yang ada cuma Andra. Dengan mobil mewah, restoran mahal, dan kehadiran yang sering bolong.
---
Sabtu Pagi – Di Apartemen
Keana bangun. Andra udah pergi. Meeting, katanya. Atau mungkin nggak. Dia nggak tahu lagi.
Di meja dapur, ada uang. Lumayan banyak. Dan catatan pendek:
"Buat beli apa yang lo suka. Love, Andra."
Love, Andra.
Bukan "love you". Tapi "love, Andra". Kayak tanda tangan di akhir email kantor.
Keana tatap uang itu. Banyak. Bisa beli apa aja.
Tapi dia nggak mau beli apa-apa. Dia cuma... pengen sarapan bareng. Ngobrol. Ketawa. Hal-hal kecil yang dulu dia anggap remeh.
Dia ambil ponsel. Telepon Maya.
"May."
"Hei, langka. Lo baik?"
"Gue... boleh ke tempat lo?"
---
Siang – Di Kos Maya
Maya buka pintu. Lihat Keana berdiri dengan mata sembab. Tanpa banyak tanya, dia tarik Keana masuk, dudukin di sofa, kasih segelas air.
"Cerita."
Keana diem lama. Tangan megang gelas, tapi nggak diminum.
"May..."
"Hmm?"
"Gue... gue kayak mulai... nggak tahu."
"Nggak tahu apa?"
Keana angkat muka. Matanya basah.
"Gue kayak... nggak tahu lagi gue mau apa."
Maya diem. Dia duduk di samping Keana.
"Cerita dari awal."
Dan Keana cerita. Tentang Andra yang mulai dingin. Tentang malam di restoran. Tentang uang di meja. Tentang chat Bima yang dia baca ulang.
Maya dengerin. Nggak potong. Sampai Keana selesai.
"Lo tahu, Kean." Maya mulai. Suaranya pelan. "Gue nggak mau bilang "gue udah bilang". Tapi..."
"Tapi?"
"Lo ngejar yang 'lebih'. Dapet. Tapi sekarang lo ngerasa ilang." Maya tatap dia. "Lo tahu kenapa?"
Keana geleng.
"Karena yang lo cari selama ini bukan 'lebih'. Tapi 'cukup'. Dan cukup itu... ternyata Bima."
Keana diem. Kata-kata Maya nusuk.
"Aku... aku nggak tahu, May."
"Lo tahu. Lo cuma belum siap ngaku."
---
Sore – Perjalanan Pulang
Keana naik taksi. Macet. Jakarta lagi macet parah.
Pikirannya ke mana-mana. Ke Bima. Ke Andra. Ke Maya. Ke apartemen mewah yang nggak terasa rumah.
Ponsel bergetar.
Andra: "Malem ini meeting dinner sama client. Pulang malem. Lo makan sendiri ya."
Makan sendiri.
Dua kata yang makin sering dia denger akhir-akhir ini.
Keana nggak bales. Dia taruh ponsel. Pandang ke luar jendela.
Di pinggir jalan, dia lihat angkringan. Bukan angkringan Warna-Warni. Tapi angkringan biasa. Tapi di situ ada pasangan muda—cowoknya lagi nyuapin ceweknya. Sederhana. Tapi mereka ketawa.
Dulu, Bima juga sering ngelakuin itu.
Dulu.
Sekarang, dia makan sendiri di apartemen mewah.
---
Malam – Di Apartemen
Keana duduk di meja makan. Sendirian. Makanan pesan online dingin di depan mata. Dia nggak sentuh.
Ponsel. Buka Instagram.
Postingan Bima.
Foto di gym. Badannya mulai keliatan. Wajahnya lebih segar. Caption: "Mind and body in progress."
Like: 1.234. Komentar: 87. Banyak cewek.
Keana baca satu per satu komentar itu.
"Ganteng banget kak!"
"Semangat terus!"
"Single nih kayaknya?"
Dia tutup aplikasi. Taruh ponsel.
Dadanya sesak. Tapi dia nggak tahu harus marah sama siapa.
Marah sama Bima? Bima nggak salah. Dia yang pergi.
Marah sama Andra? Dia yang milih Andra.
Marah sama diri sendiri? Mungkin itu jawabannya.
---
Pukul 23.00
Andra belum pulang. Keana di kamar. Gelap. Cuma cahaya lampu dari luar.
Ponsel. Dia buka chat Bima lagi. Chat lama. Dari dua bulan lalu.
Bima: "Sayang, mimpi indah ya. Love you."
Dia baca itu. Lalu dia scroll ke bawah. Ke chat yang lebih lama.
Bima: "Sayang, hari ini aku belajar masak sop iga. Kata ibu resepnya udah bener. Besok aku bikinin ya."
Bima: "Sayang, laundry lo udah aku ambil. Aku setrika sekalian biar lo nggak repot."
Bima: "Sayang, aku lagi di jalan. Mau jemput lo. Hujan nih, bawa payung."
Bima: "Love you."
Ratusan pesan. Ribuan. Semua tentang dia. Semua tentang perhatian. Semua tentang cinta.
Cinta yang dia buang.
Cinta yang dia bilang predictable.
Cinta yang dia ganti dengan mobil mewah dan apartemen—yang sekarang terasa dingin.
Keana letakkan ponsel. Tarik selimut. Telungkup.
Dan di apartemen mewah itu, di kasur empuk senilai puluhan juta, dia nangis.
Nangis kayak anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
Bukan mainan. Tapi orang. Orang yang dulu selalu ada. Yang sekarang mungkin udah nggak akan pernah kembali.
---
Bersambung ke Bab 8: Bima Naik Kelas
---
📝 Preview Bab 8:
Sementara Keana mulai runtuh dalam kemewahan, Bima terus naik level.
Kursus demi kursus. Gym setiap pagi. Karier mulai moncer. Dan tanpa dia sadari, ada yang mulai lihat dia—bukan sebagai "cowok biasa", tapi sebagai pria yang layak diperhitungkan.
Bab 8: Bima Naik Kelas—segera!
---