Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura Kehilangan
Pagi itu, SMA Garuda seolah berubah menjadi medan perang bagi Arlan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela koridor terasa lebih silau dari biasanya, seolah-olah sengaja ingin menyoroti setiap gerak-geriknya. Arlan berjalan menunduk, menarik tudung jaket denimnya hingga hampir menutupi mata. Ia merasa telanjang. Kameranya yang tergantung di leher kini tampak berbeda; lubang lensanya yang hitam pekat tanpa penutup terasa seperti mata yang terus berteriak memanggil pemiliknya.
Setiap kali ia berpapasan dengan siswa lain, Arlan merasa mereka sedang memperhatikan kameranya. Apakah mereka sadar? Apakah Maya sudah menyebarkan berita tentang tutup lensa itu? Pikirannya liar, mengolah skenario-skenario terburuk yang bisa terjadi.
Ia sampai di depan kelasnya, namun langkahnya terhenti saat melihat sekerumunan siswa berkumpul di depan mading pusat. Di sana, tepat di bawah foto siluet yang ia tempel kemarin, kini ada sesuatu yang baru. Sebuah kertas catatan berwarna kuning terang—warna favorit Maya yang selalu terlihat di saku tasnya.
Arlan mendekat dengan hati yang berdebu. dengan penuh penasaran apa yang sedang mereka lihat.ternyata Kalimat di kertas itu tertulis dengan tinta hitam yang tegas:
"A.R., kamera tanpa tutup itu bahaya, lensanya bisa lecet. Sama kayak perasaan, kalau terus terbuka lensa kameranya akan terus tergores, jadi nggak akan pernah bisa fokus. Temui aku di ruang teater jam 3 sore. Bawa kameramu."
Darah Arlan serasa tersirap ke kaki. Itu bukan lagi sekadar undangan; itu adalah konfrontasi terbuka. Maya tidak hanya menemukan tutup lensanya, ia telah memetakan siapa pemilik inisial tersebut. Arlan yakin, Maya pasti sudah memeriksa daftar absensi atau menanyakan kepada beberapa orang tentang siapa fotografer yang sering memakai jaket denim.
"Gila..." bisik Arlan pelan. Ia segera berbalik, mencoba menghilang di balik keramaian koridor sebelum ada yang menyadari kehadirannya di sana.
Sepanjang jam pelajaran Sejarah dan Matematika, Arlan tidak mendengar satu kata pun yang diucapkan guru. Pikirannya tersangkut pada angka "3 sore". Ia membayangkan dirinya berdiri di ruang teater yang luas dan gelap, menghadapi Maya yang memegang tutup lensa miliknya. Ia membayangkan bagaimana ia harus menjelaskan pelariannya di kafe tua. Tito dan Rianpun melihat ada kegelisahan yang terjadi pada diri Arlan.
"Aku akan terlihat seperti pecundang", batinnya.
Saat jam istirahat, Tito dan Rian menghampirinya di kantin. Mereka berdua tampak bersemangat, kontras dengan wajah Arlan yang pucat.
"Lan, lo liat mading teater nggak? Ada pesan buat 'A.R.'," kata Tito sambil menepuk bahu Arlan keras-keras. "Gue nggak tahu siapa lagi fotografer berinisial A.R. di sekolah ini selain Arlan Rayyan. Itu lo, kan?"
Arlan terdiam sejenak, tangannya meremas botol air mineral hingga berbunyi gemeretak. "Bukan. Mungkin anak kelas sepuluh. Gue nggak kehilangan apa-apa."
"Tapi kamera lo nggak ada tutupnya hari ini," sela Rian dengan mata menyelidik. "Biasanya lo posesif banget sama barang itu. Lo bilang itu warisan kakek lo, kan?"
Arlan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti gurun. Inilah saatnya. Ia harus memutuskan: jujur atau terus bersembunyi. Dan bagi Arlan, bersembunyi adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk bertahan hidup.
"Gue... gue nggak sengaja menjatuhkannya di jalan tadi pagi," bohong Arlan, suaranya terdengar datar namun bergetar di ujungnya. "Udah hilang. Gue nggak bakal nyari lagi. Palingan juga udah hancur terlindas mobil."
Tito mengernyitkan dahi. "Tapi pesan di mading itu bilang dia nemuin tutup lensa. Lo tinggal samperin Maya ke ruang teater jam tiga nanti, Lan. Apa susahnya sih?"
"Gue bilang hilang, ya hilang!" bentak Arlan tiba-tiba, membuat beberapa siswa di meja sebelah menoleh. Suasana mendadak canggung. Arlan segera berdiri, menyampirkan tas kameranya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Ia berlari menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk menghilang. Di pojok rak buku fotografi yang jarang dikunjungi, ia duduk bersandar di lantai kayu yang dingin. Ia meraba lensa kameranya yang terbuka. Ia merasa sakit melihat lensa itu tanpa pelindung, tapi rasa takutnya untuk menghadapi Maya jauh lebih menyakitkan.
Ia justru memilih untuk pura-pura kehilangan tutup lensanya selamanya.
Baginya, kehilangan benda fisik itu adalah harga yang harus ia bayar demi menjaga rahasianya. Jika ia mengambil kembali tutup lensa itu, maka ia harus mengakui bahwa dialah "si penakut dari kafe". Ia harus mengakui bahwa ia telah mengamati Maya secara diam-diam. Ia harus mengakui bahwa ia peduli. Dan bagi Arlan, mengakui perasaan adalah hal yang paling menakutkan di dunia.
Pukul menunjukkan 14.50. Sepuluh menit menjelang waktu yang ditentukan Maya.
Arlan berdiri di depan cermin toilet sekolah. Ia menatap pantulan dirinya: seorang remaja dengan jaket denim yang tampak kebesaran, mata yang menyimpan kecemasan, dan sebuah kamera yang tampak "patah hati" tanpa penutupnya.
Ia bisa mendengar suara hatinya berteriak, Pergilah! Temui dia! Jangan jadi pengecut!
Ayo arlan kamu harus bisa! lanjut gumamnya.
Namun, kakinya justru melangkah ke arah berlawanan. Ia berjalan menuju parkiran sepeda motor, menyalakan mesinnya, dan keluar dari gerbang sekolah tepat saat bel pulang berbunyi. Ia tidak menoleh ke arah gedung teater. Ia tidak ingin melihat apakah Maya sedang berdiri di ambang pintu, menunggunya dengan tutup lensa itu di tangan.
Di sepanjang jalan pulang, angin sore menerpa wajahnya dengan kasar. Arlan merasa lega, namun ada kekosongan yang menyesakkan di dadanya. Ia telah berhasil melarikan diri lagi. Ia telah berhasil mempertahankan zona nyamannya.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar dan meletakkan kameranya di atas meja. Ia menatap lubang lensa yang kini berdebu. Ia mengambil sebuah kain microfiber dan membersihkannya perlahan.
"Maafin gue, Kek," bisiknya, teringat pesan kakeknya untuk selalu menjaga alat-alatnya dengan nyawa. "Tapi gue lebih takut kehilangan diri gue sendiri."
Malam itu, Arlan tidak bisa tidur. Ia membayangkan Maya yang mungkin kecewa karena tidak ada yang datang. Ia membayangkan Maya yang mungkin menatap tutup lensa itu dan merasa dipermainkan. Ia merasa bersalah, namun ia tetap pada keputusannya. Baginya, tutup lensa itu sudah mati. Bersamaan dengan keberaniannya yang juga ikut terkubur.
Namun, Arlan tidak tahu bahwa Maya bukanlah tipe gadis yang mudah menyerah. Jika Arlan tidak mau mendatangi tutup lensanya, maka Maya yang akan membawa tutup lensa itu kepada Arlan—dengan cara yang sama sekali tidak ia duga.
Pelarian Arlan di Bab ini hanyalah penundaan dari sebuah takdir yang sudah kadung "terekspos". Dan seperti film yang sudah terkena cahaya, gambar itu akan terus muncul, seberapa keras pun ia mencoba untuk merusaknya.