NovelToon NovelToon
Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis / Selingkuh
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."

Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.

Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden terasa seperti ejekan. Kepalaku berdenyut berat, sisa dari tangis semalam yang tak kunjung usai. Aku menatap seragam yang tergantung rapi, rasanya enggan untuk memakainya lagi. Sekolah bukan lagi tempat menuntut ilmu, tapi medan perang yang sudah jelas kekalahannya ada di pihakku.

Suara klakson motor yang sangat kukenal terdengar dari depan pagar. Tak lama, suara ketukan di pintu kamar menyusul.

"Fis? Afisa? Bareng yuk, gue udah di depan," suara Kaila terdengar ragu, ada nada bersalah yang kental di sana.

Aku menarik napas panjang, menatap pintu kamar yang terkunci rapat. "Gue berangkat sendiri, Kai. Duluan aja."

"Fis, ayolah... gue mau jelasin semuanya. Gue beneran nggak maksud—"

"Gue bilang duluan aja!" potongku dengan nada lebih tinggi. Aku tidak ingin mendengar satu kata pun pembelaan yang hanya akan terdengar seperti kebohongan baru.

Keheningan menyelimuti lorong depan kamarku selama beberapa detik, sebelum akhirnya aku mendengar langkah kaki Kaila menjauh dan deru motornya meninggalkan rumah. Aku menunggu sepuluh menit lagi untuk memastikan dia benar-benar pergi, lalu aku keluar kamar dengan langkah gontai.

Bunda menatapku khawatir saat aku melewati meja makan tanpa menyentuh sarapan. "Afisa, bekalnya dibawa ya?"

"Nggak usah, Bun. Fis berangkat," pamitku singkat, mengecup tangan Bunda tanpa berani menatap matanya. Aku takut pertahananku runtuh lagi jika melihat tatapan ibanya.

Aku memilih naik ojek online daripada angkutan umum yang biasa kunaiki bersama Kaila. Sepanjang perjalanan, aku memasang earphone dengan volume maksimal, menutup diri dari dunia luar. Namun, begitu aku memasuki gerbang sekolah, atmosfernya langsung terasa menyesakkan.

Di koridor menuju kelas, orang-orang tampak berbisik. Atau mungkin itu hanya perasaanku yang sedang hancur. Saat aku sampai di depan kelas, langkahku terhenti.

Di sana, di depan loker, Fita sedang berdiri mematung. Dia sepertinya sengaja menungguku. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak layu, tapi itu tidak mengurangi rasa mual yang kembali naik ke kerongkonganku.

"Fis, bisa kita bicara bentar?" tanya Fita lirih saat aku mencoba melewatinya begitu saja.

Aku berhenti, menatapnya dengan tatapan yang paling dingin yang pernah kumiliki. "Bicara soal apa? Soal gimana cara nikung temen sendiri dengan rapi? Atau soal camilan di kostan lo yang ternyata rasanya pengkhianatan?"

Wajah Fita memucat. "Gue... gue nggak pernah bermaksud rebut Guntur dari lo. Dia yang dateng ke gue, Fis. Gue awalnya nolak, tapi—"

"Tapi lo keenakan?" sambungku ketus. "Jangan sok jadi korban, Fit. Lo tahu segalanya. Lo tahu tiap air mata yang gue jatuhin buat dia. Dan lo dengan tenang dengerin itu semua sambil nyimpen dia di kantong lo?"

Beberapa teman sekelas mulai menoleh. Di kejauhan, aku melihat Alif dan Ayu berjalan mendekat dengan wajah cemas.

Aku tidak menunggu pembelaan lain dari bibir Fita. Sebelum dia sempat mengeluarkan sepatah kata pun yang hanya akan terdengar seperti racun, aku memutar tumit dan melangkah masuk ke dalam kelas.

"Fis, tunggu!" panggil Ayu dari kejauhan, suaranya terdengar panik.

Aku tidak menoleh. Aku terus berjalan, melewati ambang pintu kelas X-IPS 2 dengan langkah yang dipaksakan tegak. Begitu sampai di bangkuku, aku langsung menaruh tas dan menelungkupkan kepala di atas meja. Aku bersyukur—sangat bersyukur—bahwa aku, Fita, dan Guntur berada di kelas yang berbeda. Setidaknya, dinding beton ini bisa menjadi benteng sementaraku dari tatapan mereka.

"Fis? Lo nggak papa?" tanya seorang teman sekelas yang lewat, mungkin menyadari bahuku yang sedikit bergetar.

"Gue mau tidur. Tolong jangan ganggu," sahutku tanpa mengangkat kepala. Suaraku teredam, terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.

Dari balik lenganku, aku bisa mendengar hiruk-pikuk kelas yang mulai ramai. Namun, indra pendengaranku justru menangkap suara langkah kaki yang berhenti tepat di samping mejaku. Aku mengenali aroma parfumnya—itu Kaila.

"Fis, gue tahu lo marah banget sama gue," bisik Kaila pelan, duduk di kursi kosong sebelahku. "Tapi gue sepupu lo, Fis. Gue cuma bingung karena Guntur yang minta gue tutup mulut biar dia yang jelasin ke lo pas waktunya tepat. Gue nggak tahu kalau akhirnya bakal jadi kayak kemarin."

Aku mengangkat kepala perlahan, menatap Kaila dengan mata sembap yang mulai terasa perih. "Waktu yang tepat, Kai? Kapan? Pas mereka udah jadian setahun? Pas mereka udah tunangan?"

Kaila terdiam, wajahnya penuh penyesalan.

"Lo bilang lo bingung karena Guntur yang minta," lanjutku dengan nada rendah namun tajam. "Berarti bagi lo, permintaan cowok itu lebih penting daripada perasaan gue yang tiap hari nangis di depan lo? Lo sepupu gue, Kai. Harusnya lo yang paling tahu gimana hancurnya gue pas Guntur ngelepas gue di taman waktu itu."

"Fis, maaf..."

"Pergi, Kai. Gue mau sendiri."

Kaila tampak ingin bertahan, tapi saat dia melihat mataku yang mulai berkaca-kaca lagi, dia akhirnya berdiri dan berjalan keluar kelas dengan langkah gulai.

Pelajaran jam pertama dimulai, tapi pikiranku melayang ke gedung sebelah, ke kelas Guntur dan Fita. Apakah mereka sedang bertukar pesan di bawah meja? Apakah Guntur sedang menenangkan Fita yang tadi kena semprot olehku? Bayangan mereka tertawa bersama di kostan kemarin kembali menghantamku, membuat dadaku sesak hingga aku harus mencengkeram pinggiran meja.

Saat bel istirahat berbunyi, aku tidak berniat ke kantin. Namun, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba menutupi cahayanya dari jendela kelas. Aku mendongak dan jantungku mencelos.

Guntur berdiri di ambang pintu kelas gue. Dia tidak masuk, hanya berdiri di sana dengan ekspresi datar yang paling kubenci, tangannya dimasukkan ke saku celana.

1
Aidil Kenzie Zie
tor jangan bikin mutar-mutar lagi ceritanya
Aidil Kenzie Zie
mantapkan hatimu Fis
byyyycaaaa
labil banget kan...,dia semuanya di pikiran bukannya nyoba buka hati ,di deketin semua cowok dia welcome banget 😭🙏
Aidil Kenzie Zie
Afisa Afisa🤔🤔🤔
Rea
nah gitu fis, jangan cengeng, semangat meraih masdep, jodoh gak usah dipikirin nanti datang sendiri
byyyycaaaa: iya kan kak,sapa tahu jodohnya sama oppa'' Korea 🤭😭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
semuanya berebut mau jadi pasangan Afisa
byyyycaaaa: nggak ada yang bisa gantiin posisi guntur 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bisa jadi yang dikatakan Radit bener tentang Arkan Fis
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin temen Afisa yang dulu nyesal termasuk fita. trus Afisa jdian sama bintang
byyyycaaaa: jadi pengacara hebat dulu ,soal jodoh mau kayak in hyuk🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kemana aja lo selama ini Gun jangan ganggu Afisa lagi
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
Aidil Kenzie Zie
Radit jangan bawa-bawa masa lalu lagi
Aidil Kenzie Zie
si Arkan gercep juga
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
kpn blikan sama bintang
byyyycaaaa: nunggu Bintang jadi dokter di jakarta, tapi si Arkan oke juga kak! 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur mulai muncul kemana aja dari maren?? nggak usah gangguin Afis lagi
Aidil Kenzie Zie
semangat Fis jangan sampai goyah hanya karena notif dari Kaila
Aidil Kenzie Zie
apa temannya si Guntur nggak ada bahas Afis lagi apa gimana
Rea
heran aku sama afisa, kayake tipe pemikir dan baperan, hidup dibuat santai jangan terlalu memikirkan sikap orang lain, bisa masuk RSJ nanti🤭
mbuh
skip
muak Ama afis🤣
byyyycaaaa: si afisa mau guntur 🤣🙏
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur cari penyakit sendiri dia nggak PD berdiri di samping Afisa
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
Aidil Kenzie Zie
kok si Fita bisa tau y🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
temannya kok pada ngrasa nggak punya salah sama sekali ke Afisa
main gabung aja orang lagi asik b2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!