NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyerahan

Angin malam berdesir dingin melalui celah ventilasi di penthouse pribadi Elang, sebuah ruang yang biasanya melambangkan kemegahan dan otoritas mutlak, namun malam ini terasa mencekam oleh keheningan yang menyesakkan. Elang menuntun Laras masuk ke ruang tengah yang luas, di mana lampu gantung kristal memantulkan cahaya redup di atas lantai marmer yang mengilap.

​Laras duduk di tepi sofa beludru berwarna gelap. Posisinya kaku—kaki rapat, punggung tegak, dan jemarinya saling meremas di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menatap sekeliling, tidak pula menatap Elang. Tatapannya tertuju pada ujung sepatunya, seolah-olah lantai di bawahnya adalah satu-satunya hal yang nyata.

​Di hadapannya, Elang duduk di sebuah kursi tunggal. Pria yang biasanya tampak tak tergoyahkan itu kini menunduk dalam. Bahunya yang lebar tampak merosot, dan jemarinya menyisir rambutnya yang biasanya tertata rapi dengan kasar. Keheningan itu berlangsung lama, hanya interupsi suara detak jam dinding yang seolah menghitung sisa kesabaran di antara mereka.

​"Laras..." suara Elang serak, nyaris menyerupai bisikan yang putus asa.

​Laras tidak bergeming. Ia tetap pada posisinya, mematung seperti patung porselen yang bisa pecah kapan saja jika disentuh.

​"Tolong... jangan seperti ini," Elang mendongak, matanya yang tajam kini tampak merah dan lelah. "Aku sudah membawamu ke tempat-tempat yang kamu suka. Aku memberikanmu apa pun yang kamu minta. Tapi seharian ini, kamu menatapku seolah-olah aku adalah orang asing yang menculikmu. Aku memohon padamu, bersikaplah seperti biasanya. Tersenyumlah padaku, Laras."

​Laras perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang indah namun sayu bertemu dengan mata Elang. "Bagaimana saya bisa bersikap biasa, Elang? Anda membunuh bagian dari jiwa saya semalam. Anda mematikan cahaya yang membuat saya merasa hidup. Anda ingin saya tersenyum, tapi Anda mencekik alasan saya untuk bahagia."

​Elang mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti erangan frustrasi. Ia bangkit dari duduknya, berlutut di depan Laras, dan mencoba meraih tangan wanita itu. Namun, Laras tidak membalas genggamannya; tangannya tetap lemas, membiarkan Elang memegangnya tanpa kehangatan.

​"Aku melakukannya untuk melindungimu!" tegas Elang, suaranya naik satu oktaf. "Dunia luar itu kotor, Laras. Mereka hanya akan melihatmu sebagai objek. Mereka akan mencoba mengambilmu dariku. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku lebih baik melihatmu muram di sini, bersamaku, daripada melihatmu tersenyum di pelukan dunia yang akan menghancurkanmu."

​"Dunia tidak akan menghancurkan saya, Elang. Tapi Anda sedang melakukannya sekarang," jawab Laras lirih. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya.

​Melihat air mata itu, pertahanan Elang runtuh. Pria yang terbiasa mengendalikan nasib ribuan orang ini merasa kalah telak di hadapan satu wanita yang ia puja. Ia melepaskan tangan Laras dan kembali menyandarkan kepalanya di lutut wanita itu, posisi yang sangat rapuh bagi seorang penguasa seperti dia.

​"Baiklah," gumam Elang, suaranya teredam. "Baiklah... aku menyerah."

​Laras terdiam, jantungnya berdegup kencang. Apakah ia salah dengar?

​Elang mendongak kembali, menatap Laras dengan tatapan yang sangat intens—tatapan seorang pria yang sedang melakukan pertaruhan terbesar dalam hidupnya. "Aku akan mengizinkanmu. Aku akan membiarkanmu pergi ke Sydney. Aku akan membiarkanmu mengambil panggung internasional itu."

​Napas Laras tertahan. Binar harapan yang sempat padam kini memercik kembali di matanya. "Benarkah?"

​"Ya," sahut Elang pendek. Namun, sorot matanya segera berubah menjadi gelap dan posesif kembali. Ia menggenggam pergelangan tangan Laras sedikit lebih erat. "Tapi ada syaratnya. Aku bukan pria yang melepaskan miliknya tanpa jaminan. Aku butuh bukti, Laras. Bukti yang bisa meyakinkanku bahwa Sydney tidak akan membuatmu lupa jalan pulang ke pelukanku."

​Laras mengernyit bingung. "Bukti apa yang Anda inginkan? Saya akan kembali, saya berjanji."

​Elang tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung misteri sekaligus dominasi. "Janji adalah kata-kata yang mudah terbang tertiup angin. Aku butuh sesuatu yang lebih... permanen. Sesuatu yang mengikatmu padaku secara hukum dan batin sebelum kamu menginjakkan kaki di pesawat menuju Australia."

​Elang berdiri, berjalan menuju meja kerjanya yang gelap dan mengambil sebuah kotak beludru kecil serta selembar dokumen tebal. Ia kembali ke hadapan Laras dan meletakkan dokumen itu di meja kopi.

​"Pertama, kamu harus menandatangani addendum kontrak ini. Ini menyatakan bahwa seluruh manajemen karir internasionalmu berada di bawah kontrol penuh Nusantara Arts Foundation. Aku yang menentukan hotelmu, pengawalmu, dan dengan siapa kamu boleh bicara. Kamu akan pergi ke Sydney, tapi Sydney akan menjadi perpanjangan dari sangkar emas ini."

​Laras menatap dokumen itu. Ia tahu ini adalah bentuk pengawasan jarak jauh, namun ia masih bisa menerimanya asalkan ia bisa menari. "Dan yang kedua?"

​Elang membuka kotak beludru itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan berlian biru yang sangat besar dan langka. Cahayanya memantul di mata Laras, memberikan kesan mewah yang mengintimidasi.

​"Kedua," Elang mengambil cincin itu, "kamu harus menerima pertunangan resmi ini. Kita akan mengumumkannya kepada publik sebelum kamu berangkat. Aku ingin seluruh dunia tahu—terutama Julian dan kurator-kurator sialan itu—bahwa wanita yang sedang mereka tonton di panggung adalah calon istri Elang Dirgantara."

​Elang mendekatkan wajahnya ke wajah Laras, hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Aku ingin bukti bahwa kamu adalah milikku sepenuhnya. Jika kamu menerimanya, Sydney adalah milikmu. Jika tidak... maka pintu apartemen ini tidak akan pernah terbuka untukmu lagi kecuali untuk latihan di studio pribadimu."

​Laras menatap cincin itu, lalu menatap Elang. Ia menyadari bahwa ini adalah harga yang harus ia bayar. Elang tidak memberikan kebebasan; ia hanya memberikan tali yang lebih panjang. Pertunangan ini adalah rantai emas yang akan mengikatnya selamanya.

​Namun, hasratnya untuk menari di panggung dunia begitu besar. Ia mencintai Elang, namun ia juga mencintai jiwanya sebagai penari. Jika ia harus menjadi "milik" Elang secara resmi untuk bisa bernapas di panggung Sydney, maka ia akan melakukannya.

​"Baik," bisik Laras, suaranya mantap meskipun hatinya bergetar. "Saya terima. Saya akan menjadi milik Anda secara resmi, Elang. Berikan saya Sydney, dan saya akan memberikan diri saya sepenuhnya pada Anda."

​Elang menarik napas lega, sebuah kemenangan besar terpancar di wajahnya. Ia segera menyematkan cincin berlian biru itu ke jari manis Laras. Cincin itu terasa dingin dan berat, seolah benar-benar menjadi borgol yang indah.

​Elang kemudian menarik Laras ke dalam pelukannya yang sangat erat, seolah tak ingin membiarkan udara sekalipun lewat di antara mereka. "Terima kasih, Laras. Jangan pernah berpikir untuk lari. Karena sekarang, ke mana pun kamu pergi, namaku akan selalu melekat pada dirimu."

​Laras bersandar di dada Elang, menatap cincin di jarinya yang berkilau dalam kegelapan. Ia telah mendapatkan mimpinya, namun ia juga tahu bahwa mulai malam ini, ia telah menyerahkan kunci terakhir dari pintu kebebasannya kepada sang pria posesif yang kini memeluknya dengan penuh kemenangan.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!