NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".

Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Hari Kedamaian

Kota Bintang Jatuh bagaikan seekor naga raksasa yang tidak pernah tidur. Semakin malam, jalanan kota yang dilapisi batu giok putih itu justru semakin benderang oleh ribuan lampion berwarna-warni. Namun, di balik kemegahan dan kemewahan tersebut, arus bawah yang mematikan terus bergolak, terutama menjelang perhelatan Pelelangan Agung yang hanya terjadi sepuluh tahun sekali.

Setelah meninggalkan Paviliun Seribu Ramuan, Shen Yuan tidak langsung mencari penginapan. Ia menyusuri pasar malam di pinggiran kawasan perdagangan, membelanjakan beberapa keping emasnya untuk membeli sebuah caping bambu lebar yang dilengkapi dengan tirai kain hitam pekat. Tirai itu dirajut dengan benang ulat sutra penangkal persepsi tingkat rendah, cukup untuk menyembunyikan wajah dan pandangan mata dari para pendekar fana biasa.

Dengan caping bambu yang menutupi kepalanya dan jubah abu-abu kusam yang membalut tubuhnya, Shen Yuan benar-benar terlihat seperti pengelana tanpa nama yang sering berlalu-lalang di dunia persilatan.

Ia kemudian menyewa sebuah paviliun kecil yang sunyi di bagian belakang 'Penginapan Daun Gugur', sebuah tempat peristirahatan yang terkenal dengan kerahasiaannya. Biaya sewanya cukup mencekik, sepuluh keping emas untuk tiga hari, namun Shen Yuan membayarnya tanpa berkedip. Saat ini, ia membutuhkan ketenangan mutlak.

Begitu pintu kayu paviliun itu ditutup rapat dan susunan aksara peredam suara diaktifkan, Shen Yuan duduk bersila di atas ranjang bambu. Ia merogoh ke dalam jubahnya, menarik keluar Kantong Qiankun bersulam benang emas.

Dengan sedikit aliran hawa murni, kesadarannya memasuki ruang hampa di dalam kantong tersebut. Ia menarik keluar sepuluh butir Batu Roh Tingkat Rendah. Batu-batu seukuran ibu jari itu memancarkan pendar cahaya putih susu yang lembut, menerangi ruangan yang temaram dengan aura kesucian.

"Jadi ini yang disebut Batu Roh," gumam Shen Yuan. Ia bisa merasakan hawa murni langit dan bumi yang sangat kental tersegel di dalam batu-batu kristal tersebut. Rasanya sangat berbeda dengan esensi darah binatang buas yang liar dan penuh amarah, atau esensi darah manusia yang membawa jejak karma dan kebencian.

"Ini adalah mata uang sekaligus fondasi kultivasi bagi mereka yang telah menyentuh batas alam menengah," suara Leluhur Darah bergema dari dalam jantungnya. "Di alam bawah yang miskin energi ini, Batu Roh adalah anugerah. Selama ini kau memaksakan Dantian-mu menelan energi darah yang brutal. Meski tubuhmu kuat, jalur nadimu butuh ditenangkan. Gunakan tiga hari ini untuk menyerap Batu Roh. Biarkan energi murni ini menyapu sisa-sisa amarah di dalam Nadi Iblis Penelan Surgamu."

Shen Yuan mengangguk perlahan. Ia meletakkan sebutir Batu Roh di masing-masing telapak tangannya, menutup matanya, dan mulai memutar Sutra Penelan Surga.

Berbeda dengan saat ia menghisap darah musuh, kali ini hisapan dari tangannya sangat lembut namun tak terbendung.

Wussshhh...

Hawa murni berwarna putih susu mengalir keluar dari Batu Roh, memasuki telapak tangan Shen Yuan bagaikan aliran sungai jernih yang membasuh tanah kering. Saat energi suci itu bertemu dengan hawa murni merah kehitaman milik Nadi Iblis, tidak ada penolakan atau ledakan. Energi putih itu langsung ditelan, dicerna, dan diubah menjadi kekuatan yang sangat padat untuk memperkuat Dantian-nya.

Satu batang dupa kemudian, bunyi trak pelan terdengar. Dua Batu Roh di tangan Shen Yuan telah kehilangan cahayanya, berubah menjadi batu kusam biasa, lalu hancur menjadi debu abu-abu.

Shen Yuan membuka matanya. Ia menghela napas panjang, menembakkan seberkas udara putih yang membawa sisa-sisa kelelahan dan kotoran dari pertarungannya di Hutan Kabut Beracun. Perasaannya sungguh luar biasa segar. Kutukan Tulang Layu di punggungnya bahkan terasa sedikit lebih tenang di bawah siraman energi murni ini.

"Satu batang dupa untuk dua Batu Roh... Kecepatan penyerapan Sutra Penelan Surga benar-benar mengerikan. Jika pendekar biasa butuh satu bulan untuk menyerap sebutir Batu Roh, aku bisa melahap ratusan dalam hitungan hari," bisik Shen Yuan, senyum puas terukir di wajahnya.

Tanpa menunda lagi, ia mengeluarkan lebih banyak Batu Roh dari Kantong Qiankun. Tiga hari ini adalah waktu yang berharga sebelum ia melangkah ke dalam sarang naga.

Waktu mengalir bagai air. Di dalam paviliun yang sunyi itu, debu batu kusam terus menumpuk di sekitar tempat duduk Shen Yuan.

Di hari kedua, ia menyelingi meditasinya dengan melatih Langkah Bayangan Hantu di halaman sempit paviliun. Berkat kejernihan pikiran yang dibawa oleh Batu Roh, pemahamannya terhadap jalur aliran hawa murni di telapak kakinya meningkat pesat. Kini, ia bisa dengan mudah memecah tubuhnya menjadi empat bayangan sisa yang terlihat sangat nyata, bertahan hingga tiga tarikan napas sebelum memudar.

Di pagi hari ketiga...

Bum!

Sebuah getaran halus meletus dari dalam tubuh Shen Yuan, menyapu debu di sekitarnya. Ia telah menghabiskan lima puluh butir Batu Roh Tingkat Rendah!

Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh miliknya kini telah sepenuhnya stabil, bahkan telah menyentuh ambang Puncak Lapisan Ketujuh. Hawa murni di Dantian-nya bergolak tenang namun mematikan.

Ia berdiri, membersihkan debu dari jubah abu-abunya, dan mengenakan caping bambu berhias tirai hitamnya. Hari ini adalah harinya.

...

Suasana Kota Bintang Jatuh di pagi hari ketiga ini benar-benar gila. Langit di atas kota diwarnai oleh kilatan cahaya pedang terbang dan kereta siluman dari berbagai kubu besar yang datang dari penjuru benua.

Shen Yuan berjalan keluar dari penginapannya, berbaur dengan arus manusia yang semuanya bergerak menuju satu arah yang sama: alun-alun pusat kota.

Saat ia tiba di alun-alun tersebut, langkahnya terhenti. Di hadapannya, berdiri sebuah bangunan yang keagungannya sanggup membuat penduduk fana berlutut menyembah.

Balai Lelang Bintang Jatuh tidak berbentuk seperti rumah pada umumnya, melainkan sebuah kubah raksasa yang terbuat dari Besi Bintang Jatuh yang berwarna perak gelap. Kubah itu memancarkan cahaya redup yang menolak pendaran matahari, memberikan kesan kuno dan tak tertembus. Bangunan itu dijaga oleh ratusan prajurit berbaju zirah perak, masing-masing memancarkan aura di atas Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh.

"Hanya penjaga pintu saja berada di Lapisan Ketujuh..." Shen Yuan bergumam dari balik tirai hitamnya. Mengingat Tetua Agung Keluarga Shen di kota kelahirannya saja bertingkah seperti dewa, perbedaan dunia ini terasa sangat ironis.

Bangunan raksasa itu memiliki tiga gerbang masuk yang berbeda.

Gerbang Emas, yang dihiasi oleh ukiran naga terbang, diperuntukkan bagi para leluhur kubu, penguasa kota, dan ahli yang setidaknya berada di Ranah Pembentukan Inti Emas.

Gerbang Perak, dihiasi ukiran harimau, dilalui oleh para Tuan Muda bangsawan, tetua sekte besar, dan pendekar di Ranah Pengumpulan Lautan Qi.

Sedangkan Gerbang Perunggu, gerbang terlebar dengan ukiran kura-kura, adalah jalur bagi para pendekar pengelana, pedagang, dan ahli fana yang memiliki kekayaan, namun tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi.

Shen Yuan dengan tenang melangkah menuju antrean di Gerbang Perunggu.

Di depan gerbang, beberapa penilai berkepala botak sedang memeriksa kekayaan setiap tamu yang ingin masuk. Aturannya sederhana: untuk memasuki Aula Perunggu, seseorang harus menunjukkan kepemilikan minimal seratus Batu Roh Tingkat Rendah. Aturan ini saja sudah cukup untuk menyaring sembilan puluh sembilan dari seratus penduduk Benua Awan Gelap!

"Tunjukkan bukti kekayaan Anda, Tuan," ucap salah satu penilai dengan nada datar saat giliran Shen Yuan tiba.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Shen Yuan merogoh jubahnya dan mengeluarkan Kantong Qiankun miliknya, lalu membiarkan sang penilai melongok ke dalamnya dengan kesadaran spiritual.

Melihat Kantong Qiankun, mata penilai itu sedikit melebar, menyadari bahwa pengelana bertopi bambu ini bukan orang sembarangan. Ketika ia mendeteksi tumpukan seratus lima puluh Batu Roh di dalamnya, sikap penilai itu langsung berubah hormat.

"Kekayaan Anda mencukupi. Silakan ambil ini," penilai itu menyodorkan sebuah topeng perunggu polos tanpa corak, beserta sebuah plakat kayu berwarna cokelat tua bernomor '884'. "Topeng ini adalah perlengkapan khusus dari Balai Lelang untuk menjaga kerahasiaan identitas para tamu di Aula Perunggu setelah pelelangan selesai. Plakat itu adalah nomor kursi Anda."

Shen Yuan mengambil topeng dan plakat tersebut. Ia memasang topeng perunggu itu di balik tirai caping bambunya, menyembunyikan wajahnya dengan perlindungan ganda, lalu melangkah masuk melintasi gerbang besi raksasa.

Begitu melewati lorong yang diterangi oleh mutiara malam, pemandangan di dalam kubah itu membuat napas siapa pun akan tertahan.

Ini bukanlah ruangan, melainkan sebuah lembah buatan di dalam ruangan! Ribuan kursi berlapis beludru merah tersusun melingkar, menurun menyerupai undakan lereng bukit, menghadap ke sebuah panggung batu giok putih di titik terendah pusat kubah. Di atas ribuan kursi perunggu itu, melayang belasan pelataran batu giok yang tertutup oleh tirai sutra tembus pandang—itu adalah Ruang Perak dan Ruang Emas bagi para tamu kehormatan, di mana mereka bisa melihat ke bawah tanpa bisa dilihat oleh kerumunan di bawahnya.

Shen Yuan menemukan kursinya di barisan tengah, nomor 884. Ia duduk dengan tenang, menyilangkan kedua lengannya, dan menekan seluruh auranya hingga titik kehampaan. Di sekelilingnya, ribuan pendekar dari berbagai penjuru dunia duduk dengan wajah tegang, beberapa saling berbisik, sementara yang lain menatap panggung giok dengan tatapan serakah.

Waktu berlalu perlahan diiringi oleh dengungan suara ribuan manusia.

Hingga akhirnya, sebuah suara dentingan lonceng yang sangat jernih dan menyusup langsung ke dalam lautan jiwa terdengar.

Tenggg...

Suara lonceng itu seketika membungkam ribuan mulut di dalam aula. Keheningan mutlak mengambil alih. Cahaya di kawasan kursi penonton meredup, sementara panggung giok putih di tengah aula bermandikan cahaya terang yang jatuh dari puncak kubah.

Dari bawah panggung, sebuah pijakan batu perlahan naik ke atas. Di atas pijakan itu, berdirilah seorang wanita yang kecantikannya sanggup meruntuhkan sebuah kerajaan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Rambut hitamnya dihiasi oleh jepit rambut berbentuk burung phoenix, dan bibirnya menyunggingkan senyuman yang sangat memikat, namun sekaligus menyimpan racun yang mematikan.

Namun, bukan kecantikannya yang membuat ribuan pendekar di aula menahan napas, melainkan aura yang memancar dari tubuh rampingnya. Hawa murni yang mengelilinginya tidak berwujud pusaran atau kabut, melainkan seolah-olah telah memadat menjadi kristal di sekitarnya.

Itu adalah tekanan dari Ranah Pembentukan Inti Emas!

"Selamat datang, para pahlawan dan tiran dari berbagai penjuru langit," suara wanita itu mengalun merdu, terdengar jelas di telinga setiap orang tanpa ia perlu berteriak. "Saya adalah Su Ruoxue, Penatua Lelang Utama dari Balai Lelang Bintang Jatuh. Hari ini, sepuluh tahun penantian telah berakhir. Gerbang harta karun purbakala telah dibuka."

Mata Su Ruoxue menyapu ribuan wajah bertopeng di Aula Perunggu, lalu menatap ke arah pelataran-pelataran melayang di atasnya.

"Kita tidak akan membuang waktu dengan basa-basi fana. Pelelangan Agung Bintang Jatuh... resmi dimulai! Bawa pusaka pertama!"

Sebuah pilar batu giok kecil muncul dari lantai panggung, di atasnya tergeletak sebuah kotak kayu gaharu kuno. Jantung Shen Yuan berdegup lebih cepat. Permainan para raksasa telah dimulai, dan ia siap menjadi serigala yang bersembunyi di balik bayangan para naga.

1
Bucek John
kiankun kepala keluarga Lin disio siokan, gak ditoleh, padahal harta sdh jelas byk sekali n harta klan lin gak diambil, sia sia harta menang prang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!