Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Beberapa hari setelah menyadari keterlambatan itu, Yusallia mencoba menjalani harinya seperti biasa.
Ia bangun pagi tepat waktu. Menyisir rambutnya rapi. Memilih pakaian kerja dengan pertimbangan sederhana seperti biasanya. Tidak ada yang terlihat berbeda dari luar.
Namun ada satu hal kecil yang berubah.
Ia mulai berpikir sedikit lebih banyak dari biasanya.
Bukan berpikir tentang pasien. Bukan tentang jurnal penelitian terbaru. Bukan tentang diskusi kasus dengan rekan sejawat.
Melainkan tentang satu kemungkinan yang terus muncul tanpa diminta.
Ia berusaha menepisnya dengan logika.
Sebagai dokter, ia tahu terlalu banyak kemungkinan lain yang jauh lebih masuk akal.
Siklus menstruasi tidak selalu teratur.
Stres bisa mempengaruhi hormon.
Kurang tidur bisa mengacaukan ritme tubuh.
Perubahan pola makan juga bisa berdampak.
Ia mengulang kalimat itu di dalam kepalanya berkali-kali.
Meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya masih dalam batas normal.
Bahwa ia tidak perlu berpikir terlalu jauh.
Bahwa belum tentu berarti apa pun.
Pagi itu, ia bahkan sengaja menyempatkan diri membuka beberapa jurnal medis yang membahas tentang perubahan siklus hormonal akibat stres kerja.
Sebuah kebiasaan yang sebenarnya cukup khas baginya.
Jika ada sesuatu yang membuatnya tidak yakin, ia akan mencari referensi ilmiah.
Mencari kepastian dalam data.
Mencari ketenangan dalam logika.
Ia duduk di kursi ruang kerjanya sebelum jam konsultasi pertama dimulai.
Layar laptopnya menampilkan artikel medis dengan grafik hormon yang naik turun secara kompleks.
Matanya membaca dengan fokus, namun pikirannya sebenarnya tidak sepenuhnya tenang.
Beberapa poin yang ia baca justru membuatnya semakin sadar bahwa tubuh manusia memang tidak selalu bisa diprediksi secara sederhana.
Beberapa wanita mengalami keterlambatan hingga dua minggu hanya karena tekanan kerja.
Beberapa mengalami perubahan pola makan yang mempengaruhi keseimbangan tubuh.
Semua itu masuk akal.
Sangat masuk akal.
Ia mengangguk kecil sendiri.
Seolah menemukan pembenaran yang ia butuhkan.
Namun saat ia menutup laptopnya, rasa tidak nyaman kecil itu tetap ada.
Tidak besar.
Tidak mencolok.
Namun cukup terasa.
Hari itu berjalan cukup sibuk.
Beberapa pasien datang dengan kondisi kecemasan berat.
Ironisnya, ia justru memberikan banyak saran tentang bagaimana mengelola pikiran yang terlalu penuh.
Bagaimana menerima ketidakpastian.
Bagaimana membiarkan waktu membantu menjelaskan banyak hal.
Kalimat-kalimat yang terdengar sangat masuk akal.
Kalimat yang biasanya ia yakini sepenuhnya.
Namun kali ini, sebagian dari dirinya merasa seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Saat siang tiba, ia mencoba makan seperti biasa.
Namun selera makannya terasa sedikit berubah lagi.
Makanan yang biasanya terasa ringan kini terasa sedikit terlalu kuat aromanya.
Ia tetap berusaha makan perlahan.
Tidak ingin menarik perhatian siapa pun.
“Dok lagi diet?” tanya salah satu rekannya sambil tersenyum.
“Engga,” jawab Yusallia singkat.
“Kelihatan makannya dikit banget.”
“Lagi ga terlalu lapar aja.”
Rekannya hanya mengangguk santai tanpa memikirkan lebih jauh.
Percakapan kecil yang terasa normal.
Namun bagi Yusallia, setiap komentar kecil terasa seperti pengingat bahwa tubuhnya memang sedikit berbeda.
Sore harinya, ia sempat merasa pusing ringan saat berdiri terlalu cepat.
Ia berpegangan sebentar pada meja.
Tidak sampai membuatnya kehilangan keseimbangan.
Namun cukup untuk membuatnya diam beberapa detik lebih lama.
Ia menarik napas pelan.
Mungkin tekanan darahnya sedikit turun.
Hal yang cukup umum terjadi jika seseorang terlalu lelah.
Ia minum air lebih banyak hari itu.
Berusaha memastikan tubuhnya tetap terhidrasi dengan baik.
Malamnya, ia mencoba tidur lebih cepat lagi.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya diam.
Ia memejamkan mata cukup lama sebelum akhirnya benar-benar tertidur.
Beberapa hari berlalu dengan pola yang hampir sama.
Gejala kecil yang tidak terlalu mengganggu.
Namun juga tidak sepenuhnya hilang.
Kadang ia merasa lebih sensitif terhadap bau.
Kadang ia merasa sedikit lebih mudah lelah.
Kadang ia merasa emosinya sedikit lebih tipis dari biasanya.
Hal-hal kecil yang masih bisa dijelaskan dengan banyak alasan rasional.
Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya masih dalam batas normal.
Bahwa ia hanya perlu istirahat lebih banyak.
Bahwa tubuhnya hanya membutuhkan waktu untuk kembali stabil.
Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin pikirannya kembali ke kemungkinan yang sama.
Suatu sore, saat ia sedang merapikan catatan pasien, pikirannya kembali mengulang perhitungan tanggal.
Ia mencoba mengingat dengan lebih jelas.
Biasanya ia cukup teratur.
Tidak selalu tepat di tanggal yang sama, namun jarang terlambat terlalu jauh.
Ia membuka aplikasi kalender di ponselnya lagi.
Menggeser layar perlahan.
Menghitung mundur.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia segera menutup aplikasi itu.
Seolah dengan menutup layar, ia juga bisa menutup kemungkinan yang muncul di dalam pikirannya.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Semakin ia mencoba menghindari, semakin sering pikirannya kembali ke arah sana.
Saat sedang menyetir.
Saat sedang menunggu lift.
Saat sedang mencuci tangan.
Saat sedang duduk sendiri di kamar.
Kemungkinan itu muncul tanpa diundang.
Malam itu, ia duduk di kursi dekat jendela kamarnya.
Lampu kamar sengaja tidak dinyalakan terlalu terang.
Suasana redup terasa sedikit lebih menenangkan.
Ia memegang ponselnya tanpa benar-benar melakukan apa pun.
Layar menyala, lalu mati lagi.
Pikirannya berjalan pelan, namun tidak benar-benar berhenti.
Ia mencoba mengingat apakah pernah ada situasi sebelumnya di mana siklusnya terlambat selama ini.
Ada beberapa kali.
Namun tidak terlalu sering.
Ia mencoba mengingat apakah belakangan ini ia mengalami stres berlebihan.
Pekerjaan memang sibuk.
Namun tidak lebih sibuk dari biasanya.
Ia mencoba mengingat apakah ada perubahan besar dalam rutinitasnya.
Tidak terlalu.
Semuanya masih terasa relatif stabil.
Dan justru karena stabil itulah pikirannya semakin sulit menemukan alasan yang benar-benar meyakinkan.
Ia menarik napas panjang.
Mencoba tetap rasional.
Belum tentu berarti apa pun.
Belum tentu.
Ia mengulang kalimat itu pelan di dalam hatinya.
Namun satu bagian kecil dari dirinya mulai merasa tidak sepenuhnya tenang.
Bukan panik.
Belum.
Namun cukup untuk membuatnya lebih diam dari biasanya.
____________________________________________
Beberapa hari berikutnya, ia mulai lebih sering memperhatikan tubuhnya sendiri.
Hal yang sebenarnya tidak biasa baginya.
Biasanya ia terlalu sibuk memperhatikan kondisi orang lain.
Namun sekarang, ia tanpa sadar mulai lebih peka pada setiap perubahan kecil.
Ia memperhatikan pola tidurnya.
Memperhatikan selera makannya.
Memperhatikan energinya sepanjang hari.
Memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ia pikirkan terlalu jauh.
Suatu pagi, ia kembali merasakan mual ringan.
Tidak terlalu kuat.
Namun cukup membuatnya menunda sarapan beberapa menit.
Ia duduk sebentar di tepi tempat tidur.
Menunggu rasa itu mereda.
“Cuma masuk angin,” gumamnya pelan.
Alasan sederhana.
Masuk akal.
Namun tidak sepenuhnya meyakinkan.
Ia tetap berangkat kerja seperti biasa.
Sepanjang perjalanan, pikirannya sedikit lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena tidak memikirkan apa pun.
Justru karena terlalu banyak kemungkinan yang berusaha ia urutkan satu per satu.
Sebagai dokter, ia terbiasa menghadapi ketidakpastian.
Namun menghadapi kemungkinan yang menyangkut hidupnya sendiri terasa berbeda.
Ia tidak bisa sepenuhnya objektif.
Tidak bisa sepenuhnya netral.
Ada emosi yang ikut terlibat.
Dan emosi itu membuat segalanya terasa sedikit lebih rumit.
Hari itu, ia hampir saja membeli test pack saat melewati sebuah apotek di dekat rumah sakit.
Mobilnya bahkan sempat melambat beberapa detik.
Namun lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil di belakangnya membunyikan klakson pelan.
Dan ia kembali melaju.
Belum.
Belum sekarang.
Mungkin besok.
Atau beberapa hari lagi.
Ia masih membutuhkan waktu untuk memastikan dirinya siap menghadapi kemungkinan apa pun.
Malam itu, ia berdiri cukup lama di depan cermin kamar mandi.
Menatap bayangannya sendiri.
Tidak ada yang terlihat berbeda secara jelas.
Namun perasaannya tidak sepenuhnya sama.
Ia menyentuh perutnya sebentar secara refleks.
Gerakan kecil yang hampir tidak ia sadari.
Lalu ia menarik tangannya kembali dengan cepat.
Seolah menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Ia menghela napas pelan.
Belum tentu.
Ia mematikan lampu kamar mandi.
Kembali ke tempat tidur.
Berbaring menghadap langit-langit.
Pikirannya masih bergerak pelan.
Kemungkinan itu belum berubah menjadi kenyataan.
Namun juga belum benar-benar hilang.
Dan semakin hari, perasaan kecil itu semakin sulit diabaikan.
Bukan karena ia ingin memikirkannya.
Namun karena tubuhnya perlahan mengingatkan bahwa sesuatu mungkin memang sedang berubah.
Ia menutup mata perlahan.
Berusaha tidur.
Berusaha tidak berpikir terlalu jauh.
Namun jauh di dalam hatinya, kecemasan kecil itu mulai tumbuh diam-diam.
Pelan.
Hampir tidak terasa.
Namun nyata.
Dan mungkin… tidak akan hilang begitu saja.