NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Satu tahun berlalu sejak peluit kereta di Stasiun Balapan memisahkan jarak fisik kami. Solo tetap dengan ritme tenangnya, namun duniaku telah berubah bentuk. Aku bukan lagi Nara yang hobi mengunci diri; aku adalah Nara yang sibuk dengan persiapan ujian masuk universitas, sembari menjaga "markas rahasia" yang kini menjadi tempat ternyaman bagiku untuk bernapas 

Setiap sudut gudang tua ini sekarang dipenuhi jejak kami berdua. Di dinding sebelah kiri, ada galeri foto polaroid: Arkan yang tertidur di atas maket, aku yang sedang cemberut memegang penggaris siku, dan Kak Pandu yang numpang makan piza di lantai.

Ting!

Layar ponselku menyala. Sebuah panggilan video masuk. Nama "Asuransi Abadi 07" terpampang di sana.

"Ra! Liat nih, gue baru selesaian tugas studio maket gedung komersial pertama gue!" seru Arkan begitu wajahnya muncul di layar. Rambutnya sedikit lebih panjang, ada lingkaran hitam di bawah matanya khas mahasiswa Arsitektur tingkat awal yang kurang tidur, tapi binarnya tetap sama.

"Bagus, Kan. Tapi itu mata lo udah kayak panda. Tidur sana," ujarku sambil terkekeh, mengarahkan kamera ponsel ke arah gantungan Daisy yang kini kupajang di meja sketsanya.

"Gue kangen, Ra. Satu tahun kerasa kayak sepuluh tahun kalau cuma lewat layar gini," suaranya merendah, ada nada manja yang hanya ia tunjukkan padaku. "Gantungan kunci di tas gue udah agak kusam, tapi tetep jadi jimat keberuntungan gue tiap asistensi dosen."

"Sabar, tinggal beberapa minggu lagi lo libur semester, kan?"

"Iya. Dan gue udah pesen tiket. Kali ini bukan Argo Lawu, tapi pesawat pagi. Gue nggak mau buang waktu di rel kelamaan buat ketemu lo," jawabnya mantap.

Selama satu tahun ini, kami belajar bahwa LDR bukan tentang menghitung hari, tapi tentang membangun kepercayaan di atas fondasi yang sudah kami buat. Arkan tetap mengirimkan "asuransi" kecilnya; kadang lewat kurir makanan yang tiba-tiba muncul di depan rumah, atau lewat Kak Pandu yang sering membawakanku titipan paket berisi buku-buku referensi kuliah 

Kak Pandu sendiri sekarang sudah kuliah di jurusan Hukum. Ia masih sering mengecekku, memastikan "gembok" hatiku tidak karatan. "Arkan titip pesen, katanya kalau lo berani deket sama cowok lab Kimia, dia bakal kirim maket gedung runtuh ke rumah kita," goda Kak Pandu sore itu saat menjemputku di markas.

Aku hanya tertawa. Lucu rasanya mengingat setahun lalu aku hampir membuang semua ini karena takut. Ternyata, jarak Jakarta-Solo justru membuktikan bahwa cinta yang kuat tidak akan luntur hanya karena perbedaan.

Malamnya, aku menulis di buku diary-ku: Ayah mungkin pergi dan tidak pernah kembali, tapi Arkan pergi untuk menjemput masa depan kami. Dan satu tahun ini membuktikan, asuransi gue emang beneran nggak pernah kedaluwarsa.

Aku menyentuh kunci perak di leherku. Satu tahun telah terlewati, dan aku siap untuk tahun-tahun berikutnya. Karena di ujung sana, ada Arkan yang sedang merancang rumah nyata untuk tempat kami pulang nanti.

Luka lama tentang Ayah memang tidak pernah hilang sepenuhnya, tapi ia tidak lagi berdarah. Ayah sempat mengirim pesan lagi beberapa bulan lalu, dan kali ini aku bisa membalasnya dengan tenang tanpa rasa benci yang membakar. Aku belajar dari Arkan bahwa kita tidak bisa menghapus masa lalu, tapi kita bisa membangun bangunan yang lebih indah di atas bekas reruntuhannya.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!