Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
"Oh God! Baby Vier! Please, jauhkan kucing itu darimu, Sayang! Alergimu bisa kambuh dan wajah tampanmu bisa bentol-bentol seumur hidup!" teriak Isabella dengan panik luar biasa.
Xavier menghentikan langkahnya, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah.
"Ma! Please! Berhenti memanggilku baby! Aku ini ketua mafia, bukan balita yang butuh bedak tabur! Dan lihat, apa aku terlihat seperti orang yang sedang sekarat?"
Xavier memutar tubuhnya dengan malas di depan ibunya, menunjukkan bahwa kulitnya masih mulus tanpa ada tanda-tanda kemerahan sedikit pun.
Luna, yang masih dalam wujud kucing di pelukannya, masih memejamkan mata tanpa terganggu dengan keributan disana sedikitpun.
Jonas, tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang kerja. Bukannya mengkhawatirkan putranya, pria matang itu justru langsung menarik pinggang Isabella dengan sangat posesif.
"Baguslah kalau kau sadar diri, Vier! Karena sampai kapan pun, mama adalah milik Papa! Jangan coba-coba mencuri perhatiannya dengan drama kucing itu!" sahut Jonas dengan nada tegas namun terdengar kekanak-kanakan di telinga Xavier.
"Papa, lepas! Kau ini apa-apaan sih?" Isabella mendorong dada suaminya, mencoba melepaskan diri.
"Tidak, Honey! Kau harus lebih memperhatikanku daripada si brengsek kecil ini!" Jonas justru semakin memeluknya erat, seolah-olah Isabella akan terbang jika dilepaskan.
Xavier memutar bola matanya. "Dasar posesif gila," gumamnya pelan. Tanpa mempedulikan orang tuanya yang sedang beradu mulut seperti remaja dimabuk cinta, Xavier melenggang pergi menuju kamarnya di lantai dua.
"Baby Vier, kembali Sayang! Mama belum selesai bicara!" teriak Isabella frustrasi.
"Honey, sudahlah! Xavier sudah besar, berhenti memanjakannya! Biarkan dia dengan kucingnya itu!" sahut Jonas kesal. Ia merasa harga dirinya tersaingi oleh seekor binatang berbulu.
"Semua gara-gara Papa! Baby Vier jadi ngambek! Mengertilah, saat ini baby Vier sedang dalam masa pemulihan, dia berbeda dengan Xander yang kaku seperti robot itu!" balas Isabella.
"Tapi Honey—"
"Diam, atau aku hapus jatah malammu selama satu minggu!" ancam Isabella dengan tatapan tajam yang sanggup menciutkan nyali Jonas.
Jonas menelan ludah. "Ya... ya baiklah. Terserah saja kau ingin melakukan apa pada baby Vier-mu itu!" Jonas memilih mengalah secara terhormat daripada harus berpuasa selama tujuh hari tujuh malam.
*
*
Di dalam kamar yang luas dan bernuansa gelap, Xavier merebahkan Luna di atas ranjang king size-nya yang empuk. Ia menatap kucing itu dengan tatapan menyelidik.
"Kau benar-benar kucing pengganggu," gumam Xavier dingin. Ia duduk di pinggir ranjang, memandangi Luna yang masih terlelap. "Memang aneh. Alergiku tidak kambuh saat menyentuhmu. Bahkan, Vier Junior bangun saat aku berdekatan denganmu seperti saat ini."
Xavier terdiam sejenak, merenungi kata-katanya sendiri. "Atau jangan-jangan yang sebenarnya mengalami kelainan itu Gerry? Bukan aku? Apa dia sengaja membohongiku soal hasil tes alergi itu agar aku tidak memelihara hewan?"
Xavier memijat pelipisnya yang berdenyut, lalu mulai mondar-mandir di dalam kamar yang kedap suara itu. Ia kembali menatap Luna dan mengajaknya bicara lagi, seolah kucing itu bisa menjawab.
"Aku benar-benar sudah gila. Aku dan kucing?" Pikiran Xavier mulai berkelana ke arah yang sangat tidak masuk akal. Matanya menatap tubuh mungil Luna.
"Lubang kucing itu kecil. bagaimana bisa aku masuk ke sana? Tidak, tidak, Xavier! Kau harus waras! Kau mafia, bukan psikopat penyuka binatang!"
Tak mau berpikir lebih jauh tentang imajinasi liarnya yang semakin melenceng, Xavier memutuskan untuk mendinginkan kepalanya di bawah guyuran air dingin. Ia masuk ke kamar mandi, meninggalkan Luna sendirian.
Blam!
Begitu pintu kamar mandi tertutup, keajaiban terjadi. Asap putih tipis menyelimuti ranjang, dan dalam sekejap, Luna berubah kembali menjadi manusia. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, kulitnya putih bersih seputih salju. Ia menggeliat pelan, otot-ototnya terasa kaku.
"Kenapa badan Luna pegal-pegal semua ya?" gumamnya. Ia duduk dan melirik ke kanan-kiri dengan mata bulatnya. "Lho, ini di mana? Kenapa tempat tidurnya besar sekali? Seperti padang rumput tapi empuk."
Luna memutuskan untuk turun dari ranjang. Kakinya yang jenjang melangkah pelan di atas karpet bulu yang mahal. Ia mendekat ke arah sebuah akuarium besar yang tertanam di dinding kamar. Di dalamnya, beberapa ekor ikan hias sedang berenang santai.
Tuk... tuk... tuk...
Luna mengetuk dinding kaca akuarium itu dengan jari telunjuknya. "Hei, ikan kecil! Kenapa kau ada di dalam kotak air itu? Kau tidak bosan berenang di situ-situ saja? Apa kau tidak mau jalan-jalan ke sungai?" tanyanya dengan nada bicara yang sangat serius.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari ikan, Luna kembali berkeliling. Ia melihat sebuah benda hitam besar yang tertempel di dinding depan ranjang.
"Lalu ini benda apa? Cermin hitam?"
Luna menyentuh bagian bawah layar televisi itu secara tidak sengaja. Seketika, layar TV menyala dan menampilkan wallpaper api yang berkobar sebagai fitur penghemat layar.
"KYAAAAAA!!!! ITU API!!!!!" pekik Luna kaget setengah mati.
Dalam otaknya yang masih berlogika kucing, api adalah musuh terbesar yang bisa membakar bulu atau kulitnya.
"Manusia tampan! Ada api! Luna harus padamkan!"
Saking paniknya, Luna tidak berpikir panjang. Ia melihat air di akuarium tadi sebagai satu-satunya harapan. Dengan kekuatan yang tidak biasa, ia mengangkat tutup akuarium, menciduk airnya dengan wadah pajangan kristal di dekatnya, lalu menyiram tepat ke arah sirkuit belakang televisi layar lebar tersebut.
BOOM!
Sebuah ledakan kecil terdengar diikuti percikan listrik yang menyambar-nyambar. Layar televisi itu pecah dan mengeluarkan asap hitam pekat.
Wkwk Luna oh Luna... 🤣🤣
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu