"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 07: Harga Diri
Pagi telah tiba, Deana kembali berangkat kerja, ia selalu berangkat pagi karena memang Deana sudah menjadi salah satu karyawan tetap di cafenya.
"Ibu, Dea berangkat dulu." pamit Deana pada sang Ibu sambil mengecup punggung tangannya lalu memeluknya sekilas.
"Kenapa kamu tidak terlihat bersemangat Dea? Apa ada sesuatu? Coba ceritakan pada Ibu." tanya Ibu Hesti yang melihat wajah putrinya lebih murung dan lesu.
Deana menggeleng, "Tidak ada, Bu. Deana hari ini lembur lagi, jadi kemungkinan pulang malam."
"Ya sudah hati-hati, Ibu selalu menunggumu pulang."
"Iya Bu."
Deana keluar dari dalam rumah dan menyalakan mesin motornya. Memakai helm dan sarung tangan lalu melajukan motornya dengan pelan.
Tak disangka, saat setengah perjalannya, mobil Reno membuntuti motor Deana. Deana sama sekali tidak mengetahuinya karena memang tidak hafal dengan plat mobil mewah milik Reno.
Di dalam mobil, Reno sudah menyusun rencana dengan Deana bagaimana ke depannya.
"Aku harus segera menikahimu Deana, aku tidak menginginkan reputasi ke depanku jelek karenamu." ucapnya kesal, mengepalkan tangannya di atas stir mobilnya.
Deana sedang memarkirkan motornya di depan hotel, Reno sudah menelpon Jack dan memberitahu posisi Deana berada.
Saat Deana berbalik badan dan akan melangkahkan kakinya memasuki tempat kerjanya, mulutnya langsung disekap oleh selembar kain yang membuatnya pingsan karena tidak bisa bernapas.
"Bos, sudah aman." ucap anak buah Jack di seberang.
"Bawa dia ke apartemen, aku segera ke sana." ujar Reno lalu mematikan panggilannya.
Reno sudah memerintahkan Jordi agar menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan mengganti beberapa pertemuan dengan klien di lain hari.
***
Di Apartemen mewah lima lantai bernuansa putih abu-abu itu semuanya milik Reno. Reno mengambilnya sebagai jaminan karena klien kerjasamanya tak bisa membayar sebagian hutangnya.
"Kalian, pergilah." usir Reno saat melihat Jack dan kedua anak buahnya masih berdiri di sana.
"Baik Bos." ujar Jack patuh lalu keluar dari apartemen itu dengan langkah panjangnya.
Dilihatnya, Deana masih terlelap di atas sofa.
Reno memijat pelipisnya. Sebenarnya ia tidak tega dan tidak mau menikahi perempuan itu, tapi takdir membawanya seperti ini, membuat Reno tidak bisa berkutik.
Reno menghela napasnya berat, Deana terlihat menjijikan baginya.
"Bangunlah." ucap Reno sedikit keras agar terdengar di telinga Deana. Reno tidak ada waktu banyak untuk mengurusi hal-hal yang sepele untuknya.
"Deana." panggil Reno. Ia enggan mendekat.
Perlahan, Deana membuka matanya, merasakan suasana yang berbeda.
Jantung Deana berdetak lebih cepat dari biasanya kala melihat Reno berdiri tak jauh darinya. Rasa takut dan trauma kembali menghampirinya. Ingin rasanya ia menjerit dan meminta tolong, tapi Reno lebih dulu angkat bicara.
"Tidak perlu takut, aku sudah tidak berselera melihat tubuhmu." ujar Reno dingin.
"Siapa yang membawaku kemari, pulangkan aku!" seru Deana menatap tajam laki-laki di depannya. Sedikit tersayat hatinya mendengar perkataan Reno, padahal di sini, ia adalah seorang korban.
Reno berdecih, "Cih, diamlah! Tidak ada orang di sini yang bisa mendengarmu."
"Apa yang mau kamu inginkan!" Deana menggeram kesal melihat Reno yang tenang dengan tangan yang dilipat di depan dadanya.
"Saya akan mengurus pernikahan denganmu."
"Tidak, saya tidak mau." balas Deana lalu membuang pandangannya.
Napas Reno memburu, "Jangan menolak kemauanku, Deana. Kamu hanyalah orang miskin yang tidak akan bisa melawanku. Kalau tidak, aku akan mengatur strategi agar kau bisa dengan mudah mengiyakan pernikahan ini. Seperti... mencelakai keluargamu." ucap Reno beralasan untuk menakutinya saja, padahal ia juga tidak akan berani melakukannya. Akan sangat fatal urusannya.
"Jangan lakukan itu." Deana menggeleng, ia menunduk ketakutan. Urusan dengan laki-laki di depannya sepertinya akan membuat tenaganya sia-sia.
"Saya sedang berbaik hati padamu Deana, pernikahan denganku bukan seperti yang ada di pikiranmu. Saya sudah membuat surat perjanjian untuk pernikahan kita. Saya tidak akan meminta bantuanmu, dan kita tetap hidup masing-masing, kau tidak perlu mengurusi hidupku, mengerti."
"Lalu untuk apa menikah? bagiku pernikahan bukanlah sebuah permainan." lirih Deana.
"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." tegas Reno lagi menatap sengit.
Deana menggigit ujung bibirnya, ia merasa seperti berada di dalam kandang buaya.
"Minggu depan saya akan mengurus pernikahan denganmu." ujar Reno lalu merapihkan dasinya.
Deana tergelak mendengarnya, ia menatap Reno dengan penuh pertanyaan di otaknya.
"Kau hanya perlu mempersiapkan diri saja." lanjut Reno lagi.
Reno mengambil dompet dari saku jas berwarna biru tua itu, mengambil dua lembar uang berwarna merah lalu melemparnya di depan wajah Deana, "Ongkos untukmu pulang. Saya harus pergi." tukasnya.
Deana bergetar, semurah itu kah harga dirinya di depan Reno? Ia takut, kehidupannya berada di ujung tanduk.
Mata Deana terasa panas, air matanya tanpa diberi aba-aba langsung lolos begitu saja dan membasahi kedua pipinya.
***
Reno sudah kembali ke kantor, Jordi sedang fokus dengan komputer di mejanya.
"Jo, semua sudah beres." ucap Reno.
Jordi mengangguk, "Kapan Tuan akan melaksanakan pernikahannya dengan Nona Deana?" tanya Jordi, ia langsung melepaskan tangannya dari komputernya dan fokus dengan obrolannya bersama Tuan besarnya.
"Sepertinya saya mengurungkan niat untuk pernikahan sederhana di hotel itu. Karena saya ingin pernikahan di rumah saja." ujar Reno memberitahu, "Urus vendornya." sambungnya memerintahkan.
Jordi mengangguk, "Baik Tuan."
***
Deana bahkan tidak memungut uang pemberian Reno yang tergeletak di lantai itu. Ia masih memiliki harga diri.
Deana keluar dari dalam apartemen itu dengan posisi yang masih menangis lirih.
"Nona, apa anda membutuhkan bantuan saya?" tanya satpam yang berjaga di sana, menghampiri Deana yang keluar dari dalam apartemennya.
Deana menggeleng sambil mengusap air matanya, ia tersenyum getir, "Tidak pak, saya ingin pulang. Terima kasih banyak."
Satpam itu mengangguk. Ia tidak bisa bertanya tentang keadaan perempuan yang menangis itu, karena satpam sudah diperintahkan Reno agar tidak mengurusi kehidupannya jika masih menginginkan kerja bersamanya.