mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Keluarga yang Tersisa
Hari Minggu pagi, Jakarta cerah.
Arsya dan Kalara duduk di ruang makan rumah Menteng, sarapan dengan roti bakar dan telur mata sapi buatan Kalara. Di luar, suara burung bercampur dengan deru kendaraan dari jalan raya—perpaduan khas ibu kota yang tak pernah tidur.
"Kak," kata Kalara sambil mengunyah roti.
"Hm?"
"Aku mau ke rumah Mama hari ini. Mau ajak kamu."
Arsya mengangkat alis. "Ajak aku? Ke rumah mamamu?"
"Iya. Sudah waktunya kita... resmi. Maksudku, Mama sudah tahu tentang kita, tentang Ibu dan Ayah. Tapi kita belum pernah ke sana bersama. Sebagai... keluarga."
Arsya diam. Ia belum pernah bertemu Mama Kalara secara resmi. Hanya melihat fotonya, dan sekali lewat di pemakaman dulu. Wanita paruh baya dengan rambut mulai memutih dan wajah yang selalu terlihat lelah.
"Kau yakin dia mau ketemu aku?" tanya Arsya hati-hati. "Maksudku, aku anak dari wanita yang... yang merebut suaminya."
Kalara menghela napas. "Kak, Mama sudah memaafkan. Sudah lama. Bahkan sebelum tahu kebenaran utuh. Ia hanya butuh waktu untuk menerima. Dan sekarang, setelah tahu semuanya, ia malah ingin berterima kasih."
"Berterima kasih? Untuk apa?"
"Untuk menjaga aku. Untuk menemani aku. Untuk menjadi kakak yang baik."
Arsya tersenyum tipis. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kamu melakukan segalanya, Kak. Tanpa kamu, aku mungkin masih sendiri, masih galau, masih bertanya-tanya."
Arsya meraih tangan Kalara. "Kita sama-sama, Dik. Aku juga butuh kamu."
Mereka tersenyum. Lalu Kalara teringat sesuatu.
"Omong-omong, kamu sudah ketemu ayahmu? Maksudku, ayah angkatmu?"
Wajah Arsya berubah. "Belum. Sejak pemakaman dulu, aku jarang ke sana. Masih... canggung."
"Kenapa canggung? Dia kan ayahmu."
"Dia bukan ayah kandungku. Dan selama ini dia tahu—setidaknya sebagian—tapi diam."
"Kak, dia juga korban. Ia menikahi wanita yang tidak bisa melupakan masa lalu. Ia membesarkan anak yang bukan darah dagingnya. Itu tidak mudah."
Arsya diam. Kalara benar, seperti biasa.
"Kita harus perbaiki hubungan kita dengan orang tua yang masih ada," lanjut Kalara. "Mereka juga punya luka. Mereka juga butuh sembuh."
"Kau benar. Tapi... aku belum siap."
"Tidak apa-apa. Kita jalan pelan-pelan. Hari ini ke rumah Mama dulu. Nanti kapan-kapan ke rumah ayahmu."
Arsya mengangguk. "Baik. Aku ikut."
Pukul sepuluh pagi, mereka tiba di rumah Mama Kalara di Jakarta Timur.
Rumah tipe 36 itu tampak lebih cerah dari biasanya. Taman kecil di depan dirapikan, pot-pot bunga ditata rapi. Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.
"Kara!" Mama membuka pintu lebar-lebar, tersenyum. Lalu matanya beralih ke Arsya. "Nak... kamu pasti Arsya."
Arsya mengangguk canggung. "Iya, Tante. Saya Arsya."
"Masuk, masuk." Mama mempersilakan mereka masuk. "Mama sudah masak banyak. Kara bilang kamu suka sop iga, kan?"
Arsya terkejut. Ia menoleh ke Kalara yang hanya tersenyum nakal.
"Iya, Tante. Terima kasih."
Mereka masuk. Ruang tamu kecil itu hangat, penuh dengan hiasan dinding dan foto-foto. Di sudut, ada foto Kalara kecil bersama Mama—tapi tidak ada foto ayahnya. Wajar.
"Silakan duduk. Mama ambil minum dulu."
"Biarkan saya bantu, Tante," tawar Arsya.
Mama menatapnya, lalu tersenyum. "Nak, kamu tamu. Duduk saja."
"Mama," Kalara memotong, "biarin aja. Dia orangnya suka bantu."
Mama tertawa kecil. "Baiklah, kalau begitu. Mari."
Di dapur kecil yang rapi, Arsya membantu Mama mengangkat piring dan gelas. Suasananya canggung di awal, tapi perlahan mencair.
"Kara cerita banyak tentang kamu," kata Mama sambil menuang sirup ke gelas.
"Cerita apa, Tante?"
"Cerita bahwa kamu baik. Bahwa kamu jagain dia. Bahwa kamu jadi kakak yang bertanggung jawab."
Arsya tersenyum malu. "Saya juga belajar banyak dari Kara."
"Dia anak baik. Kadang keras kepala, tapi hatinya emas."
"Itu dari Tante."
Mama tertawa. "Bisa aja kamu."
Mereka membawa minuman dan makanan ke ruang tamu. Sop iga yang hangat, sambal bawang, dan lalapan. Aroma masakan rumah yang membuat Arsya tiba-tiba rindu—pada masakan ibunya? Ia tidak ingat. Tapi rasanya... hangat.
Mereka makan bersama. Percakapan mengalir. Mama bercerita tentang Kalara kecil yang nakal, tentang kesulitan membesarkan anak sendirian, tentang bagaimana ia bertahan. Arsya bercerita tentang pekerjaannya, tentang rumah Menteng, tentang rencana masa depan.
Tidak ada yang bicara tentang Asmara atau Rarasati. Tidak perlu. Hari ini bukan tentang masa lalu. Hari ini tentang membangun masa depan.
Setelah makan, Mama mengajak Arsya duduk di teras kecil belakang. Kalara sengaja tinggal di dapur, mencuci piring, memberi mereka ruang.
"Nak," Mama memulai, suaranya pelan. "Aku ingin minta maaf."
Arsya terkejut. "Maaf? Untuk apa, Tante?"
"Untuk semua yang terjadi. Untuk suamiku—Asmara—yang... yang menghancurkan keluargamu. Yang merebut ibumu dari kalian."
Arsya menggeleng. "Tante, itu bukan salah Tante. Ayah—Asmara—membuat pilihannya sendiri. Ibu juga. Mereka dewasa."
"Tapi aku menikah dengannya. Aku tahu ada yang salah, tapi aku diam."
"Tante tidak tahu semuanya. Tante tidak tahu mereka kakak beradik. Tante tidak tahu mereka dibuang. Tante hanya korban, sama seperti kami."
Mama menunduk. Air matanya jatuh.
"Aku mencintainya, Nak. Meskipun dia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Tapi aku tetap mencintainya. Dan setelah tahu semua ini... aku tidak tahu harus merasa apa."
Arsya meraih tangan Mama. "Tante, tidak apa-apa. Tidak apa-apa untuk merasa bingung. Tidak apa-apa untuk marah, sedih, kecewa, dan tetap mencintai. Semua perasaan itu sah."
Mama menatapnya. Matanya basah, tapi juga hangat.
"Kamu bijak, Nak. Lebih bijak dari usiamu."
Arsya tersenyum pahit. "Luka mengajarkan banyak hal, Tante."
"Ya. Luka memang guru yang kejam."
Mereka diam. Di dapur, suara Kalara menyanyi kecil sambil mencuci piring. Suasana damai.
"Mama senang Kara punya kamu," bisik Mama. "Mama sudah tua. Mungkin tidak bisa lama-lama jagain dia. Tahu dia punya kakak yang baik... membuat Mama tenang."
"Tante masih sehat. Tante masih kuat."
"Tapi hidup tidak ada yang tahu, Nak. Yang penting, sekarang Kara tidak sendiri."
Arsya mengangguk. "Saya janji, Tante. Saya akan jaga Kara. Sampai kapan pun."
Mama tersenyum. Lalu memeluknya. Pelukan hangat seorang ibu—meskipun bukan ibu kandung—yang membuat Arsya hampir menangis.
Sore harinya, mereka pamit pulang.
Mama mengantar sampai pintu, memberikan dua bungkus besar makanan untuk dibawa.
"Ini buat kamu, Nak. Makan yang teratur. Jangan kerja terus."
"Iya, Tante. Terima kasih."
"Kapan-kapan main lagi, ya. Bawa temen kalau ada. Atau pacar."
Arsya tersenyum canggung. "Saya belum punya pacar, Tante."
"Masa? Ganteng gitu? Masa enggak laku?"
Kalara tertawa terbahak-bahak. "Kan udah gue bilang, Kak. Mama emang gitu."
Arsya tertawa kecil. "Nanti saya usahakan, Tante."
"Iya, iya. Yang penting bahagia dulu."
Mereka melambai, lalu masuk ke mobil. Saat mobil melaju, Arsya menatap kaca spion. Mama masih berdiri di pintu, melambai.
"Makasi udah mau dateng," kata Kalara.
"Makasi udah ajak."
"Kak."
"Hm?"
"Mama suka sama kamu."
"Serius?"
"Iya. Biasanya kalau sama temen cowokku, Mama jutek. Tadi sama kamu, malah masakin sop iga."
Arsya tersenyum. "Mamamu baik."
"Iya. Dia baik. Kadang terlalu baik, sampai lupa sama dirinya sendiri."
"Itu tugas kita sekarang. Jagain dia."
Kalara menatap Arsya, lalu tersenyum. "Kakakku baik."
"Emang."
"Sombong."
Mereka tertawa bersama. Mobil melaju meninggalkan kompleks perumahan sederhana itu, membawa mereka kembali ke rumah Menteng.
Seminggu kemudian, Arsya memutuskan untuk mengunjungi ayahnya.
Rumah di Pondok Indah itu masih sama. Besar, megah, tapi dingin. Seperti biasanya. Arsya berdiri di depan pintu beberapa saat, mengumpulkan keberanian.
Ayahnya—Wiraguna senior—sedang duduk di ruang tamu, membaca koran seperti biasa. Ia menoleh saat Arsya masuk.
"Kamu pulang?"
"Iya, Pa."
Jarang sekali Arsya memanggilnya "Pa" akhir-akhir ini. Biasanya hanya "Ayah" formal. Tapi hari ini berbeda.
Ayahnya meletakkan koran. Matanya menyipit, curiga.
"Ada perlu?"
"Bicara. Boleh?"
Ayahnya mengangguk. Arsya duduk di kursi seberang.
Sudah berbulan-bulan sejak terakhir mereka bicara serius. Setelah pemakaman Rarasati, Arsya lebih banyak di rumah Menteng. Hanya sesekali telepon singkat, itu pun jarang.
"Pa, aku mau minta maaf."
Ayahnya terkejut. "Maaf? Untuk apa?"
"Untuk menjauh. Untuk marah. Untuk menyalahkan Pa atas semuanya."
Ayahnya diam. Wajahnya yang keriput menunjukkan emosi yang campur aduk.
"Kamu tidak salah, Nak. Ayah memang patut disalahkan."
"Tidak, Pa. Pa tidak tahu semuanya. Pa tidak tahu kalau Ibu..."
"Ayah tahu." Potongan kalimat itu menghentikan Arsya. "Ayah tahu. Setidaknya, ayah tahu bahwa ibumu punya hubungan dengan orang lain. Ayah tahu bahwa kamu mungkin bukan anak kandungku."
Arsya terkesiap. "Pa tahu?"
Ayahnya mengangguk pelan. "Ayah tahu sejak kamu lahir. Wajahmu tidak mirip denganku. Tapi ayah tidak peduli. Ayah mencintai ibumu. Dan ayah mencintaimu, sebagai anak. Itu sudah cukup."
Arsya merasakan dadanya sesak.
"Lalu kenapa Pa diam? Kenapa Pa tidak pernah bilang?"
"Karena tidak perlu." Suara ayahnya bergetar. "Kamu adalah anakku. Darah atau bukan, kamu anakku. Dan ayah tidak ingin kamu tumbuh dengan keraguan."
"Tapi aku berhak tahu."
"Untuk apa? Agar kamu sengsara? Agar kamu marah pada dunia?" Ayahnya menghela napas berat. "Mungkin salah. Mungkin ayah egois. Tapi ayah hanya ingin kamu bahagia."
Arsya menunduk. Air mata jatuh.
"Maaf, Pa. Maaf aku marah. Maaf aku menjauh."
Ayahnya meraih tangan Arsya. "Kamu tidak perlu minta maaf, Nak. Kamu anak baik. Ayah bangga padamu."
Mereka berpelukan. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Arsya merasakan kehangatan dari ayahnya. Bukan kehangatan fisik, tapi kehangatan emosional yang selama ini tersembunyi di balik sikap dingin.
"Pa, aku ingin Pa kenal adikku. Kalara."
"Adikmu?"
"Iya. Adik kandungku. Anak dari... dari Asmara dan Ibu."
Ayahnya mengangguk. "Ayah dengar dari berita. Kamu cerita di TV, kan?"
Arsya tersenyum. Beberapa minggu lalu, ia dan Kalara diwawancarai sebuah stasiun TV tentang renovasi rumah tua dan penemuan makam orang tua mereka. Ceritanya viral, menjadi perbincangan nasional.
"Iya. Itu adikku. Dia baik. Dia yang buat aku sadar bahwa memaafkan itu penting."
"Bawa dia ke sini. Ayah ingin kenal."
"Janji, Pa."
Dua minggu kemudian, makan malam keluarga digelar di rumah Arsya—rumah Menteng.
Yang hadir: Arsya, Kalara, Mama Kalara, Ayah Arsya, dan Willem yang kebetulan mampir. Meja makan panjang di ruang makan dipenuhi makanan—masakan Mama Kalara, masakan katering pesanan Arsya, dan kue buatan Ayah Arsya yang dibawa dari rumah.
Suasananya hangat. Awalnya canggung, tapi perlahan mencair. Mama Kalara dan Ayah Arsya ternyata punya banyak kesamaan—sama-sama kehilangan pasangan, sama-sama membesarkan anak sendirian, sama-sama punya luka.
"Jadi, Bapak dulu tahu kalau Arsya bukan anak kandung?" tanya Mama Kalara.
Ayah Arsya mengangguk. "Tahu. Tapi tidak pernah masalah buat saya."
"Wah, Bapak hebat. Saya saja waktu tahu Kara bukan anak kandung—maksudnya, anak biologis saya—sempat kaget. Tapi ya sudahlah, namanya juga sudah membesarkan dari bayi."
Kalara memeluk Mama. "Ma, kamu tetap mamaku. Sampai kapan pun."
"Iya, Nak. Mama tahu."
Arsya tersenyum melihat mereka. Di sampingnya, Willem mengangkat gelas.
"Mari kita bersulang," kata Willem. "Untuk keluarga baru. Untuk rumah ini. Dan untuk masa depan."
Mereka semua mengangkat gelas.
"Untuk keluarga baru!"
Malam semakin larut. Para tamu pulang satu per satu. Willem lebih dulu, diantar sopir. Lalu Mama Kalara, diantar Kalara sampai ke mobil. Terakhir Ayah Arsya, yang dipeluk Arsya lama di depan pintu.
"Pa, makasih udah datang."
"Makasih udah ngundang, Nak. Ayah senang."
"Pa, aku sayang Pa."
Ayahnya terharu. "Ayah juga sayang kamu, Nak. Lebih dari apa pun."
Mobil melaju pergi. Arsya berdiri di depan pagar, menatap kepergiannya. Di sampingnya, Kalara muncul.
"Kak, kamu nangis?"
"Enggak."
"Bohong. Matamu basah."
Arsya tertawa kecil. "Iya, sedikit."
"Bahagia?"
"Iya. Bahagia."
Mereka masuk ke rumah. Rumah Menteng yang kini benar-benar terasa seperti rumah. Hangat. Hidup. Penuh cinta.
"Kak, besok kita ngapain?" tanya Kalara sambil merebahkan diri di sofa.
"Besok Senin. Kerja."
"Ah, males. Libur dong."
"Kamu mau libur? Padahal proyekmu banyak."
"Ya, tapi kan capek. Emosional. Hari ini capek."
Arsya tertawa. "Baiklah. Besok kita work from home. Maksudnya, work from rumah sambil santai."
"Setuju! Aku masak spaghetti."
"Yang enak, ya. Jangan kayak minggu lalu."
"Kak! Spaghettiku minggu lalu enak!"
"Kamu makan sendiri, 'kan? Aku nggak."
Kalara melempar bantal. Arsya menangkapnya, lalu tertawa.
Malam itu, mereka duduk di sofa, menonton film komedi lawas. Tidak ada yang ngomong tentang masa lalu, tentang luka, tentang duka. Hanya menikmati kebersamaan.
Kadang, penyembuhan tidak perlu kata-kata. Cukup dengan kehadiran. Cukup dengan tawa. Cukup dengan tahu bahwa ada seseorang yang peduli.
Di luar, hujan turun lagi. Tapi kali ini, tidak ada yang merasa dingin. Di dalam, kehangatan keluarga baru menyelimuti mereka.
Luka lama mulai sembuh.
Duka baru mulai terobati.
Dan cinta—dalam bentuknya yang paling sederhana—mulai tumbuh.
Bersambung...