NovelToon NovelToon
Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Anime
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
​Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
​Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
​Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ledakan Es

[Ding! ] BAB 5: LEDAKAN ES DAN JALAN MENJADI SATU

Aspal di area pasar tradisional terasa lengket seperti lendir di bawah sol bot Yuuichi, permukaannya tidak rata akibat genangan air yang mengental dan puing-puing kios yang tertimbun. Ia bergerak dengan keheningan yang sempurna, setiap gerakan tubuhnya menyatu dengan bayangan dari deretan kios kayu yang roboh dan terpal berwarna-warni yang menjuntai lemas dari rangka besi yang melengkung. Setiap langkahnya dihitung dengan presisi milimeter; ia tidak lagi mengandalkan penglihatan biasa yang terbatas oleh kegelapan dan kabut, melainkan radar mental yang terpancar dari sistem yang terhubung dengan dirinya, memetakan posisi setiap satu dari ribuan mayat hidup yang memenuhi setiap sudut lapangan pasar.

Bau busuk di sini mengena hidung dengan kekuatan yang luar biasa – campuran antara daging yang membusuk dan mengeluarkan cairan hitam pekat, sayuran yang mulai mencair di bawah panas siang hari lalu membeku kembali di malam dingin, dan sedikit aroma bensin dari kendaraan yang terbakar. Yuuichi menempelkan punggungnya pada pilar beton yang sudah retak, tubuhnya menyesuaikan bentuk agar tidak terlihat dari kejauhan sambil menatap tajam ke arah panggung festival yang berdiri kokoh di tengah lapangan luas.

"Target Alpha berada dalam jarak tepat 120 meter dari posisi kamu. Ia sedang memancarkan frekuensi infrasonik konstan dengan pola ritmis tertentu. Perhatikan gerakan bahu zombie di sekitar kamu – mereka semua bergetar dan bergoyang mengikuti ritme desisan yang kamu tidak bisa dengar."

Yuuichi mengatur napasnya dengan perlahan, mengikuti pola pernapasan yang sudah ia kuasai sejak lama. Dalam kondisi kecepatan lambat seperti ini, ia bisa merasakan setiap detak jantung yang kuat di dadanya dan aliran energi dingin yang mulai terkumpul di ujung jari-jarinya seperti tetesan es yang siap membekukan apa saja yang menyentuhnya. Ia tidak bisa menyerang langsung – jika keributan pecah di sini, bus sekolah yang sedang menunggu di kejauhan dan dikemudikan oleh Sakura akan langsung menjadi target yang mudah ditangkap oleh ribuan pasangan tangan yang menginginkan daging segar.

"Miu, analisis struktur lengkap gudang pendingin yang berada di sebelah timur panggung – fokus pada tangki utama dan sistem katupnya," pikir Yuuichi sambil tetap mengamati gerakan Alpha yang mulai sedikit bergeser di atas panggung.

[ ANALISIS STRUKTUR SELESAI ]

[ OBJEK: GUDANG PENDINGIN DAGING KEMARIN SUMBER ]

[ KONDISI: TANGKI AMONIA UTAMA MASIH UTUH (KAPASITAS 85%) | SISTEM KATUP BERFUNGSI NORMAL | STRUKTUR DINDING BETON KOKOH ]

Seringai tipis muncul di sudut bibir Yuuichi, membuat wajahnya yang biasanya dingin terlihat sedikit lebih hidup. Sebuah rencana sudah terbentuk dengan jelas di benaknya. Jika ia bisa membuat tangki amonia itu meledak dengan menggunakan elemen es yang ia kendalikan, ia tidak hanya akan menciptakan suara yang cukup keras untuk mengalihkan perhatian seluruh kerumunan, tetapi juga kabut beku yang akan mengacaukan indra penciuman zombie dan memecah frekuensi infrasonik yang digunakan Alpha untuk mengendalikan anak buahnya.

Tanpa menunda waktu, Yuuichi mulai bergerak dengan jalur melingkar, sengaja menjauhi arah di mana bus berada agar tidak menarik perhatian zombie ke sana. Ia melewati sebuah kios ikan yang sudah hancur, lantainya penuh dengan belatung putih yang bergerak merayap dan aroma yang sangat menyengat. Tiba-tiba, sesosok zombie kecil – kemungkinan dulu seorang anak-anak – muncul dari bawah meja kayu yang roboh, tangan kecilnya yang pucat mencoba meraih pergelangan kaki Yuuichi dengan cepat.

Tanpa perlu menoleh atau menghentikan langkahnya, Yuuichi menghentakkan tumit kanannya ke lantai dengan keras namun tanpa membuat suara yang terlalu besar.

[ KETERAMPILAN AKTIF: MANIPULASI ES - TITIK BEKU ]

Hawa dingin yang sangat kuat menjalar dari tumitnya ke seluruh permukaan lantai sekitarnya. Dalam sekejap, tangan zombie itu membeku hingga warnanya menjadi putih kebiruan, lalu pecah menjadi butiran es kecil yang menyebar di atas aspal sebelum sempat menyentuh kulit Yuuichi sama sekali. Ia terus melaju tanpa ragu, tubuhnya secara alami merendah saat ia melompati tumpukan peti kayu yang berserakan tanpa membuat sedikit pun kebisingan.

Di dalam bus, Chika Kudou menatap dengan mata lebar sosok Yuuichi yang perlahan menghilang ditelan kegelapan dan kabut yang semakin tebal di area pasar. Tangannya yang gemetar menggenggam erat sandaran kursi pengemudi tempat Sakura kini duduk dengan posisi tubuh yang sangat tegang, kedua tangannya menempel erat pada kemudi.

"Dia akan baik-baik saja... kan?" bisik Chika dengan suara yang hampir tidak terdengar, lebih seperti berbicara dengan dirinya sendiri daripada kepada orang lain di sekitarnya.

"Yuuichi-kun bukan tipe orang yang akan terlibat dalam misi bunuh diri yang tidak ada hasilnya." Rina Suzuki menjawab sambil tetap fokus pada layar laptop kecilnya, di mana tampilan radar menunjukkan titik-titik merah yang mewakili zombie dan satu titik biru yang terus bergerak – itu adalah Yuuichi. "Secara statistik, peluangnya untuk selamat meningkat menjadi 67% jika kita mengikuti instruksinya dengan tepat dan tidak melakukan tindakan yang tidak perlu. Sakura, siapkan dirimu pada pedal gas – kita harus bergerak tepat pada waktunya."

Sakura hanya mengangguk dengan wajah yang sangat kaku, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Matanya tetap fokus pada celah kecil di antara kerumunan zombie yang mulai bergeser perlahan mengikuti arah gerakan Yuuichi yang sengaja membuat sedikit suara untuk menarik perhatian mereka.

Kembali ke Yuuichi, ia kini telah mencapai dinding belakang gudang pendingin yang tinggi dan dingin. Ia bisa mendengar suara desisan Alpha yang semakin keras dan jelas, terdengar seperti bisikan dari ribuan ular yang sedang berkumpul dan haus akan darah. Seolah merasakan adanya sesuatu yang tidak biasa di wilayah yang dikontrolnya, Alpha itu menghentikan gerakan ritualnya dan mulai memutar kepalanya ke segala arah.

"Peringatan Penting: Alpha telah menghentikan emisi frekuensi infrasonik konstan. Ia sedang melakukan pemindaian area dengan frekuensi tinggi yang bisa mendeteksi perbedaan suhu dan getaran tubuh manusia. Kau punya waktu hanya 15 detik sebelum posisi kamu terungkap sepenuhnya dan seluruh kerumunan akan menghadapimu."

Yuuichi dengan cepat menempelkan telapak tangannya pada permukaan tangki amonia raksasa yang sangat dingin, bahkan membuat tanganinya langsung membeku sedikit saat bersentuhan. Ia memejamkan mata sejenak, memanggil seluruh cadangan energi es yang ada di dalam dirinya – energi yang biasanya ia hemat untuk pertempuran yang lebih berat.

"Miu, sinkronisasikan aliran energi esku dengan tekanan internal di dalam tangki ini. Aku tidak ingin ledakan yang menghancurkan seluruh gudang – yang aku butuhkan adalah ledakan terkendali yang menghasilkan kabut beku sebanyak mungkin."

[ PROSES SINKRONISASI ENERGI DIMULAI ]

[ ENERGI ES DIALIRKAN KE TANGKI... 30%... 60%... 90%... 100% - SINKRONISASI SUKSES ]

"Sekarang!"

Yuuichi menghujamkan bilah katananya dengan cepat dan tepat ke katup utama tangki amonia. Gerakan itu presisi sempurna – tidak terlalu dalam untuk menghancurkan tangki secara langsung, namun cukup dalam untuk memicu reaksi antara energi es dan tekanan gas di dalamnya.

BOOOOOMMM!

Ledakan yang terjadi tidak menghasilkan nyala api yang membakar, melainkan gelombang kejut gas amonia yang langsung membeku menjadi butiran es saat bersentuhan dengan energi magis yang dikeluarkan Yuuichi. Kabut putih raksasa dengan cepat membumbung tinggi ke langit malam, menyelimuti hampir separuh area pasar dalam hitungan detik saja. Suhu di sekitar gudang anjlok drastis hingga minus 40 derajat Celsius, membuat permukaan aspal dan mobil-mobil di sekitarnya langsung tertutup lapisan es tebal.

Ribuan zombie yang tadinya berdiri tenang seperti pasukan yang teratur seketika menjadi kacau dan mengamuk. Mereka kehilangan arah total karena kabut dingin mengacaukan sistem komunikasi infrasonik dari Alpha serta menyumbat indra penciuman mereka yang sudah tidak terlalu baik. Suara jeritan, erangan, dan suara benturan tubuh memenuhi udara, menciptakan kebisingan yang cukup memekakkan telinga dan menjadikannya sebagai satu-satunya fokus perhatian zombie di sana.

"Sakura! SEKARANG!" Yuuichi berteriak dengan suara yang kuat melalui saluran komunikasi internal yang terhubung dengan sistem di dalam bus.

Di ujung jalan yang jauh, bus sekolah langsung meraung dengan suara mesin yang keras dan kuat. Sakura menginjak pedal gas sedalam mungkin tanpa ragu, tangan kanannya tetap erat pada kemudi. Lampu depan bus sengaja tetap dimatikan agar tidak menarik perhatian yang tidak perlu. Bus itu meluncur dengan cepat melewati pinggiran kerumunan zombie yang sedang kebingungan dan berlarian secara acak menuju arah ledakan di sisi timur pasar.

Yuuichi melompat ke atas atap gudang pendingin yang terbuat dari seng gelombang, berdiri tegak sambil menatap bus yang berhasil menerobos jalur dengan lancar dan mulai menjauh dari area pasar. Namun, senyumnya yang baru saja muncul segera menghilang saat matanya kembali beralih ke arah panggung festival. Kabut mulai perlahan menipis di sekitar panggung, dan di sana berdiri sang Alpha dengan bentuk tubuh yang tampak lebih besar dari sebelumnya – wajahnya yang membusuk menunjukkan ekspresi yang seolah marah, meskipun sulit bagi makhluk seperti itu untuk memiliki emosi yang jelas.

Alpha itu menoleh dengan tepat ke arah Yuuichi, seolah bisa merasakan keberadaannya bahkan di tengah kabut yang tebal. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, mengeluarkan lengkingan frekuensi tinggi yang membuat telinga Yuuichi berdenging keras dan membuat sedikit darah keluar dari sudut telinganya.

"Status Kondisi Kamu: Efek Vertigo Terdeteksi – koordinasi tubuh menurun sementara. Alpha telah menandaimu sebagai 'Ancaman Utama' bagi kelompoknya. Seluruh zombie dalam radius 100 meter sedang berbalik arah dan menuju posisi kamu dengan kecepatan tinggi!"

Yuuichi menyeka darah yang menetes di lehernya dengan punggung tangan, ekspresi wajahnya tetap tenang dan penuh konsentrasi. Ia menarik katananya sepenuhnya dari sarungnya, cahaya biru es yang keluar dari bilah pedang cukup terang untuk menerangi wajahnya yang dingin dan fokus.

"Bagus. Dengan begitu, mereka tidak akan punya waktu untuk mengejar bus lagi." Gumamnya dengan nada yang dingin namun penuh keyakinan. Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah, tubuhnya siap menghadapi serangan dari segala arah. "Ayo, Miu. Mari kita lihat seberapa cepat pendeta mati ini bisa bergerak dan menyerang."

Atap gudang pendingin yang terbuat dari seng gelombang kini dilapisi kristal es tipis akibat efek ledakan amonia tadi. Setiap langkah yang diambil Yuuichi menimbulkan suara derik halus yang jelas terdengar di tengah kebisingan sekitar, seolah ia sedang berjalan di atas hamparan kaca yang sudah retak namun belum hancur. Di bawahnya, lautan zombie yang sebelumnya terdistraksi kini mulai secara perlahan memutar tubuh mereka. Ribuan pasang mata keruh dan putih mulai menengadah ke atas, semua fokus pada satu titik saja: sosok pemuda dengan jaket kulit hitam yang berdiri gagah di atas permukaan atap yang licin.

Sang Alpha, pendeta mati yang sudah tidak lagi manusia itu, kembali mengeluarkan lengkingan yang lebih tajam dari sebelumnya – sebuah bunyi yang jelas merupakan perintah eksekusi bagi seluruh zombie di sekitarnya.

"Peringatan Darurat: Pola serangan pengepungan terdeteksi. Empat zombie tipe pelari sedang memanjat dinding belakang gudang dengan cara yang sangat cepat. Waktu hingga kontak langsung: Tiga detik!"

Yuuichi tidak menunjukkan tanda-tanda khawatir atau ingin menoleh ke belakang. Ia hanya memejamkan mata sejenak, mengatur ritme napasnya hingga paru-parunya terasa seperti terisi oleh udara es yang sangat dingin, namun jantungnya terus memompa energi panas ke seluruh otot tubuhnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya.

Srak! Srak!

Empat pasang tangan pucat dengan kuku hitam yang panjang dan tajam tiba-tiba mencengkeram pinggiran atap seng. Keempat zombie pelari melompat naik secara bersamaan dari empat arah berbeda – depan, belakang, kiri, dan kanan – gerakan mereka liar dan tidak teratur namun memiliki kecepatan yang sangat tinggi yang sulit ditangkap oleh mata manusia biasa.

Yuuichi mengambil satu langkah geser ke belakang dengan lincah. Tubuhnya secara alami merendah ke bawah, tangan kanannya tetap erat mencengkeram gagang katana Nichirin yang sudah siap digunakan.

[ KETERAMPILAN AKTIF: PERNAPASAN MATAHARI - VARIASI ES: TEBASAN BULAN BEKU ]

Dalam satu gerakan yang nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang, Yuuichi menarik pedangnya dengan cepat dan berputar tubuhnya 360 derajat secara sempurna. Bilah pedang berwarna biru es itu memancarkan garis cahaya melingkar yang indah namun mematikan, meninggalkan jejak uap dingin yang membeku di udara sebelum menghilang.

Slassh!

Keempat zombie pelari yang tengah melompat membeku seketika di udara, tubuh mereka yang penuh dengan otot tebal dan kulit yang mengelupas terpotong rapi di bagian pinggang. Tidak ada darah yang keluar dari luka mereka karena energi es langsung membekukan semua bagian tubuh yang terkena tusukan dan pemotongan. Setelah beberapa detik, tubuh-tubuh yang sudah terbelah itu jatuh ke atas atap dengan suara keras dan langsung hancur menjadi serpihan kristal es kecil yang menyebar ke segala arah.

"Masih terlalu lambat dan mudah ditebak." Ucap Yuuichi dengan nada yang dingin, tidak menunjukkan sedikit pun puas atau lelah setelah menyerang.

Matanya kini terkunci penuh pada Alpha yang sudah berada di tepi panggung dan tampak semakin marah. Makhluk itu tampaknya menyadari bahwa anak buahnya yang paling kuat tidak mampu mengalahkan Yuuichi. Dengan gerakan yang anehnya terlihat anggun dan lincah untuk makhluk sebesar itu, sang Alpha melompat dari panggung festival dengan lompatan yang sangat jauh, mendarat dengan stabil di atas tumpukan mobil yang sudah ringsek dan penuh dengan karat. Ia melesat segera menuju arah gudang tempat Yuuichi berdiri – kecepatannya jauh melampaui kecepatan tipe pelari mana pun yang pernah Yuuichi hadapi sebelumnya.

"Analisis Musuh Perbarui: Alpha memiliki kepadatan otot yang telah dimodifikasi secara drastis oleh virus – kekuatannya setara dengan tiga zombie tank biasa. Waspadai bagian lidahnya – ia memiliki sensor panas yang sangat sensitif dan ujung lidahnya mengeluarkan racun saraf yang bisa menyebabkan kelumpuhan dalam waktu lima detik jika menyentuh kulit."

Alpha itu tiba tepat di tepi atap gudang, berdiri tegak dengan tinggi yang lebih dari dua meter. Jubah pendetanya yang sudah robek berkibar liar ditiup angin malam yang membawa aroma amonia dan darah. Ia membuka mulutnya yang lebar, dan sebuah lidah panjang yang bercabang menjadi tiga keluar dengan cepat, bergetar dan bergerak seperti ular yang sedang mencari mangsa untuk menemukan jejak panas tubuh Yuuichi.

Sementara itu, beberapa ratus meter dari lokasi pertarungan, bus sekolah yang dikemudikan Sakura sedang berjuang keras untuk melewati pintu keluar area pasar yang semakin sesak.

"Sakura! Di depan kanan! Ada mobil box besar yang menghalangi seluruh jalan!" Teriak Chika dengan wajah pucat saat melihat rintangan yang tidak terduga di depan mereka, tangannya secara naluriah mencengkeram sandaran kursi.

Sakura mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku jari-nya memutih karena kekencangan. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menginjak rem atau berbalik arah. "Pegangan erat pada apa saja yang bisa kalian pegang, Sensei! Rina, siapkan molotov terakhir

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!