Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Pagi itu, Stasiun Balapan diselimuti kabut tipis dan aroma kopi dari kios-kios kecil di sepanjang peron. Riuh pengumuman keberangkatan kereta api eksekutif tujuan Gambir bersahut-sahutan dengan deru roda koper di atas lantai ubin.
Aku berdiri di samping Arkan, menggenggam ujung jaket varsity-nya erat-erat. Kak Pandu berdiri agak jauh, memberi kami ruang privat di tengah keramaian, meski matanya tetap waspada mengawasi sekitar—seolah memastikan tidak ada "gangguan" yang merusak momen ini
Aku menatap ban kapten yang kini melingkar di pergelangan tangan Arkan—ia sengaja memindahkannya dari tanganku ke tangannya sebagai simbol bahwa dia yang memegang tanggung jawab untuk "pulang
"Beneran nggak apa-apa gue tinggal?" tanya Arkan untuk yang kesekian kalinya. Wajahnya terlihat gusar, kontras dengan koper besar di samping kakinya yang berisi mimpi-mimpinya tentang dunia arsitektur.
Aku mendongak, mencoba tersenyum sekuat tenaga meski mataku mulai memanas. "Bukannya kemarin gue udah bilang? Pergi, Arkan. Kejar gedung-gedung tinggi itu. Gue nggak mau jadi penghalang buat mimpi lo."
Arkan menarik napas panjang, lalu merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah kalung perak sederhana dengan bandul berbentuk kunci kecil. Ia memakaikannya ke leherku dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Ini kunci cadangan 'markas' gue," bisiknya tepat di telingaku. "Dan ini simbol kalau kunci hati gue tetep lo yang pegang. Kalau lo ngerasa kangen atau dunianya lagi berisik, dateng ke sana. Bau cat dan sketsa gue bakal nemenin lo sampai gue balik."
Air mataku akhirnya jatuh juga. Aku menyentuh bandul kunci itu, merasakannya dingin namun menenangkan. "Lo juga. Jangan lupa bawa Daisy-nya. Kalau ada cewek Jakarta yang deketin, tunjukin rajutan itu. Bilang kalau yang bikin itu cowok paling bucin se-SMA Garuda."
Arkan tertawa renyah, sebuah tawa yang akan sangat kurindukan selama berbulan-bulan ke depan. Ia menarikku ke dalam pelukan erat, mengabaikan tatapan penumpang lain. Di pelukannya, aku tidak lagi merasa seperti Nara yang rapuh. Aku merasa seperti bangunan yang pondasinya sudah selesai diperkuat
“Perhatian, Kereta Api Argo Lawu tujuan Gambir akan segera diberangkatkan...”
Suara operator stasiun itu terdengar seperti vonis. Arkan melepaskan pelukannya, menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu mencium keningku lama.
"Gue berangkat, Ra. Jaga diri. Jangan narik diri lagi kalau ada masalah. Telepon gue, video call gue, atau teriak aja nama gue dari jendela kamar lo, gue bakal denger," ucapnya sambil melangkah mundur menuju pintu gerbong.
Kak Pandu mendekat, menepuk bahu Arkan kuat-kuat. "Jaga diri di Jakarta, Ar. Fokus belajar. Adek gue aman di tangan gue."
Arkan melambai dari pintu kereta yang perlahan mulai bergerak. Aku berdiri di peron, melambaikan tangan hingga sosoknya mengecil dan kereta itu hilang ditelan tikungan rel.
"Udah, jangan nangis terus. Dia pergi buat balik lagi, bukan buat ilang kayak bokap lo," hibur Kak Pandu sambil merangkul bahuku, menuntunku keluar dari stasiun.
Aku menatap langit Jakarta yang searah dengan laju kereta itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, perpisahan tidak terasa seperti kiamat. Perpisahan kali ini hanyalah sebuah tanda titik koma, karena aku tahu, Arkan adalah penulis yang pasti akan melanjutkan bab selanjutnya bersamaku.
Langkahku terasa berat saat meninggalkan peron, namun ada kehangatan yang menjalar dari bandul kunci perak di leherku. Kak Pandu tidak banyak bicara, ia hanya merangkul bahuku dengan cara yang biasa ia lakukan saat aku merasa hancur, namun kali ini tujuannya berbeda—ia sedang menjaga sisa-sisa keberanian yang baru saja Arkan tanamkan
"Mau langsung pulang atau mampir makan soto favorit lo dulu?" tanya Kak Pandu saat kami sampai di parkiran motor.
"Langsung pulang aja, Kak. Gue mau ke 'markas'," jawabku pelan.
Kak Pandu tersenyum tipis, seolah sudah menebak jawabanku. Ia memacu motornya membelah jalanan Solo yang mulai padat. Sesampainya di depan bangunan tua itu, Kak Pandu menurunkanku. "Gue jemput jam lima sore. Jangan kelamaan bengong di dalem, ntar disangka penunggu gudang."
Aku tertawa kecil dan melambaikan tangan padanya. Begitu pintu besi itu berderit terbuka, aroma cat minyak dan kayu langsung menyerbu indra penciumanku. Di sini, segalanya masih sama. Meja sketsa Arkan yang sedikit berantakan, maket rumah kaca yang ia buat untukku, dan sisa-sisa serutan pensil di lantai.
Aku duduk di kursi kayu tempat Arkan biasa menggambar. Di atas meja, ada selembar kertas yang sengaja ia tinggalkan, tertindih oleh sebuah penghapus berbentuk bintang.
Ra, kalau lo baca ini, berarti gue udah di dalem kereta. Jangan nangis kelamaan. Di laci kanan ada 'asuransi darurat' buat lo kalau lagi kangen parah.
Aku membuka laci itu. Di dalamnya terdapat sebuah pemutar kaset tua dan beberapa kaset rekaman suara. Aku memasukkan salah satunya dan menekan tombol play.
"Tes, satu, dua... Hai, Nara. Ini Arkan versi rekaman. Gue tahu lo pasti lagi cemberut sekarang di kursi gue. Dengerin ya, Jakarta itu cuma lima ratus kilometer. Jarak itu kecil dibandingin tembok yang pernah lo bangun dan berhasil gue panjat. Jadi, jangan berani-berani pasang gembok baru di pintu lo selama gue nggak ada, oke?"
Suara renyahnya memenuhi ruangan yang sunyi itu. Aku memejamkan mata, membayangkan dia duduk di sampingku. Air mataku jatuh, tapi kali ini bukan karena trauma masa lalu yang mencekik. Ini adalah air mata rindu yang sehat—rindu yang memiliki alamat untuk pulang
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.
Arkan P: [Foto pemandangan dari jendela kereta]
Gue baru lewat Cirebon. Daisy-nya gue cantolin di tas biar dia bisa liat sawah. Lo lagi di markas ya? Bau catnya masih kerasa nggak?
Aku tersenyum lebar, jemariku dengan cepat mengetik balasan.
Nara: Masih. Dan suara lo di kaset berisik banget, Capt. Fokus aja liat jalan, jangan liat cewek di gerbong sebelah.
Arkan P: Siap, Ibu Negara! Hati gue udah gue gembok, kuncinya kan ada di leher lo.
Malam itu, aku menyadari bahwa LDR bukan tentang seberapa jauh jarak yang memisahkan, tapi tentang seberapa besar kepercayaan yang kita bangun di atas pondasi yang sudah ada. Ayah mungkin pergi tanpa kunci, tapi Arkan pergi dengan memberikan seluruh akses ke dunianya padaku
Aku keluar dari markas dengan langkah tegak. Daisy di tasku bergoyang tertiup angin sore, dan kunci perak di leherku berkilau terkena cahaya matahari. Bab baru ini mungkin akan penuh rindu, tapi aku tidak takut lagi. Karena aku tahu, di ujung rel sana, ada seseorang yang sedang berjuang demi masa depan kami berdua.