NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babak 5: "Dapur Itu Wilayah Ibu"

Fajar di Blitar selalu membawa aroma udara yang jauh lebih tajam dan dingin dibandingkan Surabaya. Suara ayam jantan yang bersahutan dari kandang belakang rumah seolah menjadi alarm alami yang memaksa Dinara untuk segera menanggalkan selimutnya. Setelah melaksanakan shalat Subuh berjamaah yang diimami oleh Dimas—sebuah momen tenang yang menjadi satu-satunya pelipur lara bagi hatinya yang masih bimbang—Dinara memutuskan untuk segera turun ke lantai bawah.

Sebagai menantu baru, ia tahu ada beban ekspektasi yang tidak tertulis di dinding rumah ini: Dapur.

Dinara melangkah pelan menuju dapur yang luas dengan ubin abu-abu tua. Di sana, Ibu mertuanya, Bu Subroto, sudah berdiri gagah di depan kompor. Rambutnya disanggul rapi, meskipun hari masih sangat pagi.

"Assalamualaikum, Bu. Wonten sing saged Dinara bantu? (Ada yang bisa Dinara bantu?)" tanya Dinara lembut, mencoba menawarkan senyum terbaiknya.

Bu Subroto menoleh, menatap Dinara dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Waalaikumsalam. Oh, sudah bangun? Tak kira cah kuliah kalau libur bangunnya siang. Ya sudah, itu buncis sama wortel diiris kecil-kecil buat oseng. Tapi sing telaten, yo, jangan asal potong," sahut Ibu dengan nada datar yang membuat nyali Dinara sedikit menciut.

Dinara mengambil pisau dan talenan kayu. Ia mulai mengiris buncis dengan hati-hati. Pikirannya terbagi antara fokus pada sayuran dan rasa cemas akan penilaian mertuanya. Ia terbiasa hidup mandiri di kos-kosan selama kuliah, memasak apa adanya asalkan kenyang. Namun di sini, memasak adalah sebuah ritual seni yang sakral.

"Lho, lho, Dinara... kok potongnya miring-miring begitu?" suara Bu Subroto tiba-tiba meninggi, ia berjalan mendekat dan merebut pisau dari tangan Dinara. "Buncis itu dipotong serong tipis, biar bumbunya meresap. Kalau besar-besar begini ya keras nanti dimakan Bapak. Wortelnya juga, jangan tebal-tebal kayak kayu bakar. Wong wedok iku kudu telaten, apalagi suamimu itu punya kafe, mosok istrinya potong sayur saja nggak rapi."

Dinara tertegun. Jarinya sedikit gemetar. Kritik itu terasa lebih tajam daripada mata pisau yang baru saja berpindah tangan. Ia hanya bisa menunduk, merasakan tenggorokannya mulai menyempit.

"Maaf, Bu. Dinara ulangi lagi," ucapnya lirih.

"Sudah, sudah. Kamu kupas bawang saja. Jangan sampai matanya nangis kena bawang ya, nanti dikira Ibu ngapa-ngapain kamu," tambah Bu Subroto sambil melanjutkan memotong buncis dengan kecepatan dan presisi yang intimidatif.

Dinara merasa seperti butiran debu di dapur itu. Setiap gerakannya seolah diawasi. Saat ia mencoba menyapu lantai dapur, Ibu menyindir bahwa sudut-sudut lemari masih berdebu. Saat ia mencuci piring, Ibu mengeluh kalau airnya terlalu banyak yang terbuang. Dapur yang seharusnya menjadi tempat hangat untuk berbagi resep, kini terasa seperti medan perang bagi Dinara.

Tiba-tiba, sebuah langkah kaki ringan terdengar mendekat. Aroma sabun mandi yang segar menyeruak, menandakan Dimas sudah selesai bersiap. Ia berdiri di ambang pintu dapur, mengamati adegan yang tidak mengenakkan itu selama beberapa detik. Dimas melihat mata Dinara yang sudah mulai memerah—tanda bahwa 'bendungan' air matanya hampir jebol.

"Wah, wah... ada kompetisi MasterChef Blitar ternyata di sini," celetuk Dimas sambil melangkah masuk. Ia langsung berdiri di samping Dinara, merangkul bahu istrinya sekilas dengan gerakan yang tampak kasual namun protektif.

"Mas, jangan ganggu. Ibu lagi ngajari Dinara biar telaten," sahut Bu Subroto.

Dimas melihat tumpukan bawang dan sayuran yang berantakan. Ia meraih pisau yang tadi diletakkan ibunya. "Bu, Ibu tahu nggak? Di Surabaya itu lagi tren makanan dengan potongan 'abstrak'. Namanya artistic-cutting. Dinara ini lagi bantu Dimas riset, Bu."

"Riset apa?" tanya Bu Subroto bingung.

"Riset buat novel baru Dimas. Judulnya 'Koki Gagal yang Menemukan Cinta di Balik Gosongnya Tempe'," seloroh Dimas sambil mulai memotong bawang dengan gaya yang sengaja dibuat heboh dan berantakan. "Nanti karakternya mirip Dimas, tampan tapi kalau di dapur malah bikin kebakaran. Nah, kalau Dinara ini perannya jadi guru yang sabar menghadapi muridnya yang nggateli kayak Dimas begini."

Dimas menoleh ke arah Dinara, mengedipkan sebelah matanya. "Adek, kamu mending istirahat dulu sana. Siapkan baju kerja Mas buat nanti kita ke Surabaya sebentar. Biar urusan bawang ini Mas yang eksekusi. Mas mau merasakan penderitaan tokoh utama di novel Mas."

"Tapi, Mas..." Dinara ragu.

"Sudah, sana. Ojo kesuwen, Sayang. Nanti kalau Mas nangis kena bawang, Mas malu dilihat kucing tetangga," bisik Dimas sambil mendorong pelan bahu Dinara agar keluar dari area dapur.

Bu Subroto mendengus, namun tidak bisa menahan senyum melihat kelakuan putra sulungnya. "Kamu itu, Dim. Selalu saja ada alasannya. Istrimu itu harus diajari, jangan dimanja terus."

Dimas tertawa, kali ini ia mulai memotong bawang dengan teknik yang sebenarnya cukup lumayan—hasil bertahun-tahun melihat koki di kafenya bekerja. "Manusia itu butuh proses, Bu. Kayak kopi. Kalau langsung digiling kasar ya pahit, harus pelan-pelan biar aromanya keluar. Dinara itu mutiara, Bu. Jangan digosok pakai amplas kasar, nanti lecet."

Di kamarnya, Dinara terduduk di tepi ranjang. Ia menghirup napas lega. Dadanya yang tadi sesak perlahan melonggar. Ia menyadari bahwa Dimas tidak hanya sekadar melawak; pria itu sedang pasang badan untuknya. Dimas menggunakan humor sebagai tameng agar hubungan antara menantu dan mertua tidak meledak menjadi konflik terbuka yang menyakitkan.

Tak lama kemudian, Dimas masuk ke kamar dengan mata yang benar-benar merah dan sedikit berair.

"Lho, Mas? Benaran nangis?" tanya Dinara panik, ia segera mengambil tisu.

"Iya, Dek. Bawangnya Ibu itu ternyata mengandung gas air mata level militer," keluh Dimas sambil menerima tisu dari Dinara. Ia lalu duduk di samping istrinya. "Kamu nggak apa-apa kan? Maafin Ibu ya. Beliau itu memang penganut paham 'kesempurnaan dapur'. Baginya, sayur yang nggak simetris itu adalah dosa besar."

Dinara menunduk, memainkan jemarinya. "Dinara merasa nggak berguna, Mas. Masak saja dikritik terus."

Dimas memegang tangan Dinara, mengusapnya pelan. "Dek, dengerin Mas. Kamu itu dinikahi Mas buat jadi teman hidup, bukan buat jadi asisten koki Ibu. Mas nggak butuh sayur yang dipotong simetris, Mas cuma butuh kamu di samping Mas. Soal Ibu, biar Mas yang jadi 'penerjemah' di antara kalian. Kalau Ibu marah, anggap saja itu radio rusak yang lagi cari sinyal."

Dinara tersenyum kecil. "Mas bisa saja."

"Beneran, Sayang. Makanya, Mas putuskan minggu depan kita berangkat ke Surabaya. Kita buka lembaran baru di apartemen. Di sana nggak ada yang bakal protes kalau kamu mau potong buncis pakai gunting kuku sekalipun," gurau Dimas lagi.

Dinara tertawa, kali ini air mata yang turun adalah air mata lega. "Mas ini jahil banget, masa pakai gunting kuku."

"Lho, kan itu namanya inovasi, Adek sayang," Dimas bangkit berdiri, merapikan rambut Dinara yang sedikit berantakan. "Ayo, siapkan mental. Habis ini sarapan. Mas sudah bilang ke Ibu kalau Mas mau pamer masakan 'riset' Mas tadi. Kamu harus puji enak ya, meskipun nanti rasanya mungkin lebih mirip jamu pahit."

Pagi itu, di meja makan rumah Blitar, ketegangan sedikit mencair. Meskipun Bu Subroto masih sesekali memberikan instruksi dengan nada tinggi, Dimas selalu punya cara untuk membelokkan suasana dengan banyolan khas Surabayanya. Dinara belajar satu hal penting hari itu: ia tidak sendirian. Di rumah yang terasa asing ini, ia memiliki seorang pelindung yang siap mengubah air mata menjadi tawa, hanya dengan sebuah pisau dapur dan segudang cerita fiksi.

Konflik pertama memang menyakitkan, namun bagi mereka, itu hanyalah bumbu yang membuat hidangan rumah tangga mereka terasa lebih nyata. Dinara menatap Dimas yang sedang lahap makan, dan untuk pertama kalinya sejak hari akad, ia merasa bahwa mungkin Surabaya akan menjadi tempat yang benar-benar ia sebut sebagai "rumah".

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!